Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat al-Jumu’ah

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

Arab-Latin: yusabbiḥu lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍil-malikil-quddụsil-‘azīzil-ḥakīm

Terjemah Arti: 1. Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia

Surat ini dibuka dengan pujui-pujian dan pensucian untuk Allah dari sifat-sifat yang rendahan dan aib. Allah mengabarkan bahwa apa saja yang di langit dan di bumi mensucikan Allah dari apa yang tidak sesuai dengan kemulian dan kebesaran-Nya. Dan Allah adalah Raja yang berkuasa atas segala sesuatu, dengan kekuasaan dan hikmah-Nya. Allah disucikan dari setiap aib dan kekurangan, Dialah yang Maha Kuat, yang segala sesuatu di bawah kekuasaan dan kendali-Nya, Dialah Yang Maha Bijaksana bagi setiap yang Allah telah ciptakan.

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

huwallażī ba’aṡa fil-ummiyyīna rasụlam min-hum yatlụ ‘alaihim āyātihī wa yuzakkīhim wa yu’allimuhumul-kitāba wal-ḥikmata wa ing kānụ ming qablu lafī ḍalālim mubīn

2. Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

Allah mengabarkan bahwa Dialah yang mengutus Rasul ﷺ kepada umat yang buta huruf, yang tidak dapat membaca dan juga menulis, mereka adalah orang-orang arab. Dan inilah Rasul yang dipilih oleh Allah dari kalangan mereka dan yang termulia dari mereka orang-orang arab, dan dia tidak mengenal apa itu membaca dan menulis semisal dengan mereka (orang-orang arab). Allah telah mengutusnya untuk membacakan kepada mereka ayat-ayat Al Qur’an dan menjelaskan kepada mereka dalil dan bukti yang bersamaan dengan itu, dia tidak dapat membaca dan menulis, dan dia juga (datang) untuk mensucikan mereka dari kotoran kekafiran dan dosa, dan mengajarkan Al Qur’an dan As Sunnah Nabawiyyah yang disucikan. Karena mereka sebelum diutusnya dan kedatangan Rasul ﷺ masih dalam kesesatan yang nyata dari kemaksiatan dan kekafiran dan berkuasa (di tanah arab) keburukan, misalnya : Mengubur hidup-hidup anak perempuan, saling membunuh di antara mereka satu sama lain serta mencuri dan merampok, semua ini menjadikan tidak terdapat pada mereka seorang ahli tauhid, akan tetapi hanya segelintir yang tersisa semisal Waraqah bin Naufal dan yang selainnya. Pada saat itulah mereka menjadi sesat secara umum.

وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

wa ākharīna min-hum lammā yal-ḥaqụ bihim, wa huwal-‘azīzul-ḥakīm

3. dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Allah mengabarkan bahwa Dia mengutus Rasul ini juga untuk kaum yang belakangan, yang tidak akan ada Rasul yang datang lagi kepada mereka. Ialah Rasul yang amanah untuk bangsa arab dan selain arab, maka mereka semua akan mengikuti petunjuk dan mensucikan mereka. Dikatakan bahwa yang mengikutinya (Rasul) adalah orang-orang yang memiliki keutamaan; Karena para sahabat adalah manusia yang paling utama dibandingkan yang datang setelah mereka. Dan Allah sajalah yang Maha Kuat, yang dengan kuasa dan kemampuan-Nya Allah teguhkan orang yang but abaca dan tulis ini (Muhammad ﷺ) untuk mengeluarkan umat ini bahkan bagi seluruh uma, dari kegelapan jahiliyyah dan kesesatan menuju kepada cahaya islam. Dialah Rasul yang memiliki kebijaksanaan yang nyata, yang ia dipilih oleh Allah atas semua manusia.

ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

żālika faḍlullāhi yu`tīhi may yasyā`, wallāhu żul-faḍlil-‘aẓīm

4. Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Ketahuilah wahai manusia, bahwa diutusnya penutup para Rasul (Muhammad ﷺ) kepada manusia seluruhnya adalah karunia dan pemuliaan dari Allah atas mereka, dan Allah memulikan orang Arab; Dimana turunnya Al Qur’an dengan bahasa mereka, dan tidak diragukan lagi bahwa pengutusan Rasul ini adalah karunia dari Allah, Allah berikan bagi siapa yang dikehendaki dari makhluk-Nya, dan Allah lah yang memiliki karunia yang luas, tidak setara dengan apapun karunia-Nya.

