Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat ad-Dukhan

حم

Arab-Latin: ḥā mīm

Terjemah Arti: 1. Haa miim.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia

(Ha Mim) hanya Allah sajalah yang mengetahui arti dan maksudnya.

وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ

wal-kitābil-mubīn

2. Demi Kitab (Al Quran) yang menjelaskan,

(Demi Alkitab) yaitu Alquran (yang menjelaskan) yang memenangkan perkara yang halal atas perkara yang haram.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

innā anzalnāhu fī lailatim mubārakatin innā kunnā munżirīn

3. sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.

(Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati) yaitu Lailatul qadar, atau malam pertengahan bulan Syakban. Pada malam tersebut diturunkanlah Alquran dari Umul Kitab atau Lauhul mahfuz yaitu dari langit yang ketujuh hingga ke langit dunia (sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan) yang memperingatkan manusia dengan Alquran.

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

fīhā yufraqu kullu amrin ḥakīm

4. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,

(Pada malam itu) yakni pada malam Lailatulkadar, atau malam pertengahan bulan Syakban (dijelaskan) dirincikan (segala urusan yang penuh hikmah) segala urusan yang telah ditentukan, yaitu berupa rezeki dan ajal serta perkara-perkara lainnya, mulai dari malam itu sampai dengan malam yang sama untuk tahun berikutnya.

أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا ۚ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ

amram min ‘indinā, innā kunnā mursilīn

5. (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul,

(Yaitu urusan yang besar) rinciannya (dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul) Nabi Muhammad dan rasul-rasul sebelumnya.

رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

raḥmatam mir rabbik, innahụ huwas-samī’ul-‘alīm

6. sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,

(Sebagai rahmat) maksudnya, karena belas kasihan kepada manusia diutuslah rasul-rasul kepada mereka (dari Rabbmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar) perkataan-perkataan mereka (lagi Maha Mengetahui) perbuatan-perbuatan mereka.

رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ

rabbis-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā, ing kuntum mụqinīn

7. Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu adalah orang yang meyakini.

(Rabb yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya) jika dibaca Rabbus Samaawaati berarti menjadi Khabar yang ketiga, jika dibaca Rabbis Samaawaati berarti menjadi Badal dari lafal Rabbika (jika kalian) hai penduduk Mekah (orang-orang yang meyakini) bahwasanya Dia adalah Rabb langit dan bumi, maka yakinilah bahwa Muhammad itu adalah rasul-Nya.

لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ

lā ilāha illā huwa yuḥyī wa yumīt, rabbukum wa rabbu ābā`ikumul-awwalīn

8. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu.

(Tidak ada tuhan melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan Dialah Rabb kalian dan Rabb bapak-bapak kalian yang terdahulu.)

بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ يَلْعَبُونَ

bal hum fī syakkiy yal’abụn

9. Tetapi mereka bermain-main dalam keragu-raguan.

(Tetapi mereka dalam keragu-raguan) tentang adanya hari berbangkit (adalah orang-orang yang bermain-main) dengan maksud mengejek kamu, hai Muhammad. Maka Nabi berdoa, “Ya Allah! Bantulah aku untuk menghadapi mereka, timpakanlah kepada mereka paceklik selama tujuh tahun sebagaimana paceklik yang diminta oleh Nabi Yusuf.”

فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ

fartaqib yauma ta`tis-samā`u bidukhānim mubīn

10. Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata,

(Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata) maka kala itu bumi menjadi tandus kelaparan serta paceklik makin menjadi-jadi, sehingga karena memuncaknya keadaan, akhirnya mereka melihat seolah-olah ada sesuatu yang berupa kabut di antara langit dan bumi.

يَغْشَى النَّاسَ ۖ هَٰذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

yagsyan-nās, hāżā ‘ażābun alīm

11. yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih.

(Yang meliputi manusia) lalu mereka berkata, (“Inilah azab yang pedih.)

رَبَّنَا اكْشِفْ عَنَّا الْعَذَابَ إِنَّا مُؤْمِنُونَ

rabbanaksyif ‘annal-‘ażāba innā mu`minụn

12. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, lenyapkanlah dari kami azab itu. Sesungguhnya kami akan beriman”.

