Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat al-Mumtahanah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ ۙ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي ۚ تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ

Arab-Latin: yā ayyuhallażīna āmanụ lā tattakhiżụ ‘aduwwī wa ‘aduwwakum auliyā`a tulqụna ilaihim bil-mawaddati wa qad kafarụ bimā jā`akum minal-ḥaqq, yukhrijụnar-rasụla wa iyyākum an tu`minụ billāhi rabbikum, ing kuntum kharajtum jihādan fī sabīlī wabtigā`a marḍātī tusirrụna ilaihim bil-mawaddati wa ana a’lamu bimā akhfaitum wa mā a’lantum, wa may yaf’al-hu mingkum fa qad ḍalla sawā`as-sabīl

Terjemah Arti: 1. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia

Surat ini dibuka dengan seruan kepada orang-orang yang beriman agar tidak mengambil musuh-musuh Allah sebagai penolong dan teman, dan agar orang-orang yang beriman tidak menampakkan kepada musuh-musuh Allah kecintaan dan kasih sayang, dan agar jangan mempercayai mereka, dimana kalian menyampaikan kabar-kabar tentang Rasul serta orang-orang beriman, yang itu semua tidak semestinya dikabarkan kepada musuh-musuh Allah; Sebagaimana perbuatan Hathib bin Abi Balta’ah ketika diutus mengirimkan surat kepada Quraisy, dia mengabarkan kepada mereka atas apa yang akan dilakukan oleh Rasul ﷺ dalam memerangi mereka. Semua itu disebabkan bahwa orang-orang musyrik akan menolak kebenaran yang datang dari Muhammad ﷺ, dan karena sebab mereka (kafir quraisy) Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin keluar dari Mekkah karena keimanan dan keikhlasan mereka menyembah Allah saja. Kemudian jika keluarnya kalian wahai orang-orang yang beriman, tujuannya untuk hijrah dan berjihad di jalan Allah serta meminta keridhaan-Nya; Maka bagaimana tidak menjadikan hati kalian memiliki kasih sayang dan kecintaan yang tersembunyi, dan Dialah Allah yang Maha Mengetahui apa yang ada pada kalian dan mereka (musuh-musuh Allah), atas apa yang kalian sembunyikan di hati-hati kalian dari kebaikan dan keburukan. Oleh karena itu Rasul ﷺ dikabarkan (Allah) atas perbuatan Hathib dan memerintahkan Nabi untuk mengikut sertakan wanita yang membawa surat di suatu tempat, dikatakan tempat itu bernama kebun khaj. Ketahuilah barangsiapa yang mengerjakan hal ini di antara kalian, maka kalian telah menyimpang dari jalan yang benar, dan tersesat dari jalan yang benar. Dan pada ayat ini jelas agar tidak mempercayai musuh-musuh Allah, meskipun kerabat atau memiliki sebab yang lain. Sebab turunnya ayat ini : Bahwa Hathib bin Abi Balta’ah Al Abbasi menulis surat kepada Quraisy, ia mengatakan di dalam suratnya : Sungguh Muhammad ﷺ telah datang kepada kalian dengan tentara yang seperti malam, atau : Bahwasanya Muhammad mengerjakan amalan, yang pada hari ini disebut dengan khianat yang besar bagi umat. Dan ini adalah kejahatan yang mengharuskan ia (Hathib) dibunuh dan diadzab, akan tetapi Rasulullah ﷺ masih menjaga sikap kepadanya karena ia telah ikut berbaiat di bawah pohon, dan ikut berperang bersama kaum muslimin di perang badr; Khususnya ia (Rasul) telah bersumpah di depan (pejuang badr) bahwa tidak akan hilang keislamannya dan memiliki tujuan menjadikan tangannya bersama Quraisy hingga pantang mendatangi keluarganya di Mekkah. Dari kejahatannya sampai-sampai Umar bin Khatab berkata kepada Rasul ﷺ: Perintahkan aku untuk menebas lehernya, akan tetapi Rasul melarangnya dan mengatakan agar tidak membunuhnya. Para ahli tafsir mengambil hukum dari kisah ini bahwa membuka kejelekan dan dosa orang-orang yang berkhianat merupakan dosa besar yang tidak perlu dipergunjingkan, bahkan hal itu adalah wajib.