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

maṡalullażīna ḥummilut-taurāta ṡumma lam yaḥmilụhā kamaṡalil-ḥimāri yaḥmilu asfārā, bi`sa maṡalul-qaumillażīna każżabụ bi`āyātillāh, wallāhu lā yahdil-qaumaẓ-ẓālimīn

5. Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.

Ketika yahudi meninggalkan amalan yang ada dalam Taurat, dan tidak mengimani Muhammad ﷺ, Allah memisalkan mereka yang bahwasanya dibebani agar beramal dengan Taurat, yang di dalamnya terkandung dari sifat Rasul ﷺ dan dituntut untuk mengimani serta menjadi penolongnya, kemudia mereka tidak mengikuti apa yang sesuai dengan isi dari Taurat; Maka mereka ini semisal dengan keledai yang membawa kitab yang bermanfaat dan banyak, akan tetapi tidak memperoleh apa-apa kecuali hanya kebosanan dan kerja keras saja, dan permisalan seperti apa lagi yang lebih buruk dari mereka, contohnya : Mereka mendustakan ayat-ayat Allah yang datang dari lisan Rasulullah ﷺ, dan Allah tidak menyetujui dan memberikan petunjuk kepada kaum yang dzalim kepada diri-diri mereka sendiri, dengan kesyirikan, kekufuran, dan mendustakan para Nabi. Dan adapat diambil hikmah dari ayat ini, bahwa sudah semestinya bagi yang membaca Al Qur’an untuk beramal dengan apa yang terkandung padanya, agar supaya tidak memiliki sifat yang buruk sebagaimana yahudi ini.

قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

qul yā ayyuhallażīna hādū in za’amtum annakum auliyā`u lillāhi min dụnin-nāsi fa tamannawul-mauta ing kuntum ṣādiqīn

6. Katakanlah: “Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar”.

Katakanlah wahai Nabi kepada mereka orang-orang Yahudi : Jika kalian mengklaim bahwasanya kalian adalah kekasih Allah dan yang dicintai oleh-Nya, bukan manusia yang lain, maka serulah diri-diri kalian dengan kebinasaan dan laknat jika kalian orang-orang yang benar dalam klaim kalian. Dan Nabi ﷺ telah melarang dari berharap kematian, kecuali jika untuk tantangan dan mubahalah (saling mendoakan agar dilaknat Allah); Sama saja apakah mubahalah dengan melalui kedua lisan (masing-masing) sebagaimana yang terjadi antara Rasul ﷺ dan utusan nashrani dari Najran, dan ia telah disebutkan dalam ayat 61 di surat Al Imran, atau mubahalah yang dituntut dari satu lisan sebagaimana yang dituntut kepada yahudi dalam ayat ini, dan juga sebagaimana dalam ayat 94 dalam surat Al Baqarah; Dimana mereka dituntut menyeru atas diri mereka sendiri dengan laknat dan kebinasaan jika mereka berdusta. Mereka tidak akan mau melakukan, karena mereka telah yakin bahwa mereka adalah pendusta. Dalam Musnad Ahmad, dari Ibnu Abbas : Seandainya yahudi berharap dengan kematian, sungguh dia akan benar-benar mati, dan dihadapan mereka ada tempat khusus bagi mereka di nereka.

وَلَا يَتَمَنَّوْنَهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

wa lā yatamannaunahū abadam bimā qaddamat aidīhim, wallāhu ‘alīmum biẓ-ẓālimīn

7. Mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zalim.

Allah mengabarkan bahwa yahudi tidak akan berani berharap mati selamanya; Sebab meraka paham bahwa mereka pendusta ketika mngklaim, dan dari keburukan yang mereka kerjakan dan hina amalan mereka yang telah lalu. Dan sungguh Allah Maha Mengetahui atas orang-orang yang dzalim semisal mereka yahudi, mereka akan mendapatkan balasan dari kedzaliman mereka dengan adzab jahannam. Berkata Syaikh As Sa’di dalam tafsirnya : Ini adalah mubahalah dari satu lisan, yaitu lisan yahudi.

