Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat an-Najm

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَىٰ

Arab-Latin: wan-najmi iżā hawā

Terjemah Arti: 1. Demi bintang ketika terbenam.

مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ

mā ḍalla ṣāḥibukum wa mā gawā

2. kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ

wa mā yanṭiqu ‘anil-hawā

3. dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.

إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

in huwa illā waḥyuy yụḥā

4. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia

1-4. Allah mengawali surat ini dengan bersumpah dengan bintang-bintang di langit yang menukik karena terbenam. Kemudian datang jawaban atas sumpah yang mengabarkan bahwa sahabat kalian ini (Muhammad) wahai orang-orang Quraisy, tidaklah menyimpang dari jalan yang lurus, dan tidak juga berkeyakinan bathil selamanya. Sesungguhnya Muhammad tidaklah berbicara dengan hawa nafsu, dan juga pendapatnya sendiri atas apa yang disampaikannya kepada kalian dari kerisalahan. Sungguh dia tidak berbicara kecuali atas dasar wahyu yang Allah wahyukan kepadanya. Berkata Asy Syanqiti penulis Adhwaul Bayan, ketika mengajarkan kepada kami tafsir di kuliah syariah : Bintang yang Allah bersumpah atasnya adalah ungkapan atas turunnya Al Qur’an; Karena Al Qur’an turun secara berangsur-angsur kepada Nabi ﷺ. Dengan ini maka maknanya adalah : Sesungguhnya Allah bersumpah dengan ungkapan turunnya Al Qur’an yang diturunkan malaikat kepada Nabi ﷺ.

عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَىٰ

‘allamahụ syadīdul-quwā

5. yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.

ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَىٰ

żụ mirrah, fastawā

6. yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.

وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَىٰ

wa huwa bil-ufuqil-a’lā

7. sedang dia berada di ufuk yang tinggi.

ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّىٰ

ṡumma danā fa tadallā

8. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi.

فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَىٰ

fa kāna qāba qausaini au adnā

9. maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).

5-9. Allah mengabarkan bahwa yang mengajarkan Al Qur’an ini kepada Muhammad adalah Jibril yang di antara sifatnya adalah sangat kuat, yang memiliki pandangan yang baik, dan yang nampak dan berada di atas (ufuk langit) dalam bentuk yang hakiki (asli), sebagaimana betuk asli yang Allah ciptakan. Dia di atas langit, dan langit penuh karena besarnya dirinya, ini adalah ru’yah awal dari Nabi ﷺ. Kemudian Jibril mendekat kepada Nabi ﷺ di gua hira, dan semakin mendekat hingga berjarak dua busur panah atau lebih dekat daripada itu kepada Nabi ﷺ, akan tetapi dalam bentuk manusia; Sebab ketika dalam bentuk (asli) di ufuk langit, tidak terbayang bisa masuk ke dalam gua hira. Dan malaikat memiliki kemampuan merubah dirinya dalam bentuk manusia, sebagaimana dilakukan oleh para malaikat yang diberikan tugas untuk membinasakan kaum Luth, ketika Nabi Ibrahim berziarah (menuju kaum Luth) bersama para malaikat.

فَأَوْحَىٰ إِلَىٰ عَبْدِهِ مَا أَوْحَىٰ

fa auḥā ilā ‘abdihī mā auḥā

10. Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan.

مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَىٰ

mā każabal-fu`ādu mā ra`ā

11. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.

أَفَتُمَارُونَهُ عَلَىٰ مَا يَرَىٰ

a fa tumārụnahụ ‘alā mā yarā

12. Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya?