(‘Ya Rabb kami! Lenyapkanlah dari kami azab ini, Sesungguhnya kami akan beriman”) atau percaya kepada nabi-Mu.

أَنَّىٰ لَهُمُ الذِّكْرَىٰ وَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مُبِينٌ

annā lahumuż-żikrā wa qad jā`ahum rasụlum mubīn

13. Bagaimanakah mereka dapat menerima peringatan, padahal telah datang kepada mereka seorang rasul yang memberi penjelasan,

(“Bagaimana mereka dapat menerima peringatan) maksudnya, iman tidak akan bermanfaat buat mereka bila azab diturunkan (padahal telah datang kepada mereka seorang rasul yang memberi penjelasan) artinya yang jelas risalahnya.

ثُمَّ تَوَلَّوْا عَنْهُ وَقَالُوا مُعَلَّمٌ مَجْنُونٌ

ṡumma tawallau ‘an-hu wa qālụ mu’allamum majnụn

14. kemudian mereka berpaling daripadanya dan berkata: “Dia adalah seorang yang menerima ajaran (dari orang lain) lagi pula seorang yang gila”.

(Kemudian mereka berpaling darinya dan berkata, “Dia adalah seorang yang menerima ajaran) maksudnya dia diajari Alquran oleh orang lain (lagi pula dia seorang yang gila.”)

إِنَّا كَاشِفُو الْعَذَابِ قَلِيلًا ۚ إِنَّكُمْ عَائِدُونَ

innā kāsyiful-‘ażābi qalīlan innakum ‘ā`idụn

15. Sesungguhnya (kalau) Kami akan melenyapkan siksaan itu agak sedikit sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar).

(Sesungguhnya kalau Kami lenyapkan siksaan itu) kelaparan dan paceklik itu dari mereka selama beberapa waktu (dalam waktu yang tidak lama) lalu Allah melenyapkan azab itu dari mereka (sesungguhnya kalian akan kembali) kepada kekafiran, dan memang mereka kembali lagi kepada kekafirannya.

يَوْمَ نَبْطِشُ الْبَطْشَةَ الْكُبْرَىٰ إِنَّا مُنْتَقِمُونَ

yauma nabṭisyul-baṭsyatal-kubrā, innā muntaqimụn

16. (Ingatlah) hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras. Sesungguhnya Kami adalah Pemberi balasan.

Ingatlah (hari ketika Kami menghantam dengan hantaman yang keras) yaitu pada perang Badar. (Sesungguhnya Kami Pemberi balasan) kepada orang-orang yang kafir itu. Lafal Al-Bathsyu artinya menghantam dengan keras.

۞ وَلَقَدْ فَتَنَّا قَبْلَهُمْ قَوْمَ فِرْعَوْنَ وَجَاءَهُمْ رَسُولٌ كَرِيمٌ

wa laqad fatannā qablahum qauma fir’auna wa jā`ahum rasụlung karīm

17. Sesungguhnya sebelum mereka telah Kami uji kaum Fir’aun dan telah datang kepada mereka seorang rasul yang mulia,

(Sesungguhnya telah Kami coba) Kami uji (sebelum mereka kaum Firaun) berikut Firaun sendiri (dan telah datang kepada mereka seorang rasul) yaitu Nabi Musa .s. (yang mulia) di sisi Allah swt.

أَنْ أَدُّوا إِلَيَّ عِبَادَ اللَّهِ ۖ إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ

an addū ilayya ‘ibādallāh, innī lakum rasụlun amīn

18. (dengan berkata): “Serahkanlah kepadaku hamba-hamba Allah (Bani Israil yang kamu perbudak). Sesungguhnya aku adalah utusan (Allah) yang dipercaya kepadamu,

(Dengan berkata, “Hendaknya) atau hendaknyalah (kalian tunaikan kepadaku) apa yang aku seru kalian untuk melakukannya, yaitu beriman kepada Allah. Maksudnya, tampakkanlah iman kalian kepadaku, hai (hamba-hamba Allah. Sesungguhnya aku adalah utusan Allah yang dipercaya kepada kalian) dipercaya untuk menyampaikan apa yang aku diutus untuknya.