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

qul innal-mautallażī tafirrụna min-hu fa innahụ mulāqīkum ṡumma turaddụna ilā ‘ālimil-gaibi wasy-syahādati fa yunabbi`ukum bimā kuntum ta’malụn

8. Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.

Katakan wahai Nabi Allah kepada mereka yahudi : Sesungguhnya kematian yang kalian enggan untuk berharap, maka kematian itu akan menjadi kenyataan menimpa kalian tanpa mengenal tempat, kemudian kalian akan dikembalikan setelah kalian mati menuju Yang Maha Mengetahui yang ghaib di langit maupun di bumi, dan kalian akan dikabarkan atas apa yang kalian amalkan di dunia, kemudian kalian akan dibalas sesuai dengan amalan-amalan kalian.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

yā ayyuhallażīna āmanū iżā nụdiya liṣ-ṣalāti miy yaumil-jumu’ati fas’au ilā żikrillāhi wa żarul baī’, żālikum khairul lakum ing kuntum ta’lamụn

9. Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Allah menganjurkan hamba-hambanya yang beriman untuk menjawab panggilan shalat pada hari jumat, Allah berkata : Wahai oang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ, jika telah dikumandangkan adzan oleh muadzin, dan hadapan kalian imam telah naik mimbar pada hari jumat untuk melaksanakan shalat, jangan lewatkan untuk berdzikir kepada Allah yaitu shalat dan mendengarkan khutbah, tinggalkan oleh kalian muamalah perdagangan, dan ketahuilah bahwa yang diperintahkan kepada kalian, lebih baik dari sibuk dengan berdagang dan mencari keduniaan jika kalian mengetahui apa balasan akhirnya. Dan dinamakan hari jum’at karena sebab berkumpulnya kaum muslimin dan shalat di dalam masjid dan mendengarkan khutbah, dan dahulu dinamakan dengan hari urubah (persatuan arab).

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

fa iżā quḍiyatiṣ-ṣalātu fantasyirụ fil-arḍi wabtagụ min faḍlillāhi ważkurullāha kaṡīral la’allakum tufliḥụn

10. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Maka jika selesai kalian dari mengerjakan shalat wahai orang-orang yang beriman; Bertebaranlah di muka bumi untuk berikhtiar dan berdagang, dan carilah rezeki Allah dengan usaha dan amal, dan ingatlah Allah dengan banyak berdzikir pada segala kondisi kalian dan janganlah perdaganganmu melalikan dari dzikir kepada Allah, dan barangsiapa yang banyak mengingat Allah maka dia adalah orang-orang yang beruntung, menang dengan kemenangan yang besar.

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا ۚ قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ ۚ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

wa iżā ra`au tijāratan au lahwaninfaḍḍū ilaihā wa tarakụka qā`imā, qul mā ‘indallāhi khairum minal-lahwi wa minat-tijārah, wallāhu khairur-rāziqīn

11. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki.

Allah memperingatkan hamba-Nya yang mukmin jika melihat perdagangan orang badui, atau mendengar suara dengan serentak untuk mempromosikan dagangannya, keluarlah mereka para sahabat dari masjid, dengan meninggalkan khatib (untuk menegur pedagang), karena para sahabat pernah mendengar pedagang dari badui, dan mereka para sahabat menyangka telah selesai shalat, dan boleh bagi badui untuk berdagang mencari rezeki; Maka keluarlah para sahabat menuju ke pedagang badui, maka Rasul pada saat itu sedang berkhutbah ﷺ, yaitu beliau ﷺ berkhutbah pada waktu itu setelah shalat jumat, maka Allah memerintahkan Nabi ﷺ agar berkata kepada mereka : Ketahuilah oleh kalian, apa yang di sisi Allah dari ganjaran akhirat lebih baik daripada permainan dan perdagangan yang kalian keluar dengan sebab itu, kemudian ketahuilah sesungguhnya Allah sebaik-baik pemberi rezeki, karena Dia adalah yang membagikan rezeki.

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!