Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat al-Hujurat

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Arab-Latin: yā ayyuhallażīna āmanụ lā tuqaddimụ baina yadayillāhi wa rasụlihī wattaqullāh, innallāha samī’un ‘alīm

Terjemah Arti: 1. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia

Surat ini dimulai dengan petunjuk bagi orang-orang yang beriman untuk memuliakan nabi dengan sebenar-benar pemuliaan karena kedudukan beliau; di mana surat ini dimulai dengan seruan kecintaan agar mereka menjadi orang-orang yang beriman, Allah berkata: Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, janganlah kalian mengerjakan urusan yang tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, yaitu dari urusan agama dan janganlah kalian mengawali urusan agama tanpa izin dari Allah, berkata Ibnu Abbas: janganlah kalian yaitu ucapan maupun perbuatan kalian mendahului ucapan Allah atau Rasul Nya beserta perbuatannya. Maka jika telah sampai suatu dalil maka wajib orang-orang mukmin tidak mendahulukan pendapat di atas pendapat Nabi. Kemudian Allah memerintahkan hambanya yang beriman untuk takut kepada Allah dalam ucapan mereka, perbuatan dan seluruh keadaan mereka; Karena Allah mendengar apa yang mereka ucapkan, mengetahui gerak-gerik mereka dari perbuatan mereka.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tarfa’ū aṣwātakum fauqa ṣautin-nabiyyi wa lā taj-harụ lahụ bil-qauli kajahri ba’ḍikum liba’ḍin an taḥbaṭa a’mālukum wa antum lā tasy’urụn

2. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.

Kemudian Allah mengarahkan seruan yang lain kepada orang-orang yang beriman, menjelaskan atas kewajiban orang-orang yang beriman untuk menghormati dan memuliakan Rasul ﷺ; di mana Allah melarang meninggikan suara-suara mereka di atas suara Nabi, yaitu ketika di majelis dan di hadapan beliau, maka jika mereka berbicara satu sama lain, Allah melarang mereka untuk mengeraskan ucapannya kepada nabi sebagaimana mereka mengucapkan kepada selain dari nabi. Dan bagi kalian wajib di dalam menyeru, untuk menyeru dengan seruan wahai nabi Allah atau wahai Rasul Allah. kemudian Allah menjelaskan bahwasanya Allah melarang bagi orang-orang yang beriman dari meninggikan suaranya kepada rasul, agar mereka takut akan amalan-amalan mereka yang lebur sedangkan mereka tidak mengetahui dan juga menghitung atas amalan-amalan mereka.

إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَىٰ ۚ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ

innallażīna yaguḍḍụna aṣwātahum ‘inda rasụlillāhi ulā`ikallażīnamtaḥanallāhu qulụbahum lit-taqwā, lahum magfiratuw wa ajrun ‘aẓīm

3. Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.

Allah memuji orang-orang yang merendahkan suara-suara mereka di hadapan nabi dan ketika menyeru nabi ﷺ. Allah mengabarkan bahwa mereka yang merendahkan suara-suara mereka di hadapan nabi, mereka adalah orang-orang yang Allah berikan atas hati-hati mereka pelajaran dan keikhlasan untuk bertakwa kepada Allah dan mentaatinya; Allah menjelaskan bahwa mereka orang-orang yang merendahkan suara suara mereka adalah orang-orang yang diampuni dosa-dosa mereka, mendapatkan balasan yang besar dari Allah, yaitu surga Allah.

إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

innallażīna yunādụnaka miw warā`il-ḥujurāti akṡaruhum lā ya’qilụn

4. Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti.

Ketahuilah wahai nabi Allah bahwasanya mereka yang menyeru engkau dari belakang tempat istri-istri mu dengan suara yang tinggi, adalah mereka yang kebanyakan tidak memiliki akal untuk beradab kepadamu; mereka adalah orang-orang yang memiliki akal tapi tidak digunakan untuk beradab dan juga tidak dapat memahami hingga mereka keluar. Disebutkan oleh ahli tafsir: Bahwasanya 2 ayat yang lalu ( 2 dan 3 ) , turun kepada utusan Bani Tamim yang mereka datang dan diutus kepada nabi. Mereka meninggikan suara kepada nabi di kamar-kamar istri-istri nabi. Bahkan mereka meninggikan suara suara mereka dengan berkata: Wahai Muhammad keluarlah kepada kami, hormatilah kami. Datang juga dari mereka seorang khotib dan penyair dan yang menakjubkan, bahwasanya Rasulullah berbicara dengan halus kepada mereka.