10-12. Jibril menyampaikan kepada Nabi ﷺ atas apa yang Allah berikan tugas kepadanya untuk menyampaikan Al Qur’an dan petunjuk serta cahaya. Allah tidak memperjelas mewahyukan kepada Muhammad ﷺ karena Allah memuliakannya, karena ketidakjelasan datang dengan tujuan meninggikan dan memuliakan. Dan ketika Nabi ﷺ melihat Jibril dalam betuk aslinya maka Jibril meyakinkan hatinya dan menjadikan hatinya membenarkan; Karena tidaklah Nabi ﷺ melihat dengan matanya, kecuali hatinya juga membenarkannya. Kemudian Allah mengarahkan pembicaraan kepada orang-orang musyrik, dengan berkata dengan nada merendahkan : Apakah mereka mendebatmu dan saling berselisih atas apa yang Allah perlihatkan pada pandanganmu ?

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ

wa laqad ra`āhu nazlatan ukhrā

13. Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,

عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ

‘inda sidratil-muntahā

14. (yaitu) di Sidratil Muntaha.

عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ

‘indahā jannatul-ma`wā

15. Di dekatnya ada surga tempat tinggal,

إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ

iż yagsyas-sidrata mā yagsyā

16. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.

13-16. Allah mengabarkan bahwa Nabi melihat Jibril kedua kalinya dalam bentuk aslinya ketika di isra’ kan. Adapun Setelah itu Nabi ﷺ hanya melihat dalam bentuk manusia agar lebih manusiawi dan mengurangi rasa takut. Kemudian Allah menjelaskan bahwa Nabi ﷺ melihat Jibril ketika di Sidratul Muntaha, dan Sidratul Muntaha adalah pohon yang sangat besar yang bertempat di atasnya langit yang ketujuh. Di sisi pohon itu terdapat surga yang sebagai tempat (terkumpulnya) seluruh kenikmatan. Pohon besar ini diliputi (atas perintah Allah) dengan sesuatu yang besar, yang tidak mengetahui gambaran (hakikinya) kecuali hanya Allah.

مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ

mā zāgal-baṣaru wa mā ṭagā

17. Penglihatannya (muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.

لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ

laqad ra`ā min āyāti rabbihil-kubrā

18. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.

17-18. Allah menjelaskan atas kondisi Nabi ﷺ terdiam dan takjub, Allah mengabarkan bahwa Nabi ﷺ tetap dalam pandangannya dan tidak memalingkan penglihatannya sesuai dengan apa yang Allah perintahkan kepadanya, maksudnya adalah menetapkan (tidak memalingkan) pandangannya dengan penglihatan secara hakiki. Allah menjelaskan bahwa Nabi melihat malam isra’ sebagai bukti yang agung, yang menunjukkan kekuasaan Allah dan keagungan-Nya; Dimana Nabi melihat langit, bertemu dengan para Nabi, melihat surga dan neraka dan ditampakkan atas segala sesuatu yang banyak sebagai bukti di antara bukti-bukti kekuasaan Allah.

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ

a fa ra`aitumul-lāta wal-‘uzzā

19. Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Lata dan al Uzza,

وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ

wa manātaṡ-ṡāliṡatal-ukhrā

20. dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?

19-20. Allah mencela kepada orang-orang kafir yang mereka beribadah kepada berhala-berhala, dimana berhala-berhala tersebut tidak memudharatkan dan tidak memberi manfaat, dan mereka menjadikan berhala-berhala itu sekutu bagi Allah, yang mereka juga tahu akan keagungan Allah. Al Lata adalah nama yang diambil dari nama Allah, yang dulunya ia memiliki kelompok. Adapun Al Uzza, berkata Mujahid : Adalah pohon yang terletak di Ghathafan, yang mereka ibadahi. Kemudian Rasulullah ﷺ mengutus Khalid bin Walid untuk mencabut dari akarnya. Adapun Manat adalah berhala yang telah diancurkan, pada saat itu orang-orang Mekkah mengibadahinya.

أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَىٰ

a lakumuż-żakaru wa lahul-unṡā

21. Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?

تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ

tilka iżang qismatun ḍīzā

22. Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.

