Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat ath-Tahrim

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ ۖ تَبْتَغِي مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Arab-Latin: yā ayyuhan-nabiyyu lima tuḥarrimu mā aḥallallāhu lak, tabtagī marḍāta azwājik, wallāhu gafụrur raḥīm

Terjemah Arti: 1. Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

قَدْ فَرَضَ اللَّهُ لَكُمْ تَحِلَّةَ أَيْمَانِكُمْ ۚ وَاللَّهُ مَوْلَاكُمْ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

qad faraḍallāhu lakum taḥillata aimānikum, wallāhu maulākum, wa huwal-‘alīmul-ḥakīm

2. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia

Surat ini dibuka dengan teguran Nabi ﷺ yang menegur dengan ringan; Dimana Nabi mengharamkan atas dirinya meminum madu demi menjaga kehormatannya (dan) karena mengkhawatirkan istrinya Aisyah dan Hafsah di dalam cerita yang telah dikenal. Dan dikatakan juga bahwa Nabi ﷺ mengharamkan atas dirinya untuk seorang hamba sahaya Maria Al Qibthiyyah untuk supaya istrinya yaitu Aisyah dan Hafsah ridha kepada diri Nabi ﷺ. Maka Allah berkata : Wahai Nabi janganlah engkau melarang meminum madu yang Allah telah halalkan kepadamu, yang engkau hanya mencari ridha istri-istrimu ? Oleh karenanya, tidak semstinya engkau mengharamkan apa yang Allah halalkan, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Luas ampunan-Nya, dan Maha Besar kasih sayang-Nya; Maka Allah telah ampuni Nabi dan mengampuni umatnya dengan menurunkan kafarat al yamin, maka jadilah umat secara umum menjadi ahli iman. Dapat dipetik manfaat pada ayat ini yaitu larangan mengharamkan apa yang Allah halalkan, dan berkata sebagian ulama : Sumpah Allah atas pengharaman apa yang telah Allah halalkan yang tidak mungkin dapat berkumpul (urusannya) satu sama lain. Berkata para ulama yang lain : Termasuk dari sumpah Allah, maka jika berharap apa yang telah Allah halalkan (kemudian dijadikan haram), kufur.

وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَىٰ بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَنْ بَعْضٍ ۖ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنْبَأَكَ هَٰذَا ۖ قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ

wa iż asarran-nabiyyu ilā ba’ḍi azwājihī ḥadīṡā, fa lammā nabba`at bihī wa aẓ-harahullāhu ‘alaihi ‘arrafa ba’ḍahụ wa a’raḍa ‘am ba’ḍ, fa lammā nabba`ahā bihī qālat man amba`aka hāżā, qāla nabba`aniyal-‘alīmul-khabīr

3. Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Ingatlah wahai Nabi ketika membicarakan secara rahasia kepada Hafshah, dan Nabi menuntut Hafshah agar tidak mengabarkan kepada siapapun, akan tetapi Hafshah tidak menjaga rahasia Nabi, ia mengabarkan kepada Aisyah. Dan datang kepada Nabi ﷺ kabar dari langit bahwa Hafshah mengabarkan rahasia Nabi, maka Nabi menegur Hafshah dan mengabarkan kepadanya tentang apa yang dikabarkan kepada Nabi dan diam pada sebagian kabar yang lain sebagai penghormatan dan malu kpada Hafshah. Setelah Nabi mengabarkan kesalahannya dan menegur Hafshah, maka Hafshah berkata : Siapa yang telah mengabarkan semuanya ini kepadamu ? Maka Nabi berkata kepadanya : Allah yang mengabarkanku yang Dia Maha Tahu atas semua rahasia seorang hamba, dan Yang Maha Mengabarkan dimana tidak ada sesuatupun yang tersembunyi di dumi maupun di langit.

إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا ۖ وَإِنْ تَظَاهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلَاهُ وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ بَعْدَ ذَٰلِكَ ظَهِيرٌ

in tatụbā ilallāhi fa qad ṣagat qulụbukumā, wa in taẓāharā ‘alaihi fa innallāha huwa maulāhu wa jibrīlu wa ṣāliḥul-mu`minīn, wal-malā`ikatu ba’da żālika ẓahīr

4. Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.

