Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat ash-Shaffat

وَالصَّافَّاتِ صَفًّا

Arab-Latin: waṣ-ṣāffāti ṣaffā

Terjemah Arti: 1. Demi (rombongan) yang ber shaf-shaf dengan sebenar-benarnya],

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia

(Demi yang bersaf-saf dengan sebenar-benarnya) yaitu para malaikat yang berbaris membentuk saf-saf dalam menyembah Allah, atau para malaikat yang sayap-sayapnya bersaf-saf membentuk barisan di udara sambil menunggu apa yang diperintahkan kepada mereka.

فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا

faz-zājirāti zajrā

2. dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya (dari perbuatan-perbuatan maksiat),

(Dan demi rombongan yang menggiring dengan sebenar-benarnya) demi para malaikat yang menggiring atau mengarak awan.

فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا

fat-tāliyāti żikrā

3. dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran,

(Dan demi rombongan yang membacakan) maksudnya para pembaca Alquran yang sedang membacakannya sebagai (peringatan) lafal Dzikran menjadi Mashdar dari makna Fi’il At-Taaliyaat. Maksudnya, demi para qari yang membacakan peringatan atau Alquran.

إِنَّ إِلَٰهَكُمْ لَوَاحِدٌ

inna ilāhakum lawāḥid

4. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa.

(Sesungguhnya Tuhan kalian) hai penduduk Mekah (benar-benar Esa.)

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَرَبُّ الْمَشَارِقِ

rabbus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā wa rabbul-masyāriq

5. Tuhan langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya dan Tuhan tempat-tempat terbit matahari.

(Tuhan langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya dan Tuhan tempat-tempat terbit matahari) dan tempattempat terbenamnya pada setiap harinya, yaitu arah Timur dan arah Barat.

إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ

innā zayyannas-samā`ad-dun-yā bizīnatinil-kawākib

6. Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang,

(Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang) dengan cahayanya, atau hiasan itu berupa bintang-bintang itu sendiri. Pengertian Idhafah di sini mengandung makna bayan atau menjelaskan, perihalnya sama dengan makna qiraat yang menanwinkannya.

وَحِفْظًا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَارِدٍ

wa ḥifẓam ming kulli syaiṭānim mārid

7. dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka,

(Dan sebagai pemelihara) lafal Hifzhan dinashabkan oleh Fi’il yang diperkirakan keberadaannya pada sebelumnya, yakni Kami memelihara langit dengan bintang-bintang atau meteor-meteor (dari setiap) lafal ayat ini berta’alluq kepada Fi’il yang diperkirakan keberadaannya (setan yang durhaka) setan yang membangkang atau tidak mau taat.

لَا يَسَّمَّعُونَ إِلَى الْمَلَإِ الْأَعْلَىٰ وَيُقْذَفُونَ مِنْ كُلِّ جَانِبٍ

lā yassamma’ụna ilal-mala`il-a’lā wa yuqżafụna ming kulli jānib

8. syaitan syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru.

(Mereka tidak dapat mendengar-dengarkan) maksudnya setan-setan itu tidak dapat mendengar-dengarkan apa yang telah dipelihara oleh-Nya. Lafal ayat ini merupakan jumlah Isti’naf (pembicaraan para malaikat) yang berada di langit. Lafal Yasma’uuna dimuta’addikan dengan huruf Ilaa karena pengertiannya mengandung makna seperti apa yang terdapat di dalam lafal Al-Ishghaa. Menurut suatu qiraat dibaca La Yassamma’uuna dengan memakai Tasydid pada huruf Mim dan Sin-nya, berasal dari lafal Yatasamma’uuna, kemudian huruf Ta diidgamkan kepada huruf Sin, sehingga jadilah Yassamma’uuna (Dan mereka dilempari) yakni setan-setan itu dengan meteor-meteor (dari segala penjuru) langit.

دُحُورًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ وَاصِبٌ

duḥụraw wa lahum ‘ażābuw wāṣib

9. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal,

(Untuk mengusir mereka) lafal Duhuuran bentuk Mashdar dari lafal Daharahu, artinya dia mengusir mereka dan menjauhkan mereka, juga menjadi Maf’ul Lah (dan bagi mereka) di akhirat kelak (azab yang kekal) yang abadi.

إِلَّا مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌ

illā man khaṭifal-khaṭfata fa atba’ahụ syihābun ṡāqib

10. akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang.

(Terkecuali setan yang mencuri-curi -pembicaraan malaikat- dengan sekali curi) lafal Al-Khathfah adalah Mashdar Marrah dan yang diistitsnakan atau yang dikecualikan adalah dhamir yang terkandung di dalam lafal Laa Yasma’uuna. Maksudnya, tiada yang dapat mendengarkan pembicaraan para malaikat kecuali hanya setan yang dapat mencuri-curinya dengan cepat (maka ia dikejar oleh meteor) yakni bintang yang bercahaya (yang melubanginya) yang menembus tubuh setan-setan itu, atau membakarnya, atau membuatnya cacat.

فَاسْتَفْتِهِمْ أَهُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمْ مَنْ خَلَقْنَا ۚ إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِنْ طِينٍ لَازِبٍ

fastaftihim a hum asyaddu khalqan am man khalaqnā, innā khalaqnāhum min ṭīnil lāzib

11. Maka tanyakanlah kepada mereka (musyrik Mekah): “Apakah mereka yang lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?” Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat.

(Maka tanyakanlah kepada mereka) kepada orang-orang kafir Mekah, kalimat ayat ini mengandung makna Taqrir atau Taubikh, yakni mengandung nada menetapkan atau celaan, (“Apakah mereka yang lebih kukuh kejadiannya ataukah yang telah Kami ciptakan itu?”) yakni para malaikat, langit, bumi dan semua apa yang ada di antara keduanya. Didatangkannya lafal Man mengandung pengertian memprioritaskan makhluk yang berakal. (Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka) asal mereka, yaitu Nabi Adam (dan tanah liat) tanah yang melekat di tangan bilamana dipegang. Maksudnya, kejadian mereka adalah dari sesuatu yang lemah, karena itu janganlah mereka bersikap takabur dan sombong, yakni mengingkari Nabi saw. dan Alquran, yang hal ini dengan mudah dapat mengakibatkan mereka terjerumus ke dalam jurang kebinasaan.

بَلْ عَجِبْتَ وَيَسْخَرُونَ

bal ‘ajibta wa yaskharụn

12. Bahkan kamu menjadi heran (terhadap keingkaran mereka) dan mereka menghinakan kamu.

(Bahkan) lafal Bal di sini menunjukkan arti Intiqal, yakni perpindahan dari suatu topik pembicaraan kepada pembicaraan yang lain, yaitu pembahasan mengenai keadaan Nabi Muhammad dan orang-orang kafir Mekah (kamu heran) pembicaraan ayat ini ditujukan kepada Nabi saw. yakni kamu heran akan keingkaran mereka terhadapmu (dan) mereka (menghinakan kamu) karena keherananmu itu.

وَإِذَا ذُكِّرُوا لَا يَذْكُرُونَ

wa iżā żukkirụ lā yażkurụn

13. Dan apabila mereka diberi pelajaran mereka tiada mengingatnya.

(Dan apabila mereka diberi pelajaran) maksudnya, dinasihati dengan ayat-ayat Alquran (mereka tiada mengingatinya) mereka tidak menjadikannya sebagai pelajaran.

وَإِذَا رَأَوْا آيَةً يَسْتَسْخِرُونَ

wa iżā ra`au āyatay yastaskhirụn

14. Dan apabila mereka melihat sesuatu tanda kebesaran Allah, mereka sangat menghinakan.

(Dan apabila mereka melihat sesuatu tanda kebesaran Allah) seperti terbelahnya bulan (mereka sangat menghinakan) mereka menghina dan mengejeknya.

وَقَالُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ

wa qālū in hāżā illā siḥrum mubīn

15. Dan mereka berkata “Ini tiada lain hanyalah sihir yang nyata.

(Dan mereka berkata) sehubungan dengan adanya tanda kebesaran Allah itu, (“Tiada lain) tidak lain (ini hanyalah sihir yang nyata”) jelas sihirnya. Kemudian mereka berkata seraya mengingkari adanya hari berbangkit:

أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ

a iżā mitnā wa kunnā turābaw wa ‘iẓāman a innā lamab’ụṡụn

16. Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang belulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan (kembali)?

(Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang-belulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan?) lafal A-idzaa dan A-innaa dapat pula dibaca Tas-hil, sehingga bacaannya menjadi Ayidzaa dan Ayinnaa.

أَوَآبَاؤُنَا الْأَوَّلُونَ

a wa ābā`unal-awwalụn

17. Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (akan dibangkitkan pula)”?

