Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat al-Hasyr

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Arab-Latin: sabbaḥa lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wa huwal-‘azīzul-ḥakīm

Terjemah Arti: 1. Telah bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia

Surat ini diawali dengan pujian Allah dan kesucian-Nya atas apa yang tidak sesuai dengan dzat dan kemuliaan-Nya. Allah mengabarkan bahwa setiap yang di langit dan di bumi mensucikan Allah atas apa yang tidak sesuai dengan kemuliaan dan kebesaran-Nya; Allah Maha Gagah yang kuasa atas segala sesuatu dan menaklukkan segala sesuatu, pemilik hikmah yang kokoh. Kedua sifat Allah ini adalah kebaikan untuk mensucikan Allah. Pensucian seluruh makhluk kepada Allah adalah melalui lisan sesungguhnya dan lisan lainnya, dan jumhur ahli tahqiq sepakat dengan ini; Dan tidaklah mengherankan atas batu yang dapat berbicara, karena Rasul ﷺ berkata dalam hadits riwayat muslim dan tirmidzi : Sesungguhnya aku mengetahui batu di Mekkah yang berislam kepadaku. Dan Allah telah berfirman : وَلَـٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ , yang artinya : tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. {Al Isra : 44}.

هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِأَوَّلِ الْحَشْرِ ۚ مَا ظَنَنْتُمْ أَنْ يَخْرُجُوا ۖ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ مَانِعَتُهُمْ حُصُونُهُمْ مِنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا ۖ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ ۚ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُمْ بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ

huwallażī akhrajallażīna kafarụ min ahlil-kitābi min diyārihim li`awwalil-ḥasyr, mā ẓanantum ay yakhrujụ wa ẓannū annahum māni’atuhum ḥuṣụnuhum minallāhi fa atāhumullāhu min ḥaiṡu lam yaḥtasibụ wa qażafa fī qulụbihimur-ru’ba yukhribụna buyụtahum bi`aidīhim wa aidil-mu`minīna fa’tabirụ yā ulil-abṣār

2. Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan.

Allah mengabarkan bahwa Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir dari yahudi bani nadhir dari rumah-rumah mereka dimana mereka tinggal di sekitar Madinah. Dan ini merupakan awal pertama kali mereka dikeluarkan dari tanah Arab; Dimana mereka juga dikeluarkan dari tanah Syam. Kaum muslimin tidak menyangka bahwa bani nadhir dapat keluar dari negara mereka dengan mudah; Karena sebab benteng-benteng mereka yang banyak menjadi pelindung, mereka adalah ahli dalam hitung-menghitung, sampai-sampai mereka menyangka bahwa benteng-benteng mereka mampu menghalangi adzab Allah; Akan tetapi karena Allah Maha Kuat dan Kuasa, tidak ada yang menghalangi-Nya suatu penghalang dan tidak ada di hadapan-Nya yang mampu mencegah-Nya sesuatu apapun. Oleh sebab itu ditimpakan adzab Allah dan Kuasa-Nya kepada mereka, dari segi mereka juga tidak tahu dan terpikirkan dalam benak mereka. Allah timpakan kepanikan dan ketakutan dalam hati-hati mereka ketika datang Rasulullah ﷺ dan para sahabat-Nya kepada mereka, maka mereka tidak dapat melawan. Ketika mereka terusir dengan kekalahan mereka, mereka robohkan rumah-rumah mereka dari dalam, dan kaum muslimin meruntuhkannya dari luar; Mereka orang-orang yahudi adalah hasad dan memendam kebencian. Maka ambillah menjadi pelajaran wahai orang-orang yang memiliki ilmu dan akal. Dan ketahuilah bahwa tipu daya dan khianat akan merugikan pelakunya karena sebab dosanya sendiri. Pada penutup ayat ini Allah berfirman : فَٱعْتَبِرُوا۟, maka para ulama ahli fiqh menjadikan dalil kehujjahan qiyas.

