Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat al-Fajr

وَالْفَجْرِ

Arab-Latin: wal-fajr

Terjemah Arti: 1. Demi fajar,

وَلَيَالٍ عَشْرٍ

wa layālin ‘asyr

2. dan malam yang sepuluh,

وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ

wasy-syaf’i wal-watr

3. dan yang genap dan yang ganjil,

وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ

wal-laili iżā yasr

4. dan malam bila berlalu.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia

1-4. Allah memulai dalam surat ini dengan sumpah, dimana Allah bersumpah dengan waktu fajar yang terang sinarnya. Allah juga bersumpah dengan waktu malam yang ke sepuluh dzulhijjah. Allah bersumpah dengan bilangan genap dan ganjil pada segala sesuatu. Allah bersumpah dengan malam yang telah pergi (berlalu) kegelapannya.

هَلْ فِي ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِذِي حِجْرٍ

hal fī żālika qasamul liżī ḥijr

5. Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal.

Setelah sumpah-sumpah ini, Allah berkata : Apakah di dalam penyebutan atas segala sesuatu (sumpah) ini ridha bagi orang-orang yang berpikir dan berakal ? Adapun jawaban bagi sumpah (di ayat sebelumnya) dihapus yang hakikatnya adalah : Allah bersumpah atas diri-siri kalian bahwa orang-orang kafir akan diadzab dengan sebab mereka kokoh diatas kekufuran mereka dan kosong dari keimanan kepada Allah.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ

a lam tara kaifa fa’ala rabbuka bi’ād

6. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad?

إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ

irama żātil-‘imād

7. (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi,

الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ

allatī lam yukhlaq miṡluhā fil-bilād

8. yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain,

6-8. Allah mengabarkan dengan persaksian atas apa yang diturunkan-Nya dari adzab bagi orang-orang yang terdahulu yang musyrik, Allah berkata : Apakah kalian tidak melihat wahai manusia, atas apa yang Allah perbuat terhadap kaum Ad ?. Dan Ad adalah kaum yang tinggal di kota Iram yang memiliki kerajaan dan benteng-benteng (tinggi). Dan Allah jelaskan bahwa kota ini tidak pernah diciptakan di negeri manapun yang semisal dengannya. Ad adalah masyarakat Ar Ramilah yang terletak di Ar Rubu’ Al Khali, antara Hadramaut dan Najran di arah timur Jazirah Arab. Nabi mereka adalah Hud. Syaikh Al Bassam ditanya ketika mengajar di Masjidil Haram pada tanggal 23/2/1418 H; Apa itu Iram yang memiliki bangunan tinggi ? Syaikh menjawab : Ia adalah negara Ad, kaumnya Hud ia terletak di Ar Rubu’ Al Khali yang dekat dengan Hadramaut dan Al Ahqaf itulah yang disebut An Nufud atau Ar Rimal yang menyerupai dengan gunung tinggi yang meliuk-liuk.

وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ

wa ṡamụdallażīna jābuṣ-ṣakhra bil-wād

9. dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah,

Apakah kalian juga tidak melihat wahai manusia, kepada Tsamud yang mereka memotong batu-batu keras dan mengukir pegunungan di lembah yang terletak di pedesaan yang kemudian mereka menjadikannya rumah-rumah dan kuburan (bagi mayit-mayit mereka). Dan Tsamud terletak di bagian kiri Jazirah Arab untuk jalan ketika (manusia) berhaji menuju ke Mekkah, yaitu lembah desa yang dinamakan Al Hajar.

وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ

wa fir’auna żil-autād

10. dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak),

Dan apakah kalian tidak melihat wahai manusia, kepada Fir’aun yang memiliki pasak-pasak yaitu pyramid dan bangunan yang besar dimana penguasanya adalah Fir’aun dan yang sebelumnya.

الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ

allażīna ṭagau fil-bilād

11. yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri,

فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ

fa akṡarụ fīhal-fasād

12. lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu,

فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ

fa ṣabba ‘alaihim rabbuka sauṭa ‘ażāb

13. karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab,

11-13. Allah menjelaskan keadaan mereka para pendahulu yang telah disebutkan yaitu dari Ad, Tsamud dan Fir’aun yang telah melampaui batas, sombong dan kekufurannya telah melampaui batas. Mereka adalah orang-orang yang sombong dalam menggunakan kekuasaannya dalam ketidak adilan terhadap hak-hak manusia dan dzalim. Dan itulah (mereka) yang menyebabkan rusaknya negara (mereka). Maka Allah hukum dengan menerunkan bagi mereka adzab yang keras, dan Allah ambil kekuasaan mereka.

إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ

inna rabbaka labil-mirṣād

14. sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ

fa ammal-insānu iżā mabtalāhu rabbuhụ fa akramahụ wa na”amahụ fa yaqụlu rabbī akraman

15. Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”.

وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

wa ammā iżā mabtalāhu fa qadara ‘alaihi rizqahụ fa yaqụlu rabbī ahānan

16. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.

14-16. Ketahuilah wahai Nabi Allah, bahwa Rabbmu akan mengawasi manusia di bumi, dan menghitung amalan mereka, dan membalas apa yang mereka kerjakan. Jika baik maka akan dibalas dengan kebaikan, jika buruk maka akan dibalas dengan keburukan. Kemudian Allah memisahkan mereka dengan berkata : Adapun manusia yang lalai dari Rabbnya, jika ia diberikan ujian kemudian diberikan nikmat oleh Allah dan diluaskan rezekinya sebagain pemulian dari Allah, maka mereka berkata : Tuhanku memuliakanku. Dan tidaklah muncul dalam benaknya bahwa telah diberikan ujuan baginya (dan diganti dengan nikmat dll.), dimana rasa syukurnya ? Apakah ia menganggap dan membalas nikmat Allah atasnya ?. Dan adapun jika ia melihat bawa rezekinya tak kunjung tiba kecuali hanya sedikit dan sulit, ia menyangka itu adalah hinaan dari Allah dan pelecehan atas dirinya, kemudian ia mengumpat dan menyalahkan Rabbnya dengan keburukan dan tidaklah ia melakukan kebaikan terhadap Tuhannya, ia absen dari kebaikan dalam kehidupannya yang semuanya adalah ujian dan hanya menimbulkan kerusakan. Dan barangsiapa yang sempir rezekinya, bersabar, dan bergantung (kepada Allah) serta besyukur kepada Allah atas segala sesuatunya, maka ia adalah orang yang berhasil secara hakiki.

كَلَّا ۖ بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ

kallā bal lā tukrimụnal-yatīm

17. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim,

وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

wa lā tahāḍḍụna ‘alā ṭa’āmil-miskīn

18. dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,

وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَمًّا

wa ta`kulụnat-turāṡa aklal lammā

19. dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil),

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

wa tuḥibbụnal-māla ḥubban jammā

20. dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.

17-20. Ketahuilah oleh kalian bahwa urusannya tidaklah sebagaimana diyakini ia yang diuji (diuji dengan kemuliaan oleh Allah dan kemudian direndahkan); Akan tetapi kalian telah berbuat keburukan, dan kalian tidak memuliakan yatim, dan tidak menganjurkan sebagian dari kalian atas sebagian yang lain untuk memberi makan orang-orang miskin dan memperbaiki kondisi mereka. Kalian memakan harta anak-anak yatim dan perempuan-perempuan lemah yang ditinggalkan ia dalam kondisi kalian makan dengan makanan yang sangat banyak; (Padahal) kalian memiliki keberuntungan yang diberikan oleh Allah yang tidak dimiliki selain kalian. Kalian juga bersemangat mengumpulkan harta dengan sangat, seolah-olah kalian akan kekal (di dunia).

كَلَّا إِذَا دُكَّتِ الْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا

kallā iżā dukkatil-arḍu dakkan dakkā

21. Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut,

وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا

wa jā`a rabbuka wal-malaku ṣaffan ṣaffā

22. dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.