21-22. Allah mencela mereka orang-orang musyrik yang mereka masih memiliki macam porsi kecintaan (kepada berhala-berhala mereka) dan menganggap sebagai anak perempuan Allah, adapun kepada Allah mereka menjadikan Allah sesuatu yang buruk pada porsi yang lain, mereka mengklaim bahwa Allah memiliki anak perempuan, sedangkan anak-anak mereka yang perempuan mereka hinakan. Ketahuilah wahai orang-orang musyrik bahwa pembagian ini menyelisihi, asing dan dzalim.

إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ

in hiya illā asmā`un sammaitumụhā antum wa ābā`ukum mā anzalallāhu bihā min sulṭān, iy yattabi’ụna illaẓ-ẓanna wa mā tahwal-anfus, wa laqad jā`ahum mir rabbihimul-hudā

23. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.

Kemudian Allah kembali menjelaskan hakikat berhala yang mereka ibadahi, Allah mengabarkan bahwa berhala-berhala itu tidak memiliki sifat-sifat yang sempurna, berhala-berhala itu hanyalah nama-nama yang kalian berikan kepada mereka wahai orang-orang musyrik yang kalian dan nenek moyangmu berikan nama kepada berhala-berhala tersebut. Dan di sisi kalian tidak ada hujjah dan bukti atas klaim kalian, bahkan tidaklah kalian mengikuti kecuali hanyalah sangkaan belaka dan hawa nafsu sesat kalian, bersamaan dengan itu kalian mendatangkan sesuatu yang buruk dari lisan-lisan kalian di atas lisan Nabi ﷺ.

أَمْ لِلْإِنْسَانِ مَا تَمَنَّىٰ

am lil-insāni mā tamannā

24. Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya?

فَلِلَّهِ الْآخِرَةُ وَالْأُولَىٰ

fa lillāhil-ākhiratu wal-ụlā

25. (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia.

24-25. Apakah manusia yang kafir menyangkan bahwa mereka akan mendapatkan angan-angan dan segala sesuatu yang mereka inginkan ?! Dengan hanya angan-angan belaka ?! Dan di antara angan-angan orang musyrik bahwa mereka menyangkan bahwa tuhan-tuhan mereka yang bathil akan memberikan sesuatu kepada mereka. Sekali-kali tidak, karena segala sesuatunya hanyalah ada di tangan Allah semata. Allah memiliki urusan akhirat yang lebih utama, Allah mencintai manusia sesuai keinginan-Nya, dengan rahmat dan karunia-Nya, dan menahan segala sesuatu sesuai kehendak-Nya dengan hikmat dan sifat adil.

۞ وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ

wa kam mim malakin fis-samāwāti lā tugnī syafā’atuhum syai`an illā mim ba’di ay ya`żanallāhu limay yasyā`u wa yarḍā

26. Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).

Allah mengabarkan bahwa kebanyakan dari Malaikat yang mereka beribadah kepada Allah malam dan siang; Bersamaan dengan kedudukan mereka yang tinggi, mereka tidak dapat memberikan syafaat sama sekali; Kecuali jika Allah meridhai yang diberi syafaat, dan mengizinkan untuk memberi syafaat. Maka jika demikian keadaan para malaikat di sisi Allah, maka bagaimana mungkin bagi berhala-berhala yang benda mati, tanpa ruh dan juga kehidupan memiliki syafaat. Begitu juga para kekasih Allah, atau yang lebih tinggi kedudukannya dari mereka, dan pada ayat ini menetapkan bahwa syafaat itu bersyarat.

إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ لَيُسَمُّونَ الْمَلَائِكَةَ تَسْمِيَةَ الْأُنْثَىٰ

innallażīna lā yu`minụna bil-ākhirati layusammụnal-malā`ikata tasmiyatal-unṡā

27. Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan malaikat itu dengan nama perempuan.

وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ ۖ وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا

wa mā lahum bihī min ‘ilm, iy yattabi’ụna illaẓ-ẓanna wa innaẓ-ẓanna lā yugnī minal-ḥaqqi syai`ā

28. Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.

27-28. Allah menyebutkan bahwa orang-orang kafir yang tidak membenarkan akan akhirat, sungguh mereka menamakan para malaikat dengan nama perempuan. Mereka berkata : Para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah. Mereka menamakan masing-masing dari malaikat dengan nama-nama perempuan dan mensifatkan dengan sifat perempuan. Kemudian Allah menjelaskan, bahwa mereka yang tidak beriman dengan negeri akhirat, mereka tidak memiliki pengetahuan atas apa yang mereka ucapkan; Mereka tidak menyaksikan bagaimana penciptaan malaikat, Allah juga tidak mendatangkan hujjah dan bukti-bukti kepada (ucapan) mereka. Tidaklah mereka mendasari ucapannya kecuali atas dasar sangkaan belaka tanpa hujjah, dan tidak ada kebenaran sama sekali.

فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّىٰ عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا

fa a’riḍ ‘am man tawallā ‘an żikrinā wa lam yurid illal-ḥayātad-dun-yā

29. Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi.

ذَٰلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدَىٰ

żālika mablaguhum minal-‘ilm, inna rabbaka huwa a’lamu biman ḍalla ‘an sabīlihī wa huwa a’lamu bimanihtadā

30. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.

29-30. Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk mengingkari mereka orang-orang yang sombong dari keimanan dan dari mengikuti Al Qur’an. Mereka tidak menginginkan untuk berpegang teguh dengan Al Qur’an dengan menyombongkan diri kecuali karena mereka mengikuti syahwat mereka dan berharap atas kepentingan dunia. Ini tujuan dari urusan mereka, dan angan-angan tertinggi mereka. Dan ketahuilah wahai Nabi Allah, bahwasanya Rabbmu Maha Mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan siapa yang mengikuti hawa nafsunya, dan siapa yang mementingkan dunianya akan akhiratnya. Dialah Allah yang mengetahui petunjuk yang lurus dan benar.

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى

wa lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, liyajziyallażīna asā`ụ bimā ‘amilụ wa yajziyallażīna aḥsanụ bil-ḥusnā

31. Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).

Allah menjelaskan akan apa yang menunjukkan atas kerajaan-Nya atas segala sesuatu, Allah berkata : Allah sajalah Raja bagi apa yang ada di langit dan di bumi; Dia akan membalas pada hari kiamat bagi mereka yang buruk amalannya yang berhak untuk diadzab, dan membalas bagi mereka yang berhak untuk mendapatkan surga.

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ ۚ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ ۖ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

allażīna yajtanibụna kabā`iral-iṡmi wal-fawāḥisya illal-lamama inna rabbaka wāsi’ul-magfirah, huwa a’lamu bikum iż ansya`akum minal-arḍi wa iż antum ajinnatun fī buṭụni ummahātikum, fa lā tuzakkū anfusakum, huwa a’lamu bimanittaqā

32. (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.

Allah menjelaskan di antara sifat-sifat mereka mereka yang baik amalannya, bahwasanya mereka : Menyingkirkan dan menjauhi dari dosa-dosa besar dan maksiat, dan menjauhi dari keburukan semisal zina dan selainnya. Kemudian Allah mengecualikan mereka yang terjatuh ke dalam dosa kecil yang pelakunya tidak terus menerus melakukan dosa tersebut, atau melakukan dosa kecil tersebut sekali atau dua kali, yang jarang dan sedikit; Maka dengan kondisinya yang demikian seorang hamba tidak keluar dari golongan orang-orang yang ikhlas. Maka barangsiapa yang melakukan kewajibannya dengan meninggalkan dosa tersebut dan meninggalkan dosa-dosa besar dan keburukan yang haram maka semuanya tergantung dari ampunan Allah yang Maha Luas atas segala sesuatu. Dialah Allah yang Maha Mengetahui kalian dan kondisi kalian, yang Dialah pencipta bapak kalian yang berasal dari tanah. Dialah yang Maha Mengetahui kalian dan kondisi kalian sewaktu di dalam perut-perut ibu-ibu kalian, yang kemudian kalian dilahirkan dengan sebab Allah Maha Melihat keadaan, ucapan dan perbuatan kalian, maka janganlah kalian memuji diri-diri kalian sendiri, dan janganlah mensucikan diri-diri kalian di hadapan manusia dan menampakkan zakat-zakat kalian atas dasar ingin pujian. Sungguh Allah Maha Tahu siapa yang bertakwa dan menjauhi maksiat. Pada ayat ini tahdzir atas sombong dengan amalan, ganjaran dan nasab.