وَلَوْلَا أَنْ كَتَبَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَلَاءَ لَعَذَّبَهُمْ فِي الدُّنْيَا ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابُ النَّارِ

walau lā ang kataballāhu ‘alaihimul-jalā`a la’ażżabahum fid-dun-yā, wa lahum fil-ākhirati ‘ażābun-nār

3. Dan jika tidaklah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka.

Allah mengabarkan kalau lah bukan Allah telah mengusir mereka karena kuasa-Nya atas mereka; Sungguh mereka akan mendapatkan adzab Allah di dunia dengan dibunuh dan ditangkap sebagaimana yang dilakukan terhadap bani quraidzah, mereka di akhirat akan mendapatkan adzab pedih yang hina, dan tidaklah tahu kuasa Allah kecuali Allah sendiri.

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ شَاقُّوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۖ وَمَنْ يُشَاقِّ اللَّهَ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

żālika bi`annahum syāqqullāha wa rasụlahụ wa may yusyāqqillāha fa innallāha syadīdul-‘iqāb

4. Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.

Allah menjelaskan bahwasanya yang menimpa mereka dari pengepungan dan pengusiran, serta apa yang menunggu mereka di akhirat dari adzab neraka; Karena sebab permusuhan mereka yang keras kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ, serta pengkhianatan mereka dari perjanjian dan kesepakatan, dan barangsiapa yang memusuhi Allah dan memerangi Rasul-Nya ﷺ, maka sungguh adzab Allah sangat pedih.

مَا قَطَعْتُمْ مِنْ لِينَةٍ أَوْ تَرَكْتُمُوهَا قَائِمَةً عَلَىٰ أُصُولِهَا فَبِإِذْنِ اللَّهِ وَلِيُخْزِيَ الْفَاسِقِينَ

mā qaṭa’tum mil līnatin au taraktumụhā qā`imatan ‘alā uṣụlihā fa bi`iżnillāhi wa liyukhziyal-fāsiqīn

5. Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik.

Dan ketika bani nadhir mencela Rasulullah ﷺ dan orang-orang muslim dalam penebangan pohon kurma, mereka menginginkan kehinaan bagi kaum muslimin dan membuat marah Rasulullah ﷺ; Allah mengabarkan bahwa apa yang dilakukan kaum muslimin dari menebang pohon kurma dan membakar sebagian pepohonan yang berbuah, maka itu semua adalah perintah Allah dan keinginan-Nya; Dimana Allah berkuasa atas penebangan yang dilakukan kaum muslimin dan pembakaran pohon kurma. Agar supaya membuat marah bani nadhir, dan juga supaya menjadi hukuman dan hinaan serta perendahan atas apa yang mereka khianati dari perjanjian (dengan kaum muslimin).

وَمَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْهُمْ فَمَا أَوْجَفْتُمْ عَلَيْهِ مِنْ خَيْلٍ وَلَا رِكَابٍ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

wa mā afā`allāhu ‘alā rasụlihī min-hum fa mā aujaftum ‘alaihi min khailiw wa lā rikābiw wa lākinnallāha yusalliṭu rusulahụ ‘alā may yasyā`, wallāhu ‘alā kulli syai`ing qadīr

6. Dan apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) mereka, maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kudapun dan (tidak pula) seekor untapun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada Rasul-Nya terhadap apa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Ketahuilah wahai orang-orang beriman, bahwasanya harta yang datang kepada kalian dari harta-harta milik yahudi bani nadhir, sungguh Allah telah mudahkan bagi kalian untuk mendapatkannya tanpa peperangan dan kesulitan, dan juga tanpa harus menaiki kuda perang dan unta. Dan itulah kekuasaan Allah yang diberikan untuk utusan-Nya ﷺ. Allah timpakan kepada hati-hati mereka rasa takut (dan itu adalah sebagian dari tentara Allah), maka mereka diserang dengan rasa takut. Allah menjadikan Rasul-Nya berkuasa atas apa yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatunya, dan tidak ada yang mampu menghalangi-Nya di bumi maupun di langit.

مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

mā afā`allāhu ‘alā rasụlihī min ahlil-qurā fa lillāhi wa lir-rasụli wa liżil-qurbā wal-yatāmā wal-masākīni wabnis-sabīli kai lā yakụna dụlatam bainal-agniyā`i mingkum, wa mā ātākumur-rasụlu fa khużụhu wa mā nahākum ‘an-hu fantahụ, wattaqullāh, innallāha syadīdul-‘iqāb

7. Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.