(Dan apakah bapak-bapak kami yang telah dahulu) kalau dibaca Au berarti huruf ‘Athaf, jika dibaca Awa, berarti huruf Istifham, Wawu-nya adalah huruf ‘Athaf, sedangkan Ma’thuf ‘Alaihnya adalah Inna dan Isimnya secara Mahall, atau di’athafkan kepada Dhamir yang terkandung di dalam lafal Lamab’uutsuuna, Hamzah Istifham sebagai pemisahnya. Maksudnya, apakah bapak-bapak kami yang telah dahulu akan dibangkitkan pula?

قُلْ نَعَمْ وَأَنْتُمْ دَاخِرُونَ

qul na’am wa antum dākhirụn

18. Katakanlah: “Ya, dan kamu akan terhina”

(Katakanlah kepada mereka, “Ya) mereka pasti dibangkitkan hidup kembali (dan kalian akan terhina”) kalian akan menjadi orang-orang yang terhina karenanya.

فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ فَإِذَا هُمْ يَنْظُرُونَ

fa innamā hiya zajratuw wāḥidatun fa iżā hum yanẓurụn

19. Maka sesungguhnya kebangkitan itu hanya dengan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka meIihatnya.

(Maka sesungguhnya kebangkitan itu hanyalah dengan) dhamir pada ayat ini bersifat Mubham, kurang jelas, lalu ditafsirkan oleh ayat selanjutnya (suatu teriakan) atau satu hardikan saja (maka tiba-tiba mereka) yakni makhluk semuanya, menjadi hidup kembali seraya (melihat) apa yang dilakukan terhadap diri mereka.

وَقَالُوا يَا وَيْلَنَا هَٰذَا يَوْمُ الدِّينِ

wa qālụ yā wailanā hāżā yaumud-dīn

20. Dan mereka berkata: “Aduhai celakalah kita!” Inilah hari pembalasan.

(Dan mereka berkata) yakni orang-orang kafir, (“Aduhai!) lafal Ya di sini menunjukkan makna Tanbih (celakalah kita”) binasalah kita. Lafal Al-Wail merupakan bentuk Mashdar yang tidak mempunyai kata kerja dari lafalnya sendiri. Kemudian para malaikat berkata kepada orang-orang kafir itu. (Inilah hari pembalasan) hari penghisaban amal perbuatan dan pembalasannya.

هَٰذَا يَوْمُ الْفَصْلِ الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ

hāżā yaumul-faṣlillażī kuntum bihī tukażżibụn

21. Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendustakannya.

(Inilah hari keputusan) di antara para makhluk semuanya (yang kalian selalu mendustakannya.)

۞ احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ

uḥsyurullażīna ẓalamụ wa azwājahum wa mā kānụ ya’budụn

22. (kepada malaikat diperintahkan): “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah,

Kemudian diperintahkan kepada para malaikat itu, (“Kumpulkanlah orang-rang yang zalim) yaitu orang-orang yang berbuat aniaya terhadap diri mereka sendiri karena mereka telah berbuat kemusyrikan (beserta teman sejawat mereka) teman-teman karib mereka, yaitu setan-setan (dan sesembahan-sesembahan yang selalu mereka sembah.)

مِنْ دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ

min dụnillāhi fahdụhum ilā ṣirāṭil-jaḥīm

23. selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.

(Selain Allah) yaitu berhala-berhala (maka tunjukkanlah kepada mereka) dan giringlah mereka (ke jalan jahim) atau jalan ke neraka.

وَقِفُوهُمْ ۖ إِنَّهُمْ مَسْئُولُونَ

waqifụhum innahum mas`ụlụn

24. Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya:

(Dan tahanlah mereka) di tempat perhentian atau Ash-Shirat (karena sesungguhnya mereka akan ditanya”) mengenai semua perkataan dan perbuatan mereka.

مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ

mā lakum lā tanāṣarụn

25. “Kenapa kamu tidak tolong menolong?”

Dikatakan kepada mereka dengan nada yang mengandung penghinaan dan cemoohan, (“Kenapa kalian tidak tolongmenolong”) maksudnya mengapa sebagian di antara kalian tidak menolong kepada sebagian yang lain sebagaimana keadaan kalian waktu di dunia? Dan dikatakan pula kepada mereka:

بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ

bal humul-yauma mustaslimụn

26. Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri.

(“Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri) atau mereka itu tunduk dalam keadaan penuh kehinaan.

وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ

wa aqbala ba’ḍuhum ‘alā ba’ḍiy yatasā`alụn

27. Sebahagian dan mereka menghadap kepada sebahagian yang lain berbantah-bantahan.

(Sebagian dari mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan”) saling cela-mencela dan saling bantah-membantah.

قَالُوا إِنَّكُمْ كُنْتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ الْيَمِينِ

qālū innakum kuntum ta`tụnanā ‘anil-yamīn

28. Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka): “Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dan kanan.

(Mereka berkata) yaitu sebagian dari pengikut-pengikut mereka berkata kepada para pemimpin mereka, (“Sesungguhnya kalianlah yang datang kepada kami dari kanan”) maksudnya, dari segi yang kami merasa percaya kepada kalian karena kalian telah bersumpah kepada kami, bahwa kalian adalah orang-orang yang benar, karenanya kami percaya kepada kalian, dan kami mengikuti kalian. Maksudnya sesungguhnya kalian telah menyesatkan kami.

قَالُوا بَلْ لَمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

qālụ bal lam takụnụ mu`minīn

29. Pemimpin-pemimpin mereka menjawab: “Sebenarnya kamulah yang tidak beriman”.

وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ ۖ بَلْ كُنْتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ

wa mā kāna lanā ‘alaikum min sulṭān, bal kuntum qauman ṭāgīn

30. Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas.

فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَا ۖ إِنَّا لَذَائِقُونَ

fa ḥaqqa ‘alainā qaulu rabbinā innā lażā`iqụn

31. Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa atas kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu).

(Maka pastilah) atau tetaplah (atas kita) semua (putusan Rabb kita) yakni azab-Nya, yaitu sebagaimana yang telah diungkapkan-Nya pada ayat yang lain, “Sesungguhnya Aku akan penuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia bersamasama.” (Q.S. As-Sajdah, 13). (sesungguhnya kita) semua (akan merasakan) azab dengan adanya keputusan itu, yang akhirnya membuat mereka berkata:

فَأَغْوَيْنَاكُمْ إِنَّا كُنَّا غَاوِينَ

fa agwainākum innā kunnā gāwīn

32. Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat.

(Maka kami telah menyesatkan kalian) sebagai penjelasan dari perkataan mereka yang disitir oleh firman-Nya (sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat.)

فَإِنَّهُمْ يَوْمَئِذٍ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ

fa innahum yauma`iżin fil-‘ażābi musytarikụn

33. Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab.

Allah swt. berfirman, (Maka sesungguhnya mereka pada hari itu) pada hari kiamat (bersama-sama dalam azab) karena mereka bersekutu dalam kesesatan.

إِنَّا كَذَٰلِكَ نَفْعَلُ بِالْمُجْرِمِينَ

innā każālika naf’alu bil-mujrimīn

34. Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat.

(Sesungguhnya demikianlah) artinya, sebagaimana Kami memperlakukan mereka (Kami berbuat terhadap orang-orang yang jahat) selain mereka. Yakni Kami pasti akan mengazab orang yang sesat beserta pengikut-pengikutnya.

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ

innahum kānū iżā qīla lahum lā ilāha illallāhu yastakbirụn

35. Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri,

(Sesungguhnya mereka) yaitu orang-orang tersebut; dialamatkan kepada mereka karena berdasarkan penjelasan selanjutnya yaitu (dahulu apabila dikatakan kepada mereka, “Laa Ilaaha Illallaah”) Tiada Tuhan melainkan Allah, (mereka menyombongkan diri.)

وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

wa yaqụlụna a innā latārikū ālihatinā lisyā’irim majnụn

36. dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?”

(Dan mereka berkata, “Apakah sesungguhnya kami) lafal A-innaa dapat pula dibaca Ayinnaa (harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?”) yakni demi karena Muhammad.

بَلْ جَاءَ بِالْحَقِّ وَصَدَّقَ الْمُرْسَلِينَ

bal jā`a bil-ḥaqqi wa ṣaddaqal-mursalīn

37. Sebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul (sebelumnya).

Allah swt. berfirman: (Sebenarnya dia Muhammad telah datang membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul) yang juga datang membawa kebenaran, yaitu kalimat Laa Ilaaha Illallaah/tidak ada Tuhan selain Allah.

إِنَّكُمْ لَذَائِقُو الْعَذَابِ الْأَلِيمِ

innakum lażā`iqul-‘ażābil-alīm

38. Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih.

(Sesungguhnya kalian) di dalam ungkapan ini terkandung Iltifat karena seharusnya Innahum (pasti akan merasakan azab yang pedih.)

وَمَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

wa mā tujzauna illā mā kuntum ta’malụn

39. Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan,

(Dan kalian tidak diberi pembalasan melainkan) pembalasan (apa yang telah kalian kerjakan.)

إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ

illā ‘ibādallāhil-mukhlaṣīn

40. tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa).

(Tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan) yakni hamba-hamba Allah yang beriman, Istitsna di sini bersifat Munqathi’, dan pembalasannya disebutkan pada firman selanjutnya, yaitu:

أُولَٰئِكَ لَهُمْ رِزْقٌ مَعْلُومٌ

ulā`ika lahum rizqum ma’lụm

41. Mereka itu memperoleh rezeki yang tertentu,

(Mereka itu memperoleh) di dalam surga (rezeki yang tertentu) setiap pagi dan sorenya.

فَوَاكِهُ ۖ وَهُمْ مُكْرَمُونَ

fawākih, wa hum mukramụn

42. yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan,

(Yaitu buah-buahan) menjadi Badal atau ‘Athaf Bayan dari lafal Rizqun; yaitu bermacam-macam rezeki yang dimakan hanya untuk dinikmati, bukan untuk memelihara kesehatan, karena penduduk surga tidak perlu lagi memelihara kesehatan sebab mereka telah diciptakan untuk hidup abadi dan sehat selama-lamanya. (Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan) dengan pahala yang berlimpah dari Allah swt.

فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ

fī jannātin na’īm

43. di dalam surga-surga yang penuh nikmat.

(Di dalam surga-surga yang penuh nikmat.)

عَلَىٰ سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ

‘alā sururim mutaqābilīn

44. di atas takhta-takhta kebesaran berhadap-hadapan.

(Di atas takhta-takhta kebesaran berhadap-hadapan) artinya, sebagian dari mereka duduk menghadap kepada sebagian yang lain, sehingga sebagian dari mereka tidak melihat tengkuk sebagian yang lainnya.

يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِكَأْسٍ مِنْ مَعِينٍ

yuṭāfu ‘alaihim bika`sim mim ma’īn

45. Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir.

(Diedarkan kepada mereka) maksudnya, kepada masing-masing di antara mereka diedarkan (gelas) yaitu tempat untuk minum berikut minumannya (yang berisikan khamar dari sungai khamar) yang mengalir bagaikan sungai di bumi.

بَيْضَاءَ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ

baiḍā`a lażżatil lisy-syāribīn

46. (Warnanya) putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum.

(Warnanya putih) lebih putih daripada air susu (sedap rasanya) sangat lezat rasanya (bagi orang-orang yang minum) berbeda dengan khamar di dunia yang apabila diminum rasanya tidak enak.

لَا فِيهَا غَوْلٌ وَلَا هُمْ عَنْهَا يُنْزَفُونَ

lā fīhā gauluw wa lā hum ‘an-hā yunzafụn

47. Tidak ada dalam khamar itu alkohol dan mereka tiada mabuk karenanya.

(Tidak ada di dalam khamar itu alkohol) yakni zat yang membuat akal mereka mabuk (dan mereka tiada mabuk karenanya) dapat dibaca Yunzafuuna atau yanzifuuna, yang berasal dari kalimat, Nazafasy Syaaribu, dan Anzafa, artinya memabukkan; maksudnya khamar surga itu tidak memabukkan berbeda halnya dengan khamar di dunia.

وَعِنْدَهُمْ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ عِينٌ

wa ‘indahum qāṣirātuṭ-ṭarfi ‘īn

48. Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya,

(Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya) yaitu bidadari-bidadari yang selalu menundukkan pandangan matanya, atau dengan kata lain mereka hanya memandang suami-suami mereka saja dan tidak memandang orang lain, karena menurut mereka suami-suami mereka adalah orang-orang yang paling cakap (dan jelita matanya) artinya mata bidadari-bidadari itu sangat jelita.

كَأَنَّهُنَّ بَيْضٌ مَكْنُونٌ

ka`annahunna baiḍum maknụn

49. seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik.

(Seakan-akan mereka) yakni warna kulit mereka (adalah telur) burung unta (yang tersimpan dengan baik) bagaikan telur burung unta yang terlindungi oleh bulu induknya, sehingga tidak ada suatu debu pun yang menempel padanya, demikian pula warnanya, putih kekuning-kuningan, warna kulit seperti itu adalah warna kulit wanita yang paling cantik.

فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ

fa aqbala ba’ḍuhum ‘alā ba’ḍiy yatasā`alụn

50. Lalu sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain sambil bercakap-cakap.

(Lalu sebagian mereka menghadap) yakni sebagian penduduk surga (kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap) mengenai apa yang telah mereka lakukan di dunia.

قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ

qāla qā`ilum min-hum innī kāna lī qarīn

51. Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman,

(Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Sesungguhnya aku dahulu di dunia mempunyai seorang teman) yakni teman yang ingkar kepada adanya hari berbangkit.

يَقُولُ أَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِينَ

yaqụlu a innaka laminal-muṣaddiqīn

52. yang berkata: “Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit)?

(Yang berkata,) kepadaku dengan nada yang mengejek, (‘Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan) adanya hari berbangkit?

أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَدِينُونَ

a iżā mitnā wa kunnā turābaw wa ‘iẓāman a innā lamadīnụn

53. Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?”

(Apakah apabila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita) kedua huruf Hamzah pada ketiga tempat yang disebutkan di atas, yaitu A-innaka, A-idzaa dan A-innaa boleh dibaca Tahqiq dan boleh pula dibaca Tas-hil (benar-benar akan dibangkitkan untuk diberi pembalasan?’) maksudnya akan dibalas dan dihisab? Ia ternyata ingkar kepada hal tersebut.

قَالَ هَلْ أَنْتُمْ مُطَّلِعُونَ

qāla hal antum muṭṭali’ụn

54. Berkata pulalah ia: “Maukah kamu meninjau (temanku itu)?”

(Berkata pulalah ia) yaitu penghuni surga yang mengatakan demikian kepada temannya (‘Maukah kamu melihat keadaan temanku itu?'”) maksudnya bersama-sama untuk melihat apa yang dialami temannya di dalam neraka? Temannya menjawab, “Tidak mau.”

فَاطَّلَعَ فَرَآهُ فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ

faṭṭala’a fa ra`āhu fī sawā`il-jaḥīm

55. Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala.

(Maka ia meninjaunya) yakni orang yang mengatakan demikian itu dari sebagian jendela surga (lalu ia melihat temannya itu) yaitu temannya yang ingkar kepada adanya hari berbangkit itu (di tengah-tengah neraka menyala-nyala) berada di tengahtengah neraka Jahim.

قَالَ تَاللَّهِ إِنْ كِدْتَ لَتُرْدِينِ

qāla tallāhi ing kitta laturdīn

56. Ia berkata (pula): “Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku,

(Ia berkata pula) dengan nada mengejek, (“Demi Allah, sesungguhnya) lafal In di sini adalah bentuk Takhfif dari Inna (kamu benar-benar hampir) kamu hampir saja (mencelakakanku) membinasakan aku melalui penyesatanmu itu.

وَلَوْلَا نِعْمَةُ رَبِّي لَكُنْتُ مِنَ الْمُحْضَرِينَ

walau lā ni’matu rabbī lakuntu minal-muḥḍarīn

57. jikalau tidaklah karena nikmat Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).

(Jika tidak karena nikmat Rabbku) atas diriku yaitu berupa iman (pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret) bersamamu ke dalam neraka. Dan penduduk surga berkata,

أَفَمَا نَحْنُ بِمَيِّتِينَ

a fa mā naḥnu bimayyitīn

58. Maka apakah kita tidak akan mati?,

(Maka apakah kita tidak akan mati.)

إِلَّا مَوْتَتَنَا الْأُولَىٰ وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ

illā mautatanal-ụlā wa mā naḥnu bimu’ażżabīn

59. melainkan hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)?

(Melainkan hanya kematian kita yang pertama) yakni kematian kita di dunia (dan kita tidak akan disiksa di akhirat ini?”) Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna menetapkan kenikmatan yang mereka rasakan dan sebagai ungkapan rasa syukur mereka atas nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada diri mereka, yaitu mereka dijadikan hidup abadi dengan penuh kenikmatan dan tidak disiksa untuk selama-lamanya.

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

inna hāżā lahuwal-fauzul-‘aẓīm

60. Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar.

(Sesungguhnya ini) yakni apa yang Aku jelaskan mengenai keadaan penduduk surga (benar-benar kemenangan yang besar.)

لِمِثْلِ هَٰذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ

limiṡli hāżā falya’malil-‘āmilụn

61. Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja”

(Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang beramal) menurut suatu pendapat, bahwa perkataan ini ditujukan kepada mereka. Dan menurut pendapat yang lain disebutkan, bahwa merekalah yang mengatakan demikian.

أَذَٰلِكَ خَيْرٌ نُزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ

a żālika khairun nuzulan am syajaratuz-zaqqụm

62. (Makanan surga) itukah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum.

