Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat al-Muthaffifin

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ

Arab-Latin: wailul lil-muṭaffifīn

Terjemah Arti: 1. Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang

الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ

allażīna iżaktālụ ‘alan-nāsi yastaufụn

2. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,

وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ

wa iżā kālụhum aw wazanụhum yukhsirụn

3. dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia

1-3. Surat ini dimulai dengan pengertian yang berkenaan dengan manusia (yang) curang dalam timbangan, Allah berkata : Celaka dan adzablah yang akan didapat pada hari kiamat bagi siapa yang berlaku curang dalam takaran dan timbangan, yang mereka licik dalam memebrikan hak-hak manusia. Kemudian Allah jelaskan keadaan orang-orang yang curang dalam timbangan, yaitu ketika mereka membeli sesuatu dari manusia, mereka meminta takaran atau timbangannya agar tepat (pas) dan sempurna. Dan jika mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka akan kurangi takran dan timbangannya. Semua ini bukanlah ciri manusia yang inshaf dan adil; Jika engkau ingin agar hakmu dipenuhi secara sempurna, maka wajib pula memenuhi hak-hak manusia secara sempurna.

أَلَا يَظُنُّ أُولَٰئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ

alā yaẓunnu ulā`ika annahum mab’ụṡụn

4. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,

Allah takjub (heran) dengan mereka Al Muthaffifin dan berkata : Tidakkah mereka tahu akan konsekuensi dari kedzaliman (mereka) yang nanti akan (dibalas) ketika dibangkitkan di hari kiamat ?

لِيَوْمٍ عَظِيمٍ

liyaumin ‘aẓīm

5. pada suatu hari yang besar,

Allah mensifatkan bahwa hari kiamat itu hari yang besar dan mengerikan, dengan apa yang terjadi (peristiwanya), dari kejadian-kejadian yang penuh kepedihan.

يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

yauma yaqụmun-nāsu lirabbil-‘ālamīn

6. (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?

Hari itu adalah hari dimana manusia berhenti di hadapan Allah untuk ditampakkan dan dihisab (amalan-amalan mereka), mereka tunduk di hadapan Allah (Rabbul Alamin). Setiap dari mereka menunggu dan meminta keselamatan kepada Allah.

كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ

kallā inna kitābal-fujjāri lafī sijjīn

7. Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin.

وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌ

wa mā adrāka mā sijjīn

8. Tahukah kamu apakah sijjin itu?

كِتَابٌ مَرْقُومٌ

kitābum marqụm

9. (Ialah) kitab yang bertulis.

7-9. Kemudian Allah mengancam mereka (Muthaffifin) dan berkata : Menjauhlah kalian wahai orang-orang yang curang, dari kelalaian hari kebangkitan dan pembalasan (jika mampu), karena seseungguhnya amalan buruk (kalian) telah dibukukan. Dan bagi merka orang-orang munafik tempat kembalinya adalah di neraka yang sempit, gelap dan paling dasar. Apakah kalian tahu apa yang dimaksud tempat yang sempit dan gelap ini ? Ia adalah Sijn yang adzab (di dalamnya) sangat keras dan pedih, tertulis di dalamnya nama-nama orang yang buruk.

وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ

wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn

10. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan,

الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ

allażīna yukażżibụna biyaumid-dīn

11. (yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.

وَمَا يُكَذِّبُ بِهِ إِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ

wa mā yukażżibu bihī illā kullu mu’tadin aṡīm

12. Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa,

10-12. Allah mengabarkan (keadaan) orang-orang yang mendustakan dengan berkata : Celaka dan binasalah kalian di hari kiamat wahai para pendusta ! Yaitu mereka yang mendustakan hari perhitungan dan pembalasan. Dan ketahuilah oleh kalian, bahwa Allah tidaklah mengadzab pada hari perhitungan dan pembalasan kecuali bagi siapa yang melewati (menghalalkan) batasan-batasan yang telah Dia tetapkan, yaitu dari kekufuran dan kesesatan.

إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

iżā tutlā ‘alaihi āyātunā qāla asāṭīrul-awwalīn

13. yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu”

Kemudian Allah mensifati para pendosa yang melampaui batas yang bahwasanya mereka jika membaca ayat Al Qur’an mereka berkata : Sungguh ayat-ayat itu adalah dongeng-dongeng belaka, dan ia hanyalah kabar bagi umat yang telah lalu.