Ketahuilah wahai orang-orang yang beriman, bahwa harta-harta yang didatangkan kepada Rasul ﷺ adalah sebagiannya milik orang-orang kota ini; Yaitu dari orang-orang yang tidak menaiki kuda oerang, unta dan merasa kepayahan; Maka harta-harta tersebut tidak dibagi sebagaimana ghanimah (harta rampasan perang); Akan tetapi semua itu milik Allah dan Rasul-Nya ﷺ yang menguasai dari sisi kebaikan; dan juga untuk kerabat dekat Rasul ﷺ, juga untuk anak-anak yatim yang membutuhkan, dan juga orang-orang miskin yang membutuhkan karena sengsara, juga untuk para musafir yang tidak memiliki harta sebagai bekal. Maka Kami lakukan demikian agar harta ini tidak berputar hanya pada orang-orang yang kaya yang ia manfaatkan sendiri, dan ia haramkan orang faqir menerima hartanya karena sebab merasa sangat butuh sekali. Kemudian Allah menjelaskan bahwa apa yang datang dari sisi Rasul ﷺ yang diperintahkan kepada seorang hamba, wajib untuk ditaati dan diikuti, tidak halal menyelisihinya, dan ini semua merupakan kesempurnaan pokok agama dan cabangya, secara dzahir dan batin. Taatilah Allah wahai manusia, dengan amalan yang diperintahkan-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya, karena sesungguhnya adzab Allah sangat pedih bagi siapa yang menyelisihi perintah dan larangan-Nya. Kesimpulan akhirnya adalah, bahwasanya sebab tidak dibaginya harta bagi seluruh orang-orang yang berperang yaitu ada dua sebab : Yang pertama, bahwa harta tersebut didapatkan tanpa melalui peperangan, dan yang kedua : Mencegah agar harta tidak berputar hanya dikalangan orang-orang kaya yang telah tercukupi kebutuhan mereka.

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

lil-fuqarā`il-muhājirīnallażīna ukhrijụ min diyārihim wa amwālihim yabtagụna faḍlam minallāhi wa riḍwānaw wa yanṣurụnallāha wa rasụlah, ulā`ika humuṣ-ṣādiqụn

8. (Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.

Allah memerintahkan agar memberikan harta yang Allah berikan kepada Rasul ﷺ, juga diberikan kepada orang-orang miskin dari muhajirin yang kafir Mekkah memaksa mereka untuk keluar dari negeri mereka, dan kafir-kafir itu tidak mempersilahkan untuk membawa harta-harta mereka bersama mereka. Kemudian Allah mensucikan mereka, karena mereka melakukan hal demikian karena sebab mencari wajah Allah dan akhirat, dan mencari keridhaan Allah dan untuk menolong utusan-Nya ﷺ. Kemudian Allah menjelaskan bahwa mereka adalah orang yang jujur dalam keimanannya; Sebab mereka jujur dalam beramal dengan amalan mereka yang sebelumnya mereka ucapkan melalui lisan-lisan mereka.

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

wallażīna tabawwa`ud-dāra wal-īmāna ming qablihim yuḥibbụna man hājara ilaihim wa lā yajidụna fī ṣudụrihim ḥājatam mimmā ụtụ wa yu`ṡirụna ‘alā anfusihim walau kāna bihim khaṣāṣah, wa may yụqa syuḥḥa nafsihī fa ulā`ika humul-mufliḥụn

9. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung

Allah menyebutkan kaum anshar dan memuji mereka dan mensucikan mereka. Allah menyebutkan bahwa mereka yang bertempat tinggal sebelum muhajirin datang, dan telah beriman sebelum muhajirin berpindah ke Madinah, dan sungguh mereka telah mencintai saudarnya dari kalangan muhajirin, mereka banyak menolong muhajirin, rela terhadap mereka, dan memberikan sebagian harta mereka kepada muhajirin, serta tidak didapati dalam dada-dada mereka sifat hasad, jengkel dan paksaan dari apa yang mereka berikan kepada saudara mereka dari kalangan muhajirin yang Allah telah karuniakan dan mengkhususkan dengannya; Bahkan mereka (anshar) mendahulukan saudaranya dari muhajirin atas diri-diri mereka sendiri pada segala sesuatunya dari kesenangan dunia dan kecintaan padanya, bahkan seandainya mereka dalam kondisi fakir dan butuh, mereka memberikan dari rezeki yang datang dari Allah. Dan mereka (anshar) jauh dari sifat bakhil; Mereka adalah termasuk orang-orang yang selamat, dan menang dengan kemenangan yang besar.