Kemudian Allah menujukan pembicaraannya kepada Aisyah dan Hafshah dan memerintahkan keduanya untuk bertaubat kepada Allah dari dosanya dan agar menahan diri dari menyelisihi perintah Rasulullah ﷺ; Dimana mereka berdua condong hatinya dan berpaling dari apa yang diwajibkan kepada keduanya dari menyembunyikan rahasia Rasulullah ﷺ, dan agar mereka berdua membuat Rasul tenang dan menjauhi dari menyakitinya. Adapun jika sebaliknya, dan mereka berdua saling bantu atas keburukan dengan menyepelekan untuk merubah dan merusak rahasia Nabi ﷺ; Maka Allah adalah yang bertanggung jawab menolong Nabi, dan juga Jibril, dan orang-orang mukmin yang shalih, dan para malaikat dan siapa saja yang nampak dan yang ditentukan (untuk menolong). Dengan makna, siapa saja yang mencoba membuat marah Nabi ﷺ atau menyakitinya, maka dia bukanlah termasuk seorang mukmin yang shalih.

عَسَىٰ رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا

‘asā rabbuhū in ṭallaqakunna ay yubdilahū azwājan khairam mingkunna muslimātim mu`mināting qānitātin tā`ibātin ‘ābidātin sā`iḥātin ṡayyibātiw wa abkārā

5. Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.

Kemudian Allah mengarahkan perkataan-Nya kepada istri-istri Nabi ﷺ, setelah di antara mereka ada yang merusak dan mencela rahasia Nabi. Allah mengabarkan bahwasanya jika Nabi mentalak mereka semua, maka Allah pasti akan memberikan ganti dengan istri-istri yang lebih baik yang kokoh keislamannya dan keimanannya, yang gigih dalam beribadah dan terbebas dari dosa, dan tunduk dengan perintah Rasulullah ﷺ, yang sebagiannya adalah janda dan sebagian yang lain masih gadis. Telah datang pada turunnya ayat ini bahwa istri-istri Nabi ﷺ ketika mereka melihat penaklukkan dan harta ghanimah dan melihat para istri-istri sahabat Anshar yang memberikan keluasan nafkah dan pakaian, maka mereka menyangkan bahwa para istri-istri sahabat Anshar tersebut mendapatkan banyak harta ghanimah dan fa’i (harta yang di dapat tanpa peperangan), dan pada saat itu ﷺ membagikan kepada Muhajirin dan orang-orang faqir, dan tidak membagikan kepada (istri-istri Nabi). Maka para istri Nabi meminta untuk meluaskan pemberian Nabi kepada mereka, maka mereka diberi pilihan untuk tetap bersama Nabi dengan kondisi yang telah diterimanya atau talak.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

yā ayyuhallażīna āmanụ qū anfusakum wa ahlīkum nāraw wa qụduhan-nāsu wal-ḥijāratu ‘alaihā malā`ikatun gilāẓun syidādul lā ya’ṣụnallāha mā amarahum wa yaf’alụna mā yu`marụn

6. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya serta beramal dengan syariat Allah; Ambillah perkara untuk menjaga diri-diri kalian dan keluarga-keluarga kalian dari kemarahan dan kebencian Allah dengan mengerjakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Ketahuilah bahwa balasan bagi yang membangkang dan melanggar perintah-perintah Allah adalah masuknya kalian ke dalam neraka. Dan neraka ini bahan bakarnya adalah kayu api dan manusia yang menyala-nyala, sebagaimana juga di dalam neraka ini ada malaikat yang kuat dan bengis hatinya yang akan mengadzab penghuni nereka, mereka para malaikat tidak bermaksiat kepada apa yang Allah perintahkan dari segala kondisinya; Bahkan mereka melaksanakan perintah Allah dengan tanpa nanti-nanti.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَعْتَذِرُوا الْيَوْمَ ۖ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

