Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat adz-Dzariyat

وَالذَّارِيَاتِ ذَرْوًا

Arab-Latin: waż-żāriyāti żarwā

Terjemah Arti: 1. Demi (angin) yang menerbangkan debu dengan kuat.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia

Allah mengawali surat ini dengan bersumpah dengan sebagian makhluk-makhluk-Nya, dan Allah Maha Benar untuk bersumpah dengan apa yang Dia keendaki. Adapun manusia, tidak diperkenankan untuk bersumpah kecuali dengan nama Allah. Allah bersumpah dengan angin yang menerbangkan debu, biji-bijian dan tanah sesuai ketetapan-Nya.

فَالْحَامِلَاتِ وِقْرًا

fal-ḥāmilāti wiqrā

2. dan awan yang mengandung hujan,

Allah bersumpah dengan awan yang membawa air, dan juga membawa dzat yang empat.

فَالْجَارِيَاتِ يُسْرًا

fal-jāriyāti yusrā

3. dan kapal-kapal yang berlayar dengan mudah.

Allah bersumpah dengan kapal yang membawa beban yang berat, dan melaju di atas laut dengan kesulitan dan kemudahannya.

فَالْمُقَسِّمَاتِ أَمْرًا

fal-muqassimāti amrā

4. dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan,

Allah bersumpah dengan malaikat yang membagikan hujan, rezeki dan urusan-urusan manusia atas perintah dari Allah.

إِنَّمَا تُوعَدُونَ لَصَادِقٌ

innamā tụ’adụna laṣādiq

5. sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar.

Kemudian datang jawaban bagi sumpah tersebut, Allah berkata : Sungguh apa yang dijanjikan kepada kalian wahai manusia, dari hari kebangkitan dan hisab atas amalan-amalan kalian, kemudian juga surga dan neraka sungguh akan terjadi dan benar.

وَإِنَّ الدِّينَ لَوَاقِعٌ

wa innad-dīna lawāqi’

6. dan sesungguhnya (hari) pembalasan pasti terjadi.

Allah menegaskan kembali sumpah-Nya dengan berkata : Ketahuilah bahwa balasan dan ganjaran atas amalan-amalan di dunia dan di akhirat adalah nyata akan terjadi tanpa keraguan pada waktu yang Allah telah tentukan.

وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْحُبُكِ

was-samā`i żātil-ḥubuk

7. Demi langit yang mempunyai jalan-jalan,

إِنَّكُمْ لَفِي قَوْلٍ مُخْتَلِفٍ

innakum lafī qaulim mukhtalif

8. sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda pendapat,

يُؤْفَكُ عَنْهُ مَنْ أُفِكَ

yu`faku ‘an-hu man ufik

9. dipalingkan daripadanya (Rasul dan Al-Quran) orang yang dipalingkan.

7-9. Allah kembali bersumpah dengan sumpah yang lain, Allah berkata : Aku bersumpah dengan langit sebagai makhluk yang indah dan elok serta tinggi, yang Allah jadikan indah dengan bintang yang berkilau, Allah juga jadikan padanya galaxy yang menjulang tinggi. Sungguh bagimu wahai orang-orang musyrik yang mendustakan, akan mempunyai ucapan yang berbeda dan berselisih satu sama lain akan Al Qur’an dan Muhammad ﷺ; Dan ketahuilah wahai orang-orang musyrik, perselisihan kalian akan Al Qur’an tidaklah sama, tidak juga dapat disatukan dan tidak juga kemana-mana kecuali (intinya) hanya kesesatan bagi diri kalian masing-masing, karena ucapan kalian bathil. Kemudian Allah menjelaskan bahwa Al Qur’an ini memalingkan dari keimanan bagi siapa yang mendustakannya dan mendustakan Rasulullah ﷺ.

قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ

qutilal-kharrāṣụn

10. Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta,

الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ

allażīna hum fī gamratin sāhụn

11. (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai,

10-11. Allah melaknat orang-orang yang mendustakan yang ragu-ragu dalam janji Allah dan ancaman-Nya bagi pemiliki ucapan yang berselisih; Yang mereka dalam kelalaian dan buta serta bodoh dari urusan akhirat, dan mereka lalai dari sesuatu yang sia-sia, yang memalingkan mereka dari ditimpakan adzab Allah.