وَلَوْ أَنَّهُمْ صَبَرُوا حَتَّىٰ تَخْرُجَ إِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

walau annahum ṣabarụ ḥattā takhruja ilaihim lakāna khairal lahum, wallāhu gafụrur raḥīm

5. Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka sesungguhnya itu lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ketahuilah wahai nabi Allah seandainya mereka itu adalah orang-orang yang meninggikan suara mereka di balik kamar-kamar istri-istri mu, perintahkan mereka untuk bersabar sampai engkau keluar menemui mereka, dan sungguh perkara mereka menjadi baik di sisi Allah,. Oleh karena itu Allah memberikan ampunan kepada mereka dengan kasih sayang-Nya. Dan sungguh Allah mengampuni hamba-hambanya yang melakukan keburukan ketika hamba tersebut bertaubat rujuk kepada Allah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

yā ayyuhallażīna āmanū in jā`akum fāsiqum binaba`in fa tabayyanū an tuṣībụ qaumam bijahālatin fa tuṣbiḥụ ‘alā mā fa’altum nādimīn

6. Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Kemudian Allah menegur kabar-kabar yang tidak benar dengan berkata: Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulnya, jika telah datang kepada kalian orang-orang fasik yang mereka tidak pernah kalian anggap sebagai pembohong akan kabar yang dibawanya, maka benarkanlah atas apa yang telah kalian dengar dari mereka. Periksalah oleh kalian akan kebenaran apa yang mereka katakan khususnya bagi kabar-kabar yang penting agar supaya tidak menjadikan kaummu permusuhan dan kejahatan sehingga berakibat penyesalan.

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ ۚ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

wa’lamū anna fīkum rasụlallāh, lau yuṭī’ukum fī kaṡīrim minal-amri la’anittum wa lākinnallāha ḥabbaba ilaikumul-īmāna wa zayyanahụ fī qulụbikum wa karraha ilaikumul-kufra wal-fusụqa wal-‘iṣyān, ulā`ika humur-rāsyidụn

7. Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,

Ketahuilah Wahai orang-orang yang beriman bahwasanya Nabi yang Allah utus dirinya memberikan petunjuk kepada kalian menuju kebenaran dan jalan yang lurus; Maka seandainya kalian tidak mentaati Rasul ﷺ dalam banyak perkara yang kalian dengar darinya, sungguh kalian akan mendapatkan musibah. Akan tetapi Allah mengunggulkan bagi kalian dan mencintai kalian yang beriman yang memiliki kebaikan di dalam hati-hati kalian. Dan Allah benci dari kalian yang kafir yang keluar dari agama Allah dan orang-orang yang fasik yaitu orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah, bermaksiat kepada Allah dan rasul-Nya serta perintah keduanya, maka mereka orang-orang yang disifati dengan sifat ini mereka adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk menuju jalan kebenaran yang lurus.

فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

faḍlam minallāhi wa ni’mah, wallāhu ‘alīmun ḥakīm

8. sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Ketahuilah wahai orang-orang yang beriman, bahwasanya kebaikan yang Allah berikan ini adalah kecintaan terhadap kalian dan kemudahan bagi kalian serta pertolongan bagi kalian serta keburukan yang Allah palingkan dari kalian. Sesungguhnya semua kebaikan itu adalah karunia dari Allah kepada kalian dan kebaikan dari-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui atas hamba-Nya dan apa yang bermanfaat bagi mereka, Allah Maha Bijaksana dalam mengatur urusan makhluk-Nya.

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

wa in ṭā`ifatāni minal-mu`minīnaqtatalụ fa aṣliḥụ bainahumā, fa im bagat iḥdāhumā ‘alal-ukhrā fa qātilullatī tabgī ḥattā tafī`a ilā amrillāh, fa in fā`at fa aṣliḥụ bainahumā bil-‘adli wa aqsiṭụ, innallāha yuḥibbul-muqsiṭīn

9. Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.