yā ayyuhallażīna kafarụ lā ta’tażirul-yaụm, innamā tujzauna mā kuntum ta’malụn

7. Hai orang-orang kafir, janganlah kamu mengemukakan uzur pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan.

Pada hari ‘asir yaitu hari kiamat dikatakan kepada orang-orang kafir ketika mereka masuk ke dalam neraka : Wahai orang-orang yang mengingkari agama Allah dan mendustakan kerisalahan-Nya dan mereka yang menolak ayat-ayat Allah; Tidak ada udzur bagi kalian pada hari ini, dan sungguh telah tiba waktunya, dan telah usai waktu untuk beramal, maka tidak ada harapan dan udzur, karena kalian pada hari ini hanya dibalas dan diberikan balasan atas amalan-amalan kalian yang kalian amalkan di dunia.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

yā ayyuhallażīna āmanụ tụbū ilallāhi taubatan naṣụḥā, ‘asā rabbukum ay yukaffira ‘angkum sayyi`ātikum wa yudkhilakum jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru yauma lā yukhzillāhun-nabiyya wallażīna āmanụ ma’ah, nụruhum yas’ā baina aidīhim wa bi`aimānihim yaqụlụna rabbanā atmim lanā nụranā wagfir lanā, innaka ‘alā kulli syai`ing qadīr

8. Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Allah memerintahkan hambanya yang beriman untuk bersegera bertaubat dengan taubat yang nasuha, Allah berkata : Wahai manusia yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya ﷺ serta beramal dengan syariat-Nya, tobatlah kalian kepada Allah dari dosa-dosa kalian dengan taubat yang jujur dan ikhlas karena Allah, dan dengan itupala segera tinggalkan dosa dan berlepas dirilah darinya, dan berniat untuk tidak kembali melakukan dosa tersebut. Maka jika kalian melakukannya, maka engkau akan mendapatkan hakumu berupa pengampunan dari amalan-amalan buruk kalian yang telah lalu kalian kerjakan, dan kalian akan dimasukkan ke dalam keun-kebun yang mengalir di bawah pepohonan dan istanya sungai-sungai, pada hari yang Allah tidak hinakan Nabi-Nya dan yang beriman kepada-Nya, dan Allah akan mengangkat pada hari itu urusan mereka dan meninggikan dengan kuasa-Nya. Karena perendahan dan keburukan pada hari itu menimpa orang-orang yang kafir dan yang semisal dengan mereka. Kemudian Allah menjelaskan kondisi mereka yang beriman dan melewati jembatan yang diterangi cahaya di hadapan-hadapan mereka dan diterangi keimanan mereka, mereka berkata : Wahai Tuhan kami, berikan keberlangsungan cahaya untuk kami, hingga kami sampai ke Darussalam (surga), dan hapuskan dari kami apa yang telah kami lakukan dari dosa dan maksiat, sungguh Engkau yang maha kuasa atas segala sesuatunya.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

yā ayyuhan-nabiyyu jāhidil-kuffāra wal-munāfiqīna wagluẓ ‘alaihim, wa ma`wāhum jahannam, wa bi`sal-maṣīr

9. Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.

Allah memerintahkan Nabi-Nya Muhammad ﷺ untuk memerangi orang-orang kafir yang menghalangi dakwah dengan pedang dan berjihad melawan orang-orang munafik yang mereka menyembunyikan kekafirannya, dengan hujjah dan ancaman yang nyata. Dan wajib bagimu (Muhammad) untuk keras kepada orang-orang kafir dan munafik, serta jangan bergaul dengan mereka dengan lemah lembut; Sebab mereka telah seperti ini dengan kaum mukminin. Sebagaimana yang dikatakan oleh pepatah : Tidaklah bisa menekuk (memelintir) besi, kecuali dengan besi pula; Ketahuilah bahwa tempat kembali mereka yaitu kafir dan munafik adalah jahannam; di situlah tempat tinggal mereka selamanya, dan seburuk-buruk tempat kembali adalah tempat mereka.

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ ۖ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ

ḍaraballāhu maṡalal lillażīna kafarumra`ata nụḥiw wamra`ata lụṭ, kānatā taḥta ‘abdaini min ‘ibādinā ṣāliḥaini fa khānatāhumā fa lam yugniyā ‘an-humā minallāhi syai`aw wa qīladkhulan-nāra ma’ad-dākhilīn

10. Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)”.