إِنْ يَثْقَفُوكُمْ يَكُونُوا لَكُمْ أَعْدَاءً وَيَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ وَأَلْسِنَتَهُمْ بِالسُّوءِ وَوَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ

iy yaṡqafụkum yakụnụ lakum a’dā`aw wa yabsuṭū ilaikum aidiyahum wa alsinatahum bis-sū`i wa waddụ lau takfurụn

2. Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti(mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir.

Ketahuilah wahai orang-orang yang beriman, jika kalian masih memilki keinginan kepada musuh-musuh Allah yang menjadikan kalian berkasih sayang dan memiliki kecintaan, maka mereka akan menampakkan permusuhan mereka dan sebagian dari mereka kepada kalian; Dan urusannya tidak berhenti sampai situ; Bahkan mereka akan mengulur waktu dihadapan mereka untuk membunuh, mencela, dan menyesatkan kalian serta menguasai lisan-lisan kalian atas apa yang mereka olok-olok kepada kalian, dari celaan mereka, permusuhan mereka. Dan setelah itu mereka akan menjadi tenang karena kalian akan menjadik kafir semisal mereka; Mereka ingin menjadikan kalian sebagaimana mereka di atas kekafiran.

لَنْ تَنْفَعَكُمْ أَرْحَامُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ ۚ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَفْصِلُ بَيْنَكُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

lan tanfa’akum ar-ḥāmukum wa lā aulādukum, yaumal-qiyāmati yafṣilu bainakum, wallāhu bimā ta’malụna baṣīr

3. Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-sekali tiada bermanfaat bagimu pada Hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Kemudian ketahuilah wahai orang-orang yang beriman, tidaklah bermanfaat bagi kalian kerbat-kerabat kalian, tidak juga anak-anak kalian pada hari kiamat. Karena Allah pada hari ini memisahkan antara orang yang beriman dan yang kufur, dan Allah Maha Melihat atas amalan-amalan dan ucapan-ucapan kalian. Dan tidaklah tersembunyi atas-Nya sesuatu pun dari amalan dan ucapan kalian, sebagaimana tidak tersembunyi bagi-Nya apa yang ada di bumi dan di langit.

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ۖ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

qad kānat lakum uswatun ḥasanatun fī ibrāhīma wallażīna ma’ah, iż qālụ liqaumihim innā bura`ā`u mingkum wa mimmā ta’budụna min dụnillāhi kafarnā bikum wa badā bainanā wa bainakumul-‘adāwatu wal-bagḍā`u abadan ḥattā tu`minụ billāhi waḥdahū illā qaula ibrāhīma li`abīhi la`astagfiranna laka wa mā amliku laka minallāhi min syaī`, rabbanā ‘alaika tawakkalnā wa ilaika anabnā wa ilaikal-maṣīr

4. Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali”.

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

rabbanā lā taj’alnā fitnatal lillażīna kafarụ wagfir lanā rabbanā, innaka antal-‘azīzul-ḥakīm

5. “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

4-5. Dan ketahuilah wahai orang-orang yang beriman, bahwa wajib bagi kalian menjadikan bapak kalian Ibrahim Al Khalil sebaik-baik suri tauladan, dia dan yang bersamanya dari kalangan orang-orang yang beriman; Dimana sungguh mereka mengatakan kepada kaum mereka yang beribadah kepada berhala-berhala : Sungguh kami berlepas diri dari kalian dan apa yang kamu ibadahi selain Allah. Sungguh kami telah kafir kepada kalian dan tuhan-tuhan yang kalian sembah, dan sudah selayaknya bagi kami dan kalian adanya permusuhan dan kebencian selamanya, yaitu selama kalian di atas kekafiran kalian dan pengingkaran kalian, sampai kalian beriman kepada Allah saja, tanpa menyekutukan-Nya. Akan tetapi, kalian bukanlah termasuk orang-orang yang mengikuti Ibrahim dalam satu keadaan, dimana Ibrahim berkata kepada bapaknya yang menolong orang-orang muayrik : Sungguh aku akan memintakan ampunan kepada Rabbku atasmu; Dimana Ibrahim menjanjikan permohonan ampunan atas bapaknya dan berharap hidayah menyapanya. Kemudian Allah menjelaskan bahwa tidak berhak memohonkan ampun bagi bapaknya, karena bapaknya adalah penghuni nereka, dan permohonan ampun Ibrahim kepada bapaknya sebelum Ibrahim mendapat kejelasan bahwa bapaknya adalah musuh Allah; Maka ketika jelas bahwa bapaknya musuh Allah, Ibrahim berlepas diri darinya. Kemudian Allah memerintahkan hambanya untuk berdoa sebagaimana doa Ibrahim dan yang bersamanya : Rabb kami, janganlah Engkau jadikan musibah yang menimpa sebagaimana kekafiran mereka dengan kekafiran yang nyata bagi kami, yang kemudian Engkau mengadzab kami dan menimpakan musibah kepada agama kami, dan mereka (orang-orang musyrik) mengira bahwa mereka di atas kebenaran. Ampunilah kami wahai Tuhanku, atas dosa-dosa kami, dan atas keburukan-keburukan kami. Dan tolonglah kami agar senantiasa beribadah kepada-Mu. Wahai Rabb kami, sungguh Engkau yang maha kuat yang menaklukkan dan menguasai segala sesuatu, Engkaulah yang maha menghakimi, yang meletakkan sesuatu sesuai pada tempatnya. Maksud dari ayat ini : Allah melarang dengan keras untuk berkasih sayang kepada orang-orang kafir dan musyrik dan yang selainnnya yang menyelisihi jalan Allah, atau mencintai mereka (kafir dan musyrik). Sebagaimana yang dilarang kepada Ibrahim dan yang bersamanya dari orang-orang yang beriman; Karena Ibrahim berlepas diri dari kaumnya yang musyrik karena sebab apa yang dilakukan oleh bapaknya.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