يَسْأَلُونَ أَيَّانَ يَوْمُ الدِّينِ

yas`alụna ayyāna yaumud-dīn

12. mereka bertanya: “Bilakah hari pembalasan itu?”

يَوْمَ هُمْ عَلَى النَّارِ يُفْتَنُونَ

yauma hum ‘alan-nāri yuftanụn

13. (Hari pembalasan itu) ialah pada hari ketika mereka diazab di atas api neraka.

ذُوقُوا فِتْنَتَكُمْ هَٰذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تَسْتَعْجِلُونَ

żụqụ fitnatakum, hāżallażī kuntum bihī tasta’jilụn

14. (Dikatakan kepada mereka): “Rasakanlah azabmu itu. Inilah azab yang dulu kamu minta untuk disegerakan”.

12-14. Allah mengabarkan bahwa mereka orang-orang yang mendustakan, mereka bertanya dengan pertanyaan yang jauh panggang dan pendustaan dengan berkata : Kapan datang hati pembalasan yang kami akan mendapatkannya wahai Muhammad ﷺ ?, Maka Allah menjawabkan untuk Nabi-Nya ﷺ: Sungguh hari pembalasan adalah hari dimana mereka dimasukkan ke dalam jahannam dan mereka dibakar dan diadzab di dalamnya. Kemudian Allah berkata kepada mereka para pendusta : Rasakanlah adzab ini yang kalian terburu-buru untuk mencela dan sombong dan menyangkan bahwa hari itu tidak mungkin datang.

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ

innal-muttaqīna fī jannātiw wa ‘uyụn

15. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman (surga) dan mata air-mata air,

آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ

ākhiżīna mā ātāhum rabbuhum, innahum kānụ qabla żālika muḥsinīn

16. sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan.

15-16. Ketika Allah menyebutkan kondisi penghuni nereka, maka Allah juga sebutkan kondisi penghuni surga; Allah mengabarkan bahwa mereka yang bertakwa kepada Allah dari makhluknya, berada di kebun-kebun yang di dalamnya ada mata air yang mengalir yang tidak pernah mungkin habis. Allah menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang ridha atas apa yang diberikan oleh Rabbnya dari kemulian dan kenikmatan, karena mereka di dunia sebelum masuk ke dalam suga adalah orang-orang yang ikhlas dalam keimanan dan ketaatan mereka kepada Tuhan mereka. Dan mereka adalah orang-orang yang banyak beramal shalih dan ikhlas.

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ

kānụ qalīlam minal-laili mā yahja’ụn

17. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.

وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

wa bil-as-ḥāri hum yastagfirụn

18. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

wa fī amwālihim ḥaqqul lis-sā`ili wal-maḥrụm

19. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.

17-19. Allah kemudian menjelaskan sesuatu yang nampak dari kebaikan mereka, Allah mengabarkan bahwa mereka sedikit tidur di malam hari untuk tahajjud, mereka juga memperbanyak berdzikir, doa dan momohon ampun ketika mereka sahur, dan mereka juga mewajibkan atas diri-diri mereka untuk bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan, yang meminta-minta kepada manusia, dan bagi mereka yang malu untuk meminta. Mereka melakukan ini semua karena ingin mendekatkan diri kepada Allah.

وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ

wa fil-arḍi āyātul lil-mụqinīn

20. Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.

وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

wa fī anfusikum, a fa lā tubṣirụn

21. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ

wa fis-samā`i rizqukum wa mā tụ’adụn

22. Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.

