Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat al-Qalam

ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ

Arab-Latin: nūn, wal-qalami wa mā yasṭurụn

Terjemah Arti: 1. Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia

Ayat ini dimulai dengan huruf Al Muqatha’ah di awal surat. Allah bersumpah dengan Qalam yang dengannya dinamakan surat ini. Al Qalam adalah Ismu Jinsi yang umum, yang mengandung atas setiap alat untuk menulis (pena) yang digunakan untuk menggores (menulis) buku. Dan Allah bersumpah dengan apa yang dikehendaki dari makhluknya. Adapun manusia maka haram bagi mereka bersumpah dengan selain Allah, sebab tidak ada yang lebih agung daripada Allah. Sumpah ini adalah bagian dari pemuliaan, pengagungan dan penghormatan bagi pena.

مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ

mā anta bini’mati rabbika bimajnụn

2. berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.

Kemudian datang jawaban bagi sumpah pada ayat sebelumnya, Allah berkata : Tidaklah engkau wahai Nabi, dengan sebab karunia dan nikmat-Nya atasmu, yang dengannya engkau membawa kerisalahan dan cahaya, yang engkau sendiri bukanlah termasuk orang yang lemah akalnya dan bodoh.

وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ

wa inna laka la`ajran gaira mamnụn

3. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.

Sesungguhnya bagimu (Nabi ﷺ) telah mendapatkan balasan yang besar dan derajat yang tinggi di sisi Allah, tidak ada seorangpun (selain Allah) yang memberi kenikmatan kepadamu.

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

wa innaka la’alā khuluqin ‘aẓīm

4. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Allah menjelaskan bahwa Nabi memiliki akhlak yang luhur. Ini adalah persaksian dan pujian dari Allah bagi Rasul ﷺ. Telah ditanya Ummul Mukminin Aisyah tentang akhlak Rasul, maka ia berkata : Akhlak Rasul ﷺ adalah Al Qur’an.

فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُونَ

fa satubṣiru wa yubṣirụn

5. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir)pun akan melihat,

بِأَيْيِكُمُ الْمَفْتُونُ

bi`ayyikumul-maftụn

6. siapa di antara kamu yang gila.

5-6. Allah memberikan kabar baik kepada Nabi-Nya akan sesuatu yang dekat ﷺ bahwa mereka orang-orang musyrik Mekkah akan melihat dengan mata-mata mereka sendiri siapa di antara kalian yang gila ? Berkata Muqatil : Ini Adalah janji dan ancaman dengan adzab yang mereka dapatkan di perang Badr.

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

inna rabbaka huwa a’lamu biman ḍalla ‘an sabīlihī wa huwa a’lamu bil-muhtadīn

7. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dialah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Kemudian Allah menjelaskan bahwa hanya Dia yang mengetahui siapa yang tersesat dari jalan kesesatan, dan termasuk membuat Allah murka. Dia juga mengetahui siapa yang menempuh jalan hidayah dan jalan orang-orang yang selamat.

فَلَا تُطِعِ الْمُكَذِّبِينَ

fa lā tuṭi’il-mukażżibīn

8. Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).

Janganlah engkau taati wahai Nabi, mereka orang-orang kafir yang mendustakan ayat-ayat Allah dan Rasul-Nya. Dan tetaplah atas apa yang engkau di atas kebenaran yang nyata dan jelas. Rasul adalah maksum (terjaga dari dosa), Allah mengatakan demikian sebagai pembelajaran bagi umat dan bagi para dai di antara manusia.

وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

waddụ lau tud-hinu fa yud-hinụn

9. Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).

Allah menjelaskan bahwa orang-orang kafir, mereka berharap seandainya engkau lemah lembut kepada mereka, dan tidak memperingatkan mereka di atas kebathilan mereka, dimana mereka akan memperlakukanmu dengan tidak menganggapmu musuh, tidak juga membencimu dengan mengatakan kepadamu orang gila dan selainnya. Berkata Syaikh Al Jazairi : Al Adhan adalah engkau memudahkan atas sesuatu yang berkaitan dengan urusan agamamu; Dan ini menyelisihi Al Mudaraat yang ia adalah engkau memudahkan sesuatu dari urusan agamamu dengan sebab (prioritas) kepada agamamu. Berkata DR Walid Al Furayyan : Al Mudaahanah adalah membiarkan (diam) atas kemungkaran yang diiringi dengan kemampuan untuk merubahnya; Menyembunyikan untuk sebuah ketenangan karena sebab diperintah atau urusan yang lain.