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

wallażīna jā`ụ mim ba’dihim yaqụlụna rabbanagfir lanā wa li`ikhwāninallażīna sabaqụnā bil-īmāni wa lā taj’al fī qulụbinā gillal lillażīna āmanụ rabbanā innaka ra`ụfur raḥīm

10. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.

Allah menyebutkan mereka yang datang setelah kaum muhajirin dan anshar yang mereka masuk islam setelah penaklukkan Mekkah, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan benar sampai hari kiamat, mereka bermunajat kepada Allah dengan berkata : Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang mereka mendahului kami dengan keimanan mereka, dan jangan engkau jadikan di hati-hati kami kebencian dan juga hasad, permusuhan, dan juga kemurkaan terhadap mereka saudara-saudara kami yang beriman, wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang kepada mereka, maka kabulkan doa kami.

۞ أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لِإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِنْ قُوتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

a lam tara ilallażīna nāfaqụ yaqụlụna li`ikhwānihimullażīna kafarụ min ahlil-kitābi la`in ukhrijtum lanakhrujanna ma’akum wa lā nuṭī’u fīkum aḥadan abadaw wa ing qụtiltum lananṣurannakum, wallāhu yasy-hadu innahum lakāżibụn

11. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab: “Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya kamipun akan keluar bersamamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu”. Dan Allah menyaksikan bahwa Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.

Allah mengisahkan kisah Abdullah bin Ubay dan para pengikutnya dari orang-orang munafik yang mereka dengan orang-orang yahudi ada persahabatan dan hubungan, Allah berkata : Tidakkah engkau takjub wahai Nabi Allah atas urusan mereka yaitu orang-orang munafik, yang mereka menampakkan perselisihan dengan apa yang telah mereka sembunyikan !? Mereka (yahudi bani quraidzah dan nadhir) mengatakan kufur dengan kerisalahan Muhammad ﷺ; Mereka berkata : Sungguh jika kalian diusir maka kami juga akan ikut keluar bersama kalian, kami tidak akan taat kepada siapapun yang tidak menolong kalian, karna kami akan menolong kalian jika kalian diperangi dan direndahkan, dan jika kalian saling berperang maka kami akan membantu kalian. Sungguh Allah yang menjadi saksi bahwa orang-orang munafik ini pembohong atas apa yang telah mereka katakan dan atas apa yang telah mereka seru.

لَئِنْ أُخْرِجُوا لَا يَخْرُجُونَ مَعَهُمْ وَلَئِنْ قُوتِلُوا لَا يَنْصُرُونَهُمْ وَلَئِنْ نَصَرُوهُمْ لَيُوَلُّنَّ الْأَدْبَارَ ثُمَّ لَا يُنْصَرُونَ

la`in ukhrijụ lā yakhrujụna ma’ahum, wa la`ing qụtilụ lā yanṣurụnahum, wa la`in naṣarụhum layuwallunnal-adbāra ṡumma lā yunṣarụn

12. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tidak akan keluar bersama mereka, dan sesungguhnya jika mereka diperangi, niscaya mereka tidak akan menolongnya; sesungguhnya jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang; kemudian mereka tidak akan mendapat pertolongan.

Sungguh Allah mendustkan mereka, dan mengabarkan bahwa seandainya yahudi itu dikeluarkan dari Madinah, maka mereka (orang-orang munafik) tidak akan mengikutinya, dan juga sebaliknya; Tidaklah orang-orang munafik yang dikeluarkan dan yahudi juga ikut keluar (dari bani nadhir), dan seandainya pun yahudi terbunuh. Orang-orang munafik tidak akan membenarkan janji mereka akan setia bersama temannya, sebaliknya juga demikian; Tidaklah bersama bani quraidzah ketika mereka terbunuh setelahnya. Dan yang sewajibnya (sebagaimana perkatan mereka) berdiri bersama mereka ketika berperang; Mereka tidak akan mungkin kokoh (dengan ucapan mereka), karena niscaya mereka akan berpaling dan tidak akan menolong dalam peperangan.