laqad kāna lakum fīhim uswatun ḥasanatul limang kāna yarjullāha wal-yaumal-ākhir, wa may yatawalla fa innallāha huwal-ganiyyul-ḥamīd

6. Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dialah yang Maha kaya lagi Maha Terpuji.

Allah mengulangi anjuran untuk mengikuti Ibrahim, dan barangsiapa yang ingin melakukannya, maka silahkan melakukan. Allah berkata : Sungguh bagi kalian ada Ibrahim dan orang-orang yang beriman seperti dia, sebagai suri tauladan dan contoh yang baik pada sikapnya terhadap orang-orang musyrik dan berlepas dirinya dari mereka dan apa yang mereka sembah; Maka ikutilah mereka, dan ini adalah petunjuk yang mudah bagi siapa yang tujuannya adalah keridhaan Allah dan keselamatan pada hari kiamat. Dan barangsipa yang menolak dari ketaatan kepada Allah dan mengikuti Rasul-Nya; Maka Allah sungguh Maha Kaya atas seluruh makhluk-Nya, Dialah yang memiliki kekayaan yang sempurna yang mutlak atas segala segi. Yang terpuji bagi nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta perbuatan Allah.

۞ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِينَ عَادَيْتُمْ مِنْهُمْ مَوَدَّةً ۚ وَاللَّهُ قَدِيرٌ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

‘asallāhu ay yaj’ala bainakum wa bainallażīna ‘ādaitum min-hum mawaddah, wallāhu qadīrun, wallāhu gafụrur raḥīm

7. Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Setelah Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman dari kepercayaannya, kasih sayangnya serta kecintaannya kepada orang-orang musyrik, Allah kemudian berkata : Semoga Allah menjadikan antara kalian dan yang memusuhi mereka dari kerabat-kerabat kalian yang saling mencintai, jika Allah berikan petunjuk dan Allah masukkan mereka ke dalam islam, Allah menghilangkan peringatan-Nya kepada kalian, karena sebab mereka telah menjadi orang-orang muslim. Kemudian Allah mengabarkan bahwa Dia Maha Kuasa atas apa yang berubah dalam jiwa dan menjadikan hati terbuka merima islam. Dan Allah Maha Mengampuni bagi hamba-hamban-Nya yang beriman, dan mengasihi mereka.

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

lā yan-hākumullāhu ‘anillażīna lam yuqātilụkum fid-dīni wa lam yukhrijụkum min diyārikum an tabarrụhum wa tuqsiṭū ilaihim, innallāha yuḥibbul-muqsiṭīn

8. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

Kemudian Allah kecualikan orang-orang islam di antara mereka dari kerabat-kerabat mereka yang tidak mencela orang-orang yang beriman, dan tidak juga memerangi orang-orang beriman, atau siapa pun yang mereka berinteraksi dengan kejujuran, dan mereka yang tidak menampakkan permusuhan kepada orang-orang islam; Allah mengabarkan bahwa tidak melarang kalian wahai orang-orang yang beriman, dari mereka (orang-orang kafir) yang tidak memerangi kalian dengan sebab agama kalian, dan tidak mengeluarkan kalian dari negeri kalian; Maka mereka ini tidak mengapa bagi kalian berbuat adil kepada mereka, dan berbuat baik, kemudian berhubungan dengan mereka karena mereka adalah kerabat kalian; Sesungguhnya Allah mewajibkan atas kalian berbuat adil kepada mereka dalam perkataan, perbuatan dan hukum. Dan Allah melarang kalian dari mereka yang memerangi dan memusuhi kalian, karena sebab agama kalian, yang mereka mengeluarkan kalian dan dari negeri kalian; Dan Allah melarang keras dari mencintai dan menolong mereka dengan perkataan dan perbuatan, dan barangsiapa yang berkasih sayang dengan menolong mereka dan mencintai mereka serta mendukung; Maka mereka adalah orang-orang yang dzalim kepada diri-diri mereka karena membolehkan menentang aturan Allah.

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَىٰ إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

innamā yan-hākumullāhu ‘anillażīna qātalụkum fid-dīni wa akhrajụkum min diyārikum wa ẓāharụ ‘alā ikhrājikum an tawallauhum, wa may yatawallahum fa ulā`ika humuẓ-ẓālimụn

9. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ ۖ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ ۖ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ ۖ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ ۖ وَآتُوهُمْ مَا أَنْفَقُوا ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ ۚ وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ وَاسْأَلُوا مَا أَنْفَقْتُمْ وَلْيَسْأَلُوا مَا أَنْفَقُوا ۚ ذَٰلِكُمْ حُكْمُ اللَّهِ ۖ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

yā ayyuhallażīna āmanū iżā jā`akumul-mu`minātu muhājirātin famtaḥinụhunn, allāhu a’lamu bi`īmānihinna fa in ‘alimtumụhunna mu`minātin fa lā tarji’ụhunna ilal-kuffār, lā hunna ḥillul lahum wa lā hum yaḥillụna lahunn, wa ātụhum mā anfaqụ, wa lā junāḥa ‘alaikum an tangkiḥụhunna iżā ātaitumụhunna ujụrahunn, wa lā tumsikụ bi’iṣamil-kawāfiri was`alụ mā anfaqtum walyas`alụ mā anfaqụ, żālikum ḥukmullāh, yaḥkumu bainakum, wallāhu ‘alīmun ḥakīm

10. Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami suami) mereka, mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

9-10. Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, jika datang kepada kalian wanita-wanita yang beriman, yaitu wanita-wanita muhajirin dari negeri kafir menuju negeri islam, maka wajib bagi kalian untuk menguji mereka, agar kalian mengetahui kejujuran iman mereka, dan telah diketahui bahwa tidaklah manusia mengetahui hakikat keimanan kecualai hanya Allah yang mengetahuinya; Maka jika dugaan kalian besar bahwasanya mereka adalah wanita-wanita yang beriman, janganlah kalian mengembalikan mereka ke negeri kafir. Kemudian Allah menjelaskan akan sebab larangan mengembalikan mereka, Allah mengabarkan bahwasanya tidak halal menikahkan wanita-wanita yang beriman dengan orang-orang kafir, dan tidak halal pula atas orang kafir menikahi wanita-wanita yang beriman, dan wajib bagi kalian memberikan mereka laki-laki yang telah masuk islam kepada wanita-wanita yang beriman, yang laki-laki itu menginfakkan kepada wanita-wanita itu mahar. Allah mengabarkan bahwa tidak ada larangan dan dosa bagi kalian untuk menikahi wanita-wanita beriman dari muhajirin jika engkau dapat membayar mahar kepada mereka. Allah memerintahkan hamba-Nya agar melepaskan akad-akad kepada istrinya yang masih kafir; Karena tidak ada kewajiban bagi kalian dan bagi wanita-wanita kafir perlindungan dan hubungan. Allah meminta kepada mereka untuk meminta mahar bagi istri-istri mereka apabila mereka ingin dikembalikan mahar tersebut kepada mereka. Mintalah kepada orang-orang kafir mahar bagi istri-istri kalian dari wanita-wanita muhajirin yang beriman, yang datang kepada kalian. Maksudnya adalah wajib bagi kalian menunaikan mahar itu. Dan ketahuilah wahai manusia, bahwa hukum ini adalah hukum Allah yang Allah berikan hukum ini kepada kalian, maka ikutilah jangan menyelisihi-Nya. Allahlah yang Maha Mengetahui kebaikan hamba, Yang Bijaksana dalam pensyariatan bagi para hambanya, Allah mensyariatkan atas apa yang mengandung hikmah yang jelas.