أَفَرَأَيْتَ الَّذِي تَوَلَّىٰ

a fa ra`aitallażī tawallā

33. Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari Al-Quran)?

وَأَعْطَىٰ قَلِيلًا وَأَكْدَىٰ

wa a’ṭā qalīlaw wa akdā

34. serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi?

33-34. Apakah engkau melihat wahai Nabi Allah keadaan yang sungguh mengherankan bagi siapa yang menolak dari islam dan yang dia memberi namun dalam jumlah yang sedikit dari hartanya, kemudian berhenti dari memberi dan terputus dari kebaikan yang ditujukan bagi orang-orang fakir ? Manusia itulah yang berjalan kemudian bertemu dengan tanah yang tandus, atau tanah bebatuan dan kemudian berhenti dari perjalanannya. Maksudnya di sini adalah Al Walid bin Mughirah, dimana ia berpikiri tentang islam dan tahu bahwasanya islam adalah agama yang benar, namun kemudian dia justru memuji kekafirannya dan berkata : Apakah engkau akan meninggalkan para pembesar-pembesar pendahulumu ?!

أَعِنْدَهُ عِلْمُ الْغَيْبِ فَهُوَ يَرَىٰ

a ‘indahụ ‘ilmul-gaibi fa huwa yarā

35. Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib, sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)?

Kemudian Allah berkata : Apakah ditampakkan kepada manusia ini, (yang dia menahan dari berinfak) atas ilmu ghaib sehingga mengetahui apa yang di tangannya sehingga tidak bersedia lagi untuk berinfak, dan apakah dia mengetahui bahwa selain dirinya telah mendapatkan adzab ?

أَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ

am lam yunabba` bimā fī ṣuḥufi mụsā

36. Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa?

وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّىٰ

wa ibrāhīmallażī waffā

37. dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji?

36-37. Allah berkata : Apakah belum sampai kabar orang yang menyeru dengan apa yang ada di dalam Taurat yang diturunkan Allah kepada musa, atau dengan apa yang datang dari lembaran-lembaran Ibrahim yang sempurna atas perintah Allah ?!!!

أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ

allā taziru wāziratuw wizra ukhrā

38. (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

wa al laisa lil-insāni illā mā sa’ā

39. dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,

38-39. Allah menjelaskan apa isi dai lembaran-lembaran itu : Ketahuilah bahwa seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya manusia kecuali akan dibalas atas usaha dan amalannya; Maka anak-anaknya dan amalan-amalan, serta lain-lainnya termasuk dari usahanya.

وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ

wa anna sa’yahụ saufa yurā

40. dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).

ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَىٰ

ṡumma yujzāhul-jazā`al-aufā

41. Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna,

40-41. Allah menjelaskan bahwa manusia akan melihat dan memandang usahanya sendiri-sendiri di hari kiamat. Kemudian Allah akan menghisab dan membalas mereka dengan sesempuna-sempurnanya balasan; Jika baik maka akan dibalas dengan kebaikan, jika buruk maka akan dibalas dengan keburukan.

وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الْمُنْتَهَىٰ

wa anna ilā rabbikal-muntahā

42. dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu),

وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ

wa annahụ huwa aḍ-ḥaka wa abkā

43. dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,

وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا

wa annahụ huwa amāta wa aḥyā

44. dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan,

42-44. Allah mengabarkan bahwasanya Allah sajalah pemilik urusan yang tertinggi pada hari kiamat, dan kepada-Nya lah kembali segala sesuatu dan makhluk dengan dibangkitkan dan diadili. Allahlah yang menjadikan orang tertawa dan gembira dengan kemaun-Nya, dan bersedih dan menangis sesuai dengan keinginan-Nya, dan menjadikan manusia mampu atas hal tersebut; Semuanya itu dengan rahmat dan karunia-Nya dan dengan hikmah dan keadilan dari-Nya. Allah sajalah yang mematikan dan menghidupkan di dunia, dan Dia sajalah yang mematikan, menghidupkan dan membangkitkan dari kubur-kubur manusia pada hari kiamat.

وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَىٰ

wa annahụ khalaqaz-zaujainiż-żakara wal-unṡā

45. dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.

مِنْ نُطْفَةٍ إِذَا تُمْنَىٰ

min nuṭfatin iżā tumnā

46. dari air mani, apabila dipancarkan.

وَأَنَّ عَلَيْهِ النَّشْأَةَ الْأُخْرَىٰ

wa anna ‘alaihin-nasy`atal-ukhrā

47. Dan bahwasanya Dialah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati),

وَأَنَّهُ هُوَ أَغْنَىٰ وَأَقْنَىٰ

wa annahụ huwa agnā wa aqnā

48. dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan,

وَأَنَّهُ هُوَ رَبُّ الشِّعْرَىٰ

wa annahụ huwa rabbusy-syi’rā

49. dan bahwasanya Dialah yang Tuhan (yang memiliki) bintang syi’ra,

45-49. Allah menjelaskan bahwa Dialah yang menciptakan laki-laki dan perempuan dan mewujudkan keduanya dari ketiadaan. Dan Allah menjelaskan bahwa Dialah yang menjadikan keduanya laki dan perempuan (manusia, hewan, dan jin) dari air mani yang dicurahkan ke dalam rahim dan tersembur ke dalamnya. Allah menjelaskan bahwa Dialah yang mengembalikan ciptaan-Nya untuk kedua kalinya pada hari kebangkitan; Agar untuk dibalas dengan apa yang berhak bagi mereka. Allah menjelaskan bahwa Dia Maha Kaya atas segala sesuatu dari hamba-Nya, dan menjadikan miskin bagi siapa yang dikehendaki oleh-Nya di antara mereka. Allah menjelaskan bahwa Dialah Tuhan bintang syi’ra yang telah dikenal, ia adalah bintang yang diibadahi pada masa jahiliyyah selain Allah.

وَأَنَّهُ أَهْلَكَ عَادًا الْأُولَىٰ

wa annahū ahlaka ‘ādanil-ụlā

50. dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum ‘Aad yang pertama,

وَثَمُودَ فَمَا أَبْقَىٰ

wa ṡamụda fa mā abqā

51. dan kaum Tsamud. Maka tidak seorangpun yang ditinggalkan-Nya (hidup).

وَقَوْمَ نُوحٍ مِنْ قَبْلُ ۖ إِنَّهُمْ كَانُوا هُمْ أَظْلَمَ وَأَطْغَىٰ

wa qauma nụḥim ming qabl, innahum kānụ hum aẓlama wa aṭgā

52. Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zalim dan paling durhaka,

وَالْمُؤْتَفِكَةَ أَهْوَىٰ

wal-mu`tafikata ahwā

53. dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah.

فَغَشَّاهَا مَا غَشَّىٰ

fa gasysyāhā mā gasysyā

54. lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya.

