Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat al-Ahqaf

حم

Arab-Latin: ḥā mīm

Terjemah Arti: 1. Haa Miim.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia

Telah berlalu perkataan atas huruf-huruf muqatha’ah di awal surat Al Baqarah.

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

tanzīlul-kitābi minallāhil-‘azīzil-ḥakīm

2. Diturunkan Kitab ini dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Surat ini diawali dengan kabar bahwa Al Qur’an Al Adzim membawa petunjuk dan cahaya, dan seluruh apa yang dinamakan dengan kebaikan dan kebenaran; Diturunkan dari sisi Allah yang tidak ada sesuatupun menguasai-Nya, yang berkuasa atas seluruh makhluk, yang memiliki hikmah kekuasaan dalam setiap urusan makhluk.

مَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى ۚ وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ

mā khalaqnas-samāwāti wal-arḍa wa mā bainahumā illā bil-ḥaqqi wa ajalim musamman, wallażīna kafarụ ‘ammā unżirụ mu’riḍụn

3. Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.

Ketahuilah wahai manusia bahwa Allah tidaklah menciptakan langit dan bumi serta apa yang di antara keduanya kecuali dengan kebenaran yang terkandung di dalamnya kuasa dan keinginan-Nya. Dan benar akan waktu yang telah ditetapkan yaitu hari kiamat, hari dimana bumi dan langit digantikan. Akan tetapi yang mereka menolak ayat-ayat Allah, ingkar dengan nasihat-nasihat Al Qur’an dan petunjuknya, dan tidak berpikir akan hari akhirat, tidak juga berpikir untuk apa dia diciptakan yaitu untuk beribadah kepada Allah saja.

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ ۖ ائْتُونِي بِكِتَابٍ مِنْ قَبْلِ هَٰذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

qul a ra`aitum mā tad’ụna min dụnillāhi arụnī māżā khalaqụ minal-arḍi am lahum syirkun fis-samāwāti`tụnī bikitābim ming qabli hāżā au aṡāratim min ‘ilmin ing kuntum ṣādiqīn

4. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum (Al Quran) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar”

Katakan wahai Nabi Allah ﷺ kepada orang-orang musyrik dengan hinaan dan celaan : Bukankah tuhan-tuhan ini, patung-patung ini dan sesembahan lainnya dari para makhluk yang kalian ibadah selain Allah, (katakanlah kepadaku) apakah mereka ini dapat menciptakan makhluk yang lain ? Atau mereka adalah sekutu-sekutu Allah dalam penciptaan langit ? Maka jika tidak dapat menciptakan sesuatupun, dan bukan sekutu dalam sesuatu, lalu bagaimana bisa kalian beribadah kepada selain Allah, apa yang tidak membawa keburukan dan manfaat ? Bukankah ini adalah kesesatan dan kerusakan yang nyata ?, kemudian berikanlah oleh kalian wahai orang-orang musyrik satu kitab yang datang dari sisi Allah yang turun sebelum Al Qur’an ini atau kabarkan yang menguatkan amalan kalian dan menjadi bukti atas benarnya apa yang kalian kerjakan dari syirik dan kesesatan, jika kalian orang-orang yang benar sebagaimana klaim kalian.

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ

wa man aḍallu mim may yad’ụ min dụnillāhi mal lā yastajību lahū ilā yaumil-qiyāmati wa hum ‘an du’ā`ihim gāfilụn

5. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?

Ketahuilah wahai manusia bahwa sungguh tidak ada satupun kesesatan yang benar-benar sesat dan bodoh kecuali dari orang-orang musyrik yang mereka beribadah kepada selain Allah dengan menyembah patung-patung dan benda-benda mati yang tidak dapat menjawab doa-doa mereka, tidak pula mendengar ucapan mereka dan tidak pula memikirkan akan permohonan mereka meskipun mereka duduk berbicara dengan sesembahan-sesembahan tersebut sampai hari kiamat. Karena patung-patung dan benda-benda ini lali akan mereka yang menyembah; Bahkan tidak mengerti sesuatupun, tidak juga merasakan keadaan mereka yang menyembah.

وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ

wa iżā ḥusyiran-nāsu kānụ lahum a’dā`aw wa kānụ bi’ibādatihim kāfirīn

6. Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.

Allah menjelaskan bahwa Allah akan berbicara kepada hamba-Nya yang menyembah-Nya pada hari kiamat; Allah mengabarkan bahwa manusia jika dibangkitkan pada hari kiamat untuk dihisab; Maka pada hari itu orang-orang yang mereka sayangi, patung-patung dan sesembahan-sesembahan akan menjadi musuh bagi para penyembahnya; Dimana mereka (yang disembah) berlepas diri kepada yang menyembah, mereka saling melaknat satu sama lain, dan berlepas diri satu sama lain.

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ هَٰذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

wa iżā tutlā ‘alaihim āyātunā bayyināting qālallażīna kafarụ lil-ḥaqqi lammā jā`ahum hāżā siḥrum mubīn

7. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang menjelaskan, berkatalah orang-orang yang mengingkari kebenaran ketika kebenaran itu datang kepada mereka: “Ini adalah sihir yang nyata”.