وَإِنْ فَاتَكُمْ شَيْءٌ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ إِلَى الْكُفَّارِ فَعَاقَبْتُمْ فَآتُوا الَّذِينَ ذَهَبَتْ أَزْوَاجُهُمْ مِثْلَ مَا أَنْفَقُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ

wa in fātakum syai`um min azwājikum ilal-kuffāri fa āqabtum fa ātullażīna żahabat azwājuhum miṡla mā anfaqụ, wattaqullāhallażī antum bihī mu`minụn

11. Dan jika seseorang dari isteri-isterimu lari kepada orang-orang kafir, lalu kamu mengalahkan mereka maka bayarkanlah kepada orang-orang yang lari isterinya itu mahar sebanyak yang telah mereka bayar. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nya kamu beriman.

Allah menjelaskan jika pergi sebagian dari istri-istri kalian wahai orang-orang yang beriman, kepada orang-orang kafir, maka para istri tersebut telah keluar dari islam dan kalian berhak meminta pengembalian mahar, maka jika tidak menyerahkan mahar, kalian perangi dan ghanimahnya milik kalian, berikan ghanimahnya oleh kalian sebelum kalian berpisah dengan istri-istri kalian yang pergi menuju ke negeri kafir dan jika tidak mendapatkan dari gantinya, maka berinfaklah. Takutlah kepada Allah yang kalian adalah orang-orang yang beriman, dengan itu kalian telah mengikuti perintah dan menjauhi larangan-Nya.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَىٰ أَنْ لَا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ ۙ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

yā ayyuhan-nabiyyu iżā jā`akal-mu`minātu yubāyi’naka ‘alā al lā yusyrikna billāhi syai`aw wa lā yasriqna wa lā yaznīna wa lā yaqtulna aulādahunna wa lā ya`tīna bibuhtāniy yaftarīnahụ baina aidīhinna wa arjulihinna wa lā ya’ṣīnaka fī ma’rụfin fa bāyi’hunna wastagfir lahunnallāh, innallāha gafụrur raḥīm

12. Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Wahai Nabi, jika datang wanita-wanita yang beriman dengan suatu perjanjian kepadamu : Yaitu mereka tidak menyekutukan Allah dengan apapun, tidak berbuat dosa kejahatan mencuri, tidak berbuat kejahatan dengan berzina, yang itu adalah keburukan yang paling hina, dan yang tidak membunuh anak-anak mereka karena itu adalah perbuatan jahiliyyah; Karena sebab takut celaan dan faqir, dan yang mereka tidak menisbatkan anak mereka kepada suami-suami mereka yang padahal anak tersebut bukan anak mereka, dan yang mereka tidak menyelisihi kebenaran yang diperintahkan kepada mereka. Maka semua ini adalah syarat untuk mereka berbaiat kepadamu wahai Nabi ﷺ, dan mintalah ampunan dari Allah untuk mereka; Karena Dia maha pengampun atas dosa seorang hamba yang mereka bertaubat, yang Dia memiliki kasih sayang kepada para hamba.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَئِسُوا مِنَ الْآخِرَةِ كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحَابِ الْقُبُورِ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tatawallau qauman gaḍiballāhu ‘alaihim qad ya`isụ minal-ākhirati kamā ya`isal-kuffāru min aṣ-ḥābil-qubụr

13. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.

Allah menutup surat ini dengan larangan seorang hamba yang beriman, yaitu mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ; dari berkasih sayang kepada yahudi dan nashrani dan bagi seluruh orang-orang kafir yang Allah benci atas mereka, Allah halau orang-orang beriman dari mereka karena kecintaan Allah terhadap orang-orang yang beriman. Karena sebab mereka kufur dan sesat (yahudi, nashrani, dll.); Maka Allah memperingatkan dari menyayangi mereka; Meskipun mereka teman atau saudara. Mereka orang-orang pendosa, sungguh mereka tidak ada harapan lagi dari balasan di akhirat dan kenikmatannya, sebagaimana orang kafir yang tidak memiliki harapan, yaitu yang mereka mendustakan hari kebangkitan dari pengembalian mayat-mayat mereka untuk bangkit dan hidup kedua kalinya setelah mereka semua mati.

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!