20-22. Ketahuilah wahai manusia bahwa di bumi terdapat tanda-tanda yang nyata, yang menunjukkan atas ke-Maha Esaan Allah dan kesempurnaan kekuasaan-Nya. Dan tanda-tanda ini berguna bagi orang-orang yang yakin, yang mereka memiliki ilmu, pengetahuan serta pandangan dalam keagungan ciptaan Allah. Dan juga dalam mewujudkan diri-diri mereka dari yang tidak ada menjadi ada tanpa ada yang mendahului-Nya. Dan itulah tanda-tanda penciptaan dan keselarasan yang menujukkan atas keesaan Allah dan kesempurnaan akan kekuasaan-Nya, tidakkah kalian melihatnya dan menjadikan ketauhidan dan keimanan kepada Allah ?!. Ketahuilah, apa yang ada di langit menjadi sebab rezeki dan kehidupan kalian yaitu hujan, ayang dengannya hidup suatu negeri dan hamba, dan di langit juga terdapat balasan yang dijanjikan dan adzab serta surga dan neraka; Maka sungguh balasan amalan-amalan tertulis di langit dan takdir juga turun dari langit.

فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ مِثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنْطِقُونَ

fa wa rabbis-samā`i wal-arḍi innahụ laḥaqqum miṡla mā annakum tanṭiqụn

23. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.

Allah menutup ayat ini dengan sumpah; Allah mengabarkan bahwa dikabarkan pada ayat-ayat dalam surat ini yang dijanjikan kepada kalian dengannya secara benar dan jujur, maka tidak semestinya bagi kalian meragukan ayat-ayat Allah, sebagaimana kalian tidak meragukan kemampuan kalian dalam berucap dan berkata.

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ

hal atāka ḥadīṡu ḍaifi ibrāhīmal-mukramīn

24. Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan?

إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا ۖ قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ

iż dakhalụ ‘alaihi fa qālụ salāmā, qāla salām, qaumum mungkarụn

25. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaamun”. Ibrahim menjawab: “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal”.

24-25. Apakah telah sampai kepadamu wahai Nabi, kabar tentang Ibrahim dan para tamunya dari golongan malaikat yang mulia; Dimana Allah memerintahkan mereka untuk mengunjungi Ibrahim dan mengabarkan dengan kabar seorang anak, kemudian mereka semua (Ibrahim dan para malaikat) pergi menuju kaumnya Luth. Maka ketika telah sampai kepadanya mereka memberi salam kepada Ibrahim, maka Ibrahim menjawab salam mereka dengan berkata : Salamun Alaikum, kalian adalah kaum yang asing, kami tidak mengenal kalian, siapa kalian ? Dan mereka para malaikat Allah perintahkan untuk mengadzab kaum Luth dan dijungkir balikkan negeri mereka.

فَرَاغَ إِلَىٰ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ

fa rāga ilā ahlihī fa jā`a bi’ijlin samīn

26. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk.

فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ

fa qarrabahū ilaihim, qāla alā ta`kulụn

27. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: “Silahkan anda makan”.

فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً ۖ قَالُوا لَا تَخَفْ ۖ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ

fa aujasa min-hum khīfah, qālụ lā takhaf, wa basysyarụhu bigulāmin ‘alīm

28. (Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: “Janganlah kamu takut”, dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak).

26-28. Kemudian Ibrahim pergi menuju kepada keluarganya secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi dari para tamunya. Kemudian dengan cepat menemui tamunya dengan membawa masakan daging (sapi) panggang yang gemuk. Kemudian diberikan kepada tamunya, dan berkata kepada mereka : Silahkan wahai para tamu untuk menikmati hidangan ini. Akan tetapi meeka menolak dan tidak memakannya, maka Ibrahim heran dengan mereka, Ibrahim berkata kepada mereka : Kenapa tidak kalian makan ? Maka hening dengan keheningan yang sebentar, maka ketika Ibrahim melihat mereka enggan makan, Ibrahim merasa takut kepada mereka, Ibrahim menyangka mereka enggan makan karena mereka menginginkan kejahatan. Mereka kemudian berkata : Jangan engkau takut, sungguh kami hanyalah diutus oleh Tuhanmu; Kemudian mereka mengabarkan bahwa istrinya Ibrahim yang bernama Sarah akan melahirkan seorang anak yang sangat cerdas, ketika menjadi seorang penyampai berita (berdakwah) kepada manusia, dan anak itu bernama Ishaq.

فَأَقْبَلَتِ امْرَأَتُهُ فِي صَرَّةٍ فَصَكَّتْ وَجْهَهَا وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌ

fa aqbalatimra`atuhụ fī ṣarratin fa ṣakkat waj-hahā wa qālat ‘ajụzun ‘aqīm

29. Kemudian isterinya datang memekik lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata: “(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul”.