Kemudian Allah memberikan dua permisalan : Permisalan yang pertama : Keadaan orang-orang kafir yang tidak bermanfaat nasihat para Nabi dan Rasul, dan mereka tidak mau mengambil manfaat dari orang-orang yang beriman yang dekat dengan mereka, dan inilah istri dari Nabi Nuh, dan Istri Nabi Luth yang mereka berdua dalam penjagaan dua Nabi yang mulia, yang tidak berguna petunjuk dari mereka berdua; Mereka berdua jatuh dalam pengkhianatan yang kufur dan tanpa keimanan, dan bukan khianat dengan penolakan; Karena Allah mensucikan para Nabi-Nya dari dosa. Kemudian Allah menjelaskan keadaan istri mereka berdua karena sebab mereka istri Nabi tidak menjadikannya tercegah dari adzab Allah, dan pada hari kiamat dikatakan kepada mereka berdua : Masuklah ke dalam neraka jahannam bersama dengan orang-orang yang masuk ke dalamnya. Dari sini diketahui bahwa hidayah ada di tangan Allah, sebagaimana Allah katakan kepada Nabi-Nya Muhammad ﷺ, ketika ia bersedih karena pamannya Abu Thalib tidak masuk islam : إِنَّكَ لَا تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ, yang artinya : Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, {AL Qashash : 56}.

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

wa ḍaraballāhu maṡalal lillażīna āmanumra`ata fir’aụn, iż qālat rabbibni lī ‘indaka baitan fil-jannati wa najjinī min fir’auna wa ‘amalihī wa najjinī minal-qaumiẓ-ẓālimīn

11. Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.

Adapun permisalan yang kedua : Adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dimana Allah menjelaskan bahwa keterkaitan mereka dengan orang-orang kafir tidak membahayakan mereka dan tidak juga berdampak pada mereka selama mereka mampu istiqamah di atas kebenaran; Dan ia adalah istri Fir’aun yang bernama Asiyah binti Muzahim dialah perempuan yang shalihah yang menjadi istri dari musuh Allah ketika ia di dunia. Sungguh ia (Asiyah) telah bermunajat untuk suaminya dan amalannya, ia berdoa : Wahai Tuhanku, jadikanlah aku dekat dengan rahmat-Mu, dan bangunkanlah aku rumah di surga yang tinggi, dan jauhkan aku dari amalan Fir’aun yang buruk dan lindungi aku dari kaumnya yang dzalim.

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ

wa maryamabnata ‘imrānallatī aḥṣanat farjahā fa nafakhnā fīhi mir rụḥinā wa ṣaddaqat bikalimāti rabbihā wa kutubihī wa kānat minal-qānitīn

12. dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.

Dan juga Maryam binti Imran yang shalihah, yang bertakwa dan suci, Allah memujinya, yang bahwasanya Maryam suci kemaluannya dari keburukan zina; Maka datanglah Jibril dan meniupkan di saku gamis (yang ia biasa gunakan di dalam rumahnya); Kemudian sampailah tiupan itu menuju ke tempat yang menjadikan janin ada di dalamnya (rahim) dengan izin Allah. Kemudian Maryam mengandung Isa; Ia adalah kalimatullah yang diciptakan dengan kata “jadilah” atau, dia diciptakan dengan perintah “kun”, sebagaimana Allah berfirman membantah orang-orang yang celaka : إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ ٱللَّهِ كَمَثَلِ ءَادَمَ ۖ خَلَقَهُۥ مِن تُرَابٍۢ ثُمَّ قَالَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ, yang artinya : Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia. {Al Imran : 59}. Kemudian Allah memuji Maryam yang dia adalah perempuan yang membenarkan atas ucapan Tuhannya, dan beramal dengan syariat-Nya, yang Allah mensyariatkan bagi hambanya. Allah juga menempatkan derajatnya di sisi para utusan-Nya. Kemudian Allah memuji bahwa dia adalah termasuk orang-orang yang menjaga atas ketaatan kepada Allah dan beribadah kepada-Nya.

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!