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ

wa lā tuṭi’ kulla ḥallāfim mahīn

10. Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina,

Allah menjelaskan orang yang berunding dengan Rasul ﷺ dan melarangnya sebagaimana memiliki sifat yang telah dijelaskan (pada ayat sebelumnya), Allah berkata : Jangan engkau taati wahai Nabi Allah, bagi siapa yang memiliki sifat banyak (plin-plan) dan berdusta serta hina.

هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

hammāzim masysyā`im binamīm

11. yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah,

Dan sebagian dari sifatnya adalah suka mencela terhadap manusia dan senang menggunjing sesamanya.

مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ

mannā’il lil-khairi mu’tadin aṡīm

12. yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa,

Sebagian dari sifatnya juga adalah bakhil akan nafkah, (dan) yang membolehkan menerobos batasan (yaitu) berbuat kesalahan kepada manusia.

عُتُلٍّ بَعْدَ ذَٰلِكَ زَنِيمٍ

‘utullim ba’da żālika zanīm

13. yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya,

Dan sebagian sifatnya juga adalah banyak berbuat dosa, dahsyat dalam kekufurannya, yang memalukan dan rendahan. Maka setelah disebutkan sifat-sifat ini yang tercela dan nisbatnya kepada keraguan (dalam beragama), yang dimaksud di sini adalah terkumpulnya (pada mereka) sifat makar (tipu daya) dan keburukan.

أَنْ كَانَ ذَا مَالٍ وَبَنِينَ

ang kāna żā māliw wa banīn

14. karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak.

Allah menjelaskan sebab mereka (demikian adalah) karena memiliki harta, kekayaan dan anak yang dengannya ia merasa kaya kemudian mendustakan ayat-ayat Allah.

إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

iżā tutlā ‘alaihi āyātunā qāla asāṭīrul-awwalīn

15. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala”.

Allah menjelaskan jika dibacakan ayat Al Qur’an kepada mereka (orang yang mengajak berunding), mereka berkata : Tidaklah ini kecuali hanya dongeng dan hikayat, serta khurafat dari orang-orang yang terdahulu.

سَنَسِمُهُ عَلَى الْخُرْطُومِ

sanasimuhụ ‘alal-khurṭụm

16. Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai(nya).

Allah mengabarkan bahwasanya ia dengan segala sifatnya ini yang buruk akan menjadikan kekafirannya memiliki tanda di hidungnya yang terhinakan dengannya selama kehidupannya, dan telah ia dapatkan secara sempurna di perang Badr.

إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ

innā balaunāhum kamā balaunā aṣ-ḥābal-jannah, iż aqsamụ layaṣrimunnahā muṣbiḥīn

17. Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akanmemetik (hasil)nya di pagi hari,

Allah mengabarkan bahwa Ia menguji penduduk Mekkah dengan rasa lapar dan kekeringan karena sebab mereka kufur akan nikmat yang Allah berikan dan mendustakan utusan-Nya Muhammad ﷺ, sebagaimana Allah telah uji sebelumnya, yaitu pemilik kebun yang berkompot untuk merebut harta orang miskin; Pada saat itu, ketika mereka bersumpah akan memetik buah di kebun mereka di waktu pagi sekali, sebelum mereka mendatangi faqir dan miskin untuk memberikan kepada mereka apa yang menjadi kebiasaan mereka setiap tahunnya.

وَلَا يَسْتَثْنُونَ

wa lā yastaṡnụn

18. dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin),

Allah menjelaskan bahwa mereka terlalu yakin sehingga tidak mengucapkan Insya Allah. Dan kisah berkenaan dengan penghuni surga : Dulu bapak mereka adalah orang yang shalih yang memiliki kebun, Dan jika berbuah ia bagi buahnya menjadi tiga bagian. Bagian untuk keluarganya, bagian untuk ditanam kembali intuk bercocok-tanam dan bagian untuk faqir dan miskin. Maka ketika ia mati, anak-anaknya berkata : Tidak ada bagian untuk orang faqir dan miskin. Maka Allah menurunkan hukuman bagi mereka, karena sebab niat dan perbuatan mereka.

فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِنْ رَبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ

fa ṭāfa ‘alaihā ṭā`ifum mir rabbika wa hum nā`imụn

19. lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur,

Kemudian Allah menurunkan atas kebunnya, api yang membakar kebunnya dan mebinasakannya di malam hari, dan mereka pada saat itu sedang terlelap.

فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ

fa aṣbaḥat kaṣ-ṣarīm

20. maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita.

Maka jadilah kebunnya hitam sebagaimana malam yang gelap gulita.

فَتَنَادَوْا مُصْبِحِينَ

fa tanādau muṣbiḥīn

21. lalu mereka panggil memanggil di pagi hari:

أَنِ اغْدُوا عَلَىٰ حَرْثِكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَارِمِينَ

anigdụ ‘alā ḥarṡikum ing kuntum ṣārimīn

22. “Pergilah diwaktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya”.

21-22. Maka ketika muncul matahari, maka sebagian dari mereka menyeru kepada sebagian yang lain : Mari kita pergi pagi-pagi sekali ke kebun untuk mengambil buah-buahan sebelum datang orang-orang miskin (faqir) jika memang kalian orang-orang yang bersemangat.

فَانْطَلَقُوا وَهُمْ يَتَخَافَتُونَ

fanṭalaqụ wa hum yatakhāfatụn

23. Maka pergilah mereka saling berbisik-bisik.

أَنْ لَا يَدْخُلَنَّهَا الْيَوْمَ عَلَيْكُمْ مِسْكِينٌ

al lā yadkhulannahal-yauma ‘alaikum miskīn

24. “Pada hari ini janganlah ada seorang miskinpun masuk ke dalam kebunmu”.

23-24. Maka keluarlah mereka menuju kebunnya, dan mereka saling berucap dengan suara yang lirih, agar mereka saling mengetahui. Mereka saling mengatakan : Jangan kalian biarkan masuk ke dalam kebun ini (pada hari ini), tidak satupun bagi kalian membiarkan masuk ke dalamnya orang faqir dan miskin.

وَغَدَوْا عَلَىٰ حَرْدٍ قَادِرِينَ

wa gadau ‘alā ḥarding qādirīn

25. Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka (menolongnya).

Allah mengabarkan bahwa mereka pagi-pagi sekali di atas niatnya yang jelek ber-azzam, karena sebab sok kuasa mereka ber-azzam dengan sesuatu yang buruk.

فَلَمَّا رَأَوْهَا قَالُوا إِنَّا لَضَالُّونَ

fa lammā ra`auhā qālū innā laḍāllụn

26. Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata: “Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan),

Maka ketika mereka sampai pada kebun mereka, mereka melihat kebun mereka (dan seakan-akan tidak percaya), mereka berkata : Sungguh kita adalah orang-orang yang tersesat dari jalan yang benar, ini bukanlah kebun kita.

بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ

bal naḥnu maḥrụmụn

27. bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)”.

Kemudian ketika mereka melihat dengan yakin, mereka mengetahui bahwa itu adalah kebun mereka, dan sesungguhnya Allah menimpakan hukuman kepada mereka. Mereka berkata : Ini adalah kebun kita, akan tetapi sudah tak tersisa bagi kita, dan tak tersisa buahnya lagi; Karena sebab kita mempunyai niat menahan kebaikan terhadap orang-orang miskin.

قَالَ أَوْسَطُهُمْ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ لَوْلَا تُسَبِّحُونَ

qāla ausaṭuhum a lam aqul lakum lau lā tusabbiḥụn

28. Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka: “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)?”

Berkata orang yang berakal di antara mereka : Bukankah kalian punya akal ? Takutlah kalian kepada Allah dan jangan kalian mengharamkan bagian untuk orang faqir dan sucikan (bertasbihlah) kepada Allah atas apa yang tidak sesuai dengan Dzat-Nya.

قَالُوا سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ

qālụ sub-ḥāna rabbinā innā kunnā ẓālimīn

29. Mereka mengucapkan: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim”.

Mereka berkata : Kami mensucikan Rabb kami dan Pencipta kami, sungguh kami telah melampaui batas. Akan tetapi mereka belum terlambat (dari bertaubat).

فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَلَاوَمُونَ

fa aqbala ba’ḍuhum ‘alā ba’ḍiy yatalāwamụn

30. Lalu sebahagian mereka menghadapi sebahagian yang lain seraya cela mencela.

Kemudian sebagian dari mereka saling menyalahkan terhadap sebagian yang lain atas apa yang mereka telah perbuat.

قَالُوا يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا طَاغِينَ

qālụ yā wailanā innā kunnā ṭāgīn

31. Mereka berkata: “Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas”.

Mereka berkata : Sungguh kami orang-orang yang celaka dan binasa. Sungguh kami adalah orang yang melampaui batasan-batasan Allah, dengan ber-azzam untuk menahan hak-hak orang miskin.