29-30. Maka ketika Sarah mendengar apa yang dikabarkan oleh malaikat terkejut, kemudian Sarah mendatangi para malaikat, dan ia menangis dan menampar mukanya sendiri karena kagum dengan ucapan mereka para malaikat, dan Sarah berkata : Bagaimana aku dapat melahirkan sedangkan aku sudah tua dan mandul ? Maka malaikat berkata kepadanya : Kami mengabarkan kepadamu, dan kami mengatakan sesuai apa yang dikatakan oleh Tuhanmu, dan sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatunya, Dialah yang Maha Bijaksana dalam menjaga dan merubah-ubah urusan hamba-Nya, Yang Maha Mengetahui atas kondisi dari para hamba-Nya dan yang baik untuk hamba-Nya.

قَالُوا كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِ ۖ إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ

qālụ każāliki qāla rabbuk, innahụ huwal-ḥakīmul-‘alīm

30. Mereka berkata: “Demikianlah Tuhanmu memfirmankan” Sesungguhnya Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

29-30. Maka ketika Sarah mendengar apa yang dikabarkan oleh malaikat terkejut, kemudian Sarah mendatangi para malaikat, dan ia menangis dan menampar mukanya sendiri karena terkejut dengan ucapan mereka para malaikat, dan Sarah berkata : Bagaimana aku dapat melahirkan sedangkan aku sudah tua dan mandul ? Maka malaikat berkata kepadanya : Kami mengabarkan kepadamu, dan kami mengatakan sesuai apa yang dikatakan oleh Tuhanmu, dan sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatunya, Dialah yang Maha Bijaksana dalam menjaga dan merubah-ubah urusan hamba-Nya, Yang Maha Mengetahui atas kondisi dari para hamba-Nya dan yang baik untuk hamba-Nya.

۞ قَالَ فَمَا خَطْبُكُمْ أَيُّهَا الْمُرْسَلُونَ

qāla fa mā khaṭbukum ayyuhal-mursalụn

31. Ibrahim bertanya: “Apakah urusanmu hai para utusan?”

Akan tetapi Ibrahim dengan banykanya malaikat yang berkunjung, ia merasakan bahwa mereka para malaikat dibebankan dengan urusan yang besar dengan membawa kabar baik ini. Maka Ibrahim bertanya kepada mereka setelah disampaikannya kabar gembira ini dengan berkata : Kabar apa yang kalian bawa wahai para malaikat, dan apa urusan yang kalian bawa, serta kepada siapa kalian diutus ?

قَالُوا إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَىٰ قَوْمٍ مُجْرِمِينَ

qālū innā ursilnā ilā qaumim mujrimīn

32. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth),

Maka para malaikat menjawab : Kami telah diutus oleh Allah, kepada kaum yang berdosa yang melanggar ketetapan Allah, yaitu mereka adalah kaumnya Luth.

لِنُرْسِلَ عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ طِينٍ

linursila ‘alaihim ḥijāratam min ṭīn

33. agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah,

مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ لِلْمُسْرِفِينَ

musawwamatan ‘inda rabbika lil-musrifīn

34. yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk membinasakan orang-orang yang melampaui batas”.

33-34. Kemudian para malaikat berkata : Kepentingan kami adalah diutus karena kebodohan mereka dan menimpakan kepada mereka kebinasaan dengan merajam (melampari) batu-batuan dari tanah. Batu ini adalah sebagai pelajaran agar mereka mengenal tanda-tanda kebinasaan mereka, karena sebab kesyirikan dan melanggar ketetapan Allah dengan mengerjakan sesuatu yang menjijikkan, maksiat dan dosa.

فَأَخْرَجْنَا مَنْ كَانَ فِيهَا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

fa akhrajnā mang kāna fīhā minal-mu`minīn

35. Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu.

Allah menjelaskan bahwa Dia mengeluarkan seseorang yang beriman dan bertauhid dari penghuni negeri Luth, sebelum ditimpakan adzab kepada penghuni negeri yang fasik dan memliki banyak dosa.

