Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat al-Jinn

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا

Arab-Latin: qul ụḥiya ilayya annahustama’a nafarum minal-jinni fa qālū innā sami’nā qur`ānan ‘ajabā

Terjemah Arti: 1. Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan,

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia

Surat ini diawali dengan perintah Allah kepada Nabi-Nya ﷺ agar mengatakan kepada kaumnya : Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku bahwa segolongan jin, mereka telah mendengar bacaan Al Qur’an; Dimana pada saat itu Nabi ﷺ shalat di luar Mekkah dan mengeraskan bacaannya; Pada saat itu berpapasanlah dengan segolongan jin, kemudian mereka mendengarnya disaat Rasul membacanya; Mereka saling berwasiat agar diam dan menyimak bacaan Al Qur’an sampai selesesainya bacaan. Maka ketika segolongan jin tersebut kembali kepada kaumnya, mereka berkata : Sungguh kami mendengar Al Qur’an yang agung dan indah, kami belum pernah mendengar dengan yang semisal dengannya selama kami hidup. Dikatakan juga (oleh para ahli tafsir) bahwa surat yang telah didengar (oleh jin) adalah surat Iqra’ (Al Alaq), berkata yang lain surat Ar Rahman. Faidah pengkabaran dari Rasul ﷺ ini adalah sebagai kabar bahwa Rasul adalah utusan bagi Jin dan Manusia, dan pengkabaran bahwa pencegahan orang-orang kafir (dari masuknya ke dalam agama islam) dan penentangan mereka atas Rasul, tidaklah kecuali hanyalah sebagai bentuk penjagaan dari pembesar-pembesar mereka dan hanyalah masalah kekuasaan dari siapa yang mengikuti selain pembesar-pembesar mereka, yang mereka telah mati (nenek moyang mereka), sebagaimana dikatakan Abu Jahl kepada Abu Thalib : Apakah engkau hendak mengikuti jalannya Abdul Muththalib. Sebagaimana jin yang tidaklah diutus kepadanya para Rasul; Mereka para jin mengikuti petunjuk yang datang dari Muhammad ﷺ. Berkata para ahli tafsir : Mereka orang-orang musyrik lari dari (permisalan) para jin (yang mendapat petunjuk) karena sebab mereka para jin sebelumnya mengikuti agama yahudi. Para ahli tafsir berhukum dengan firman Allah : قَالُوا۟ يَـٰقَوْمَنَآ إِنَّا سَمِعْنَا كِتَـٰبًا أُنزِلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰ, yang artinya : Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa”. {Al Ahqaf : 30}.

يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ ۖ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا

yahdī ilar-rusydi fa āmannā bih, wa lan nusyrika birabbinā aḥadā

2. (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami,

Kemudian berkata para jin yang mendengar Al Qur’an : Inilah Al Qur’an sebagai petunjuk kepada kebenaran dan petunjuk kepada jalan yang lurus; Maka kami membenarkannya dan beriman dengan apa yang terkandung padanya dari dakwah ikhlas menyembah kepada Allah saja, dan kami tidak menyekutukan Rabb kami dan Pencipta kami yang Esa.

وَأَنَّهُ تَعَالَىٰ جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا

wa annahụ ta’ālā jaddu rabbinā mattakhaża ṣāḥibataw wa lā waladā

3. dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak.

Kemudian berkata para jin yang mendengar Al Qur’an dengan memuji atas Allah : Sesungguhnya Allah Maha Tinggi dan Agung yaitu Tuhan kami, dan Yang Maha Suci Dzat-Nya dan Sifat-Nya dari mengambil istri atau memiliki anak, sebagaimana berkata mereka (yang menisbatkan) Allah memiliki istri dan anak, yaitu perkataan dari mereka manusia dan jin yang dungu.

وَأَنَّهُ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى اللَّهِ شَطَطًا

wa annahụ kāna yaqụlu safīhunā ‘alallāhi syaṭaṭā

4. Dan bahwasanya: orang yang kurang akal daripada kami selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah,

Berkata para jin yang mendengar Al Qur’an : Sesungguhnya mereka yang dungu dan bodoh dan kurang akal, mereka berkata atas Allah dengan perkataan yang jauh dan melampaui batas dengan dakwaan bahwa Allah memiliki teman dan anak.

وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ تَقُولَ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

wa annā ẓanannā al lan taqụlal-insu wal-jinnu ‘alallāhi każibā

5. dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah.

Berkata para jin yang mendengar Al Qur’an : Dan sesungguhnya kami tidak pernah berkhayal dan menduga bahwa ada seorangpun didapatu dari manusia dan jin yang mendustakan Allah. Dengan klaim mereka bahwa Allah memiliki teman, anak dan sekutu.