وَأَنْ لَا تَعْلُوا عَلَى اللَّهِ ۖ إِنِّي آتِيكُمْ بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ

wa al lā ta’lụ ‘alallāh, innī ātīkum bisulṭānim mubīn

19. dan janganlah kamu menyombongkan diri terhadap Allah. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata.

(Dan Janganlah kalian menyombongkan diri) berlaku takabur (terhadap Allah) yaitu tidak menaati-Nya. (Sesungguhnya aku datang kepada kalian dengan membawa bukti) tanda bukti (yang nyata”) yang menunjukkan kebenaran risalahku. Tetapi sebaliknya mereka mengancam akan merajamnya.

وَإِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ أَنْ تَرْجُمُونِ

wa innī ‘użtu birabbī wa rabbikum an tarjumụn

20. Dan sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu, dari keinginanmu merajamku,

Maka berdoalah Nabi Musa, (“Dan sesungguhnya aku berlindung kepada Rabbku dan Rabb kalian, dari keinginan kalian merajamku) dengan batu.

وَإِنْ لَمْ تُؤْمِنُوا لِي فَاعْتَزِلُونِ

wa il lam tu`minụ lī fa’tazilụn

21. dan jika kamu tidak beriman kepadaku maka biarkanlah aku (memimpin Bani Israil)”.

(Dan jika kalian tidak beriman kepadaku) tidak percaya kepadaku (maka biarkanlah aku”) artinya, janganlah kalian menyakitiku, akan tetapi mereka tidak mau membiarkannya.

فَدَعَا رَبَّهُ أَنَّ هَٰؤُلَاءِ قَوْمٌ مُجْرِمُونَ

fa da’ā rabbahū anna hā`ulā`i qaumum mujrimụn

22. Kemudian Musa berdoa kepada Tuhannya: “Sesungguhnya mereka ini adalah kaum yang berdosa (segerakanlah azab kepada mereka)”.

(Kemudian Musa berdoa kepada Rabbnya, “Bahwasanya) (mereka ini adalah kaum yang berdosa”) orang-orang yang musyrik.

فَأَسْرِ بِعِبَادِي لَيْلًا إِنَّكُمْ مُتَّبَعُونَ

fa asri bi’ibādī lailan innakum muttaba’ụn

23. (Allah berfirman): “Maka berjalanlah kamu dengan membawa hamba-hamba-Ku pada malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar,

Maka Allah swt. berfirman, (“Maka berjalanlah kamu) lafaz ini dapat dibaca Fa-asri atau Fasri (dengan membawa hambahamba-Ku) yaitu Bani Israel (pada malam hari, sesungguhnya kalian akan dikejar) oleh Firaun dan kaumnya.

وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًا ۖ إِنَّهُمْ جُنْدٌ مُغْرَقُونَ

watrukil-baḥra rahwā, innahum jundum mugraqụn

24. dan biarkanlah laut itu tetap terbelah. Sesungguhnya mereka adalah tentara yang akan ditenggelamkan”.

(Dan biarkanlah laut itu) apabila kamu dan pengikut-pengikutmu telah menempuhnya (terbelah) tenang dalam keadaan terbelah hingga orang-orang Koptik atau kaum Firaun memasukinya (sesungguhnya mereka adalah tentara yang akan ditenggelamkan”) maka tenanglah kamu jangan khawatir. Akhirnya mereka ditenggelamkan.

كَمْ تَرَكُوا مِنْ جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ

kam tarakụ min jannātiw wa ‘uyụn

25. Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan,

(Alangkah banyaknya taman yang mereka tinggalkan) yaitu kebun-kebun (dan mata air) yang mengalir.

وَزُرُوعٍ وَمَقَامٍ كَرِيمٍ

wa zurụ’iw wa maqāming karīm

26. dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah,

(Dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah) atau tempat yang bagus.