فَمَا وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

fa mā wajadnā fīhā gaira baitim minal-muslimīn

36. Dan Kami tidak mendapati negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang yang berserah diri.

Allah menjelaskan bahwa tidak ada dari penghuni negeri tersebut selain satu rumah yang terdapat di dalamnya orang-orang muslim, rumah tersebut adalah yang di dalamnya terdapat keluarga Luth, (tidak ada selainnya) di antara seluruh penghuninya yang berlumur dosa dan fasik dalam negeri tesebut. Allah berfirman : غَيْرَ بَيْتٍۢ مِّنَ ٱلْمُسْلِمِينَ, dan pada ayat sebelumnya Allah berfirman : فَأَخْرَجْنَا مَن كَانَ فِيهَا مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ. Karena sebab rumah Luth tidak semua yang di dalamnya adalah termasuk orang-orang yang beriman, istrinya Luth termasuk orang-orang yang berserah diri, akan tetapi tidak ikut diselamatkan (dari adzab); Karena ia termasuk orang-orang yang munafik dan khianat; Dimana dia berada di atas keyakinan agama kaum Luth, dan berkhianat, yang mengabarkan kepada orang-orang fasik akan kedatangan para tamu Luth (suaminya).

وَتَرَكْنَا فِيهَا آيَةً لِلَّذِينَ يَخَافُونَ الْعَذَابَ الْأَلِيمَ

wa taraknā fīhā āyatal lillażīna yakhāfụnal-‘ażābal-alīm

37. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih.

Setelah Allah membinasakan kaum Luth, Allah mengabarkan bahwa Dia meninggalkan tanda-tanda yang jelas pada negerinya akan kebinasaan kaumnya. Agar menjadi pelajaran dan nasihat bagi mereka yang takut dengan adzab yang pedih dan menyakitkan di akhirat. Pada adzab ini terdapat bukti akan kuasa Allah dan balasan bagi orang-orang yang kafir yang mengingkari, yang mereka juga berbuat sesuatu yang menjijikkan dan munkar, serta tidak beriman kepada Allah dan ayat-ayat-Nya.

وَفِي مُوسَىٰ إِذْ أَرْسَلْنَاهُ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ

wa fī mụsā iż arsalnāhu ilā fir’auna bisulṭānim mubīn

38. Dan juga pada Musa (terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengutusnya kepada Fir’aun dengan membawa mukjizat yang nyata.

فَتَوَلَّىٰ بِرُكْنِهِ وَقَالَ سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ

fa tawallā biruknihī wa qāla sāḥirun au majnụn

39. Maka dia (Fir’aun) berpaling (dari iman) bersama tentaranya dan berkata: “Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila”.

فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ وَهُوَ مُلِيمٌ

fa akhażnāhu wa junụdahụ fa nabażnāhum fil-yammi wa huwa mulīm

40. Maka Kami siksa dia dan tentaranya lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut, sedang dia melakukan pekerjaan yang tercela.

38-40. Ketahuilah wahai manusia bahwa dalam kisah Musa terdapat bukti yang agung bagi mereka yang takut akan adzab Allah yang pedih; Dimana Allah mengutus Musa kepada fir’aun dengan ayat dan mukjizat yang nampak dengan jelas yang menujukkan bahwa Musa adalah Rasul yang diutus oleh Allah. Akan tetapi fir’aun dan kaumnya menolak untuk mengikuti Musa, mereka mengatakan bahwa Musa : Adalah seorang penyihir atau orang gila, itulah kesalahan mereka dan keraguan mereka; Padahal mereka tahu bahwa Musa adalah orang yang benar, Allah berfirman : وَجَحَدُوا۟ بِهَا وَٱسْتَيْقَنَتْهَآ أَنفُسُهُمْ ظُلْمًۭا وَعُلُوًّۭا , artinya : Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. {An Naml : 14}. Dan karena sebab kesombongan fir’aun, kekufurannya, pengingkarannya, serta ke-thaghutannya, Allah menimpakan dia dan tentaranya serta pelayannya kedalam lautan dan Allah binasakan mereka dengan cara ditenggelamkan. Allah membinasakan fir’aun karena sebab dosannya yang menyebabkan celaan; Dan diantara dosanya adalah fir’aun menyeru kepada dirinya sendiri bahwa dia adalah tuhan, dan mendustakan Musa dan bersikap melampaui batas di bumi.