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

wa annahụ kāna rijālum minal-insi ya’ụżụna birijālim minal-jinni fa zādụhum rahaqā

6. Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.

Berkata para jin yang mendengar Al Qur’an : Sungguh laki-laki dari kalangan manusia ada yang meminta pertolongan kepada laki-laki dari kalangan jin ketika mereka takut dan ketakutan, maka ketika memandang mereka (manusia) meminta perlindungan kepada jin ketika mereka ketakutan, maka para jin menambah ketakutan dalam hatinya dan menakut-nakuti sampai mereka (manusia) tambah keinginannya meminta perlindungan kepada jin. Dengan itu maka mereka (manusia) nampak ketika turun ke lembah, mereka berkata : Aku berlindung kepada penunggu lembah ini dari kebodohan kaum kami; Mereka menyangka bahwa jin mampu untuk menyelamatkan dan mencelakakan dengan tanpa izin Allah dan takdir-Nya.

وَأَنَّهُمْ ظَنُّوا كَمَا ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَبْعَثَ اللَّهُ أَحَدًا

wa annahum ẓannụ kamā ẓanantum al lay yab’aṡallāhu aḥadā

7. Dan sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimana persangkaan kamu (orang-orang kafir Mekah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (rasul)pun,

Berkata para jin yang mendengar Al Qur’an : Sesungguhnya mereka jin yang bodoh menyangka bahwa Allah tidak akan membangkitkan seorang pun di antara mereka / makhluk setelah kematian, ini hanyalah sangkaan dan keyakinan yang juga kalian yakini wahai orang-orang kafir.

وَأَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيدًا وَشُهُبًا

wa annā lamasnas-samā`a fa wajadnāhā muli`at ḥarasan syadīdaw wa syuhubā

8. dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api,

Berkata para jin yang mendengar Al Qur’an : Sesungguhnya jin menginginkan sampainya berita dari langit dengan mendengar langsung ucapan penghuni langit, maka didapati setelah turunnya Al Qur’an (di langit) penuh penjaga yang ketat dalam bentuk panah dan malaikat yang menjaga langit yang membuat takut mereka (jin) lain yang mendengarnya.

وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ ۖ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا

wa annā kunnā naq’udu min-hā maqā’ida lis-sam’, fa may yastami’il-āna yajid lahụ syihābar raṣadā

9. dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).

Berkata para jin yang mendengar Al Qur’an : Dahulu jin sebelum diutusnya Muhammad ﷺ memiliki tempat di langit untuk mendengarkan berita dari langit dan mengabarkan kabar tersbut kepada para dukun, akan tetapi siapa saja sekarang yang mencoba untuk mendengar kabar dari langit akan ketakutan setelah diturunkannya Al Qur’an karena didapati adanya panah yang siap memanah sampai membakar mereka dan membinasakannya.

وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا

wa annā lā nadrī asyarrun urīda biman fil-arḍi am arāda bihim rabbuhum rasyadā

10. Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.

Berkata para jin yang mendengar Al Qur’an : Sesungguhnya kami tidaklah mengetahui apakah penjaga yang tegas dan panah ini (yaitu bagi siapa yang mencoba mendengar berita dari langit), apakah ia adalah adzab yang Allah ingin timpakan kepada penghuni bumi ataukah sebagai tanda diutusnya utusan (Rasul) kepada mereka yang akan memberikan petunjuk dan menunjukkan kebenaran kepada mereka.

وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَٰلِكَ ۖ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا

wa annā minnaṣ-ṣāliḥụna wa minnā dụna żālik, kunnā ṭarā`iqa qidadā

11. Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.

Berkata para jin yang mendengar Al Qur’an : Dan di antara kami ada yang disifati dengan keshalihan dan di antara kami ada kaum yang tidak demikian, yaitu kafir dan fasiq. Dan sungguh keadaan kami sebelum turunnya Al Qur’an adalah segolongan yang beraneka ragam yang bermacam-macam. Setiap kaum memiliki cara tersendiri dalam beramal dan berkeyakinan.

وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ نُعْجِزَ اللَّهَ فِي الْأَرْضِ وَلَنْ نُعْجِزَهُ هَرَبًا

wa annā ẓanannā al lan nu’jizallāha fil-arḍi wa lan nu’jizahụ harabā

12. Dan sesungguhnya kami mengetahui bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (daripada)Nya dengan lari.

وَأَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَىٰ آمَنَّا بِهِ ۖ فَمَنْ يُؤْمِنْ بِرَبِّهِ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَلَا رَهَقًا

wa annā lammā sami’nal-hudā āmannā bih, fa may yu`mim birabbihī fa lā yakhāfu bakhsaw wa lā rahaqā

13. Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al Quran), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan.