(Apakah yang demikian itu) hal-hal yang telah disebutkan bagi ahli surga itu (merupakan hidangan yang lebih baik) suguhan atau hidangan yang diperuntukkan menjamu tamu atau orang yang menginap (ataukah pohon zaqqum) yang disediakan buat ahli neraka; pohon zaqqum adalah pohon yang paling buruk dan sangat pahit rasanya, tempat asalnya adalah Tihamah. Allah menumbuhkan pohon itu di dalam neraka Jahim, sebagaimana yang akan diterangkan nanti.

إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِلظَّالِمِينَ

innā ja’alnāhā fitnatal liẓ-ẓālimīn

63. Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim.

(Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu) artinya ditumbuhkannya pohon tersebut di dalam neraka (sebagai fitnah bagi orang-orang yang lalim) yakni orang-orang kafir Mekah, karena mereka telah mengatakan, bahwa api itu membakar pohon, mana mungkin di dalam neraka dapat ditumbuhkan pohon.

إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ

innahā syajaratun takhruju fī aṣlil-jaḥīm

64. Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dan dasar neraka yang menyala.

(Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar neraka yang menyala) yakni dari dasar neraka Jahanam, dan ranting-rantingnya mencuat sampai ke relung-relungnya.

طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ

ṭal’uhā ka`annahụ ru`ụsusy-syayāṭīn

65. mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan.

(Mayangnya) diserupakan dengan mayang pohon kurma (seperti kepala setan-setan) maksudnya, seperti ular-ular yang sangat buruk dan menjijikkan tampangnya.

فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ

fa innahum la`ākilụna min-hā famāli`ụna min-hal buṭụn

66. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu.

(Maka sesungguhnya mereka) yakni orang-orang kafir (benar-benar memakan sebagian dari pohon itu) sekalipun rasanya sangat memuakkan, karena mereka dalam keadaan sangat lapar (maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu.)

ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِنْ حَمِيمٍ

ṡumma inna lahum ‘alaihā lasyaubam min ḥamīm

67. Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas.

(Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas) yang mereka minum, hingga bercampur di dalam perut mereka apa yang mereka makan dan apa yang mereka minum itu.

ثُمَّ إِنَّ مَرْجِعَهُمْ لَإِلَى الْجَحِيمِ

ṡumma inna marji’ahum la`ilal-jaḥīm

68. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke neraka Jahim.

(Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke neraka Jahim) ayat ini memberikan pengertian, bahwa mereka keluar dahulu dari dalam neraka untuk meminum air hamim atau air yang sangat panas itu, dan bahwasanya air yang sangat panas itu adanya di luar neraka.

إِنَّهُمْ أَلْفَوْا آبَاءَهُمْ ضَالِّينَ

innahum alfau ābā`ahum ḍāllīn

69. Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam Keadaaan sesat.

(Karena sesungguhnya mereka mendapati) menemukan (bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat.)

فَهُمْ عَلَىٰ آثَارِهِمْ يُهْرَعُونَ

fa hum ‘alā āṡārihim yuhra’ụn

70. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu.

(Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu) atau terburu-buru mengikutinya, oleh karenanya mereka tergesa-gesa mengikuti kesesatan bapak-bapak mereka, tanpa berpikir lebih jauh lagi.

وَلَقَدْ ضَلَّ قَبْلَهُمْ أَكْثَرُ الْأَوَّلِينَ

wa laqad ḍalla qablahum akṡarul-awwalīn

71. Dan sesungguhnya telah sesat sebelum mereka (Quraisy) sebagian besar dari orang-orang yang dahulu,

(Dan sesungguhnya telah sesat sebelum mereka sebagian besar dari orang-orang yang dahulu) umat-umat yang terdahulu.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا فِيهِمْ مُنْذِرِينَ

wa laqad arsalnā fīhim munżirīn

72. dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan (rasul-rasul) di kalangan mereka.

(Dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan di kalangan mereka) yakni rasul-rasul yang memberi peringatan kepada mereka.

فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنْذَرِينَ

fanẓur kaifa kāna ‘āqibatul-munżarīn

73. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.

(Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu) yakni orang-orang kafir itu, kesudahan mereka mendapat azab.

إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ

illā ‘ibādallāhil-mukhlaṣīn

74. Tetapi hamba-hamba Allah yang bersihkan (dari dosa tidak akan diazab).

(Kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan -dari dosa-dosa-) yakni kaum mukminin, sesungguhnya mereka selamat dari azab, karena keikhlasan mereka dalam beribadah kepada Allah. Atau karena Allah telah membersihkan mereka dari dosadosanya, makna ini berdasar qiraat yang membacanya Mukhlashiina.

وَلَقَدْ نَادَانَا نُوحٌ فَلَنِعْمَ الْمُجِيبُونَ

wa laqad nādānā nụḥun fa lani’mal-mujībụn

75. Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami: maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami).

(Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami) melalui doanya, sebagaimana yang disitir oleh ayat lain, yaitu firman-Nya, “Sesungguhnya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).” (Q.S. Al-Qamar, 10). (maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan) doanya adalah Kami. Maksudnya, Nuh berdoa kepada Allah untuk dimenangkan atas kaumnya, lalu Allah binasakan mereka melalui banjir besar hingga mereka tenggelam semuanya.

وَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ

wa najjaināhu wa ahlahụ minal-karbil-‘aẓīm

76. Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar.

(Dan Kami telah menyelamatkannya beserta keluarganya dari bencana yang besar) yakni dari banjir yang besar itu.

وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ

wa ja’alnā żurriyyatahụ humul-bāqīn

77. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.

(Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan) dengan demikian maka manusia semuanya adalah anak cucu dari Nabi Nuh a.s. Nabi Nuh mempunyai tiga orang anak, yaitu Sam adalah bapak moyang bangsa Arab, bangsa Persia dan bangsa Romawi; Ham adalah bapak moyang bangsa yang berkulit hitam; Yafits adalah bapak moyang bangsa Turki, bangsa Khazr, Ya’juj dan Ma’juj dan lain-lainnya.

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ

wa taraknā ‘alaihi fil-ākhirīn

78. Dan Kami abadikan untuk Nuh itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian;

(Dan Kami abadikan) Kami lestarikan (untuk Nuh itu) pujian yang baik (di kalangan orang-orang yang datang kemudian) yakni para nabi dan semua umat manusia hingga hari kiamat.

سَلَامٌ عَلَىٰ نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ

salāmun ‘alā nụḥin fil-‘ālamīn

79. “Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam”.

(Kesejahteraan) dari Kami dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam.)

إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

innā każālika najzil-muḥsinīn

80. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

(Sesungguhnya demikianlah Kami,) artinya sebagaimana Kami memberikan balasan kepada mereka (Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.)

إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ

innahụ min ‘ibādinal-mu`minīn

81. Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman.

(Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman.)

ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَ

ṡumma agraqnal-ākharīn

82. Kemudian Kami tenggelamkan orang-orang yang lain.

(Kemudian Kami tenggelamkan orang-orang yang lain) yakni orang-orang kafir dari kaum Nabi Nuh.

۞ وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ لَإِبْرَاهِيمَ

wa inna min syī’atihī la`ibrāhīm

83. Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh).

(Dan sesungguhnya di antara golongan Nuh) yang mengikutinya dalam masalah pokok agama, yaitu masalah tauhid (adalah Ibrahim) sekalipun jarak zaman di antara keduanya sangat jauh, yaitu dua ribu enam ratus empat puluh tahun; dan adalah di antara keduanya terdapat Nabi Hud dan Nabi Saleh.

إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

iż jā`a rabbahụ biqalbin salīm

84. (lngatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci:

(Ingatlah ketika ia datang kepada Rabbnya) maksudnya, ia mengikuti-Nya sewaktu datang kepada kaumnya (dengan hati yang suci) dari keraguan dan hal-hal lainnya.

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَاذَا تَعْبُدُونَ

iż qāla li`abīhi wa qaumihī māżā ta’budụn

85. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah itu?

(Ingatlah ketika ia berkata) sedangkan ia dalam keadaan demikian, yakni bersih dari keraguan terhadap Rabbnya (kepada bapaknya dan kaumnya) dengan nada yang mencela. (“Apakah) yang (kalian sembah itu?)

أَئِفْكًا آلِهَةً دُونَ اللَّهِ تُرِيدُونَ

a ifkan āliḥatan dụnallāhi turīdụn

86. Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?

(Apakah dengan jalan berbohong) kedua huruf Hamzah pada ayat ini dapat dibaca Tahqiq atau Tas-hil (kalian menghendaki sesembahan-sesembahan selain Allah?) lafal Ifkan adalah Maf’ul Lah, dan lafal Aalihah adalah Maf’ul Bih bagi lafal Turiduuna. Al-Ifku artinya dusta yang paling buruk; makna yang dimaksud adalah, apakah kalian menyembah selain Allah?

فَمَا ظَنُّكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ

fa mā ẓannukum birabbil-‘ālamīn

87. Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?”