وَفِي عَادٍ إِذْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الرِّيحَ الْعَقِيمَ

wa fī ‘ādin iż arsalnā ‘alaihimur-rīḥal-‘aqīm

41. Dan juga pada (kisah) Aad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan,

مَا تَذَرُ مِنْ شَيْءٍ أَتَتْ عَلَيْهِ إِلَّا جَعَلَتْهُ كَالرَّمِيمِ

mā tażaru min syai`in atat ‘alaihi illā ja’alat-hu kar-ramīm

42. angin itu tidak membiarkan satupun yang dilaluinya, melainkan dijadikannya seperti serbuk.

41-42. Ketahuilah juga bahwa pada kisah yang mereka telah binasa terdapat bukti yang besar bagi mereka yang takut dengan adzab yang pedih; Dimana mereka mendustakan Rasul mereka yaitu Hud, maka Allah utus angin yang kencang kepada mereka yang tidak ada kebaikan padanya dan juga keberkahan. Dan di antara kedahsyatan angin tersebut adalah, tidaklah angin itu melewati sesuatu kecuali pasti hancur dan binasa.

وَفِي ثَمُودَ إِذْ قِيلَ لَهُمْ تَمَتَّعُوا حَتَّىٰ حِينٍ

wa fī ṡamụda iż qīla lahum tamatta’ụ ḥattā ḥīn

43. Dan pada (kisah) kaum Tsamud ketika dikatakan kepada mereka: “Bersenang-senanglah kalian sampai suatu waktu”.

فَعَتَوْا عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ فَأَخَذَتْهُمُ الصَّاعِقَةُ وَهُمْ يَنْظُرُونَ

fa ‘atau ‘an amri rabbihim fa akhażat-humuṣ-ṣā’iqatu wa hum yanẓurụn

44. Maka mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhannya, lalu mereka disambar petir dan mereka melihatnya.

فَمَا اسْتَطَاعُوا مِنْ قِيَامٍ وَمَا كَانُوا مُنْتَصِرِينَ

fa mastaṭā’ụ ming qiyāmiw wa mā kānụ muntaṣirīn

45. Maka mereka sekali-kali tidak dapat bangun dan tidak pula mendapat pertolongan,

43-45. Ketahuilah juga pada kisah Tsamud dan kebinasaan mereka terdapat bukti yang besar bagi mereka yang takut akan adzab yang pedih; Dimana mereka mendustakan Rasul mereka, yaitu Shalih yang berkata kepada mereka : Tahanlah diri-diri kalian di rumah-rumah kalian selama tiga hari lamanya, dan tahanlah diri-diri kalian dari dunia yang fana dimana akan datang waktu kebinasaan bagi kalian. Akan tetapi mereka mendustakan Rasul mereka, dan sombong atas perintah yang diperintahkan kepada mereka; Maka Allah membinasakan mereka dengan suara yang memekikkan telinga, dan mereka melihat adzab dengan mata-mata mereka sendiri, mereka tidak akan bisa apa-apa ketika adzab menimpa mereka, mereka tidak dapat lolos dan lari serta selamat. Dan tidak ada seorangpun yang dapat menolong mereka, dan tidak ada yang dapat menahan dari adzab Allah selain dari Allah sendiri.

وَقَوْمَ نُوحٍ مِنْ قَبْلُ ۖ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ

wa qauma nụḥim ming qabl, innahum kānụ qauman fāsiqīn

46. dan (Kami membinasakan) kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.

Allah mengabarkan kebinasaan kaum Nuh, dari kaum-kaum yang sebelumnya; Dimana Allah binasakan dengan banjir bandang; Karena mereka telah mendustakan Rasul yang datang kepada mereka; Mereka adalah kaum yang keluar dari ketaatan kepada Allah dan ketauhidan kepada-Nya, mendustakan Rasul dan sombong.