Allah mengabarkan jika terjadi peperangan dua kelompok di antara orang-orang yang beriman; maka wajib bagi pemimpin untuk mengajak mereka berdamai, dan menyeru keduanya kepada hukum Al Quran dan As-Sunnah nabi-Nya; maka jika salah satu diantara 2 kelompok tersebut menolak maka wajib bagi kalian wahai orang-orang yang beriman untuk memerangi kelompok yang menolak tersebut agar kembali kepada hukum Allah dan rasulnya, tunduk kepada-Nya. Maka jika mereka telah kembali kepada hukum Allah dan rasulnya maka wajib bagi kalian untuk mendamaikan keduanya dengan berlapang dada, dan wajib bagi kalian bersikap adil dalam setiap permasalahan hukum yang bahwasanya mereka tidak diperkenankan untuk melanggar hukum Allah dan rasul-Nya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mencintai orang-orang yang adil, yang mereka meletakkan kebenaran pada setiap tempatnya. Maka pada ayat ini terdapat ketetapan kata sifat cinta bagi Allah sebagaimana yang layak atas kemuliaannya.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

innamal-mu`minụna ikhwatun fa aṣliḥụ baina akhawaikum wattaqullāha la’allakum tur-ḥamụn

10. Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

Ketahuilah wahai manusia bahwasanya orang-orang yang beriman adalah saudara di dalam agama, dan persaudaraan ini diwajibkan bagi mereka untuk mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri, dan membenci apa yang ada pada saudaranya sebagaimana ia membenci atas dirinya sendiri, maka jika terjadi perselisihan diantara 2 muslim dengan saling bermusuhan dan berperang; maka wajib untuk mendamaikan keduanya, dan menjadikan mereka agar takut kepada azab Allah dengan mencegahnya yaitu mentaati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah; semoga dengan itu kalian mendapatkan rahmat Allah dan ampunan Allah serta keridhoan dari-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā yaskhar qaumum ming qaumin ‘asā ay yakụnụ khairam min-hum wa lā nisā`um min nisā`in ‘asā ay yakunna khairam min-hunn, wa lā talmizū anfusakum wa lā tanābazụ bil-alqāb, bi`sa lismul-fusụqu ba’dal-īmān, wa mal lam yatub fa ulā`ika humuẓ-ẓālimụn

11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan rasul-Nya serta beramal dengan syariaNya, ketahuilah oleh kalian bahwasanya barangsiapa yang menetapi hak-hak orang-orang yang beriman sebagian atas sebagian yang lain: bahwasanya agar tidak merendahkan laki-laki di antara kalian dan selain laki-laki, dan tidak juga merendahkan perempuan di antara kalian, dan tidak menampakan aib sebagian atas kalian atas sebagian yang lainnya, dengan segala macamnya yang berhubungan dengan aib; sama saja apakah dengan kehadiran orang yang memiliki aib ataupun tidak hadirnya dia, dan tidak juga memanggil salah satu dari kalian dengan lafadz yang dibenci olehnya seperti penghinaan dan perendahan. Maka barangsiapa yang tidak bertaubat dari keburukan ini, maka mereka adalah orang-orang yang dzolim yaitu menzolimi diri mereka sendiri dengan melakukan yang dilarang dimana para ulama mengharamkannya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

yā ayyuhallażīna āmanujtanibụ kaṡīram minaẓ-ẓanni inna ba’ḍaẓ-ẓanni iṡmuw wa lā tajassasụ wa lā yagtab ba’ḍukum ba’ḍā, a yuḥibbu aḥadukum ay ya`kula laḥma akhīhi maitan fa karihtumụh, wattaqullāh, innallāha tawwābur raḥīm

12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Allah memerintahkan hambanya yang beriman, yaitu yang mereka membenarkan Allah dan rasul-Nya dan beramal dengan syariat-Nya agar menjauhkan diri mereka dari sangkaan yang buruk kepada orang-orang mukmin. Ketahuilah oleh kalian bahwasanya kebanyakan dari sangkaan-sangkaan akan terjatuh ke dalam dosa dan hanya menilai manusia dari penampakannya secara zahir dan tidak memeriksa apa yang menjadi penyebab yang ada pada dirinya. Maka wajib bagi kalian menjauhkan diri dari ghibah karena sesungguhnya ghibah kepada sesama muslim seperti orang yang memakan daging bangkai saudaranya. Dan tidak diragukan lagi bahwa kalian dilarang atas hal itu, dan takutlah kepada Allah wahai orang-orang yang beriman atas apa yang telah diperintahkan kepada kalian dan dilarang dari-Nya. Karena sesungguhnya Allah menerima taubat bagi hambNya yang beriman dan merahmati mereka.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min żakariw wa unṡā wa ja’alnākum syu’ụbaw wa qabā`ila lita’ārafụ, inna akramakum ‘indallāhi atqākum, innallāha ‘alīmun khabīr

13. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Ketahuilah wahai orang-orang yang beriman bahwasanya aku (kata Allah), menciptakan kalian dari bapak yang satu yaitu Adam dan dari ibu yang satu yaitu Hawa, maka tidak ada pengutamaan satu sama lain diantara kalian dalam urusan nasab atau rupa atau fisik, dan Allah menjadikan kalian bersuku-suku dan berkabilah-kabilah, maka sebagian dari kamu mengetahui atas sebagian yang lain atas keutamaan (kalian), dan kalian mengetahui nasabnya untuk menyambungkan nasab di antara kalian serta untuk saling tolong menolong di atas kebaikan dan ketakwaan. Dan dapat dipahami atas hal ini bahwasanya Allah menjadikan kalian suku-suku dan berkabilah-kabilah agar dapat saling mengenal, dan tidak untuk saling meninggalkan atau saling berbangga diri satu sama lain. Kemudian Allah menjelaskan bahwasanya manusia yang mulia dan terhormat serta tinggi derajatnya di sisi Allah mereka adalah orang-orang yang bertakwa dan diampuni. Sungguh Allah mengetahui keadaan kalian dan mengetahui orang-orang yang bertakwa di antara kalian dan yang terbaik di antara kalian.

۞ قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

qālatil-a’rābu āmannā, qul lam tu`minụ wa lāking qụlū aslamnā wa lammā yadkhulil-īmānu fī qulụbikum, wa in tuṭī’ullāha wa rasụlahụ lā yalitkum min a’mālikum syai`ā, innallāha gafụrur raḥīm

14. Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Allah mengabarkan bahwasanya sebagian orang-orang Arab yaitu badui yang mereka masuk Islam dan berkata: Kami beriman dan kami menerima Islam, maka katakanlah: Sesungguhnya kalian tidak mendapatkan keimanan yang sempurna, akan tetapi kalian masuk ke dalam Islam dan tidak sampai pada derajat keimanan secara sempurna. Ketahuilah bahwasanya kalian jika mentaati Allah dan rasul-Nya maka sungguh Allah tidak mengurangi sedikitpun dari pahala amalan-amalan kalian, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun atas dosa-dosa hamba-Nya yang bertaubat.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

innamal-mu`minụnallażīna āmanụ billāhi wa rasụlihī ṡumma lam yartābụ wa jāhadụ bi`amwālihim wa anfusihim fī sabīlillāh, ulā`ika humuṣ-ṣādiqụn

15. Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.

Allah mengabarkan sifat dari hambanya yang beriman secara benar, Allah berkata: sesungguhnya orang-orang yang beriman secara hakiki mereka adalah yang beriman kepada Allah dengan jujur, membenarkan rasul-Nya, tidak masuk dalam relung hati mereka keraguan, dan tidak bercampur padanya kerancuan. Kemudian setelah itu mereka adalah orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta-harta mereka dan diri-diri mereka, serta mendahulukan apa yang Allah mudahkan; Maka merekalah orang-orang yang jujur dalam keimanan, di mana mereka membenarkan keimanan mereka dengan amalan-amalan yang nampak.

قُلْ أَتُعَلِّمُونَ اللَّهَ بِدِينِكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

qul a tu’allimụnallāha bidīnikum, wallāhu ya’lamu mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wallāhu bikulli syai`in ‘alīm

16. Katakanlah: “Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu, padahal Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu?”

Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ agar mengatakan kepada mereka orang-orang Badui: Apakah kalian telah dikabarkan oleh Allah atas keimanan kalian sehingga kalian mengetahui atas hal itu dan merasakannya? Padahal Allah lah yang mengetahui apa yang ada dilangit dan dibumi, dan mengetahui rahasia-rahasia kalian serta apa yang nampak dari diri kalian, Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan Allah Maha Tahu apa yang kalian sembunyikan, tidak sembunyi atasnya sesuatu apapun dari niat-niat, ucapan-ucapan dan amalan kalian.

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا ۖ قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ ۖ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

yamunnụna ‘alaika an aslamụ, qul lā tamunnụ ‘alayya islāmakum, balillāhu yamunnu ‘alaikum an hadākum lil-īmāni ing kuntum ṣādiqīn

17. Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar”.

Ketahuilah wahai nabi Allah sesungguhnya mereka badui mengungkapkan keislaman mereka dengan ketidakjujuran dalam hati mereka karena sebab mereka beriman dengan tanpa berjihad, maka katakanlah wahai nabi mereka: Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.

إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

innallāha ya’lamu gaibas-samāwāti wal-arḍ, wallāhu baṣīrum bimā ta’malụn

18. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Allah menutup surat ini dengan menjelaskan bahwasanya tidak ada yang tersembunyi baginya di bumi maupun di langit, dan sungguh Allah mengetahui rahasia apa yang tersembunyi serta mengetahui amalan-amalan kalian yang akan dibalas olehnya.

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!