Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat ath-Thalaq

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ ۖ لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ ۚ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ ۚ لَا تَدْرِي لَعَلَّ اللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَٰلِكَ أَمْرًا

Arab-Latin: yā ayyuhan-nabiyyu iżā ṭallaqtumun-nisā`a fa ṭalliqụhunna li’iddatihinna wa aḥṣul-‘iddah, wattaqullāha rabbakum, lā tukhrijụhunna mim buyụtihinna wa lā yakhrujna illā ay ya`tīna bifāḥisyatim mubayyinah, wa tilka ḥudụdullāh, wa may yata’adda ḥudụdallāhi fa qad ẓalama nafsah, lā tadrī la’allallāha yuḥdiṡu ba’da żālika amrā

Terjemah Arti: 1. Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia

Allah menujukan firman-Nya kepada Nabi-Nya Muhammad ﷺ dengan memuliakannya dan agar diperintahkan kepada umatnya. Allah berkata : Jika engkau telah berniat wahai Nabi, engkau maupun siapapun dari umatmu untuk mentalak salah satu dari istri-istrinya, maka talaklah mereka dengan mengetahui masa iddah ke depannya, dengan syarat mentalaknya dalam kondisi suci, belum engkau jima’i mereka, atau dalam kondisi hamil yang tidak ragu lagi. Dan wajib bagimu untuk menjaga hari yang engkau pada saat itu mentalakknya, agar tahu akhir dari masa iddah mereka, dan itu ada dalam 3 tahapan waktu. Atau suci yang ketiga, bukan maksudnya kesucian yang jatuh padanya talak ketika wanita sedang haid. Dan takutlah kalian pada Allah dengan mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketahuilah bahwa Allah tidak membolehkan kalian mengeluarkan mereka dari tempat tinggal mereka; Karena masih terikat dengan hukum sebagai istri selama masa iddah belum berakhir, sebagaimana juga dilarang secara mutlak para istri (yang telah ditalak) keluar dari rumah mereka yang mereka hidup di dalamnya bersama-sama dengan kalian sebelum jatuh talak; Kecuali jika mereka berbuat dengan amalan yang buruk semisal zina sebagaimana menurut para jumhur ulama, adapun Abu Hanifah berpendapat karena kekurang ajaran mulut mereka yang buruk. Ketahuilah oleh kalian bahwa yang telah disebutkan adalah hukum-hukum Allah dan syariat-Nya untuk kalian, maka tidak halal bagi kalian melanggarnya. Maka jika ada yang melanggarnya sungguh dirinya termasuk orang yang celaka dan terjatuh dalam kondisi yang buruk. Dan wajik bagi kalian secara mutlak untuk mengerjakan apa yang Allah perintahkan kepada kalian dari hukum-hukum yang telah disebutkan, dan wajib untuk mencari kebaikan antara diri kalian dan istri-istri kalian; Karena sungguh kalian tidaklah mmengetahui kalau-kalau Allah menjadikan setelah talak yang Dia tidak setujui sehingga kalian kembali lagi bersama istri kalian (ruju’); Karena sesungguhnya Allah membolak-balikkan hati, dan mungkin membalikkan karena sebab cinta maka dijadikanlah kalian untuk ruju’. Karena talak adalah pemutus tali dan diperbolehkan dalam pernikahan. Dan tidak diragukan lagi bahwa itu semua adalah sesuatu yang dibenci namun diperbolehkan di sisi Allah.

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

fa iżā balagna ajalahunna fa amsikụhunna bima’rụfin au fāriqụhunna bima’rụfiw wa asy-hidụ żawai ‘adlim mingkum wa aqīmusy-syahādata lillāh, żālikum yụ’aẓu bihī mang kāna yu`minu billāhi wal-yaumil-ākhir, wa may yattaqillāha yaj’al lahụ makhrajā

2. Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.