(Maka apakah anggapanmu terhadap Rabb semesta alam?”) jika kalian menyembah selain-Nya; apakah kalian menganggap bahwa Dia akan membiarkan kalian tanpa mengazab kalian? Tentu saja tidak, Dia pasti mengazab kalian. Mereka adalah orang-orang ahli perbintangan. Lalu mereka keluar pada hari raya mereka dan meletakkan makanan mereka di depan latar berhala-berhala mereka, mereka menduga bahwa hal itu dapat membawa berkah pada makanan mereka. Apabila mereka kembali, maka mereka memakan makanan tersebut. Mereka mengatakan kepada Nabi Ibrahim, “Marilah kita keluar.”

فَنَظَرَ نَظْرَةً فِي النُّجُومِ

fa naẓara naẓratan fin-nujụm

88. Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang.

(Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang) untuk mengelabui mereka, bahwasanya dia percaya kepada bintang-bintang itu, supaya mereka tidak menaruh rasa curiga terhadap dirinya.

فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٌ

fa qāla innī saqīm

89. Kemudian ia berkata: “Sesungguhnya aku sakit”.

(Kemudian ia berkata, “Sesungguhnya aku sakit”) maksudnya, aku akan mengalami sakit.

فَتَوَلَّوْا عَنْهُ مُدْبِرِينَ

fa tawallau ‘an-hu mudbirīn

90. Lalu mereka berpaling daripadanya dengan membelakang.

(Lalu mereka berpaling daripadanya) menuju ke tempat perayaan mereka (dengan membelakangi)

فَرَاغَ إِلَىٰ آلِهَتِهِمْ فَقَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ

fa rāga ilā ālihatihim fa qāla alā ta`kulụn

91. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata: “Apakah kamu tidak makan?

(Kemudian ia pergi dengan diam-diam) atau Nabi Ibrahim berangkat dengan diam-diam menuju (kepada berhala-berhala mereka) yang pada saat itu di hadapannya terdapat banyak hidangan makanan (lalu ia berkata) dengan nada yang sinis ditujukan kepada berhala-berhala mereka itu, (“Apakah kalian tidak makan?”) tetapi berhala-berhala itu diam saja.

مَا لَكُمْ لَا تَنْطِقُونَ

mā lakum lā tanṭiqụn

92. Kenapa kamu tidak menjawab?”

Maka Ibrahim berkata, (“Kenapa kalian tidak menjawab?”) ternyata berhala-berhala itu tidak juga menjawab.

فَرَاغَ عَلَيْهِمْ ضَرْبًا بِالْيَمِينِ

fa rāga ‘alaihim ḍarbam bil-yamīn

93. Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat).

(Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya) artinya, dengan sekuat-kuatnya hingga berhala-berhala itu pecah berantakan. Berita penghancuran berhala-berhala itu sampai kepada kaumnya melalui orang- orang yang melihat Nabi Ibrahim sedang menghancurkannya.

فَأَقْبَلُوا إِلَيْهِ يَزِفُّونَ

fa aqbalū ilaihi yaziffụn

94. Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas.

(Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas) mereka berjalan dengan terburu-buru, lalu mereka berkata kepada Nabi Ibrahim, “Kami menyembahnya sedangkan kamu memecahkannya.”

قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ

qāla a ta’budụna mā tan-ḥitụn

95. Ibrahim berkata: “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu?

(Ibrahim berkata) kepada mereka dengan nada sinis, (“Apakah kalian menyembah patung-patung yang kalian pahat itu?) dari batu dan dari bahan-bahan lainnya sebagai berhala-berhala yang kalian sembah.

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

wallāhu khalaqakum wa mā ta’malụn

96. Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”.

(Padahal Allahlah yang telah menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat itu”) yakni tentang apa yang kalian pahat dan hasil pahatan kalian itu, karenanya sembahlah Dia dan esakanlah Dia. Huruf Maa di sini menurut suatu pendapat adalah Maa Mashdariyah, menurut pendapat lainnya adalah Maa Maushulah, dan menurut pendapat lainnya lagi adalah Maa Maushufah.

قَالُوا ابْنُوا لَهُ بُنْيَانًا فَأَلْقُوهُ فِي الْجَحِيمِ

qālubnụ lahụ bun-yānan fa alqụhu fil-jaḥīm

97. Mereka berkata: “Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu”.

(Mereka berkata) di antara sesama mereka (“Dirikanlah suatu bangunan untuknya) lalu kumpulkanlah kayu-kayu bakar di bawahnya, dan nyalakanlah api padanya, maka apabila ia telah menyala (lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu”) yakni ke dalam api yang telah membesar nyalanya itu.

فَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَسْفَلِينَ

fa arādụ bihī kaidan fa ja’alnāhumul-asfalīn

98. Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina.

(Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya) dengan melemparkannya ke dalam api yang menyala-nyala untuk membinasakannya (maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina) orang-orang yang dikalahkan; karena ternyata Nabi Ibrahim keluar dari dalam api itu dalam keadaan selamat tidak apa-apa.

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي سَيَهْدِينِ

wa qāla innī żāhibun ilā rabbī sayahdīn

99. Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.

(Dan Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku) artinya berhijrah demi karena-Nya meninggalkan negeri orang-orang kafir (dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku) ke tempat yang aku diperintahkan-Nya berangkat ke sana, yaitu negeri Syam. Tatkala ia sampai di tanah suci yaitu Baitulmakdis, berkatalah ia dalam doanya,

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

rabbi hab lī minaṣ-ṣāliḥīn

100. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.

(‘Ya Rabbku! Anugerahkanlah kepadaku) seorang anak (yang termasuk orang-orang yang saleh.’)

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

fa basysyarnāhu bigulāmin ḥalīm

101. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.

(Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar) yakni yang banyak memiliki kesabaran.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

fa lammā balaga ma’ahus-sa’ya qāla yā bunayya innī arā fil-manāmi annī ażbaḥuka fanẓur māżā tarā, qāla yā abatif’al mā tu`maru satajidunī in syā`allāhu minaṣ-ṣābirīn

102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

(Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim) yaitu telah mencapai usia sehingga dapat membantunya bekerja; menurut suatu pendapat bahwa umur anak itu telah mencapai tujuh tahun. Menurut pendapat yang lain bahwa pada saat itu anak Nabi Ibrahim berusia tiga belas tahun (Ibrahim berkata, “Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat) maksudnya, telah melihat (dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu!) mimpi para nabi adalah mimpi yang benar, dan semua pekerjaan mereka berdasarkan perintah dari Allah swt. (maka pikirkanlah apa pendapatmu!”) tentang impianku itu; Nabi Ibrahim bermusyawarah dengannya supaya ia menurut, mau disembelih, dan taat kepada perintah-Nya. (Ia menjawab, “Hai bapakku) huruf Ta pada lafal Abati ini merupakan pergantian dari Ya Idhafah (kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu) untuk melakukannya (Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”) menghadapi hal tersebut.

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ

fa lammā aslamā wa tallahụ lil-jabīn

103. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).

(Tatkala keduanya telah berserah diri) artinya, tunduk dan patuh kepada perintah Allah swt. (dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya) Nabi Ismail dibaringkan pada salah satu pelipisnya; setiap manusia memiliki dua pelipis dan di antara keduanya terdapat jidat. Kejadian ini di Mina; kemudian Nabi Ibrahim menggorokkan pisau besarnya ke leher Nabi Ismail, akan tetapi berkat kekuasaan Allah pisau itu tidak mempan sedikit pun.

وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ

wa nādaināhu ay yā ibrāhīm

104. Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,

(Dan Kami panggil dia, “Hai Ibrahim!)

قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

qad ṣaddaqtar-ru`yā, innā każālika najzil-muḥsinīn

105. sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

(Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpimu itu”) melalui apa yang telah kamu kerjakan, yaitu melaksanakan penyembelihan yang diperintahkan itu atau dengan kata lain, cukuplah bagimu hal itu. Jumlah kalimat Naadainaahu merupakan jawab dari lafal Lammaa, hanya ditambahi Wau (sesungguhnya demikianlah) maksudnya, sebagaimana Kami memberikan pahala kepadamu (Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik) terhadap diri mereka sendiri dengan melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka, yaitu Kami akan melepaskan mereka dari kesulitan.

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ

inna hāżā lahuwal-balā`ul mubīn

106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.

(Sesungguhnya ini) penyembelihan yang diperintahkan ini (benar-benar suatu ujian yang nyata) atau cobaan yang jelas.

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

wa fadaināhu biżib-ḥin ‘aẓīm

107. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

(Dan Kami tebus anak itu) maksudnya, anak yang diperintahkan untuk disembelih (Nabi Ismail). Menurut suatu pendapat bahwa anak yang disembelih itu adalah Nabi Ishak (dengan seekor sembelihan) yakni dengan domba (yang besar) dari surga, yaitu domba yang sama dengan domba yang dijadikan kurban oleh Habil. Domba itu dibawa oleh malaikat Jibril, lalu Nabi Ibrahim menyembelihnya seraya membaca takbir.

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ

wa taraknā ‘alaihi fil-ākhirīn

108. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,

(Kami abadikan) Kami lestarikan (untuk Ibrahim itu di kalangan orang-orang yang datang kemudian) pujian yang baik.