Allah mengabarkan tentang musyrik Quraisy yang mereka jika dibacakan ayat-ayat Al Qur’an secara jelas atas ke-Maha Tunggalan Allah dan kesempurnaan kuasa-Nya, mereka berkata : Ini adalah sihir yang nyata, nampak jelas.

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ إِنِ افْتَرَيْتُهُ فَلَا تَمْلِكُونَ لِي مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَا تُفِيضُونَ فِيهِ ۖ كَفَىٰ بِهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ ۖ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

am yaqụlụnaftarāh, qul iniftaraituhụ fa lā tamlikụna lī minallāhi syai`ā, huwa a’lamu bimā tufīḍụna fīh, kafā bihī syahīdam bainī wa bainakum, wa huwal-gafụrur-raḥīm

8. Bahkan mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya (Al Quran)”. Katakanlah: “Jika aku mengada-adakannya, maka kamu tiada mempunyai kuasa sedikitpun mempertahankan aku dari (azab) Allah itu. Dia lebih mengetahui apa-apa yang kamu percakapkan tentang Al Quran itu. Cukuplah Dia menjadi saksi antaraku dan antaramu dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Allah mengabarkan tentang perkataan-perkataan orang-orang musyrik Quraisy, mereka berkata : Muhammad membuat-buat hal baru, menyusun dan merekayasa Al Qur’an ini di sisinya. Maka katakan Muhammad kepada mereka : Jika memang Al Qu’an ini adalah rekayasa, Allah mampu untuk mengadzabku, yang ketika Allah mengadzab, tidak ada seorangpun yang kuasa menahan. Ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui akan kedustaan yang engkau sembunyikan dan kebencian kalian yang bathil, cukuplah Allah menjadi saksi bagiku dan bagi kalian, dan menghukumi antara aku dan kalian, dan Dia Maha Pengampun bagi yang bertaubat dari kesyirikan dan beriman dengan kerisalahanku serta membenarkan Al Qur’an. Allah Maha Penyayang kepada ohamba yang beriman.

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ وَمَا أَدْرِي مَا يُفْعَلُ بِي وَلَا بِكُمْ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ وَمَا أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ مُبِينٌ

qul mā kuntu bid’am minar-rusuli wa mā adrī mā yuf’alu bī wa lā bikum, in attabi’u illā mā yụḥā ilayya wa mā ana illā nażīrum mubīn

9. Katakanlah: “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan”.

Allah menjelaskan agar Nabi-Nya ﷺ berkata kepada mereka orang-orang musyrik : Tidaklah aku adalah utusan yang pertama kali diutus kepada suatu kaum, karena sungguh telah diutus sebelum aku banyak utusan yang diutus kepada kaumnya, dan diturunkannya kitab, lalu mengapa kalian merasa aneh dengan dakwahku dan mengingkari kerisalahanku ? Tidaklah aku kecuali hanya manusia seperti kalian, aku tidak mengetahui yang ghaib, tidak juga mengetahui sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang, tidak juga aku mengetahui apa yang aku akan kerjakan esok begitu juga dengan kalian, aku hanyalah utusan yang diutus Allah, aku mengikuti apa yang Allah wahyukan kepadaku, aku tidak menambahkan sesuatupun dari pribadiku, bukan aku yang akan menghisab kalian, sungguh aku hanyalah penyampai dan pemberi peringatan.

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كَانَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَكَفَرْتُمْ بِهِ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ مِثْلِهِ فَآمَنَ وَاسْتَكْبَرْتُمْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

qul ara`aitum ing kāna min ‘indillāhi wa kafartum bihī wa syahida syāhidum mim banī isrā`īla ‘alā miṡlihī fa āmana wastakbartum, innallāha lā yahdil-qaumaẓ-ẓālimīn

10. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al Quran itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang tersebut dalam) Al Quran lalu dia beriman, sedang kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.

Dan pada kali yang lain Allah memerintahkan Nabi-Nya ﷺ agar berkata kepada orang-orang musyrik : Kabarkan kepadaku seandainya Al Qur’an ini dari sisi Allah dan kalian kafir dengannya. Sebagian ulama bani israil seperti Abdullah bin Salam meyakini bahwasanya Al Qur’an adalah kebenaran, dan Al Qur’an mengandung tauhid dan peringatan sebagaimana di dalam kitab yang diturunkan kepada Musa dan selainnya dari para Nabi. Kemudian setelah itu dia meyakini, beriman terhadapa Al Qur’an dan beramal dengan apa yang ada di dalamnya. Adapun kalian menolak dengan sombong dan merasa tinggi. Maka bukankah hal ini sebesar-besarnya kedzaliman dan kekafiran ? Ketahuilah bahwa Allah tidak menyetujui suatu kaum yang mereka dzalim terhadap diri mereka sendiri dengan sombong dari kebenaran setelah mengetahui kebenaran.