وَنَعْمَةٍ كَانُوا فِيهَا فَاكِهِينَ

wa na’mating kānụ fīhā fākihīn

27. dan kesenangan-kesenangan yang mereka menikmatinya,

(Dan nikmat) kesenangan (yang dahulu mereka bergelimang di dalamnya) bersenang-senang di dalamnya.

كَذَٰلِكَ ۖ وَأَوْرَثْنَاهَا قَوْمًا آخَرِينَ

każālik, wa auraṡnāhā qauman ākharīn

28. demikianlah. Dan Kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain.

(Demikianlah) lafal Kadzaalika ini menjadi Khabar dari Mubtada; maksudnya, perkaranya demikianlah. (Dan Kami wariskan semua itu) yakni harta benda mereka (kepada kaum yang lain) yakni, kaum Bani Israel.

فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ

fa mā bakat ‘alaihimus-samā`u wal-arḍ, wa mā kānụ munẓarīn

29. Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh.

(Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka) berbeda dengan orang-orang yang beriman, jika mereka mati tanah tempat salat mereka menangisinya dan langit tempat naiknya amal mereka menangisinya pula (dan mereka pun tidak diberi tangguh) diakhirkan tobatnya.

وَلَقَدْ نَجَّيْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنَ الْعَذَابِ الْمُهِينِ

wa laqad najjainā banī isrā`īla minal-‘ażābil-muhīn

30. Dan sesungguhnya telah Kami selamatkan Bani Israil dari siksa yang menghinakan,

(Dan sesungguhnya telah Kami selamatkan Bani Israel dari siksa yang menghinakan) yakni dari pembunuhan Firaun terhadap anak-anak laki-laki mereka dan perbudakannya terhadap anak-anak perempuan mereka.

مِنْ فِرْعَوْنَ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَالِيًا مِنَ الْمُسْرِفِينَ

min fir’aụn, innahụ kāna ‘āliyam minal-musrifīn

31. dari (azab) Fir’aun. Sesungguhnya dia adalah orang yang sombong, salah seorang dari orang-orang yang melampaui batas.

(Dari siksaan Firaun) menurut suatu pendapat menjadi Badal dari lafal Al’Adzaabi yang ada pada ayat sebelumnya dengan memperkirakan adanya Mudhaf sebelumnya, yaitu lafal ‘Adzaabi, lengkapnya Min ‘Adzaabi Firaun, artinya: dari siksaan Firaun. Tetapi menurut pendapat lain ia menjadi Hal atau kata keterangan keadaan dari lafal Al ‘Adzaabi (sesungguhnya dia adalah orang yang sombong lagi salah seorang dari orang-orang yang melampaui batas.)

وَلَقَدِ اخْتَرْنَاهُمْ عَلَىٰ عِلْمٍ عَلَى الْعَالَمِينَ

wa laqadikhtarnāhum ‘alā ‘ilmin ‘alal-‘ālamīn

32. Dan sesungguhnya telah Kami pilih mereka dengan pengetahuan (Kami) atas bangsa-bangsa.

(Dan sesungguhnya telah Kami pilih mereka) yaitu kaum Bani Israel (dengan pengetahuan) Kami yang mengetahui semua keadaan mereka (atas orang-orang yang pandai) di zamannya, yakni mereka dipilih menjadi orang-orang yang lebih pandai daripada orang-orang yang pandai di zamannya.

وَآتَيْنَاهُمْ مِنَ الْآيَاتِ مَا فِيهِ بَلَاءٌ مُبِينٌ

wa ātaināhum minal-āyāti mā fīhi balā`um mubīn

33. Dan Kami telah memberikan kepada mereka di antara tanda-tanda kekuasaan (Kami) sesuatu yang di dalamnya terdapat nikmat yang nyata.

(Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada mereka di antara tanda-tanda kekuasaan Kami sesuatu yang di dalamnya terdapat cobaan yang nyata) yang dimaksud adalah nikmat yang nyata, yaitu dapat dibelahnya laut, diturunkannya manna dan salwa serta mukjizat-mukjizat lainnya.