لَأَنْتُمْ أَشَدُّ رَهْبَةً فِي صُدُورِهِمْ مِنَ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ

la`antum asyaddu rahbatan fī ṣudụrihim minallāh, żālika bi`annahum qaumul lā yafqahụn

13. Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti.

Ketahuilah wahai seluruh kaum muslimin, sungguh kalian adalah orang yang paling takut daripada mereka orang-orang munafik dan yahudi kepada Allah yang menciptakan mereka dan menjadikan mereka ada. Dan ketakutan mereka kepada utusan Allah ﷺ dan para sahabatnya lebih ditakuti daripada ketakutan kepada Allah; Karena mereka adalah kaum yang tidak paham akan kekuasaan Allah yang besar.

لَا يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعًا إِلَّا فِي قُرًى مُحَصَّنَةٍ أَوْ مِنْ وَرَاءِ جُدُرٍ ۚ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ ۚ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ

lā yuqātilụnakum jamī’an illā fī quram muḥaṣṣanatin au miw warā`i judur, ba`suhum bainahum syadīd, taḥsabuhum jamī’aw wa qulụbuhum syattā, żālika bi`annahum qaumul lā ya’qilụn

14. Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.

Allah menyebutkan diantara sifat-sifat yahudi dan orang-orang munafik, yaitu memiliki sifat pecundang (penakut), Allah mengabarkan bahwa mereka takut menghadapi kaum muslimin (berhadap-hadapan) kalo sedang tidak berkumpul dalam satu perkumpulan dengan teman-temannya, yaitu kecuali mereka dalam satu kota yang telah dikelilingi benteng-benteng dengan bangunan kokoh dan terdapat parit-parit yang mengelilinginya, atau ada prajurit yang menjaga yang mereka bersembunyi di belakangnya karena sebab sifat penakutnya dan pecundang. Allah menjelaskan penyebab dari sifat pecundang dan takut ini disebabkan mereka ada musuh bagi sebagian yang lain; Dengan itu orang yang melihatnya merasa bahwa mereka bersatu dan satu visi, akan tetapi hakikatnya hati-hati mereka tercerai-berai, juga terdapat perbedaan dan tertekan disebabkan mereka adalah kaum yang tidak berpikir sesuatupun akan kebaikan diri mereka. Maka jika tertekan (depresi) hati mereka, akan muncul rasa takut dan bertambah rasa takutnya. Dan seandainya mereka berakal, sungguh mereka akan menyimpang dari kebenaran dan mengikuti kebenaran itu.

كَمَثَلِ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ قَرِيبًا ۖ ذَاقُوا وَبَالَ أَمْرِهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

kamaṡalillażīna ming qablihim qarīban żāqụ wa bāla amrihim, wa lahum ‘ażābun alīm

15. (Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih.

Ketahuilah wahai Nabi Allah, permisalan mereka (yahudi) dari bani nadhir adalah yang mengundang adzab Allah; Semisal dengan mereka dari kafir quraisy, yang mereka ketika di perang badr ditimpakan kekalahan, dan semisal dengan yahudi dari bani qaynuqa’ yang dikeluarkan dari Madinah disebabkan karena mereka berkhianat; Yang mereka dikeluarkan sebelum bani nadhir dengan rentang waktu yang tidak lama. Maka mereka semua ini telah merasakan hukuman akibat kekufuran mereka dan permusuhan mereka kepada Rasul ﷺ di dunia. Dan bersama mereka akan ada adzab yang pedih di akhirat.

كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

kamaṡalisy-syaiṭāni iż qāla lil-insānikfur, fa lammā kafara qāla innī barī`um mingka innī akhāfullāha rabbal-‘ālamīn

16. (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) shaitan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam”.

Ketahuilah wahai Nabi Allah, bahwa mereka ini yaitu orang-orang munafik yang menghiasi keburukan dan kefasikan bagi yahudi bani nadhir dan menjanjikan mereka untuk menolong mereka; Yang kemudian mereka berlepas diri dari janji mereka; Sebagaimana setan yang menghasut kafir Mekkah dan selain mereka yang kufur, maka ketika setan tersebut melihat adzab, ia berlepas diri dari mereka orang-orang kafir dan meninggalkan mereka. Ia (setan) berkata kepada mereka : Sesungguhnya aku takut dengan adzab Allah dan permusuhan-Nya jika aku berperang (membantu) kalian.

فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَا أَنَّهُمَا فِي النَّارِ خَالِدَيْنِ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ

fa kāna ‘āqibatahumā annahumā fin-nāri khālidaini fīhā, wa żālika jazā`uẓ-ẓālimīn

17. Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zalim.

Allah mengabarkan bahwa balasan dan adzab untuk orang-orang munafik dan yahudi sama seperti adzab bagi setan dan yang mengikutinya dalam kekufuran; Mereka semua tempatnya di dalam neraka jahannam, keduanya (munafik dan yahudi) di adzab di dalamnya, tinggal di dalamnya selamanya. Tidak akan keluar darinya, dan itulah balasan bagi orang-orang yang dzalim yang melanggar aturan-aturan Allah dengan kesyirikan dan kemaksiatan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha waltanẓur nafsum mā qaddamat ligad, wattaqullāh, innallāha khabīrum bimā ta’malụn

18. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Allah menganjurkan bagi orang-orang yang beriman untuk bertakwa dan melihat akan adzab dan selalu mengintrospeksi atas amalan mereka, Allah berkata : Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ, beramallah kalian dengan syariat-Nya. Takutlah kalian dari adzab Allah dengan mengerjakan apa yang diperintah dan dilarang-Nya, dan agar memperhatikan setiap amalan yang terdahulu yang (akan dihisab) di hari kiamat. Kemudian Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar bertakwa untuk kedua kalinya. Dan Allah mengulangi kalimat takwa kaena pentingnya amalan tersebut. Ketahuilah bahwa Allah yang ada di langit mengetahui atas amalan-amalan kalian tanpa tersembunyi apa yang ada di bumi dan di langit. Dan kalian akan dibalas dengan sebab amalan-amalan kalian. Jika baik, maka akan dibalasan dengan kebaikan, jika buruk makan akan dibalas dengan keburukan.

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

wa lā takụnụ kallażīna nasullāha fa ansāhum anfusahum, ulā`ika humul-fāsiqụn

19. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.

Waspadalah kalian wahai orang-orang beriman dari mengikuti semisal yahudi dan orang-orang munafik dari meninggalkan apa yang Allah perintahkan dan ketaatan pada-Nya serta melupakan hak-hak-Nya; Yang mengakibatkan Allah lupakan hak-hak kalian, karena sebab balasan akan disesuaikan dengan amalan. Ketahuilah bahwa mereka yang meninggalkan perintah-perintah Allah, mereka adalah orang-orang yang keluar dari ketaatan pada-Nya dan syariat-Nya.

لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۚ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ

lā yastawī aṣ-ḥābun-nāri wa aṣ-ḥābul-jannah, aṣ-ḥābul-jannati humul-fā`izụn

20. Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung.

Allah mengabarkan bahwa tidak sama antara penghuni neraka (dan mereka adalah orang-orang fasik yang melupakan Allah) dengan penghuni surga yang mereka bertakwa kepada Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketahuilah bahwa penghuni surga mereka adalah orang-orang yang menang, sukses sesuai perintah Allah dan lolos dari apa yang Allah tidak senangi.

لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

lau anzalnā hāżal-qur`āna ‘alā jabalil lara`aitahụ khāsyi’am mutaṣaddi’am min khasy-yatillāh, wa tilkal-amṡālu naḍribuhā lin-nāsi la’allahum yatafakkarụn

21. Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.

Allah menyebutkan bahwa Al Qur’an ini adalah wadah yang berisi peringatan dan larangan, maka seandainya diturunkan kepada gunung, akan terpecah belah dan hancur karena sebab takut kepada Allah. Dan ketahuilah wahai manusia, permisalan ini dimisalkan kepada kalian agar kalian saling mengambil pelajaran untuk sampai kepada ridha Allah dan terlepas dari siksa neraka. Ini adalah himbauan akan kebesaran Al Qur’an dan besarnya dampaknya serta peringatan bagi orang-orang yang bermaksiat yaitu orang-orang kafir dan selain mereka, yang telingan mereka pura-pura tuli akan Al Qur’an.