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ ۚ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَٰذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ

wa qālallażīna kafarụ lillażīna āmanụ lau kāna khairam mā sabaqụnā ilaīh, wa iż lam yahtadụ bihī fa sayaqụlụna hāżā ifkung qadīm

11. Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Kalau sekiranya di (Al Quran) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: “Ini adalah dusta yang lama”.

Berkata orang-orang yang mendustakan kenabian Muhammad ﷺ yaitu dari dedengkot Quraisy : Kalau saa beriman dengan Al Qur’an dan agama ini adalah kebenaran, maka telah mendahului kami oang-orang miskin. Mereka berkata dengan sombong, dan kebenaran tidak berdampak kepada mereka, karena sebab mereka adalah para pembesar dan orang-orang yang kaya. Adapun para sahabat Muhammad ﷺ mereka adalah orang-orang lemah dan miskin; Dimana mereka (orang-orang Quraisy) tidak mendapatkan petunjuk dengan Al Qur’an karena kesombongan mereka, dan tidak berguna kebenaran pada mereka, mereka mencela dan mencela, mereka berkata : Sesungguhnya Al Qur’an adalah bualan, tidaklah di dalamnya kecuali hanya dongeng orang-orang terdahulu.

وَمِنْ قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَىٰ إِمَامًا وَرَحْمَةً ۚ وَهَٰذَا كِتَابٌ مُصَدِّقٌ لِسَانًا عَرَبِيًّا لِيُنْذِرَ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَبُشْرَىٰ لِلْمُحْسِنِينَ

wa ming qablihī kitābu mụsā imāmaw wa raḥmah, wa hāżā kitābum muṣaddiqul lisānan ‘arabiyyal liyunżirallażīna ẓalamụ wa busyrā lil-muḥsinīn

12. Dan sebelum Al Quran itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Allah mengabarkan bahwa sebelum turunnya Al Qur’an ini, maka diturunkan Taurat kepada Musa yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya; Menunjuki dengannya orang-orang bani israil, kemudian datanglah Al Qur’an ini yang isinya membenarkan akan Taurat dan kitab-kitab sebelumnya yang diturunkan Allah dan mnyetujui kitab-kitab tersebut; Dan Allah menurunkan Al Qur’an dengan lisan arab, agar Nabi menjadikan padanya peringatan ﷺ kepada kaumnya yang mereka di dalam kegelapan diri-diri mereka dengan kesyirikan dan maksiat. Dan memberi kabar gembira bagi orang-orang yang ikhlas beribada kepada Tuhan mereka, dan orang-orang yang ikhlas beribadah kepada Allah akan mendapatkan kemenangan, keberuntungan dan keberhasilan di dunia dan akhirat.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

innallażīna qālụ rabbunallāhu ṡummastaqāmụ fa lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanụn

13. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.

Ketahuilah wahai manusia mereka yang berkata : Rabb kami adalah Allah kemudian mereka istiqamah di atas agama dan syariat, atau mereka mengumpulkan antara ketauhidan, keikhlasan dan amalan salih serta terus menerus di atasnya; Maka mereka tidak akan takut dari kedahsyatan pada hari kiamat dan keadaan padanya, mereka tidak akan bersedih atas apa yang dibelakang mereka setelah kematian dari nasib di dunia.

أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

ulā`ika aṣ-ḥābul-jannati khālidīna fīhā, jazā`am bimā kānụ ya’malụn

14. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.

Allah menjelaskan mereka yang beriman kepada Allah kemudian istiqamah di atas agama dan syariat-Nya, mereka adalah penghuni surga yang tinggal di dalamnya selamanya dengan rahmat Allah, dan dengan amalan-amalan shalih mereka yang telah lalu di dunia. Syaikh Muhammad Khair Hijazi (pengajar tafsir di masjid al haram) menghubungkan ayat ini dengan firman Allah : إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَـٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ, yang artinya : Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka, {Al Fushilat : 30}, yaitu bahwasanya para malaikat mengabarkan kepada mereka agar tidak takut dan tidak pula bersedih; Karena sebab Allah mengabarkan dalam surat Al Ahqaf lebih jelas dibandingkan dalam ayat Al Fushilat, yaitu para malaikat adalah yang memberi kabar.

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

wa waṣṣainal-insāna biwālidaihi iḥsānā, ḥamalat-hu ummuhụ kurhaw wa waḍa’at-hu kurhā, wa ḥamluhụ wa fiṣāluhụ ṡalāṡụna syahrā, ḥattā iżā balaga asyuddahụ wa balaga arba’īna sanatang qāla rabbi auzi’nī an asykura ni’matakallatī an’amta ‘alayya wa ‘alā wālidayya wa an a’mala ṣāliḥan tarḍāhu wa aṣliḥ lī fī żurriyyatī, innī tubtu ilaika wa innī minal-muslimīn

15. Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Allah memerintahkan manusia agar berbuat baik kepada orang tuanya dan agar mendahulukan mereka berdua dalam menjalankan kebaikan serta memuliakan mereka. Ibunya sungguh telah mengandung dan melahirkan dengan susah payah dan disapih ketika telah mencapai 30 bulan; Dan penyebutan bukti kepayahan ini adalah sebagai dalil bahwa hak ibu lebih besar daripada hak kepada bapak. Maka jika manusia telah sampai kesempurnaan dalam kekuatan, akal dan telah mencapai usia 40 tahun, Allah berkata : Rabbku, (ilhamkan) berikan aku rasa syukur atas nikmatmu yang Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku. Dan tetapkan aku agar terus beramal shalih menurut yang Engkau ridhai, dan jadikanlah keturunanku orang-orang yang baik; Sungguh aku bertaubat kepada-Mu dengan taubat yang sesungguhnya (nasuha), dan sunggu aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Mu dan mengerjakan apa yang Engkau perintahkan dan larang. Dalam ayat ini terdapat syubhat yang bahwasanya Allah mengulang-ulang wasiat bagi anak kepada bapak dalam sepuluh tempat kurang lebih dan ayah tidak mewasiatkan kepada anak-anaknya kecuali hanya dalam warisan sebagaimana dalam surat An Nisa, maka sebab dari permasalahan ini dijelaskan oleh ustadz jurusan tafsir kami yaitu Syaikh Muhammad Amin Asy Syinqithi penulis Adhwaul Bayan, beliau berkata : Karena berbuat baiknya anak kepada bapak mereka adalah kewajiban dan ketaatan dan bukan sebagaimana kepemimpinan dan perhatian seorang bapak kepada anak-anak mereka yang itu adalah sudah menjadi watak, bawaan dan tabiat kepada anak-anaknya. Kemudian Syaikh menambahkan : Dan bahwasanya seorang bapak menjadi sebab dalam adanya seorang anak, dan Allah Dialah yang menjadikan sebab di antara seluruh sebab, Dialah pencipta, dan bahwasanya barangsiapa luput dan abai atas hak kedua orang tua, akan pantas pula diabaikan dan luput dari hak yang menjadikan sebab yaitu Allah. Makna dari كُرْهًۭا adalah payah dan menderita serta sakit yang diderita oleh seorang ibu.

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجَاوَزُ عَنْ سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ ۖ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ

ulā`ikallażīna nataqabbalu ‘an-hum aḥsana mā ‘amilụ wa natajāwazu ‘an sayyi`ātihim fī aṣ-ḥābil-jannah, wa’daṣ-ṣidqillażī kānụ yụ’adụn

16. Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.

Allah mengabarkan mereka anak-anak yang berbuat baik yang mereka telah lalu disebutkan, Allah mensifati mereka dengan sifat kebaikan, ketaatan dan beramal dengan amalan shalih. Kami hapuskan dan dan kami hilangkan keburukan-keburukan mereka, kami tidak mengadzab mereka, juga tidak menghukum mereka, mereka adalah penghuni surga yang menang. Ini adalah janji Allah yang benar, mereka dijanjikan di dunia, dan diampuni dihari pengampunan atas apa yang telah Allah janjikan kepada mereka, sebagai janji dari Allah kepada mereka.

وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِنْ قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آمِنْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَيَقُولُ مَا هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

wallażī qāla liwālidaihi uffil lakumā ata’idāninī an ukhraja wa qad khalatil-qurụnu ming qablī, wa humā yastagīṡānillāha wailaka āmin inna wa’dallāhi ḥaqq, fa yaqụlu mā hāżā illā asāṭīrul-awwalīn

17. Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: “Cis bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: “Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar”. Lalu dia berkata: “Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka”.

Adapun anak yang durhaka yang mengatakan kepada kedua orang tuanya : cis bagi kalian berdua, atau kalian berdua menyebalkan, apakah kalian berdua mengingatkanku akan kebangkitanku dari kubur ? Telah lalu masa yang panjang yang tidak satupun manusia sebelumku yang mati dibangkitkan.; Maka kedua orang tuanya beristighatsah memohon kepada Allah hidayah atas anak ini, mereka berdua berkata : Celaka kamu, berimanlah wahai anakku akan hari kebangkitan, karena sesungguhnya janjia Allah benar, maka anaknya menepis dengan berkata : Tidaklah ucapan yang kalian ucapkan ini kecuali hanya khurafat (dongeng) orang-orang dahulu dan mereka mengingkari apa yang tertulis dalam kitab-kitab mereka.

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ حَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ إِنَّهُمْ كَانُوا خَاسِرِينَ

ulā`ikallażīna ḥaqqa ‘alaihimul-qaulu fī umaming qad khalat ming qablihim minal-jinni wal-ins, innahum kānụ khāsirīn

18. Mereka itulah orang-orang yang telah pasti ketetapan (azab) atas mereka bersama umat-umat yang telah berlalu sebelum mereka dari jin dan manusia. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi.