إِنَّ هَٰؤُلَاءِ لَيَقُولُونَ

inna hā`ulā`i layaqụlụn

34. Sesungguhnya mereka (kaum musyrik) itu benar-benar berkata,

(Sesungguhnya mereka itu) yakni orang-orang kafir Mekah (benar-benar berkata,)

إِنْ هِيَ إِلَّا مَوْتَتُنَا الْأُولَىٰ وَمَا نَحْنُ بِمُنْشَرِينَ

in hiya illā mautatunal-ụlā wa mā naḥnu bimunsyarīn

35. “tidak ada kematian selain kematian di dunia ini. Dan kami sekali-kali tidak akan dibangkitkan,

(“Tidak ada kematian) yang sesudahnya ada kehidupan lagi (selain kematian di dunia ini) sewaktu mereka masih dalam keadaan berupa air mani. (Dan kami sekali-kali tidak akan dibangkitkan) tidak akan dihidupkan kembali sesudah kematian yang pertama tadi.

فَأْتُوا بِآبَائِنَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

fa`tụ bi`ābā`inā ing kuntum ṣādiqīn

36. maka datangkanlah (kembali) bapak-bapak kami jika kamu memang orang-orang yang benar”.

(Maka datangkanlah bapak-bapak kami) dalam keadaan hidup (jika kalian memang orang-orang yang benar”) bahwasanya kami akan dibangkitkan menjadi hidup kembali sesudah kami mati.

أَهُمْ خَيْرٌ أَمْ قَوْمُ تُبَّعٍ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ أَهْلَكْنَاهُمْ ۖ إِنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

a hum khairun am qaumu tubba’iw wallażīna ming qablihim, ahlaknāhum innahum kānụ mujrimīn

37. Apakah mereka (kaum musyrikin) yang lebih baik ataukah kaum Tubba’ dan orang-orang yang sebelum mereka. Kami telah membinasakan mereka karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berdosa.

Allah swt. berfirman, (“Apakah mereka yang lebih baik ataukah kaum Tubba'”) Tubba’ adalah seorang nabi atau seorang yang saleh (dan orang-orang yang sebelum mereka) umat-umat sebelum mereka (Kami telah membinasakan mereka) karena kekafiran mereka. Makna ayat, bahwasanya orang-orang musyrik itu tidaklah lebih kuat daripada mereka, dan ternyata mereka pun telah dibinasakan (karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berdosa.)

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ

wa mā khalaqnas-samāwāti wal-arḍa wa mā bainahumā lā’ibīn

38. Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main.

(Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main) dalam menciptakan hal tersebut; lafal Laa`ibiina menjadi Hal atau kata keterangan keadaan.

مَا خَلَقْنَاهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

mā khalaqnāhumā illā bil-ḥaqqi wa lākinna akṡarahum lā ya’lamụn

39. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

(Kami tidak menciptakan keduanya) dan apa yang ada di antara keduanya (melainkan dengan hak) dengan sebenarnya, daripadanya dapat disimpulkan tentang kekuasaan dan keesaan Kami, dan hal-hal lainnya (tetapi kebanyakan mereka) yaitu orang-orang kafir Mekah (tidak mengetahui.)

إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ مِيقَاتُهُمْ أَجْمَعِينَ

inna yaumal-faṣli mīqātuhum ajma’īn

40. Sesungguhnya hari keputusan (hari kiamat) itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya,

(Sesungguhnya hari keputusan itu) yakni hari kiamat adalah hari di mana Allah memutuskan perkara di antara hambahamba-Nya (adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya) untuk menerima azab yang abadi

يَوْمَ لَا يُغْنِي مَوْلًى عَنْ مَوْلًى شَيْئًا وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ

yauma lā yugnī maulan ‘am maulan syai`aw wa lā hum yunṣarụn

41. yaitu hari yang seorang karib tidak dapat memberi manfaat kepada karibnya sedikitpun, dan mereka tidak akan mendapat pertolongan,

(Yaitu hari yang seorang karib tidak dapat memberi manfaat kepada karibnya) baik karib karena hubungan kerabat atau karib karena hubungan persahabatan yang dekat. Ia tidak akan dapat membelanya (sedikit pun) dari azab itu (dan mereka tidak akan mendapat pertolongan) maksudnya tidak dapat dicegah dari azab itu. Lafal Yauma dalam ayat ini menjadi Badal dari lafal Yaumal Fashli pada ayat sebelumnya.