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ

huwallāhullażī lā ilāha illā huw, ‘ālimul-gaibi wasy-syahādah, huwar-raḥmānur-raḥīm

22. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Kemudian Allah tutup surat ini dengan sejumlah nama-nama Allah yang baik, yang Dia berhak memiliknya dan Maha Pengampun. Allah mengabarkan bahwa Allah yang menguasai hati, Dia yang diibadahi dengan benar tanpa sekutu, tidak ada Tuhan selain Dia tidak juga Rabb selain-Nya. Dia yang mengetahui yang tersembunyi dan yang nampak, mengetahui yang ghaib di mata manusia dan manusia tidak mengetahui yang ia saksikan dan tidak mengetahui ilmunya. Dialah Allah yang memiliki rahmat yang luas, yang umum; Dimana Dia maha luas atas segala sesuatunya dan yang sampai pada semua yang hidup, Dialah yang memiliki kasih sayang di dunia dan di akhirat yang merahmati keduanya. Para ulama menguatkan bahwa lafadz Allah ada nama yang agung, dan telah disebutkan di dalam Al Qur’an 2602 kali, yang semuanya kembali kepada Allah.

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

huwallāhullażī lā ilāha illā huw, al-malikul-quddụsus-salāmul-mu`minul-muhaiminul-‘azīzul-jabbārul-mutakabbir, sub-ḥānallāhi ‘ammā yusyrikụn

23. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Kemudian untuk kedua kalinya Allah menegaskan bahwa Dialah Allah ayng tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali hanya Dia, tidak ada selain-Nya. Dan Allah mementingkan dan perhatian dalam permasalahan tauhid. Allah mengabarkan bahwa Dia adalah raja yang tidak akan hilang kerajaan-Nya. Dia yang menguasai atas perintah dan larangan bagi makhluk-Nya. Dialah raja yang bagi makhluk wajib taat dibawah kerajaan-Nya, kekuasaan-Nya dan keinginan-Nya. Dia yang suci dari segala keburukan dan disucikan dari segala kekurangan. Orang yang beriman, yang diberikan kenikmatan beribadah dengan rasa aman, iman dan ketenangan; Serta membenarkan kerisalahan Nabi yang menampakkan mukjizat. Dialah yang mengawasi, dengan keagungan-Nya dan kemuliaan-Nya atas seluruh makhluknya yang di antara mereka ada yang menjadi raja, pembesar, dan pemimpin. Dialah yang gagah, yang tidak ada sesuatupun yang mengalahkan dan menaklukkan-Nya. Dialah yang memiliki segala kebesaran yang memiliki kesombongan dan keagungan. Maka sucikanlah Allah dan sucikan karena kemuliaan dan keagungan-Nya, dalam ucapan dan perbuatan orang-orang yang menyekutukan Allah.

هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

huwallāhul-khāliqul-bāri`ul-muṣawwiru lahul-asmā`ul-ḥusnā, yusabbiḥu lahụ mā fis-samāwāti wal-arḍ, wa huwal-‘azīzul-ḥakīm

24. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Allah mengabarkan bahwa Dia Tuhan yang menciptakan segala sesuatu. Dialah yang mengadakan dengan mewujudkan sesuatu yang baru. Yang ada tanpa ketiadaan, yang membentuk segala makhluk atas apa yang dikehendaki-Nya, yan memiliki nama dan sifat yang mulia. Allah disucikan dari sifat yang lemah dan kurang atas segala sesuatunya. Karena Dia yang maha kuat, tidak ada sesuatu yang mengalahkan. Yang maha menghakimi atas segala urusan yang Dia kerjakan. Dan telah datang dari hadits yang diriwayatkan dari Ahmad, Darimi dan Tirmidzi, yang dihasankan oleh Bihaqi dalam Syuaibul Iman : Barangsiapa yang mengucapkan ketika bertasbih sepuluh kali : Audzubillahis Sami’il Alim minasy Syaithanir Rajim, dan membaca ayat terakhir dalam surat Al Hasyr, maka Allah akan mengutus 70.000 malaikat yang bershalawat kepadanya (di pagi hari), sampai sore hari, dan jika ia mati pada hari itu, dia akan mati syahid. Dan yang membaca pada sore hari, maka keadaannya demikian juga. Selesai surat Al Hasyr pada pagi hari Ied dari bulan ramadhan 1434 H. Segala puji bagi Allah atas pertolongan-Nya, dan semoga shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, dan kepada keluarganya dan sahabatnya.

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!