21-22. Allah menegur mereka orang-orang kafir dengan mengatakan : Jika kalian bersikap keras wahai orang-orang kafir atas kekufuran kalian dan atas amalan-amalan buruk ini, maka tunggulah hari kiamat, yaitu hari yang bumi akan bergerak dengan gerakan yang dahsyat dan dengan gempa yang dahsyat. Allah akan datang (pada hari itu) sesuai dengan dzat-Nya, kemuliaannya-Nya dan kebesaran-Nya. Malaikat akan datang bershaf-shaf sebagai pengagungan kepada-Nya. وَجَآءَ رَبُّكَ disini terdapat firqah (kelompok) seperti Asyairah, Mu’tazilah dan selain keduanya menakwilkan sebagian sifat Allah, diantaranya adalah sifat datang Allah. Mereka (Asyairah, dll.) mengatakan : وَجَآءَ رَبُّكَ maksudnya adalah datang perintah-Nya. Adapun Ahlussunnah wal Jama’ah menetapkan atas setiap apa yang Allah tetapkan atas diri-Nya dan apa yang ditetapkan oleh Rasul ﷺ dalam sunnahnya; Dengan tanpa mengubah, menafikan, menyerupakan, dan menyamakan dengan makhluk. Sifat datang telah diketahui maknanya, diimani, dan ditetapkan (oleh Ahlussunnah). Ahlussunnah mengatakan bahwa sifat datangnya Allah sebagaimana yang mencocoki dengan kebesaran-Nya, tidak dapat dimengerti bagaimananya dan tata cara (turun-Nya), sebagaimana tidaklah diketahui bagaimana Dzat-Nya.

وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ وَأَنَّىٰ لَهُ الذِّكْرَىٰ

wa jī`a yauma`iżim bijahannama yauma`iżiy yatażakkarul-insānu wa annā lahuż-żikrā

23. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.

يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

yaqụlu yā laitanī qaddamtu liḥayātī

24. Dia mengatakan: “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini”.

23-24. Pada hari yang besar itu didatangkan api jahannam, malaikat mengalirkan api jahannam ditempat yang dapat disaksikan dan membuat hati (yang melihat) merasa takut. Pada saat itu juga orang kafir mengingat (amalan) baik dan buruk atas apa yang telah lalu (yang ia kerjakan di dunia), dan mengingat apa yang para Nabi dan Rasul janjikan akan hari kebangkitan, pembalasan, dan hisab. Dan ingatan (mereka) tidaklah ada manfaatnya pada hari kiamat. Karena sungguh telah berlalu waktu beramal dan telah datang waktu hisab, ia (orang kafir) berkata (dengan penyesalan) : Seandainya saja aku di dunia (berjuang) dengan apa yang bermanfaat bagiku di akhirat, yaitu dengan beriman dan beramal shalih.

فَيَوْمَئِذٍ لَا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ

fa yauma`iżil lā yu’ażżibu ‘ażābahū aḥad

25. Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksa-Nya.

وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ

wa lā yụṡiqu waṡāqahū aḥad

26. dan tiada seorangpun yang mengikat seperti ikatan-Nya.

25-26. Pada hari itu tidak ada yang diadzab oleh Allah (di dunia) sebagaimana adzab bagi orang kafir, tidak juga pernah ada (manusia di dunia) dibelenggu kemudian diberikan minum dari api dan diberikan rasa haus sebagaimana orang kafir rasakan; Dengan kata lain, adzab bagi mereka adalah adzab yang diberikan hingga sampai derajat manusia lebih mengingkan mati (ketimbang di adzab).

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ

yā ayyatuhan-nafsul-muṭma`innah

27. Hai jiwa yang tenang.

ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

irji’ī ilā rabbiki rāḍiyatam marḍiyyah

28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.

27-28. Kemudian Allah memerintahkan jiwa manusia yang suci, bersih, tenang dengan janji Allah untuk kembali kepada Rabbnya dengan kondisi ridha dengan sumpah Allah baginya berupa balasan dan pahala, dan ia diridhai oleh-Nya.

فَادْخُلِي فِي عِبَادِي

fadkhulī fī ‘ibādī

29. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku,

وَادْخُلِي جَنَّتِي

wadkhulī jannatī

30. masuklah ke dalam surga-Ku.

29-30. Kemudian Allah perintahkan jiwa yang tenang ini untuk masuk kedalam surga bersamaan dengan siapa yang masuk bersamanya dari kalangan hamba Allah yang bertakwa dan kemudian bersenang-senang dengan apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, didengar dengan telinga dan dipahami dengan hati manusia.

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!