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

kallā bal rāna ‘alā qulụbihim mā kānụ yaksibụn

14. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.

Ketahuilah oleh kalian, bahwa tidak demikian urusannya (sebagaimana yang mereka para pendusta katakan) mengenai Al Qur’an. Akan tetapi, merekalah manusia yang tertutup hatinya dan tidaklah apa yang mereka usahakan hanyalah menghasilkan dosa (bagi mereka sendiri), sampai-sampai menutupi hati dan pikiran mereka sendiri. Berkata Al Hasan : Keburukan itu adalah dosa yang kian menumpuk hingga membutakan hati dan hitam dengan sebab dosa. Dan memiliki tabiat (perangai) buruk yang tersimpan dalam hati, lebih besar daripada keburukan itu sendiri.

كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ

kallā innahum ‘ar rabbihim yauma`iżil lamaḥjụbụn

15. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka.

Allah memberi ancaman kepada kaum musyrikin dengan berkata : Cegahlah (hari kiamat ini) wahai orang-orang musyrik sebagaimana yang kalian klaim bahwa : Nanti di hari kiamat kalian akan menjadi orang-orang yang dekat (di sisi) Allah; Bahkan kalian di akhirat adalah orang-orang yang terhalang dari melihat Allah dan kalian tak akan dapat melihat-Nya. Karena sebagaimana kalian di dunia menghalangi diri-diri kalian dari mentauhidkan Allah, maka kalian akan terhalangi dari melihat Rabb kalian di hari kiamat.

ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُو الْجَحِيمِ

ṡumma innahum laṣālul-jaḥīm

16. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.

ثُمَّ يُقَالُ هَٰذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ

ṡumma yuqālu hāżallażī kuntum bihī tukażżibụn

17. Kemudian, dikatakan (kepada mereka): “Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan”.

16-17. Orang-orang kafir akan dijebloskan ke dalam neraka sehingga terpanggang oleh nyala apinya. Kemudian malaikat adzab berkata kepada mereka : Inilah adazb yang kalian tidak benarkan (kalian ragu) ketika di dunia.

كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ

kallā inna kitābal-abrāri lafī ‘illiyyīn

18. Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘Illiyyin.

وَمَا أَدْرَاكَ مَا عِلِّيُّونَ

wa mā adrāka mā ‘illiyyụn

19. Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu?

18-19. Allah kabarkan bahwa urusannya tidak sebagaimana yang mereka para pendusta klaim, akan tetapi (ketahuilah oleh kalian) kitab orang-orang yang berhasil itu mengikuti apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya ﷺ tersimpan di illiyyin diletakkan (di tempatkan) di tempat yang tinggi. Apakah engkau tahu wahai Nabi apa itu tingkatan tempat yang tinggi ?

كِتَابٌ مَرْقُومٌ

kitābum marqụm

20. (Yaitu) kitab yang bertulis,

يَشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُونَ

yasy-haduhul-muqarrabụn

21. yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah).

20-21. Kemudian Allah jelaskan tentang kitab orang-orang yang berhasil yaitu kitab yang tertulis di dalmnya amalan-amalan mereka (pemiliknya). Dan kitab tersebut ada di tempat yang tinggi, di ketinggian yang melebihi derajat surga. Para malaikat hadir di sana dan menjadi saksi mereka (orang-orang yang berhasil) atas apa yang ada dalam isi kitab tersebut.

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ

innal-abrāra lafī na’īm

22. Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga),

عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ

‘alal-arā`iki yanẓurụn

23. mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.

تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ

ta’rifu fī wujụhihim naḍratan na’īm

24. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan.

22-24. Kemudian panjang lebar disebutkan apa yang disebut kenikmatan bagi orang-orang yang berhasil (dengan sebab ketaatan pada Allah). Mereka (orang-orang yang berhasil) hidup bersama keluarga mereka di tempat yang tinggi, mereka semua melihat apa yang dijanjikan oleh Allah dari kenikmatan yang terus akan didapati. Dan dikatakan bahwa mereka melihat wajah Allah Yang Mulia (Kami meminta kepada Allah dan karunia-Nya). Jika engkau melihat wajah-wajah mereka, engkau akan dapati kemulian, kebahagian, cahaya dan kesegaran atas wajah mereka.

يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍ

yusqauna mir raḥīqim makhtụm

25. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya),

خِتَامُهُ مِسْكٌ ۚ وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

khitāmuhụ misk, wa fī żālika falyatanāfasil-mutanāfisụn

26. laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.

وَمِزَاجُهُ مِنْ تَسْنِيمٍ

wa mizājuhụ min tasnīm

27. Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim,

25-27. Dan dari nikmat yang didapatkan orang-orang yang berhasil adalah diberikan minuman dari khamr yang putih bening; Dan khamr tersebut disimpan rapat-rapat dan terkunci. Tidaklah terbuka kecuali dapat dibuka oleh pemiliknya, dan jika mereka meminumnya, Tercium bau semerbak wangi misk oleh yang lainnya, tidak memabukkan. Dan untuk mendapatkannya, seyogyanya manusia saling bergegas dan berlomba-lomba dengan ikhlas ibadah kepada Allah, mengerjakan apa yang dicintai oleh Allah dan diridhai-Nya, kemudian meninggalkan apa yang membuat Allah marah dan abai.

عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ

‘ainay yasyrabu bihal-muqarrabụn

28. (yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.

Allah jelaskan bahwa minuman di surga berasal dari mata air, yang disebut juga tasnim. Sumber mata air ini akan diminum oleh mereka yang dekat dengan Allah yang airnya jernih, putih, bersih dan ia adalah semulia-mulianya minuman untuk ahli surga.

إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ

innallażīna ajramụ kānụ minallażīna āmanụ yaḍ-ḥakụn

29. Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman.

وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ

wa iżā marrụ bihim yatagāmazụn

30. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.

وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلَىٰ أَهْلِهِمُ انْقَلَبُوا فَكِهِينَ

wa iżangqalabū ilā ahlihimungqalabụ fakihīn

31. Dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira.

وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَٰؤُلَاءِ لَضَالُّونَ

wa iżā ra`auhum qālū inna hā`ulā`i laḍāllụn

32. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”,

وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ

wa mā ursilụ ‘alaihim ḥāfiẓīn

33. padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin.

29-33. Allah sebutkan orang-orang yang banyak melakukan dosa di dunia dan mereka menyimpang, mencemooh dan tertawa (mengejek) kepada siapa yang mereka beriman. Dan ketika mereka (para pendosa) kembali kerumah-rumah mereka, mereka menggunjing, asik membicarakan (ahli iman), mencela dan mencemooh mereka ahli ibadah yang beriman kepada Allah. Dan jika mereka (ahli syirik) bertemu dengan ahli iman mereka berkata : Mereka ini adalah orang-orang yang tersesat, manusia akan kehilangan arah (petunjuk) jika menjadi pengikut mereka. Dan mereka (para pendosa) akan dibangkitkan (dan dibalas) atas perlakuannya kepada orang-orang muslim yang taat menjaga amalan-amalan mereka.

فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ

fal-yaumallażīna āmanụ minal-kuffāri yaḍ-ḥakụn

34. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir,

Kemudian Allah menjelaskan bahwasanya mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ akan menertawakan orang-orang kafir pada hari kiamat sebab mereka melihat (orang-orang kafir) mukanya menghitam dan penuh aib, dan (kenyataannya) yang paling akhir menertawakan mereka adalah termasuk orang-orang yang berhasil.

عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ

‘alal-arā`iki yanẓurụn

35. mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.

Allah kabarkan sesungguhnya orang-orang mukmin, mereka duduk-duduk di atas dipan yang terbuat dari mutiara dan permata menikmati tontonan terhadap orang-orang kafir dan menertawakan mereka, tidak gembira dengan kondisi mereka, akan tetapi untuk membalas tertawannya orang-orang kafir atas mereka di dunia.

هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

hal ṡuwwibal-kuffāru mā kānụ yaf’alụn

36. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.

Kemudian Allah berkata dengan menyindir dan mengolok-olok mereka (orang-orang kafir) : Apakah telah dibalas orang-orang yang telah kafir dengan adzab, dengan sebab apa yang telah mereka lakukan di kehidupan mereka (di dunia) yaitu dari kesyirikan, kedzaliman dan kesesatan ? Mereka menjawab : Benar, (kami) telah di ganjar dengan adzab yang tidaklah mengetahui seorang pun kecuali hanya Rabbul Alamin.

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!