Allah menjelaskan mereka yang sombong dan mendustakan hari kebangkitan wajib untuk diadzab, sebagaiman umat-umat yang terdahulu dari bangsa jin dan manusia yang mereka di atas kesombongan dan pengingkaran, dan yang mengikuti jejak mereka. Sungguh mereka adalah pengingkar dan pendusta, yang merugikan diri-diri mereka sendiri dengan kerugian yang besar.

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا ۖ وَلِيُوَفِّيَهُمْ أَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

wa likullin darajātum mimmā ‘amilụ, wa liyuwaffiyahum a’mālahum wa hum lā yuẓlamụn

19. Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan.

Allah menjelaskan bahwa setiap kelompok baik mukmin maupun kafir tempat kembali mereka kepada Allah pada hari kiamat, yang tergantung dari amalan dari kedua kelompok tersebut. Maka bagi orang-orang yang beriman memiliki derajat untuk mendapatkan nikmat, dan bagi kafir akan merasakan neraka jahannam, Allah akan menyempurnakan balasan bagi mereka, Allah tidak akan mendzalimi mereka dengan mengurangi kebaikan kepada mereka dan tidak juga menambah-nambah keburukan.

وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُونَ

wa yauma yu’raḍullażīna kafarụ ‘alan-nār, aż-habtum ṭayyibātikum fī ḥayātikumud-dun-yā wastamta’tum bihā, fal-yauma tujzauna ‘ażābal-hụni bimā kuntum tastakbirụna fil-arḍi bigairil-ḥaqqi wa bimā kuntum tafsuqụn

20. Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): “Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik”.

Ingatlah wahai manusia hari yang ditampakkan kepada mereka yang kufur, ditampakkan neraka jahannam untuk mereka tinggal di dalamnya. Dikatakan kepada mereka dengan penghinaan dan perendahan : Pergilah kalian kepada yang kalian inginkan dari kebaikan, kenikmatan dan kelezatan yang kalian pada kehidupan di dunia yang fana, sehingga kalian hanyut dalam kelezatan dunia, dan kalian ridha terhadap syahwat-syahwat kalian, sungguh telah datang hari perhitungan yang kalian dustakan dan ingkari; Dan hari pembalasan dengan adzab yang menghinakan kalian karena sebab kesombongan kalian akan urusan ketauhidan kepada Tuhan kalian dan ketaatan pada-Nya, karena juga sebab kalian keras kepala, melanggar atuan-aturan Allah di muka bumi dengan tanpa kebenaran, dan dengan kefasikan kalian yang keluar dari ketaatan kepada Tuhan kalian.

۞ وَاذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنْذَرَ قَوْمَهُ بِالْأَحْقَافِ وَقَدْ خَلَتِ النُّذُرُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

ważkur akhā ‘ād, iż anżara qaumahụ bil-aḥqāfi wa qad khalatin-nużuru mim baini yadaihi wa min khalfihī allā ta’budū illallāh, innī akhāfu ‘alaikum ‘ażāba yaumin ‘aẓīm

21. Dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): “Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar”.

Sebutkan wahai Nabi Allah kepada kaummu untuk bersabar dan sabar atas penderitaan sebagaiamana Nabi Allah Hud yang dia adalah saudara laki-laki dari Ad dalam nasab agama; Yang semoga mereka mengambil pelajaran dan nasihat; Dimana Hud memperingatkan kaumnya agar tidak mendatangkan adzab Allah sedangkan mereka di dalam rumah mereka yang bertempat di Al Ahqaf, karena sebab kesyirikan dan kekafiran mereka serta kesombongan mereka. Kemudian Allah memerintahkan mengabarkan kepada kaum Hud bahwa semua Nabi yang datang sebeum Hud dan setelahnya telah mengingatkan kaum mereka agar tidak menyekutukan Allah dengan apapun dalam peribadatan mereka; Sungguh aku (kata Hud) memperingatkan kalian sebagaimana diperingatkan pula umat-umat para Nabi terdahulu agar kalian tidak terjatuh ke dalam kesyirikan; Karena sungguh aku paling takut kalian terkena adzab yang besar. Al Ahqaf terletak di Ar Ribhi AL Khali yang terletak di jazirah arab yaitu antara Najran dan negara arab yang terletak di pesisir pantai (laut); Sebelah kanannya adalah Yaman, Aman, Uni Emirat. Dan Al Ahqaf adalah ungkapan dari “pasir yang bertumpuk” dimana Allah perintahkan angin untuk mengumpulkan angin menghembuskan pasir agar bertumpuk seperti gunung, dan kaum Hud adalah mereka yang Allah firmankan : ٱلَّتِى لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِى ٱلْبِلَـٰدِ, yang artinya : yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain. {Al Fajr : 8}. Yaitu mereka adalah suatu kaum yang memiliki peradaban yang tiada bandingnya, dimana negeri mereka tidak didapati di salah satu negeri pun dari umat-umat terdahulu, kemudian mereka sombong karena derajat mereka yang tinggi dan tertipu sampai mereka berkata : مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً , “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?”. {Al Fushsilat : 15}.