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

was-samā`a banaināhā bi`aidiw wa innā lamụsi’ụn

47. Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa

وَالْأَرْضَ فَرَشْنَاهَا فَنِعْمَ الْمَاهِدُونَ

wal-arḍa farasynāhā fa ni’mal-māhidụn

48. Dan bumi itu Kami hamparkan, maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami).

47-48. Alla mengabarkan bahwa Dialah yang mengokohkan langit dengan kuasa dan kemampuan-Nya, dan meluaskan dengan sangat luas, dan Allah mampu meluaskan yang lebih dari itu. Allahlah yang menghamparkan bumi dan meratakannya, dan menjadikannya seperti tempat tidur atau ranjang agar manusia dapat mengambil manfaat dalam kehidupannya dan untuk tempat tinggal bagi mereka. Kemudian Allah memuji atas diri-Nya dengan berkata : Sebaik-baik yang menghamparkan adalah Kami. Maka sungguh benar Alla; Dialah yang melakukan sesuatu yang Dia kehendaki.

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

wa ming kulli syai`in khalaqnā zaujaini la’allakum tażakkarụn

49. Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ ۖ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

fa firrū ilallāh, innī lakum min-hu nażīrum mubīn

50. Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.

وَلَا تَجْعَلُوا مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ ۖ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

wa lā taj’alụ ma’allāhi ilāhan ākhar, innī lakum min-hu nażīrum mubīn

51. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain disamping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.

49-51. Allah mengabarkan bahwa Dialah yang menciptakan setiap sesuatunya berpasang-pasangan, bermacam-macam dan beraneka ragam. Bagi mereka ada pasangan bagi yang lain; Misalnya : Allah menciptakan kebahagiaan dan kegundahan, petunjuk dan kesesatan, malam dan siang, langit dan bumi, begitulah agar kalian berpikir akan kekuasaan Allah dan menjadikan bukti untuk mentauhidkan Allah dan membernarkan janji dan ancaman-Nya. Dan selama urusannya demikian, maka bersegeralah wahai manusia menuju Allah dengan ketauhidan dan keimanan pada-Nya, dengan taubat dan kembali kejalan-Nya, sungguh bagi kalian ada peringatan yang dijelaskan oleh pembawa peringatan akan adzab Allah dan hukuman-Nya. Kemudian Allah menegaskan akan peringatan ini, dan memerintahkan hamba-Nya untuk ikhlas beribadah kepada-Nya dengan tauhid, dan agar tidak beribadah kepada siapapun bersama dengan Allah, sungguh bagi kalian telah ada peringatan yang dibawa oleh pembawa peringatan akan adzab Allah dan hukuman dari-Nya.

كَذَٰلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ

każālika mā atallażīna ming qablihim mir rasụlin illā qālụ sāḥirun au majnụn

52. Demikianlah tidak seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: “Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila”.

أَتَوَاصَوْا بِهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ

a tawāṣau bih, bal hum qaumun ṭāgụn

53. Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.

52-53. Allah menghibur Nabi-Nya ﷺ dengan berkata : Sebagaimana engkau telah didustakan oleh kaummu wahai Nabi Allah dan mereka menuduhmu dengan penyihir dan orang gila; Begitu juga yang demikian diperbuat oleh umat-umat yang telah lalu dengan para Nabi mereka. Apakah engkau melihat pesan mereka orang-orang kafir kepada para Nabi mereka ? Mereka mengatakan : Engkau adalah tukang sihir dan orang yang gila. Hakikatnya para Nabi tidaklah mengajarkan demikian; Akan tetapi mereka yang membawa pesan ini adalah orang-orang yang kafir dan melampaui batas serta orang-orang yang mendustakan dan mereka adalah orang yang berusaha merubah apa yang Nabi mereka bawa.

فَتَوَلَّ عَنْهُمْ فَمَا أَنْتَ بِمَلُومٍ

fa tawalla ‘an-hum fa mā anta bimalụm

54. Maka berpalinglah kamu dari mereka dan kamu sekali-kali tidak tercela.

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

wa żakkir fa innaż-żikrā tanfa’ul-mu`minīn

55. Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.