سَلَامٌ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

salāmun ‘alā ibrāhīm

109. (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.

(“Kesejahteraan) dari Kami (dilimpahkan atas Ibrahim.”)

كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

każālika najzil-muḥsinīn

110. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

(Demikianlah) sebagaimana Kami memberikan imbalan pahala kepada Ibrahim (kami memberi balasan kepada orangorang yang berbuat baik) terhadap diri mereka sendiri.

إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ

innahụ min ‘ibādinal-mu`minīn

111. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

(Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.)

وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ

wa basysyarnāhu bi`is-ḥāqa nabiyyam minaṣ-ṣāliḥīn

112. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.

(Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishak) dengan adanya ayat ini dapat disimpulkan, bahwa anak yang disembelih itu bukanlah Nabi Ishak tetapi anak Nabi Ibrahim yang lainnya, yaitu Nabi Ismail (seorang nabi) menjadi Hal dari lafal yang diperkirakan keberadaannya, artinya kelak ia akan menjadi seorang nabi (yang termasuk orang-orang yang saleh.)

وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَىٰ إِسْحَاقَ ۚ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ

wa bāraknā ‘alaihi wa ‘alā is-ḥāq, wa min żurriyyatihimā muḥsinuw wa ẓālimul linafsihī mubīn

113. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.

(Kami limpahkan keberkatan atasnya) dengan diperbanyak anak cucunya (dan atas Ishak) anak Nabi Ibrahim, yaitu Kami menjadikan kebanyakan para nabi dari keturunannya. (Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik) maksudnya, yang beriman (dan ada pula yang lalim terhadap dirinya sendiri) yang kafir (dengan nyata) nyata kekafirannya.

وَلَقَدْ مَنَنَّا عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَارُونَ

wa laqad manannā ‘alā mụsā wa hārụn

114. Dan sesungguhnya Kami telah melimpahkan nikmat atas Musa dan Harun.

(Dan sesungguhnya Kami telah melimpahkan nikmat atas Musa dan Harun) yakni nikmat kenabian.

وَنَجَّيْنَاهُمَا وَقَوْمَهُمَا مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ

wa najjaināhumā wa qaumahumā minal-karbil-‘aẓīm

115. Dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang besar.

(Dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya) yaitu kaum Bani Israel (dari bencana yang besar) dari perbudakan Firaun atas mereka.

وَنَصَرْنَاهُمْ فَكَانُوا هُمُ الْغَالِبِينَ

wa naṣarnāhum fa kānụ humul-gālibīn

116. Dan Kami tolong mereka, maka jadilah mereka orang-orang yang menang.

(Dan Kami tolong mereka) dari cengkeraman bangsa Koptik (maka jadilah mereka orang-orang yang menang.)

وَآتَيْنَاهُمَا الْكِتَابَ الْمُسْتَبِينَ

wa ātaināhumal-kitābal-mustabīn

117. Dan Kami berikan kepada keduanya kitab yang sangat jelas.

(Dan Kami berikan kepada keduanya kitab yang sangat jelas) yang di dalamnya terkandung hukum-hukum dan batasanbatasan serta hal-hal lainnya, yang kesemuanya itu diterangkan dengan jelas dan gamblang di dalamnya; Kitab yang dimaksud adalah Kitab Taurat.

وَهَدَيْنَاهُمَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

wa hadaināhumaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm

118. Dan Kami tunjuki keduanya ke jalan yang lurus.

(Dan kami tunjuki keduanya ke jalan) yakni kepada tuntunan (yang lurus.)

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِمَا فِي الْآخِرِينَ

wa taraknā ‘alaihimā fil-ākhirīn

119. Dan Kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian;

(Dan Kami abadikan) Kami lestarikan (untuk keduanya di kalangan orang-orang yang datang kemudian) pujian yang baik.

سَلَامٌ عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَارُونَ

salāmun ‘alā mụsā wa hārụn

120. (yaitu): “Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun”.

(Yaitu “Kesejahteraan) dari Kami (dilimpahkan atas Musa dan Harun”.’)

إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

innā każālika najzil-muḥsinīn

121. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

(Sesungguhnya demikianlah) maksudnya, sebagaimana Kami memberikan balasan pahala kepada keduanya (Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.)

إِنَّهُمَا مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ

innahumā min ‘ibādinal-mu`minīn

122. Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

(Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.)

وَإِنَّ إِلْيَاسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ

wa inna ilyāsa laminal-mursalīn

123. Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul-rasul.

(Dan sesungguhnya Ilyas) dapat dibaca Ilyaas atau Alyaas (benar-benar termasuk salah seorang rasul-rasul) menurut suatu pendapat bahwa Nabi Ilyas itu adalah anak saudara lelaki Nabi Harun dan Nabi Musa. Menurut pendapat yang lain bukan; ia diutus oleh Allah kepada kaum yang tinggal di kota Ba’albak dan sekitarnya.

إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَلَا تَتَّقُونَ

iż qāla liqaumihī alā tattaqụn

124. (ingatlah) ketika ia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu tidak bertakwa?

(Ingatlah ketika) lafal Idz di sini dinashabkan oleh lafal Udzkur yang diperkirakan keberadaannya (ia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kalian tidak bertakwa) kepada Allah?

أَتَدْعُونَ بَعْلًا وَتَذَرُونَ أَحْسَنَ الْخَالِقِينَ

a tad’ụna ba’law wa tażarụna aḥsanal-khāliqīn

125. Patutkah kamu menyembah Ba’l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta,

(Patutkah kalian menyembah Ba’l) Ba’l adalah nama berhala yang terbuat dari emas, dan dengan nama berhala itu pula negeri mereka diberi nama, lalu dimudhafkan kepada lafal Bik, sehingga jadilah Ba’alabak. Maksud ayat ini ialah mengapa kalian menyembahnya (dan kalian tinggalkan) artinya kalian tidak menyembah (sebaik-baik pencipta) yakni Allah; maksudnya mengapa kalian tidak menyembah Allah?

اللَّهَ رَبَّكُمْ وَرَبَّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ

allāha rabbakum wa rabba ābā`ikumul-awwalīn

126. (yaitu) Allah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu?”

(Yaitu Allah Rabb kalian dan Rabb bapak-bapak kalian yang terdahulu?”) kalau dibaca Allaahu Rabbukum Warabbu Aabaa-ikum, berarti sebelumnya diperkirakan adanya lafal Huwa. Kalau dibaca Allaaha Rabbakum warabba Aabaa-ikum berarti menjadi Badal dari lafal Ahsanal Khaaliqiina.

فَكَذَّبُوهُ فَإِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ

fa każżabụhu fa innahum lamuḥḍarụn

127. Maka mereka mendustakannya, karena itu mereka akan diseret (ke neraka),

(Maka mereka mendustakannya, karena itu mereka akan diseret) ke dalam neraka.

إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ

illā ‘ibādallāhil-mukhlaṣīn

128. kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa).

(Kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan dari dosa) yaitu hamba-hamba Allah yang beriman, mereka diselamatkan dari neraka.

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ

wa taraknā ‘alaihi fil-ākhirīn

129. Dan Kami abadikan untuk Ilyas (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.

(Dan Kami abadikan untuk Ilyas di kalangan orang-orang yang datang kemudian) pujian yang baik.

سَلَامٌ عَلَىٰ إِلْ يَاسِينَ

salāmun ‘alā ilyāsīn

130. (yaitu): “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas?”

(Yaitu “Kesejahteraan) dari Kami (dilimpahkan atas Ilyasin) yang dimaksud adalah Nabi Ilyas yang tadi, ia dinamakan demikian secara Taghlib, perihalnya sama dengan ucapan orang-orang Arab jika menamakan Muhallab dan kaumnya, mereka menamakannya Al-Muhallabuun. Dan menurut qiraat yang membacakannya menjadi Aali Yasiina dengan dipanjangkan harakat Hamzahnya, berarti keluarga Nabi Ilyas, dan makna yang dimaksud adalah Nabi Ilyas pula.

إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

innā każālika najzil-muḥsinīn

131. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

(Sesungguhnya demikianlah) sebagaimana Kami memberikan balasan pahala kepadanya (Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.)

إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ

innahụ min ‘ibādinal-mu`minīn

132. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

(Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.)

وَإِنَّ لُوطًا لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ

wa inna lụṭal laminal-mursalīn

133. Sesungguhnya Luth benar-benar salah seorang rasul.

(Dan sesungguhnya Luth benar-benar adalah seorang rasul.)

إِذْ نَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ أَجْمَعِينَ

iż najjaināhu wa ahlahū ajma’īn

134. (Ingatlah) ketika Kami selamatkan dia dan keluarganya (pengikut-pengikutnya) semua,

(Ingatlah ketika Kami selamatkan dia dan keluarganya pengikut-pengikutnya semua.)