Berkata para jin yang mendengar Al Qur’an : Sungguh kami telah yakin setelah beriman kepada Allah yang Maha Kuasa atas kami, dan bahwasanya kami terikat dengan-Nya dan kerajaan-Nya dimanapun kami berada. Dan tidak mungkin kami lolos dari adzab-Nya dan menyelamatkan diri dimana pun tempat dari tempat di muka bumi. Atau kami lari menuju ke langit jika kami ingin demikian, tapi sama saja (percuma).

وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ ۖ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُولَٰئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا

wa annā minnal-muslimụna wa minnal-qāsiṭụn, fa man aslama fa ulā`ika taḥarrau rasyadā

14. Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus.

وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا

wa ammal-qāsiṭụna fa kānụ lijahannama ḥaṭabā

15. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam.

14-15. Mereka berkata (dari kalangan jin) : Sungguh kaum kami dari kalangan jin setelah mendengar Al Qur’an terbagi menjadi dua golongan, golongan pertama adalah yang masuk islam karena Allah dan tunduk dengan ketaatan pada-Nya, maka mereka adalah yang menempuh jalan yang mengantarkan mereka kepada kebahagiaan, dan mereka memiliki tujuan untuk selamat dari adzab Allah. Adapun (golongan kedua) yaitu yang mereka dzalim dan para pengingkar agama Allah, maka sungguh mereka akan dibakar di dalam neraka. Mereka di bakar di dalamnya, sebagaimana dibakarnya manusia karena sebab kekafirannya.

وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا

wa al lawistaqāmụ ‘alaṭ-ṭarīqati la`asqaināhum mā`an gadaqā

16. Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).

لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا

linaftinahum fīh, wa may yu’riḍ ‘an żikri rabbihī yasluk-hu ‘ażāban ṣa’adā

17. Untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat.

16-17. Seandainya kalian wahai orang-orang kafir mau istiqamah menempuh jalan yang padanya datang wahyu, maka sungguh Allah akan bukakan pintu-pintu rezeki kepada kalian, dan akan Allah luaskan dunia pada kalian; Untuk menguji kalian dengan nikmat ini dan Allah akan melihat siapa yang mengakui karunianya kemudian ia bersyukur kepada Allah. Dan barangsiapa yang melampaui batas maka di akan jatuh dalam cobaan dan celaka. Kemudian Allah mengabarkan, barangsiapa yang menolak Al Qur’an maka Allah akan timpakan adzab yang pedih. Allah menegaskan akan air dengan menyebutkannya karena air adalah sumber kehidupan yang tidak aka nada kehidupan kecuali dengannya. Allah berfirman : وَجَعَلْنَا مِنَ ٱلْمَآءِ كُلَّ شَىْءٍ حَىٍّ , yang artinya : Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. {Al Anbiya : 30}.

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

wa annal-masājida lillāhi fa lā tad’ụ ma’allāhi aḥadā

18. Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.

Allah mengabarkan bahwa masjid-masjid itu tempat untuk shalat dan bangunannya untuk beribadah kepada Allah dan mentauhidkan-Nya; Dan tidaklah di dalamnya di ibadahi selain Allah, dan tidak menyekutukan-Nya di dalamnya dengan sesuatu apapun,karena sebab syirik akbar adalah dosa yang besar, dan kufur kepada Allah.

وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا

wa annahụ lammā qāma ‘abdullāhi yad’ụhu kādụ yakụnụna ‘alaihi libadā

19. Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.

Allah mengabarkan keadaan jin ketika Nabi mengerjakan shalat dan mengeraskan suaranya dan Nabi tidak mengetahui wujud mereka (jin). Dimana mereka para jin datang satu persatu dan hampir-hampir penuh karena sebab hadir secara berjamaah berduyun-duyun yang sungguh saling berdesak-desakan sebagian dari mereka kepada sebagian yang lain, karena semangat mereka untuk mendengar Al Qur’an, untuk memahami apa yang Rasul ﷺ ucapkan (baca).

قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا

qul innamā ad’ụ rabbī wa lā usyriku bihī aḥadā

20. Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya”.

قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا

qul innī lā amliku lakum ḍarraw wa lā rasyadā

21. Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan”.

قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا

qul innī lay yujīranī minallāhi aḥaduw wa lan ajida min dụnihī multaḥadā

22. Katakanlah: “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya”.

إِلَّا بَلَاغًا مِنَ اللَّهِ وَرِسَالَاتِهِ ۚ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا

illā balāgam minallāhi wa risālātih, wa may ya’ṣillāha wa rasụlahụ fa inna lahụ nāra jahannama khālidīna fīhā abadā

23. Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.