عَسَىٰ رَبُّنَا أَنْ يُبْدِلَنَا خَيْرًا مِنْهَا إِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا رَاغِبُونَ

‘asā rabbunā ay yubdilanā khairam min-hā innā ilā rabbinā rāgibụn

32. Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Tuhan kita.

Mereka menyesal, bertaubat dan kembali kepada Allah, dan berharap Allah mengampuni mereka. Mereka berkata : Semoga Rabb kami memberikan kepada kami kebaikan atas apa yang ditimpakan dari kebun ini, sungguh kami akan kembali kepada Rabb kami, dan bertaubat kepada-Nya. Semoga Allah memberi kebaikan, memaafkan dan memberi sesuatu yang lebih baik.

كَذَٰلِكَ الْعَذَابُ ۖ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

każālikal-‘ażāb, wa la’ażābul-ākhirati akbar, lau kānụ ya’lamụn

33. Seperti itulah azab (dunia). Dan sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui.

Allah mengabarkan permisalan ini yaitu adzab di dunia yang diturunkan-Nya kepada pemilik kebun yang diadzab karena sebab mereka menyimpang dan bermaksiat dengan apa yang Allah perintahkan. Dan mereka tidak menjalankan hak Allah dalam kewajiban mereka untuk taat kepada-Nya. Adzab akhirat lebih besar dan lebih mengerikan dari adzab dunia, akan tetapi orang-orang kafir tidaklah memahami.

إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ

inna lil-muttaqīna ‘inda rabbihim jannātin na’īm

34. Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya.

Ketahuilah oleh kalian bahwasanya Allah menyiapkan bagi orang-orang yang bertakwa, yang mana diantara mereka dan adzab ada sesuatu yang mencegahnya (dari adzab), yaitu dengan ketauhidannya, kemudian dengan mengerjakan apa yang diperintah Allah dan menjauhi apa yang Allah larang. Allah berikan mereka surga, yang di dalamnya tidak pernah dilihat oleh mata, tidak juga telinga pernah mendengarnya dan tidak juga ada kekhawatian di dalam hati manusia.

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ

a fa naj’alul-muslimīna kal-mujrimīn

35. Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)?

مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

mā lakum, kaifa taḥkumụn

36. Atau adakah kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan?

35-36. Allah berkata dengan maksud pengingkaran : Apakah Aku menjadikan muslim yang jujur sama dengan kafir yang musyrik ? Atau adakah kamu (berbuat demikian sebagaimana orang-orang muslim), bagaimanakah kamu mengambil keputusan wahai orang-orang musyrik atas perbuatanmu yang menyimpang (bengkok) dan sewenang-wenang ? Dan itulah orang-orang musyrik Mekkah, mereka mengatakan : Jika disana terdapat akhirat dan hari kebangkitan, maka tidaklah serta merta menjadikan Muhammad dan pengikutnya lebih baik keadaannya dibandingkan kami. Dan atas keburukan mereka, kami akan bandingkan (di antara mereka dengan orang yang beriman). Inilah tipuan mereka yang tak jelas dan bujuk rayu mereka kepada kaum muslimin.

أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ

am lakum kitābun fīhi tadrusụn

37. Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya?,

Kemudian Allah cela mereka atas kedustaan mereka dan tipu daya mereka, Allah berkata : Apakah kalian orang-orang yang berdosa memiliki kitab yang diturunkan kepada kalian, yang kitab tersebut dibacakan kepada kalian dan kalian mendapati bahwa orang-orang islam sama dengan orang-orang musyrik yang pendosa ?!

إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ

inna lakum fīhi lamā takhayyarụn

38. bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu.

Apakah kalian mendapati pada kitab tersebut, bahwa kalian boleh memilih apa yang kalian senangi ?!

أَمْ لَكُمْ أَيْمَانٌ عَلَيْنَا بَالِغَةٌ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۙ إِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُونَ

am lakum aimānun ‘alainā bāligatun ilā yaumil-qiyāmati inna lakum lamā taḥkumụn

39. Atau apakah kamu memperoleh janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari kiamat; sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)?

Atau kalian (diharuskan) mengambil janji dan kalian harus tepati dan imani (yang kami tidak akan ubah sampai hari kiamat), dan bagi kalian apakah dapat memilih atas apa yang kalian inginkan ?!!