Allah memerintahkan para istri, ketika dekat dengan masa iddah mereka yaitu akan berakhirnya masa iddah, untuk berlaku baik kepada para suami yaitu bersepakat (ruju’) atau berpisah secara baik-baik, sebagaimana Allah memerintahkan untuk saling percaya ketika menikah dengan persaksian dua orang saksi; Begitu juga untuk mendatangkan saksi ketika ruju’ dan talaknya dengan dua orang saksi yang adil di antara kalian. Dan wajib bagi kalian wahai orang-orang yang bersaksi, agar bersaksi dengan ikhlas karena Allah ketika dituntut bagi kalian untuk bersaksi. Ketahuilah bahwa apa yang Allah perintahkan, haruslah diterima dan diamalkan jika kalian adalah orang-orang yang jujur kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ, dan beriman dengan hari akhir. Kemudian Allah menyebutkan karena sebab kemuliaan-Nya dan kebaikan-Nya kepada orang-orang yang bertakwa, dan Allah menjelaskan barangsiapa yang takut kepada Allah, maka wajib beramal dengan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi larangan-Nya, karena dengan sebab itu Allah akan menjadikan jalan keluar bagi urusan yang sempit.

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

wa yarzuq-hu min ḥaiṡu lā yaḥtasib, wa may yatawakkal ‘alallāhi fa huwa ḥasbuh, innallāha bāligu amrih, qad ja’alallāhu likulli syai`ing qadrā

3. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Allah juga menjelaskan bahwa barangsiapa yang takut kepada Allah, maka Allah akan membukakan padanya pintu rezeki yang tidak akan membuat gundah manusia akan rezekinya. Allah menjelaskan bahwa barangsiapa yang melakukannya maka cukup atas urusannya. Ketahuilah bahwa Allah jelas perintah-Nya yang tidak ada sesuatupun yang melemahkan-Nya, dan telah dijadikan pada segala sesuatu waktu yang telah ditentukan; Yaitu ditentukannya masa iddah dan sempurnanya waktu istri , yang ia tidak sedang haid, begitu juga Allah jadikan kehidupan yang telah ditentukan.

وَاللَّائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللَّائِي لَمْ يَحِضْنَ ۚ وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

wal-lā`i ya`isna minal-maḥīḍi min nisā`ikum inirtabtum fa ‘iddatuhunna ṡalāṡatu asy-huriw wal-lā`i lam yahiḍn, wa ulātul-aḥmāli ajaluhunna ay yaḍa’na ḥamlahunn, wa may yattaqillāha yaj’al lahụ min amrihī yusrā

4. Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.

Allah menjelaskan iddah bagi perempuan yang mereka telah terputus dari darah haidnya; Ketika ia tua, dan ia dinamakan dengan wanita yang telah menopause; Maka jika kalian ragu akan iddahnya, ketahuilah, iddah mereka adalah tiga bulan, begitu juga oada wanita yang tidak haid; Karena sebab masih muda atau karena sebab yang lain yang iddah mereka ditentukan selama tiga bulan, adapun masa iddah bagi wanita yang hamil, ditunggu sampai melahirkan. Ketahuilah barangsiapa yang takut kepada Allah maka wajib melaksanakan hukum-hukum-Nya; Agar dimudahkan urusannya di dunia dan di akhirat.

ذَٰلِكَ أَمْرُ اللَّهِ أَنْزَلَهُ إِلَيْكُمْ ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

żālika amrullāhi anzalahū ilaikum, wa may yattaqillāha yukaffir ‘an-hu sayyi`ātihī wa yu’ẓim lahū ajrā

5. Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.

Ketahuilah bahwa hukum itu yang telah Allah jelaskan kepada kalian atas urusan talak dan masa iddah, diturunkan kepada kalian agar kalian mentaatinya atas apa yang terkandung dalam hukum-hukum tersebut, dan bagi siapa yang ingin menjadikan pelindung dari adzab-Nya, dengan mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya; Maka Allah menghapuskan dosa-dosanya, dan mengampuninya, dan menyembunyikan aiba-aibnya dan memberikan ganjaran yang besar, dan dia akan masuk ke dalam surga yang penuh kenikmatan.

أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ ۚ وَإِنْ كُنَّ أُولَاتِ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّىٰ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ ۚ فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ ۖ وَأْتَمِرُوا بَيْنَكُمْ بِمَعْرُوفٍ ۖ وَإِنْ تَعَاسَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهُ أُخْرَىٰ

askinụhunna min ḥaiṡu sakantum miw wujdikum wa lā tuḍārrụhunna lituḍayyiqụ ‘alaihinn, wa ing kunna ulāti ḥamlin fa anfiqụ ‘alaihinna ḥattā yaḍa’na ḥamlahunn, fa in arḍa’na lakum fa ātụhunna ujụrahunn, wa`tamirụ bainakum bima’rụf, wa in ta’āsartum fa saturḍi’u lahū ukhrā

6. Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.

Allah menganjurkan kepada para suami untuk perhatian dengan istri, Allah memerintahkan mereka para suami untuk memberikan tempat tinggal selama masa iddah di rumah-rumah mereka para suami yang para isti tinggal di dalamnya; Menurut kemampuan suami, dan wajib bagi kalian wahai suami untuk tidak menyempitkan mereka dalam tempat tinggal dan nafkah, sampai mengharuskan mereka untuk keluar dan meninggalkan hak-hak mereka, meskipun mereka dalam kondisi hamil, maka para suami mesti menafkahi mereka dengan nafkah yang patut sampai melahirkan anak mereka, dan jika mereka menyusui anak-anak mereka, maka kalian para suami harus memberikan upah kepada mereka, dan musyawarakanlah wahai para suami atas apa yang didasari dengan kebaikan yang tidak berbentuk kemungkaran. Maka jika ibunya menolak untuk menyusui anaknya, kecuali dengan upah yang besar, maka wajib bagi kalian wahai para suami untuk mencari perempuan lain yang mau menyusui anak kalian, begitu juga seandainya mereka menahan untuk tidak menyusui karena sebab ingin upah yang besar atau yang lainnya, kalian haru memusyawarahkannya, untuk dapat menyusui anak kalian.

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

liyunfiq żụ sa’atim min sa’atih, wa mang qudira ‘alaihi rizquhụ falyunfiq mimmā ātāhullāh, lā yukallifullāhu nafsan illā mā ātāhā, sayaj’alullāhu ba’da ‘usriy yusrā

7. Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.

Allah memerintahkan para suami yang memiliki harta agar menambah mereka dalam hal nafkah untuk istri mereka dan untuk anak-anak mereka, dan jangan bersikap bakhil. Adapaun yang kondisinya sempit atas rezekinya dan faqir, maka dia menafkahkan atas apa yang diberikan Allah kepadanya. Karena Allah tidak membebani seorangpun kecuali atas dasar kemampuan, Allah tidak membebani seorang fakir sebagaimana seorang yang kaya. Ketahuilah bahwa Allah akan menjadikan setelah kesulitan kemudahan, dan setelah kesempitan kelapangan.

وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ عَتَتْ عَنْ أَمْرِ رَبِّهَا وَرُسُلِهِ فَحَاسَبْنَاهَا حِسَابًا شَدِيدًا وَعَذَّبْنَاهَا عَذَابًا نُكْرًا

wa ka`ayyim ming qaryatin ‘atat ‘an amri rabbihā wa rusulihī fa ḥāsabnāhā ḥisāban syadīdaw wa ‘ażżabnāhā ‘ażāban nukrā

8. Dan berapalah banyaknya (penduduk) negeri yang mendurhakai perintah Tuhan mereka dan Rasul-rasul-Nya, maka Kami hisab penduduk negeri itu dengan hisab yang keras, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan.

Allah mengabarkan banyaknya penduduk suatu negeri yang melampaui batas dan tidak menjalankan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya ﷺ; Allah mengancam atas penduduk negeri tersebut ketika nanti di yaumul hisab karena sebab apa yang mereka amalkan, dan Allah akan mengadzab penduduknya dengan adzab yang besar di dunia.

