Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat al-‘Alaq

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Arab-Latin: iqra` bismi rabbikallażī khalaq

Terjemah Arti: 1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ

khalaqal-insāna min ‘alaq

2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia

1-2. Allah memulai dalam surat ini dengan memerintahkan Nabi-Nya Muhammad ﷺ untuk membaca Al Qur’an awal pertama kali dengan meminta pertolongan dengan nama Allah yang telah menciptakan segala sesuatu. Kemudian Allah menjelaskan dari sisi kekhususan yaitu Ia yang menciptkan manusia (dan ia adalah makhluk termulia dari semua makhluk) yang diciptkan dari Al Alaq. Dan Alaq adalah darah yang beku yang menempel di rahim, dan darah yang beku ini hasil pertemuan mani yang keluar dari laki-laki dengan ovum yang keluar dari perempuan, dan setelah berkumpul maka jadilah segumpal darah dari keduanya secara bersamaan.

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ

iqra` wa rabbukal-akram

3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ

allażī ‘allama bil-qalam

4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,

عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

‘allamal-insāna mā lam ya’lam

5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

3-5. Kemudian Allah ulang untuk supaya (Muhammad ﷺ) membaca, Allah berkata : Bacalah wahai Nabi Allah karena sesungguhnya Rabbmu Maha Pemurah. Dan diantara kemurahan-Nya adalah mengajarkan manusia membaca dan menulis dengan pena. Tak diragukan lagi bahwa pena adalah alat menulis dimana kita bukukan pengetahuan-pengetahuan atas apa yang dengannya kitab-kitab samawiyyah (juga) ditulis; Yang dengannya dibangunlah peradaban-peradaban, oleh karena itu ia adalah nikmat dari sebesar-besar nikmat Allah bagi manusia. Dan dari kemurahan-Nya juga adalah Allah mengajarkan manusia yang sebelumnya dalam keadaan bodoh dari bermacam-macam jenis bidang dan ilmu, yang itu menjadi sebab keluarnya manusia dari kegelapan (kebodohan) menuju cahaya ilmu dan pengetahuan.

كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَىٰ

kallā innal-insāna layaṭgā

6. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,

أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَىٰ

ar ra`āhustagnā

7. karena dia melihat dirinya serba cukup.

إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الرُّجْعَىٰ

inna ilā rabbikar-ruj’ā

8. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu).

6-8. Allah jelaskan sebab-sebab yang menjadikan manusia melampaui batas, Allah berkata : Sungguh benar manusia adalah bodoh, sesat ketika membolehkan (atas dirinya) melampaui batas dalam menerobos aturan dan kemaksiatan jika dirinya merasa bahwa telah memiliki banyak harta, kaya, dan memiliki kedudukan serta (berbangga) dengan kaum. Lalu Allah menegur manusia yang membolehkan (dirinya) dari menerobos batasan dan kabar (dari Allah) yang berkaitan dengan akhir kehidupannya yang kembali kepada Allah. Manusia tidak memiliki Rabb lain sebagai alternatif dan juga sebagai tempat berlindung, dan akan dibalas baginya atas perbuatannya dan ucapannya.

أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَىٰ

a ra`aitallażī yan-hā

9. Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang,

عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰ

‘abdan iżā ṣallā

10. seorang hamba ketika mengerjakan shalat,

أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَى الْهُدَىٰ

a ra`aita ing kāna ‘alal-hudā

11. bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran,

أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَىٰ

au amara bit-taqwā

12. atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?

9-12. Allah berkata : Allah heran, keheranan apa lagi selain ini wahai orang yang dungu (Abu Jahl) yang melarang Nabi ﷺ shalat di sisi ka’bah. Maka jika Muhammad ﷺ kokoh di atas pendiriannya, atau ia diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah, dan takut pada-Nya, maka apakah dibenarkan pendosa ini melarang atas urusan (Muhammad ﷺ)?

أَرَأَيْتَ إِنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ

a ra`aita ing każżaba wa tawallā

13. Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling?

أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ

a lam ya’lam bi`annallāha yarā

14. Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?

13-14. Allah menujukan firman-Nya kepada Nabi-Nya (Muhammad ﷺ), Allah berkata : Kabarkan kepada-Ku wahai Nabi Allah tentang keadaan orang celaka ini yang sesat dimana ia mendustakan ayat-ayat Allah dan menolaknya. Bukankah ia tahu Allah Maha Melihat, Mendengar dan Mengetahui amalannya. Dan ia akan dihisab, jika kebaikan (yang dikerjakan) maka kebaikan pula yang didapat, jika kejelekan maka kejelekan pula yang didapatkannya.

كَلَّا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ

kallā la`il lam yantahi lanasfa’am bin-nāṣiyah

15. Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya,

نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ

nāṣiyating kāżibatin khāṭi`ah

16. (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.

15-16. Urusannya tidaklah sebagaimana dugaan orang yang celaka ini, Allah bersumpah jika orang yang celaka ini tidak segera mengakhiri kesesatannya yang sudah melewati batas, sunggu Allah akan ambil ubun-ubunya (ia adalah ujung kepala atas yang nampak dari jidatnya), dan sungguh akan merasakan adzab yang pedih. Disebutkan tentang ubun-ubun karena ia adalah yang muncul awal mula berkenaan dengan petunjuk-petunjuk. Ketahuilah wahai Nabi Allah ﷺ, bahwa pemilik ubun-ubun ini tukang dusta, ahli maksiat dan pemilik dosa.

فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ

falyad’u nādiyah

17. Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya),

سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ

sanad’uz-zabāniyah

18. kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah,

17-18. Ketika Nabi ﷺ dilarang Abu Jahl ketika ia melarang dari shalat di sisi ka’bah, maka berkata orang yang celaka ini : Atas dasar apa Muhammad menantangku, sedangkan aku adalah orang lembah yang paling banyak ditolong kaumku. Kemudian Allah berkata : Abaikan orang celaka yang sesat ini, dan kaumnya (yang menolongnya) akan diberikan keburukan dari adzab yang pedih, dimana ia akan di letakkan (dalam neraka) dengan sebab kekafirannya dan penolakannya. Maka Kami akan menyeru kepada malaikat yang bengis yang ia menjaga (tempat) manusia di adzab dengan adzab yang sangat.

كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ ۩

kallā, lā tuṭi’hu wasjud waqtarib

19. sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).

Ketahuilah wahai Nabi Allah ﷺ bahwa urusannya tidak sebagaimana yang didengungkan orang yang celaka ini yang tidak jelas, yang ia berkata siapa yang mengikuti kaumnya akan ditolong. Sungguh ia dan kaumnya sangat lemah dalam melakukan hal demikian, oleh karenanya tinggalkan olehmu (Muhammad ﷺ) orang celaka ini yang dalam kesesatan dan ketidak jelasan. Dan jangnlah engkau patuh padanya untuk meninggalkan shalat, karena ia tidak akan mampu terus menerus membahayakanmu. Dan teruslah engkau dalam menjaga mengerjakan shalat dimana shalat akan mendekatkan kepada Allah, dan ketahuilah olehmu bahwa Allah akan senantiasa menjagamu dari mereka orang-orang kafir dan musyrik.

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!