إِلَّا مَنْ رَحِمَ اللَّهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

illā mar raḥimallāh, innahụ huwal-‘azīzur-raḥīm

42. kecuali orang yang diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

(Kecuali orang yang diberi rahmat oleh Allah) mereka adalah orang-orang mukmin, sebagian dari mereka dapat memberikan syafaat kepada sebagian lainnya dengan seizin Allah. (Sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa) Maha Menang di dalam pembalasan-Nya terhadap orang-orang kafir (lagi Maha Penyayang) terhadap orang-orang mukmin.

إِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّومِ

inna syajarataz-zaqqụm

43. Sesungguhnya pohon zaqqum itu,

(Sesungguhnya pohon zaqqum itu) zaqqum adalah pohon yang paling buruk dan sangat pahit rasanya yang tumbuh di daerah Tihamah, kelak Allah akan menumbuhkannya pula di dasar neraka Jahim.

طَعَامُ الْأَثِيمِ

ṭa’āmul-aṡīm

44. makanan orang yang banyak berdosa.

(Makanan orang yang banyak dosa) seperti Abu Jahal dan teman-temannya.

كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ

kal-muhli yaglī fil-buṭụn

45. (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut,

(Ia bagaikan kotoran minyak) yakni hitam pekat bagaikan kotoran minyak; lafal ayat ini menjadi Khabar kedua (yang mendidih di dalam perut) jika dibaca Taghli berarti menjadi Khabar ketiga, jika dibaca Yaghli berarti menjadi Hal atau kata keterangan keadaan bagi lafal Al-Muhli.

كَغَلْيِ الْحَمِيمِ

kagalyil-ḥamīm

46. seperti mendidihnya air yang amat panas.

(Seperti mendidihnya air yang amat panas) panasnya bagaikan air yang sangat panas.

خُذُوهُ فَاعْتِلُوهُ إِلَىٰ سَوَاءِ الْجَحِيمِ

khużụhu fa’tilụhu ilā sawā`il-jaḥīm

47. Peganglah dia kemudian seretlah dia ke tengah-tengah neraka.

(Peganglah dia) dikatakan kepada malaikat Zabaniyah, “Peganglah orang yang berdosa (kemudian seretlah dia) dapat dibaca Fa’tiluuhu atau Fa’tuluuhu artinya, seretlah dia dengan keras dan kasar (ke tengah-tengah jahim) ke tengah-tengah neraka.

ثُمَّ صُبُّوا فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ عَذَابِ الْحَمِيمِ

ṡumma ṣubbụ fauqa ra`sihī min ‘ażābil-ḥamīm

48. Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang amat panas.

(Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan dari air yang amat panas) sehingga azab tiada henti-hentinya menimpa mereka dan tidak pernah berpisah darinya. Pengertian ayat ini lebih keras daripada apa yang diungkapkan dalam ayat lain, yaitu, “Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka…” (Q.S. Al-Hajj, 19).

ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ

żuq, innaka antal-‘azīzul-karīm

49. Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.

Kemudian dikatakan kepadanya, “(Rasakanlah) azab ini (sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia”) menurut dugaan dan perkataanmu yang telah menyatakan, bahwa tiada seorang pun di antara penghuni kedua bukit itu, yakni kota Mekah, orang yang lebih perkasa dan lebih mulia daripada dirinya.

إِنَّ هَٰذَا مَا كُنْتُمْ بِهِ تَمْتَرُونَ

inna hāżā mā kuntum bihī tamtarụn

50. Sesungguhnya ini adalah azab yang dahulu selalu kamu meragu-ragukannya.

Dan dikatakan kepada mereka, “(Sesungguhnya ini) azab yang kalian rasakan ini (yang dahulu selalu kalian meragukannya”) yaitu meragukan keberadaannya.