فَذَاقَتْ وَبَالَ أَمْرِهَا وَكَانَ عَاقِبَةُ أَمْرِهَا خُسْرًا

fa żāqat wa bāla amrihā wa kāna ‘āqibatu amrihā khusrā

9. Maka mereka merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya, dan adalah akibat perbuatan mereka kerugian yang besar.

Karena sebab melampaui batasnya penduduk negeri ini dan kekafiran mereka serta kesombongan mereka. mereka ditimpakan balasan atas amalan mereka, dan apa yang mereka perbuatan kecuali hanya kerugian di dunia dan akhirat.

أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ آمَنُوا ۚ قَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ ذِكْرًا

a’addallāhu lahum ‘ażāban syadīdan fattaqullāha yā ulil-albāb, allażīna āmanụ qad anzalallāhu ilaikum żikrā

10. Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu,

Allah mengabarkan telah menyiapkan untuk penduduk yang merugi ini dengan adzab yang keras di akhirat, dan ia kekal di dalam neraka jahannam. Kemudian Allah memerintakan orang-orang yang memiliki akal yang mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta beramal dengan syariat-Nya agar takut kepada Allah dan ancaman-Nya. Dan telah diutus seorang Rasul kepada mereka sebagai pengingant dan penjelas kepada mereka.

رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِ اللَّهِ مُبَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ قَدْ أَحْسَنَ اللَّهُ لَهُ رِزْقًا

rasụlay yatlụ ‘alaikum āyātillāhi mubayyinātil liyukhrijallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti minaẓ-ẓulumāti ilan-nụr, wa may yu`mim billāhi wa ya’mal ṣāliḥay yudkhil-hu jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā abadā, qad aḥsanallāhu lahụ rizqā

11. (Dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan kepada cahaya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezeki yang baik kepadanya.

Allah menjelaskan bahwa pengingat ini adalah Rasul ﷺ yang membacakan kepada kalian ayat-ayat Allah yang jelas bagi kalian antara yang benar dan yang bathil; Dan agar supaya mengeluarkan mereka yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya ﷺ dan beramal shalih dari kegelapan kekafiran menuju kepada cahaya keimanan. Ketahuilah barangsiapa yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya ﷺ dan beramal dengan amalan shalih, maka sungguh Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawah istananya dan pepohonannya sungai-sungai, mereka akan tinggal di dalamnya selama-lamanya, tidak akan pernah keluar darinya selamanya. Kemudian Allah menjelaskan, bahwa telah diluaskan rezeki di surga bagi orang-orang yang beriman.

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

allāhullażī khalaqa sab’a samāwātiw wa minal-arḍi miṡlahunn, yatanazzalul-amru bainahunna lita’lamū annallāha ‘alā kulli syai`ing qadīruw wa annallāha qad aḥāṭa bikulli syai`in ‘ilmā

12. Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.

Allah mengabarkan bahwa Dia sajalah yang menciptakan langit yang tujuh, dan menciptakan semisal dengan itu dalam jumlah yang sama dari bumi. Allah mengabarkan bahwa Dia yang menurunkan perintah di antara langit dan bumi, yaitu syariat-Nya, hukum agama-Nya yang Allah wahyukan kepada para Rasul-Nya sebagai peringatan bagi seorang hamba dan sebagai ancaman untuk mereka. Begitu juga perintah-perintah kauniyyah dan qadariyyah yang makhluk berjalan di atasnya; Allah juga turunkan hujan, dan menggantikan malam dengan siang, dan menggantikan siang dengan malam, dan yang selainnya. Agar makhluk tahu siapa yang kuasa atas makhluk-Nya, karena Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatunya. Dan agar mereka tahu bahwa Allah Maha Luas kuasa-Nya atas segala sesuatu dari makhluk-Nya. Tidak akan luput dari-Nya walaupun sekecil biji atom di bumi dan di langit.

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!