قَالُوا أَجِئْتَنَا لِتَأْفِكَنَا عَنْ آلِهَتِنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

qālū a ji`tanā lita`fikanā ‘an ālihatinā, fa`tinā bimā ta’idunā ing kunta minaṣ-ṣādiqīn

22. Mereka menjawab: “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami? Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar”.

Maka mereka dari kaum Hud (setelah diperintah oleh Nabi mereka) berkata : Apakah engkau datang kepada kami untuk memalingkan kami dari tuhan-tuhan kami ?! Datangkan kepada kami atas apa yang engkau janjikan dari adzab yang besar jika memang engkau adalah orang yang benar atas apa yang engkau janjikan dan peringatkan darinya.

قَالَ إِنَّمَا الْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ وَأُبَلِّغُكُمْ مَا أُرْسِلْتُ بِهِ وَلَٰكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ

qāla innamal-‘ilmu ‘indallāhi wa uballigukum mā ursiltu bihī wa lākinnī arākum qauman taj-halụn

23. Ia berkata: “Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya tetapi aku lihat kamu adalah kaum yang bodoh”.

Hud berkata kepada mereka : Sesungguhnya pengetahuan akan waktu datangnya adzab hanya Allah yang tahu, adapun aku, aku hanyalah menyampaikan apa yang aku diutus olehnya, dengan mendakwahkan kepada kalian kepada tauhid, dan melarang kalian dari kesyirikan dan menyekutukan Allah, akan tetapi aku melihat kalian mendustakanku, dan tergesa-gesa meminta adzab, kalian adalah kaum yang bodoh yang tidak mengetahui apa yang bermanfaat untuk kalian di dunia dan akhirat.

فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَٰذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

fa lammā ra`auhu ‘āriḍam mustaqbila audiyatihim qālụ hāżā ‘āriḍum mumṭirunā, bal huwa masta’jaltum bih, rīḥun fīhā ‘ażābun alīm

24. Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih,

Allah mengabarkan untuk yang terakhir kalinya setelah mereka tergesa-gesa meminta adzab; Dimana Allah mengirim kepada mereka awan hitam, ketika mereka melihatnya mereka berkata : Ini adalah penampakan awan yang membawa hujan yang bermanfaat yang menuju kepada lembah-lembah kami; Kemudian Hud berkata kepada mereka : Ini bukanlah awan yang membawa hujan rintik maupun lebat sebagaimana kalian kira; Bahkan ini adalah adzab yang kalian meminta untuk disegerakan, yaitu angin yang akan datang dengan membawa adzab yang pedih dan mengerikan.

تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَىٰ إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ

tudammiru kulla syai`im bi`amri rabbihā fa`aṣbaḥụ lā yurā illā masākinuhum, każālika najzil-qaumal-mujrimīn

25. yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.

Allah menjelaskan bahwa angin ini menghancurkan sesuatu yang datang kepadanya dengan penghancuran atas perintah Allah. Hal ini juga sebagai tanda akan berlangsungnya angin ini selama tujuh malam delapan hari yang membawa petaka. Maka jadilah mereka di pagi hari setelah itu tidak melihat apa-apa kecuali hanya rumah-rumah mereka yang mereka tinggali, itulah akibat tuntutan mereka (untuk didatangkan adzab); Bahkan hancur lebur rata dengan tanah peradaban mereka. Ketahuilah wahai manusia bahwa permisalan adzab ini adalah sebagai balasan bagi para pendosa karena sebab kejahatan mereka dan melanggar aturan Allah, dan untuk adzab akhirat lebih pedih seandainya mereka mengetahui.

وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِنْ مَكَّنَّاكُمْ فِيهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلَا أَبْصَارُهُمْ وَلَا أَفْئِدَتُهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

wa laqad makkannāhum fīmā im makkannākum fīhi wa ja’alnā lahum sam’aw wa abṣāraw wa af`idatan fa mā agnā ‘an-hum sam’uhum wa lā abṣāruhum wa lā af`idatuhum min syai`in iż kānụ yaj-ḥadụna bi`āyātillāhi wa ḥāqa bihim mā kānụ bihī yastahzi`ụn

26. Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya.

Allah mengabarkan tentang peradaban pada masa Ad yang mirip dengan peradaban barat Amerika pada zaman sekarang. Kemudian Alla mengabarkan bahwa Allah menjadikan bagi manusia pendengaran, penglihatan untuk melihat peradaban tersebut, dan juga hati untuk merasakan sesuatu, yaitu Allah jadikan mereka mampu secara sempurna, paham dan petunjuk, akan tetapi mereka terpedaya dan Allah berikan hasil pangan serta kemajuan akan peradaban, dan akal-akal mereka tidak tersibukkan untuk memahami tanda-tanda kebesaran telah Allah berikan kepada mereka agar supaya mereka bertauhid dan mengenal tujuan Allah menciptakan mereka. Allah menjelaskan bahwa siapa saja yang tertimpa bencana adalah karena sebab pengingkaran mereka dari ayat-ayat Allah baik yang ada pada Al Qur’an dan alam, oleh sebab itu Allah turunkan kepada mereka adzab yang mereka mengolok-olok adzab tersebut dan ceroboh dengan memintanya agar segera didatangkan.

وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا مَا حَوْلَكُمْ مِنَ الْقُرَىٰ وَصَرَّفْنَا الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

wa laqad ahlaknā mā ḥaulakum minal-qurā wa ṣarrafnal-āyāti la’allahum yarji’ụn

27. Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertaubat).

Allah mengarahkan perkataan-Nya kepada ahli Mekkah yang mereka takut, Allah berkata : Sungguh Kami telah binasakan disekitaran negeri kalian dari negeri-negeri seperti Ad, Tsamud, dan selain mereka. Ketika mereka mendustakan utusan-utusan yang diutus kepada mereka, Kami telah berikan macam-macam tanda kepada mereka secara jelas yang menunjukkan atas ke-Maha Tunggalan Allah dan kesempurnaan kuasa-Nya; Agar mereka kembali dari kekufuran mereka menuju kepada iman kepada Allah dan tauhid.

فَلَوْلَا نَصَرَهُمُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ قُرْبَانًا آلِهَةً ۖ بَلْ ضَلُّوا عَنْهُمْ ۚ وَذَٰلِكَ إِفْكُهُمْ وَمَا كَانُوا يَفْتَرُونَ

falau lā naṣarahumullażīnattakhażụ min dụnillāhi qurbānan ālihah, bal ḍallụ ‘an-hum, wa żālika ifkuhum wa mā kānụ yaftarụn

28. Maka mengapa yang mereka sembah selain Allah sebagai Tuhan untuk mendekatkan diri (kepada Allah) tidak dapat menolong mereka. Bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka? Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan.

Maka ketika datang kepada mereka adzab, dan ditimpakan kebinasaan kepada mereka, maka apakah berguna sesembahan-sesembahan mereka yang diibadahi oleh mereka selain Allah dan mereka mendekatkan diri kepada sesembahan tersebut ?!; Bahkan secara hakikat tuhan-tuhan atau sesembaan-sesembahan mereka tidak berperan dan tidak juga mampu menjauhkan atau menjaga mereka, itula sebab kebinasaan, musibah atas sesembahan-sesembahan ini, yang mereka tidak membawa bahaya dan manfaat, yaitu sesembahan selain Allah. Inilah adzab sebagai akir dari kedustaan, pengingkaran dan kesombongan mereka yang menyembah kepada selain Allah.

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا ۖ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَىٰ قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ

wa iż ṣarafnā ilaika nafaram minal-jinni yastami’ụnal-qur`ān, fa lammā ḥaḍarụhu qālū anṣitụ, fa lammā quḍiya wallau ilā qaumihim munżirīn

29. Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.

Sebutkanlah wahai Nabi Allah, hari kiamat kepada mereka satu kaum dari golongan jin yang mereka mendengar Al Qur’an, ketika engkau sedang shalat dan ketika engkau kembali ke Mekkah. Maka ketika mereka hadir dan engkau pada saat itu shalat kemudian membaca Al Qur’an, mereka para jin berkata kepada sebagian yang lain : Dengarkanlah (bacaan Al Qur’an) agar kita memahami bacaan yang menakjubkan ini. Maka ketika engkau telah selesai dari shalatmu, maka mereka terkesan atas apa yang mereka dengar dari Al Qur’an, mereka kemudian berpaling menuju ke gerombolan mereka saling memberikan kabar dan peringatan dari adzab Allah jika tidak beriman kepada Allah. Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi adalah utusan bagi manusia dan jin, dan bahwasanya jin semisal dengan manusia yang memiliki ganjaran, adzab dan beban syariat, sebagaimana Allah berfirman : وَلِكُلٍّۢ دَرَجَـٰتٌۭ مِّمَّا عَمِلُوا۟ , yang artinya : Dan bagi masing-masing memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. {Al An’am : 132}.

قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ

qālụ yā qaumanā innā sami’nā kitāban unzila mim ba’di mụsā muṣaddiqal limā baina yadaihi yahdī ilal-ḥaqqi wa ilā ṭarīqim mustaqīm

30. Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.

Mereka para jin yang mendengar Al Qur’an dari Nabi ﷺ, masuk islam, beriman dan membenarkan Nabi ﷺ. Kemudian mereka pergi menuju kepada kaum mereka berdakwah mengajak kepada islam dan iman, mereka berkata : Wahai kaumku sunggu kami telah mendengar kitab yang diturunkan setelah Musa, dan kitab ini membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya yang Allah telah turunkan kepada para utusan-Nya, kemudian kitab ini sungguh memberikan petunjuk kepada agama yang benar dan menuju jalan yang lurus. Dan firman-Nya : مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰ, berkata Atha’ : Yaitu mereka (para jin) adalah yahudi, atau mereka yang lari dari seruan para jin adalah yahudi. Oleh karena itu tidak disebutkan oleh para jin tentang Isa, padahal Isa adalah Nabi sebelum diutusnya Muhammad ﷺ, karena Musa diutus kepada yahudi, oleh sebab itu mereka tidak mengenal Isa sebagaimana mengenal yahudi.

يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

yā qaumanā ajībụ dā’iyallāhi wa āminụ bihī yagfir lakum min żunụbikum wa yujirkum min ‘ażābin alīm

31. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.

Kemudian mereka terus berdakwah tauhid kepada kaumnya, mereka berkata : Wahai kaumku, terimalah oleh kalian utusan Allah, dan benarkan atas apa yang datang kepada kalian; Karena itu semua adalah sebab ampunan dari dosa-dosa kalian, dan keselamatan kalian dari adzab yang pedih yang mengerikan.

وَمَنْ لَا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءُ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

wa mal lā yujib dā’iyallāhi fa laisa bimu’jizin fil-arḍi wa laisa lahụ min dụnihī auliyā`, ulā`ika fī ḍalālim mubīn

32. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”.

Ketahuilah wahai kaumku, bahwasanya siapa yang tidak menerima dakwah Rasulullah ﷺ, dan tidak beriman kemudian membenarkan dengan apa yang datang darinya; Maka sungguh, ia tidak memiliki kemampuan untuk lolos dari adzab Allah, dan Allah tidak akan luput dan meloloskannya. Dan tidak ada selain dari Allah penolong dan yang menghalangi dari adzab Allah dan siksaan-Nya, dan barangsiapa yang tidak menerima seruan Allah, dia di atas kesesatan yang nyata, dan kesalahan yang nyata.

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَىٰ ۚ بَلَىٰ إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

a wa lam yarau annallāhallażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa wa lam ya’ya bikhalqihinna biqādirin ‘alā ay yuḥyiyal-mautā, balā innahụ ‘alā kulli syai`ing qadīr

33. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan) sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Allah mencela orang-orang kafir atas pengingkaran mereka tentang hari kebangkitan, Allah berkata : Bukankah mereka orang-orang kafir tahu bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi tanpa permisalan sebelumnya, dan Allah tidak lemah dan payah atas penciptaan-Nya. Bukankah mereka tahu bahwa Allah kuasa untuk menghidupkan yang mati sebagaimana awal dia diciptakan ? Maka jawaban atas perkataan Allah adalah benar, bahwa Dialah yang kuasa atas segala sesuatunya, tidak ada yang melemahkan-Nya sesuatupun di bumi maupun di langit.

وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَلَيْسَ هَٰذَا بِالْحَقِّ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَرَبِّنَا ۚ قَالَ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

wa yauma yu’raḍullażīna kafarụ ‘alan-nār, a laisa hāżā bil-ḥaqq, qālụ balā wa rabbinā, qāla fa żụqul-‘ażāba bimā kuntum takfurụn

34. Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan kepada neraka, (dikatakan kepada mereka): “Bukankah (azab) ini benar?” Mereka menjawab: “Ya benar, demi Tuhan kami”. Allah berfirman “Maka rasakanlah azab ini disebabkan kamu selalu ingkar”.

Allah mengulang-ulang peringatan kepada manusia tentang kondisi orang-orang kafir pada hari kiamat, Allah berkata kepada orang-orang kafir : Hari yang mereka ditampakkan neraka yang mereka ingkari untuk dimasukkannya mereka kedalamnya, Allah berkata kepada mereka dengan menghinakan dan merendahkan : Bukankah adzab ini adalah benar ?! Mereka yang pendosa menjawab : Betul, Tuhanku Maha Benar. Maka dikatakan kepada mereka : Rasakanlah adzab karena sebab kekafiran kalian dan penolakan kalian ketika kalian di dunia.

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ ۚ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ ۚ بَلَاغٌ ۚ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ

faṣbir kamā ṣabara ulul-‘azmi minar-rusuli wa lā tasta’jil lahum, ka`annahum yauma yarauna mā yụ’adụna lam yalbaṡū illā sā’atam min nahār, balāg, fa hal yuhlaku illal-qaumul-fāsiqụn

35. Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.

Allah mengakhiri surat ini dengan nasihat kepad Nabi ﷺ untuk bersabar atas apa yang telah menimpanya dari celaan dan penghinaan dari orang-orang sombong dan dzalim; Dimana Allah memerintahkan bersabar sebagaimana sabarnya Ulul Azmi dan kokohnya para Rasul yang mereka adalah : Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad. Allah juga memerintahkan agar tidak tergesa-gesa memintakan adzab bagi kaumnya, karena adzab itu pasti datang tanpa ragu. Ketahuilah bahwa Al Qur’an ini yang kalian diperingatkan dengan diutusnya Muhammad ﷺ telah disampaikan secara sempurna dalam nasihat dan peringatan kepada kalian. Kemudian Allah menyebutkan bahwa kebinasaan dan kerugiaan bagi mereka yang keluar dari ketaatan kepada Allah dan perintah-Nya.

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!