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي مَقَامٍ أَمِينٍ

innal-muttaqīna fī maqāmin amīn

51. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman,

(Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam tempat) atau kedudukan (yang aman) dari semua hal-hal yang menakutkan.

فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ

fī jannātiw wa ‘uyụn

52. (yaitu) di dalam taman-taman dan mata-air-mata-air;

(Yaitu di dalam taman-taman) kebun-kebun (dan mata air-mata air.)

يَلْبَسُونَ مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُتَقَابِلِينَ

yalbasụna min sundusiw wa istabraqim mutaqābilīn

53. mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan,

(Mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal) (seraya berhadap-hadapan) lafal Mutaqaabiliina adalah Hal atau kata keterangan keadaan, yakni, sebagian dari mereka tidak dapat melihat tengkuk sebagian yang lain, karena dipan-dipan tempat mereka duduk berbentuk bundar.

كَذَٰلِكَ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ

każālik, wa zawwajnāhum biḥụrin ‘īn

54. demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari.

(Demikianlah) sebelum lafal ini diperkirakan adanya lafal Al-Amru, yakni perkaranya demikianlah. (Dan Kami kawinkan mereka) dijodohkan atau mereka dibuat senang (dengan bidadari-bidadari) dengan wanita yang putih kulitnya dan jeli matanya serta sangat cantik rupanya.

يَدْعُونَ فِيهَا بِكُلِّ فَاكِهَةٍ آمِنِينَ

yad’ụna fīhā bikulli fākihatin āminīn

55. Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran),

(Mereka meminta) meminta kepada para pelayan surga (di dalamnya) di dalam surga, supaya para pelayan itu mendatangkan buat mereka (segala macam buah-buahan) surga (dengan aman) dari kehabisan dan dari kemudaratannya, serta aman dari segala kekhawatiran. Lafal Aaminiina berkedudukan menjadi Hal atau kata keterangan keadaan.

لَا يَذُوقُونَ فِيهَا الْمَوْتَ إِلَّا الْمَوْتَةَ الْأُولَىٰ ۖ وَوَقَاهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

lā yażụqụna fīhal-mauta illal-mautatal-ụlā, wa waqāhum ‘ażābal-jaḥīm

56. mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia. Dan Allah memelihara mereka dari azab neraka,

(Mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati yang pertama) yaitu kematian sewaktu di dunia. Sebagian ahli tafsir ada yang mengatakan bahwa lafal Illaa di sini bermakna Ba’da, yakni sesudah. (Dan Allah memelihara mereka dari azab neraka.)

فَضْلًا مِنْ رَبِّكَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

faḍlam mir rabbik, żālika huwal-fauzul-‘aẓīm

57. sebagai karunia dari Tuhanmu. Yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar.

(Sebagai karunia) lafal Fadhlan adalah Mashdar yang bermakna Tafadhdhulan, yakni pemberian karunia; dinashabkan oleh lafal Tafadhdhala yang diperkirakan keberadaannya sebelumnya (dari Rabbmu Yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar.)

فَإِنَّمَا يَسَّرْنَاهُ بِلِسَانِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

fa innamā yassarnāhu bilisānika la’allahum yatażakkarụn

58. Sesungguhnya Kami mudahkan Al Quran itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran.

(Sesungguhnya Kami mudahkan ia) Kami mudahkan Alquran itu (dengan bahasamu) dengan bahasa Arab supaya orangorang Arab dapat memahaminya darimu (supaya mereka mendapat pelajaran) supaya mereka dapat mengambilnya sebagai nasihat, karena itu lalu mereka beriman kepadamu; tetapi ternyata mereka tidak juga mau beriman.

فَارْتَقِبْ إِنَّهُمْ مُرْتَقِبُونَ

fartaqib innahum murtaqibụn

59. Maka tunggulah; sesungguhnya mereka itu menunggu (pula).

(Maka tunggulah) nantikanlah kebinasaan mereka (sesungguhnya mereka itu menunggu pula) kebinasaanmu. Ayat ini diturunkan sebelum ada perintah untuk berjihad melawan mereka.

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!