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ

fa bi`ayyi ālā`i rabbika tatamārā

55. Maka terhadap nikmat Tuhanmu yang manakah kamu ragu-ragu?

50-55. Allah mengabarkan bahwa Dialah yang membinasakan umat-umat yang mendustakan para Nabi mereka, maka Dia membinasakan Ad, kaum Hud, Tsamud, dan kaum Shalih. Allah binasakan mereka semua dan tidak menyisakan satupun di antara mereka. Dan Allah membinasakan sebelum kaum Tsamud, yaitu kaum Nuh; Dan Allah tenggelamkan dengan banjir bandang. Sungguh mereka adalah kebanyakan dari kaum yang melanggar aturan-aturan Allah, dan kebanyakan adalah mengagungkan kesyirikan dan mendustakan (kerisalahan). Itulah yang Allah binasakan dari penduduk suatu negeri, yaitu (juga) negeri-negeri kaum Luth, Allah memerintahkan Jibril untuk mengangat tinggi negeri tersebut, kemudian dibalikkan dan dijatuhkan ke tanah, maka dijadikanlah bawah mereka menjadi atas mereka. Kemudian Allah menimpakan adzab yaitu batu yang ditimpakan kepada mereka, dan mengadzab dengan berbagai adzab pedih yang tidak mungkin untuk disifati secara sempurna, tidak juga menyelamatkan atas umat-umat yang telah disebutkan, kecuali bagi Rasul-Rasul mereka dan yang beriman kepada Allah. Allah menyebutkan manusia yang dengan nikmatnya Allah berikan kepada mereka. Allah juga menjelaskan bahwa nikmat dari Allah dan pemberian-Nya adalah sangat besar, sempurna dan lain-lain. Maka dari itu dengan apalagi wahai manusia kalian bersyukur.

هَٰذَا نَذِيرٌ مِنَ النُّذُرِ الْأُولَىٰ

hāżā nażīrum minan-nużuril-ụlā

56. Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang terdahulu.

أَزِفَتِ الْآزِفَةُ

azifatil-āzifah

57. Telah dekat terjadinya hari kiamat.

لَيْسَ لَهَا مِنْ دُونِ اللَّهِ كَاشِفَةٌ

laisa lahā min dụnillāhi kāsyifah

58. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah.

56-58. Ketahuilah wahai manusia bahwasanya Muhammad ﷺ adalah utusan yang diutus Allah sebagaimana diutusnya Nabi yang mereka semua Allah kirimkan untuk manusia. Allah menjelaskan bahwa zaman telah tiba masanya (kiamat), dan tidak ada yang menahannya selain Allah, sebagaimana tidak mengetahui waktu terjadinya satupun di antar manusia.

أَفَمِنْ هَٰذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ

a fa min hāżal-ḥadīṡi ta’jabụn

59. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini?

وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ

wa taḍ-ḥakụna wa lā tabkụn

60. Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis?

وَأَنْتُمْ سَامِدُونَ

wa antum sāmidụn

61. Sedang kamu melengahkan(nya)?

فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا ۩

fasjudụ lillāhi wa’budụ

62. Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).

59-62. Allah mengingkari orang-orang musyrik dengan keheranan atas Al Qur’an dan celan-celaan mereka kepada Al Qur’an serta penolakan mereka. Mereka tertawa dengan sombong dan mengejek ketika mendengarnya. Sudah selayaknya mereka untuk menangisi dengan perasaan takut dari ancaman-Nya yang menanti mereka. Allah menjelaskan bahwa mereka meninggalkan kepedulian akan Al Qur’an ini, karena sebab mereka lalai karena kekayaan dan kesenagan mereka. Allah memerintahkan mereka orang-orang musyrik agar meninggalkan kekufuran dan kesesatan, dan agar mereka bersujud kepada Allah dengan memuliakan-Nya, dan mengibadahi-Nya dengan ikhlas dengan tauhid dan mengesakan-Nya dengan hanya beribadah kepada-Nya saja.

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!