سَلْهُمْ أَيُّهُمْ بِذَٰلِكَ زَعِيمٌ

sal-hum ayyuhum biżālika za’īm

40. Tanyakanlah kepada mereka: “Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?”

Maka tanayakan wahai Nabi Allah kepada mereka orang-orang musyrik : Siapakah yang bertanggung jawab dan tetap dengan tanggung jawabnya atas keputusannya ini saat dikumpulkannya pada hari kiamat ?

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ فَلْيَأْتُوا بِشُرَكَائِهِمْ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ

am lahum syurakā`, falya`tụ bisyurakā`ihim ing kānụ ṣādiqīn

41. Atau apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? Maka hendaklah mereka mendatangkan sekutu-sekutunya jika mereka adalah orang-orang yang benar.

Apakah tuhan-tuhan mereka yang bertanggung jawab bagi mereka (orang-orang musyrik) yang tuhan-tuhan tersebut berkata : Sesungguhnya muslim sama (keadaannya) dengan orang yang pendosa pada hari kiamat ? Maka datangkanlah sekutu-sekutu kalian jika kalian adalah orang-orang yang jujur atas klaim kalian dan dakwah kalian.

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ

yauma yuksyafu ‘an sāqiw wa yud’auna ilas-sujụdi fa lā yastaṭī’ụn

42. Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa,

Dan kabarkanlah wahai Nabi Allah kepada mereka orang-orang musyrik akan kedatangan Allah pada hari kiamat untuk memisahkan antara hambanya dan balasan atas amalan mereka. Allah akan menyingkap betis-Nya yang mulia, dan yang tak diserupakan dengan apapun, kemudian Allah menyeru makhluk agar sujud kepada-Nya. Maka sujudlah orang-orang muslim dimana mereka sujud karena ketaatan dan atas dasar pilihan mereka sendiri di dunia. Adapun orang-orang kafir dan munafik, mereka mencoba sujud maka tidak dapat mereka untuk sujud, karena punggung-punggung mereka menjadi kaku, oleh sebab mereka di dunia menghalangi dirinya dari sujud kepada Allah. Rasulullah ﷺ berkata : Allah menyingkap betis-Nya, kemudian sujudlah semua orang-orang yang beriman, maka tersisalah siapa yang di dunia sujud atas dasar riya dan sum’ah, maka tertahanlah mereka untuk sujud, seraya punggung nya satu sama lain sama.

خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۖ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ

khāsyi’atan abṣāruhum tar-haquhum żillah, wa qad kānụ yud’auna ilas-sujụdi wa hum sālimụn

43. (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.

Allah mengabarkan tentang mereka orang-orang musyrik yang dengan pandangan-pandangan mereka di hari kiamat membuat mereka ketakutan dengan ketakutan yang sangat dan (akan) kengerian (hari kiamat). Wajah mereka menunduk kebawah dengan penuh kehinaan. Mereka dahulu diseur untuk sujud di dunia agar mereka diampuni dan dimaafkan; Akan tetapi mereka justru menyombongkan diri dan mengolok-olok; Maka mereka di hukum dengan ketidakmampuan mereka untuk bisa sujud di akhirat.

فَذَرْنِي وَمَنْ يُكَذِّبُ بِهَٰذَا الْحَدِيثِ ۖ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ

fa żarnī wa may yukażżibu bihāżal-ḥadīṡ, sanastadrijuhum min ḥaiṡu lā ya’lamụn

44. Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Quran). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui,

وَأُمْلِي لَهُمْ ۚ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ

wa umlī lahum, inna kaidī matīn

45. dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat tangguh.

44-45. Kemudian Allah meminta Nabi-Nya ﷺ untuk meninggalkan mereka yang mendustakan dan agar jangan tersibukkan dengan mereka dan agar jangan bersedih. Allah mengabarkan bahwa Dial ah yang bertanggung jawab membalas mereka, atas apa yang mereka pantas menerimanya setelah mereka diberikan Allah harta, anak, sebagai istidraj bagi mereka di dunia dimana mereka tak paham bahwa semua itu adalah istidraj yang menyebabkan mereka binasa. Kemudian Allah mengabarkan bahwa mereka akan diberikan waktu sampai semakin bertambah dosa mereka, dan semakin membuat mereka melampaui batas. Kemudian Allah ambil mereka (matikan) dengan keras. Allah menjelaskan bahwa waktu penangguhan bagi mereka sebagai bentuk tipuan bagi mereka, dan sebagai kesempatan bagi siapa yang bertaubat dan menyesali (amalannya).