إِلَّا عَجُوزًا فِي الْغَابِرِينَ

illā ‘ajụzan fil-gābirīn

135. kecuali seorang perempuan tua (isterinya yang berada) bersama-sama orang yang tinggal.

(Kecuali seorang perempuan tua istrinya yang berada bersama-sama orang yang ditinggal) orang-orang yang ditinggal tertimpa azab.

ثُمَّ دَمَّرْنَا الْآخَرِينَ

ṡumma dammarnal-ākharīn

136. Kemudian Kami binasakan orang-orang yang lain.

(Kemudian Kami binasakan) Kami hancurkan (orang-orang yang lain) yaitu orang-orang yang kafir dari kaumnya.

وَإِنَّكُمْ لَتَمُرُّونَ عَلَيْهِمْ مُصْبِحِينَ

wa innakum latamurrụna ‘alaihim muṣbiḥīn

137. Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Mekah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi,

(Dan sesungguhnya kalian hai penduduk Mekah benar-benar akan melalui mereka) melalui bekas-bekas dan tempattempat tinggal mereka bila kalian mengadakan perjalanan (di waktu pagi) maksudnya di waktu siang hari.

وَبِاللَّيْلِ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

wa bil-laīl, a fa lā ta’qilụn

138. dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?

(Dan di waktu malam hari. Maka apakah kalian tidak memikirkan?) hai penduduk Mekah, mengenai apa yang telah menimpa mereka berupa azab, oleh karena kalian lalu mengambil pelajaran darinya.

وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ

wa inna yụnusa laminal-mursalīn

139. Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul,

(Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul.)

إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ

iż abaqa ilal-fulkil-masy-ḥụn

140. (ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan,

(Ingatlah ketika ia lari) maksudnya, minggat (ke kapal yang penuh muatan) hal ini terjadi sewaktu ia bersitegang dengan kaumnya, karena ternyata azab yang diancamkan olehnya kepada kaumnya tidak turun-turun juga, akhirnya ia melarikan diri naik kapal. Dan kapal yang dinaikinya itu berhenti di tengah laut yang besar ombaknya. Juru mudi kapal mengatakan, bahwa di dalam kapal ini terdapat seorang hamba yang melarikan diri dari tuannya, hal ini akan tampak jelas melalui undian.

فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ

fa sāhama fa kāna minal-mud-ḥaḍīn

141. kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian.

(Kemudian ia ikut berundi) para penumpang kapal itu semuanya diundi (lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian itu) akibatnya ia dilemparkan ke laut.

فَالْتَقَمَهُ الْحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٌ

faltaqamahul-ḥụtu wa huwa mulīm

142. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela.

(Maka ia ditelan oleh ikan besar) ditelan bulat-bulat (dalam keadaan tercela) karena ia melakukan perbuatan yang tercela, yaitu pergi dengan memakai jalan laut kemudian naik kapal meninggalkan kaumnya, tanpa izin terlebih dahulu dari Rabbnya.

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ

falau lā annahụ kāna minal-musabbiḥīn

143. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah,

(Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang bertasbih) yakni selalu ingat kepada Allah, melalui zikirnya di dalam perut ikan seraya mengatakan, “Laa Ilaaha Illaa Anta Subhaanaka Innii Kuntu Minazh Zhaalimiina”, artinya, “Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang aniaya.”

لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

lalabiṡa fī baṭnihī ilā yaumi yub’aṡụn

144. niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.

(Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit) artinya, niscaya perut ikan besar itu akan menjadi kuburnya hingga hari kiamat nanti.

۞ فَنَبَذْنَاهُ بِالْعَرَاءِ وَهُوَ سَقِيمٌ

fa nabażnāhu bil-‘arā`i wa huwa saqīm

145. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit.

(Kemudian Kami lemparkan dia) Kami campakkan dia dari dalam perut ikan besar itu (ke daerah yang tandus) di permukaan bumi yang tandus, yakni ke tepi pantai pada hari itu juga, setelah tiga hari, tujuh hari, dua puluh hari atau setelah empat puluh hari sejak ia ditelan ikan besar itu (sedangkan ia dalam keadaan sakit) yakni kurus kering dan sakit bagaikan anak ayam yang terserang penyakit kok.

وَأَنْبَتْنَا عَلَيْهِ شَجَرَةً مِنْ يَقْطِينٍ

wa ambatnā ‘alaihi syajaratam miy yaqṭīn

146. Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu.

(Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu) pohon itu dapat menaunginya dengan batangnya, berbeda keadaannya dengan pohon labu yang biasanya. Hal ini merupakan suatu mukjizat baginya, setiap pagi dan petang datang kepadanya kambing hutan, ia meminum air susu dari teteknya hingga ia kuat kembali.

وَأَرْسَلْنَاهُ إِلَىٰ مِائَةِ أَلْفٍ أَوْ يَزِيدُونَ

wa arsalnāhu ilā mi`ati alfin au yazīdụn

147. Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih.

(Dan Kami utus dia) sesudah itu, sebagaimana status sebelumnya, kepada kaum Bunainawiy yang tinggal di daerah Maushul (kepada seratus ribu orang atau) bahkan (lebih dari itu) yakni lebih dua puluh atau tiga puluh atau tujuh puluh ribu orang.

فَآمَنُوا فَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ

fa āmanụ fa matta’nāhum ilā ḥīn

148. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.

(Lalu mereka beriman) sewaktu mereka menyaksikan azab yang telah dijanjikan kepada mereka (karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka) artinya, kami biarkan mereka menikmati harta yang ada pada mereka (hingga waktu yang tertentu) hingga ajal mereka datang.

فَاسْتَفْتِهِمْ أَلِرَبِّكَ الْبَنَاتُ وَلَهُمُ الْبَنُونَ

fastaftihim a lirabbikal-banātu wa lahumul-banụn

149. Tanyakanlah (ya Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekah): “Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki,

(Tanyakanlah kepada mereka) kepada orang-orang kafir Mekah; ungkapan ini dimaksud sebagai ejekan terhadap mereka, (“Apakah untuk Rabb kamu anak-anak perempuan) sesuai dengan dugaan mereka bahwa para malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah (dan untuk mereka anak laki-laki) mereka memilih yang lebih kuat dan yang lebih baik.

أَمْ خَلَقْنَا الْمَلَائِكَةَ إِنَاثًا وَهُمْ شَاهِدُونَ

am khalaqnal-malā`ikata ināṡaw wa hum syāhidụn

150. atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan(nya)?

(Atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikannya”) yakni mereka menyaksikan penciptaan Kami itu, yang karenanya mereka mengatakan demikian?

أَلَا إِنَّهُمْ مِنْ إِفْكِهِمْ لَيَقُولُونَ

alā innahum min ifkihim layaqụlụn

151. Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan:

(Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya) dengan kedustaan mereka itu (benar-benar mengatakan,)

وَلَدَ اللَّهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

waladallāhu wa innahum lakāżibụn

152. “Allah beranak”. Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.

(“Allah beranak”) melalui perkataan mereka yang menyatakan bahwa malaikat-malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah. (Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta) dalam hal ini.

أَصْطَفَى الْبَنَاتِ عَلَى الْبَنِينَ

aṣṭafal-banāti ‘alal-banīn

153. Apakah Tuhan memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki?

(Apakah Tuhan memilih) lafal Ashthafaa Hamzahnya adalah Hamzah Istifham yang berharakat Fatah, oleh karenanya Hamzah Washal tidak dibutuhkan lagi, sebab itu dibuang. Yakni apakah Allah mengutamakan (anak-anak perempuan daripada anak laki-laki?)

مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

mā lakum, kaifa taḥkumụn

154. Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana (caranya) kamu menetapkan?

(Apakah yang terjadi pada kalian? Bagaimanakah caranya kalian menetapkan?) kesimpulan yang rusak ini.

أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

a fa lā tażakkarụn

155. Maka apakah kamu tidak memikirkan?

(Maka apakah kalian tidak memikirkan?) bahwasanya Allah swt. itu Maha Tinggi lagi Maha Suci dari mempunyai anak?

أَمْ لَكُمْ سُلْطَانٌ مُبِينٌ

am lakum sulṭānum mubīn

156. Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata?

(Atau apakah kalian mempunyai bukti yang nyata?) artinya hujah yang jelas menyatakan bahwa Allah mempunyai anak.

فَأْتُوا بِكِتَابِكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

fa`tụ bikitābikum ing kuntum ṣādiqīn

157. Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar.

(Maka bawalah kitab kalian) kitab Taurat kalian, kemudian perlihatkanlah kepadaku mengenai hal itu di dalamnya (jika kalian memang orang-orang yang benar) di dalam perkataan dan dugaan kalian itu.