54-55. Allah memerintahkan Nabi-Nya ﷺ agar mengabaikan mereka orang-orang yang mendustakan dan keras kepala dan jangan menghiraukan mereka, karena ia adalah musuh bagi urusan mereka sendiri; Dimana telah sampai kerisalahan dan tertunaikan amanh dan telah datang penasihat bagi umat, oleh karena janganlah engkau kecam seorangpun. Kemudian Allah memerintahkan untuk menasihatkan dengan Al Qur’an ini bagi siapa yang beriman dan mengikutinya, karena sebab hati mereka luluh dengan Al Qur’an ini. Maka dengan peringatan dan nasihat bermanfaat bagi ahli iman, dan barangsiapa yang Allah menginginkan kebaikan, Allah akan berikan petunjuk dan memberbaiki hatinya dan menunjuki agar mengikuti Al Qur’an yang agung ini.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya’budụn

56. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Allah mengabarkan tidaklah menciptakan jin dan manusia kecuali diperintahkan bagi mereka untuk beribadah kepada-Nya saja tanpa menyekutukan-Nya, kemudian Allah balas atas amalan-amalan mereka; Maka barangsiapa yang beramal baik, maka dibalas dengan surga, dan barangsiapa yang beramal dengan amalan buruk, maka dibalas dengan adzab neraka. Berkata Syaikh Asy Syinqiti dalam tafsir Adhwaul Bayan menafsirkan ayat وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ, maksudnya adalah : Kecuali untuk diperintahkan beribadah kepada-Ku, dan menguji dengan diberikan beban (perintah dan larangan), kemudian mereka akan dibalas berdasarkan amalan mereka; Jika baik, maka akan dibalas dengan kebaikan, jika buruk maka akan dibalas dengan keburukan. Berkata Syaikh Al Bassam : وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ, maksudnya adalah : Agar Aku tuntut mereka untuk beribadah kepada-Ku, maka Aku balas bagi orang-orang yang ikhlas dan aku adazab bagi orang-orang yang berbuat keburukan.

مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ

mā urīdu min-hum mir rizqiw wa mā urīdu ay yuṭ’imụn

57. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

innallāha huwar-razzāqu żul-quwwatil-matīn

58. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.

57-58. Allah menjelaskan bahwa diri-Nya tidak menginginkan rezeki dari makhluk-Nya, bahkan tidak menginginkan diri-diri mereka (makhluk) untuk memberikan rezeki kepada-Nya, dan tidak juga menginginkan diberikan makan. Karena Allah lah yang Maha Pemberi Rezeki, yang mencukupi rezeki seluruh makhluk-Nya; Pemilik kekuatan dan kokoh, yang Dia memiliki kekuatan dan kekuasaan atas segalanya, yang tidak adal sesuatupun yang melemahkan-Nya di bumi maupun di langit.

فَإِنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا ذَنُوبًا مِثْلَ ذَنُوبِ أَصْحَابِهِمْ فَلَا يَسْتَعْجِلُونِ

fa inna lillażīna ẓalamụ żanụbam miṡla żanụbi aṣ-ḥābihim fa lā yasta’jilụn

59. Maka sesungguhnya untuk orang-orang zalim ada bagian (siksa) seperti bahagian teman mereka (dahulu); maka janganlah mereka meminta kepada-Ku untuk menyegerakannya.

Ketahuilah wahai manusia bahwa mereka yang dzalim pada diri-diri mereka sendiri dengan berbuat kesyirikan dan maksiat, dan mendustakan Muhammad ﷺ akan ditimpakan adzab dari adzab yang ditimpakan kaum sebelum mereka yang kafir. Tidaklah terburu-buru ditimpakan adzab kepada mereka, karena adzab itu akan datang tanpa keraguaan akan hal itu.

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ يَوْمِهِمُ الَّذِي يُوعَدُونَ

fa wailul lillażīna kafarụ miy yaumihimullażī yụ’adụn

60. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang kafir pada hari yang diancamkan kepada mereka.

Allah mengabarkan menutup surat ini dengan kebinasaan dan kerugiaan seorang hamba yang Allah lihat mereka kufur kepada Allah dan mendustakan Rasul-Nya ﷺ pada hari kimat; Itulah hari yang dijanjikan Allah yang di dalamnya terdapat adzab, hukuman, penghinaan dan kebinasaan.

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!