أَمْ تَسْأَلُهُمْ أَجْرًا فَهُمْ مِنْ مَغْرَمٍ مُثْقَلُونَ

am tas`aluhum ajran fa hum mim magramim muṡqalụn

46. Apakah kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan hutang?

أَمْ عِنْدَهُمُ الْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُونَ

am ‘indahumul-gaibu fa hum yaktubụn

47. Ataukah ada pada mereka ilmu tentang yang ghaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetapkan)?

46-47. Engkau tanyakan wahai Nabi Allah kepada mereka orang-orang musyrik tentang upah keduniaan atas dakwahmu kepada mereka, apakah mereka terbebani dengan harus memberikan upah (kepadamu) ? Oleh sebab ini mereka menolak dakwahmu karena mereka takut terbebani dengan apa yang mereka tanggung, atau mereka memiliki ilmu ghaib yang nampak pada mereka sehingga dapat menghindarkan mereka agar tidak diadzab atas kekafirannya dan kesyirikan mereka ?

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوتِ إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ

faṣbir liḥukmi rabbika wa lā takung kaṣāḥibil-ḥụt, iż nādā wa huwa makẓụm

48. Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).

لَوْلَا أَنْ تَدَارَكَهُ نِعْمَةٌ مِنْ رَبِّهِ لَنُبِذَ بِالْعَرَاءِ وَهُوَ مَذْمُومٌ

lau lā an tadārakahụ ni’matum mir rabbihī lanubiża bil-‘arā`i wa huwa mażmụm

49. Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela.

فَاجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَجَعَلَهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

fajtabāhu rabbuhụ fa ja’alahụ minaṣ-ṣāliḥīn

50. Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.

48-50. Bersabarlah wahai Nabi Allah atas celaan mereka orang-orang musyrik dan teruslah dengan dakwahmu, jangan menjadi seperti penghuni perut ikan besar itu, (ia adalah Yunus), yang ia jemu akan kaumnya setelah bersungguh-sungguh dalam mendakwahkan kepada kaumnya, maka setelah ia menyangka (karena sebab desakan / paksaan mereka agar supaya kafir, dan Yunus kokoh di atas imannya), maka adzab akan datang kepada mereka. Yunus pergi menuju ke laut untuk menaiki perahu hingga selamat dari intaian musibah karena sebab kaumnya. Dan ia (Yunus) tidak menunggu izin dari Allah. Oleh karena itu Allah menghukumnya dengan memasukkannya ke dalam perut ikan besar. Kemudian Yunus berdoa dikala kondisi sempit kepada Allah, dan ia sedih dan berduka, ia berkata : لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَـٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ, artinya : Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim, {Al Anbiyaa : 87}. Maka kalaulah Allah tidak memberikan nikmat atas hamba-Nya (Yunus) dengan kasih sayang-Nya dan sebelum taubatnya, maka sungguh Yunus akan tercampakkan dari perut ikan besar ke tanah lapang yang kosong dan luas, yaitu tempat cacian (dari kaumnya). Akan tetapi Allah dengan rahmat-Nya, memerintahkan ikan yang besar menghempaskannya, (dan ini bukan sebuah celaan), kemudian Allah tumbuhkan pohon untuk menaungi (Yunus) dari terik matahari. Kemudian Allah amanahkan risalah kepadanya dan Allah jadikan ia termasuk orang yang shalih, kemudian Allah kembalikan ia kepada kaumnya, dan ia mendapatinya masih sama dengan apa yang kaumnya perbuat padanya. Kemudian kaumnya menerima dakwah (Yunus) dan kemudian mereka masuk islam.

وَإِنْ يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ

wa iy yakādullażīna kafarụ layuzliqụnaka bi`abṣārihim lammā sami’uż-żikra wa yaqụlụna innahụ lamajnụn

51. Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al Quran dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila”.

وَمَا هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ

wa mā huwa illā żikrul lil-‘ālamīn

52. Dan Al Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat.

51-52. Ketahuilah wahai Nabi Allah, bahwa mereka orang-orang musyrik ketika mereka mendengar Al Qur’an berencana menyerangmu dengan mata-mata mereka yang hasad dan kegeraman atas diri-diri mereka. Akan tetapi Allah telah menjagamu dari mereka. Mereka berkata : Sesungguhnya Rasul ini sungguh gila (tidak punya akal). Dan mereka tidaklah mengetahui bahwa mereka telah sesat, dan bahwasanya Al Qur’an adalah nasihat dan peringatan bagi setiap manusia dan jin.

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!