وَجَعَلُوا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجِنَّةِ نَسَبًا ۚ وَلَقَدْ عَلِمَتِ الْجِنَّةُ إِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ

wa ja’alụ bainahụ wa bainal-jinnati nasabā, wa laqad ‘alimatil-jinnatu innahum lamuḥḍarụn

158. Dan mereka adakan (hubungan) nasab antara Allah dan antara jin. Dan sesungguhnya jin mengetahui bahwa mereka benar-benar akan diseret (ke neraka),

(Dan mereka adakan) orang-orang musyrik itu (antara Dia) yakni Allah swt. (dan antara jin) yakni malaikat dinamakan AlJinnah karena mereka tidak dapat dilihat oleh mata (hubungan nasab) melalui perkataan mereka yang menyatakan bahwasanya malaikat-malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah. (Dan sesungguhnya jin mengetahui bahwa mereka) yakni orang-orang yang mengatakan demikian (benar-benar akan diseret) ke dalam neraka dan mereka akan diazab di dalamnya.

سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ

sub-ḥanallāhi ‘ammā yaṣifụn

159. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan,

(Maha Suci Allah) kalimat ini memahasucikan Dia (dari apa yang mereka sifatkan) yaitu bahwasanya Allah mempunyai anak.

إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ

illā ‘ibādallāhil-mukhlaṣīn

160. Kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan dari (dosa).

(Kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan dari dosa) yakni kecuali orang-orang yang beriman. Istitsna di sini adalah bersifat Munqathi’. Maksudnya bahwa mereka yang beriman itu memahasucikan Allah swt. dari apa yang telah disifatkan oleh mereka kepada-Nya.

فَإِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ

fa innakum wa mā ta’budụn

161. Maka sesungguhnya kamu dan apa-apa yang kamu sembah itu,

(Maka sesungguhnya kalian dan apa-apa yang kalian sembah itu) yakni berhala-berhala sesembahan-sesembahan kalian itu.

مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ بِفَاتِنِينَ

mā antum ‘alaihi bifātinīn

162. Sekali-kali tidak dapat menyesatkan (seseorang) terhadap Allah,

(Sekali-kali kalian dengannya tidak akan dapat) dengan melalui sesembahan kalian itu; lafal ‘Alaihi berta’alluq kepada firman selanjutnya, yaitu (menyesatkan) seorang pun.

إِلَّا مَنْ هُوَ صَالِ الْجَحِيمِ

illā man huwa ṣālil-jaḥīm

163. kecuali orang-orang yang akan masuk neraka yang menyala.

(Kecuali orang-orang yang akan masuk neraka yang menyala-nyala) menurut ilmu Allah swt.

وَمَا مِنَّا إِلَّا لَهُ مَقَامٌ مَعْلُومٌ

wa mā minnā illā lahụ maqāmum ma’lụm

164. Tiada seorangpun di antara kami (malaikat) melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu,

Malaikat Jibril berkata kepada Nabi saw., (“Tiada seorang pun di antara kami) para malaikat (melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu) di langit, di tempat itu ia beribadah kepada Allah dan tidak melampaui tempat atau kedudukan yang lain.

وَإِنَّا لَنَحْنُ الصَّافُّونَ

wa innā lanaḥnuṣ-ṣāffụn

165. dan sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf (dalam menunaikan perintah Allah).

(Dan sesungguhnya kami benar-benar bersaf-saf) artinya meluruskan telapak kaki kami dalam salat.

وَإِنَّا لَنَحْنُ الْمُسَبِّحُونَ

wa innā lanaḥnul-musabbiḥụn

166. Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih (kepada Allah).

(Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih.”) menyucikan Allah dari hal-hal yang tidak layak bagi-Nya.

وَإِنْ كَانُوا لَيَقُولُونَ

wa ing kānụ layaqụlụn

167. Sesungguhnya mereka benar-benar akan berkata:

(Sesungguhnya) lafal In di sini adalah bentuk Takhfif dari lafal Inna (mereka) yakni orang-orang kafir Mekah (akan berkata,)

لَوْ أَنَّ عِنْدَنَا ذِكْرًا مِنَ الْأَوَّلِينَ

lau anna ‘indanā żikram minal-awwalīn

168. “Kalau sekiranya di sksi kami ada sebuah kitab dari (kitab-kitab yang diturunkan) kepada orang-orang dahulu,

(“Kalau sekiranya di sisi kami ada sebuah peringatan) maksudnya, sebuah kitab (dari orang-orang yang dahulu) yakni dari kitab-kitab yang diturunkan kepada orang-orang yang dahulu.

لَكُنَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ

lakunnā ‘ibādallāhil-mukhlaṣīn

169. benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa)”.

(Benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang mukhlis”) maksudnya beribadah kepada-Nya semata.

فَكَفَرُوا بِهِ ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

fa kafarụ bih, fa saufa ya’lamụn

170. Tetapi mereka mengingkarinya (Al Quran); maka kelak mereka akan mengetahui (akibat keingkarannya itu).

Allah berfirman, (“Tetapi mereka mengingkarinya) mengingkari Kitab yang diturunkan kepada mereka, yaitu Alquran kitab yang lebih mulia daripada kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya (kelak mereka akan mengetahui) akibat dari kekafiran dan keingkaran mereka itu.

وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ

wa laqad sabaqat kalimatunā li’ibādinal-mursalīn

171. Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul,

(Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami) pertolongan Kami (kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul) yaitu sebagaimana yang telah diungkapkan oleh firman-Nya yang lain, “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.” (Q.S. Al-Mujadilah, 21).

إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُورُونَ

innahum lahumul-manṣụrụn

172. (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan.

Atau janji tersebut sebagaimana yang diungkapkan-Nya pada ayat berikut ini, yaitu, (yaitu, ‘Sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan.’)

وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ

wa inna jundanā lahumul-gālibụn

173. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang,

(Dan sesungguhnya tentara Kami) yakni orang-orang mukmin (itulah yang pasti menang) atas orang-orang kafir melalui hujah, dan mendapat kemenangan atas mereka di dunia ini. Dan jika sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak mendapat kemenangan atas orang-orang kafir di dunia ini, maka mereka pasti mendapat kemenangan di akhirat nanti.

فَتَوَلَّ عَنْهُمْ حَتَّىٰ حِينٍ

fa tawalla ‘an-hum ḥattā ḥīn

174. Maka berpalinglah kamu (Muhammad) dari mereka sampai suatu ketika.

(Maka berpalinglah kamu dari mereka) yaitu dari orang-orang kafir Mekah (sampai suatu ketika”) sampai Dia memerintahkannya untuk memerangi mereka.

وَأَبْصِرْهُمْ فَسَوْفَ يُبْصِرُونَ

wa abṣir-hum, fa saufa yubṣirụn

175. Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat (azab itu).

(Dan terangkanlah kepada mereka) apabila azab turun kepada mereka (maka kelak mereka akan mengetahui) akibat dari kekafiran mereka.

أَفَبِعَذَابِنَا يَسْتَعْجِلُونَ

a fa bi’ażābinā yasta’jilụn

176. Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan?

Maka mereka mengatakan dengan nada yang mengejek, “Kapankah turunnya azab itu?” Lalu Allah berfirman mengancam mereka yang mengatakan demikian: (Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan.)

فَإِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمْ فَسَاءَ صَبَاحُ الْمُنْذَرِينَ

fa iżā nazala bisāḥatihim fa sā`a ṣabāḥul-munżarīn

177. Maka apabila siksaan itu turun dihalaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu.

(Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka) maksudnya, di tengah-tengah mereka. Sehubungan dengan makna lafal As-Saahah ini Imam Al-Farra mengatakan, bahwa orang-orang Arab bila menyebutkan suatu kaum cukup hanya dengan menyebutkan halaman tempat mereka tinggal (maka amat buruklah) yakni seburuk-buruk pagi hari adalah (pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu) di dalam ungkapan ayat ini terdapat Isim Zahir yang menduduki tempatnya Isim Mudhmar.

وَتَوَلَّ عَنْهُمْ حَتَّىٰ حِينٍ

wa tawalla ‘an-hum ḥattā ḥīn

178. Dan berpalinglah kamu dari mereka hingga suatu ketika.

(Dan berpalinglah kamu dari mereka hingga suatu ketika.)

وَأَبْصِرْ فَسَوْفَ يُبْصِرُونَ

wa abṣir, fa saufa yubṣirụn

179. Dan lihatlah, maka kelak mereka juga akan melihat.

(Dan lihatlah, karena mereka juga akan melihat) ayat ini diulangi penyebutannya dengan maksud untuk mengukuhkan ancaman yang ditujukan kepada mereka, dan sekaligus sebagai penenang hati bagi Nabi saw.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ

sub-ḥāna rabbika rabbil-‘izzati ‘ammā yaṣifụn

180. Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan.

(Maha Suci Rabbmu Yang mempunyai keperkasaan) yakni kemenangan (dari apa yang mereka katakan) yaitu, bahwa Dia memiliki anak.

وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ

wa salāmun ‘alal-mursalīn

181. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul.

(Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul) yang menyampaikan ajaran tauhid dan syariat-syariat dari Allah swt.

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

wal-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn

182. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.

(Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam) Yang menolong mereka dan yang membinasakan orang-orang yang kafir.

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!