20-23. Katakan wahai Nabi Allah kepada mereka orang-orang kafir : Ketahuilah wahai manusia, sungguh aku hanya beribadah kepada Allah saja, dan aku tidak menyekutukan-Nya dengan apapun. Dan oleh sebab itu Quraisy, mereka menuntut Nabi agar meniadakan dakwahnya untuk menyeru kepada Allah, maka Allah turunkan ayat ini. Katakan olehmu juga : Sesungguhnya aku tidak dapat mencegah dari adzab Allah yang ditimpakan kepada salah satu dari manusia, jika manusia tersebut bermaksiat kepada-Nya., dan tidak ada jalan keluar dan lolos dari adzab Allah. Sesungguhnya Allah saja yang Maha Menguasai dan telah disampaikan kerisalahan dari Allah kepada kalian, dan setelah sampai kerisalahan-Nya, maka ketahuilah barangsiapa yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan menolak akan agamanya, maka sungguh balasannya adalah neraka yang tidak akan keluar darinya selamanya. Dan firman-Nya : وَمَن يَعْصِ, yaitu bermaksiat disini maknanya adalah kufur; Karena semata-mata bermaksiat diiringi dengan keimanan, maka tidak akan kekal dalam neraka.

حَتَّىٰ إِذَا رَأَوْا مَا يُوعَدُونَ فَسَيَعْلَمُونَ مَنْ أَضْعَفُ نَاصِرًا وَأَقَلُّ عَدَدًا

ḥattā iżā ra`au mā yụ’adụna fa saya’lamụna man aḍ’afu nāṣiraw wa aqallu ‘adadā

24. Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya.

Ketahuilah wahai Nabo, bahwa mereka kafir tidak akan pernah hilang dari sifat keras kepala akan kekafirannya, dan menyerang Nabi ﷺ dan orang-orang beriman sampai mereka melihat janji Allah kepada mereka dari adzab Allah dengan mata-mata mereka masing-masing. Mereka akan paham pada suatu saat siapa yang paling lemah pertolongannya dan terbatas pasukannya; Dimana sesungguhnya orang-orang kafir di hari kiamat mereka akan menjadi lemah, tertunduk dan hina.

قُلْ إِنْ أَدْرِي أَقَرِيبٌ مَا تُوعَدُونَ أَمْ يَجْعَلُ لَهُ رَبِّي أَمَدًا

qul in adrī a qarībum mā tụ’adụna am yaj’alu lahụ rabbī amadā

25. Katakanlah: “Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Tuhanku menjadikan bagi (kedatangan) azab itu masa yang panjang?”.

Ketika mereka terburu-buru meminta kepada Nabi adzab, maka Allah memerintahkan Nabi untuk berkata kepada mereka : Ketahuilah wahai kafir, adzab Allah akan diturunkan kepada kalian jika kalian tidak beriman, dan tidak ada keraguan atas hal itu. Akan tetapi aku tidaklah mengetahui akan datangnya adzab ini yang akan dataang dalam waktu dekat atau jauh.

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا

‘ālimul-gaibi fa lā yuẓ-hiru ‘alā gaibihī aḥadā

26. (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.

إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

illā manirtaḍā mir rasụlin fa innahụ yasluku mim baini yadaihi wa min khalfihī raṣadā

27. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.

26-27. Ketahuilah wahai manusia, bahwasanya Allah Maha Mengetahui dari apa yang tidak nampak dari pandangan makhluknya. Dan tidaklah mengetahui dari sesuatu yang ghaib kecuali bagi siapa yang diridhai-Nya, dipilih-Nya, dari para Rasul-Nya. Sungguh Allah menampakkan atas apa yang dikendaki-Nya dengan sebab terkandung kebaikan dalam berdakwah dan yang di dalamnya terkandung hikmah; Agar hal itu menjadi sebuah mukjizat bagi Rasul, kemudian Allah menjaga Rasul dengan malaikat yang menjangkau dari segala penjuru dan menjaganya dari setiap keburukan.

لِيَعْلَمَ أَنْ قَدْ أَبْلَغُوا رِسَالَاتِ رَبِّهِمْ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَأَحْصَىٰ كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا

liya’lama ang qad ablagụ risālāti rabbihim wa aḥāṭa bimā ladaihim wa aḥṣā kulla syai`in ‘adadā

28. Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.

Allah menjelaskan menjaga para Rasul-Nya dengan malaikat, untuk menjamin bahwa kerisalahan dari Rabb mereka telah disampaikan, dengan tanpa tambahan maupun pengurangan, bersamaan dengan itu Allah Maha Mengetahui atas apa yang mereka kerjakan dahulu; Akan tetapi Allah Maha Adil, tidak menghisab seorang hamba kecuali telah dikerjakan perbuatannya. Sebagaimana ilmu Allah juga mencakup atas apa yang di sisi para utusan-Nya, tidaklah tersembunyi bagi-Nya sesuatupun dari urusan mereka. Dan Allah dapat menghitung segala sesuatunya di alam ini dengan perhitungan yang sempurna dan mengetahui secara sempurna.

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!