Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat Yasin

يس

Arab-Latin: yā sīn

Terjemah Arti: 1. Yaa siin

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia

Telah berlalu penjelasan dari huruf muqatha’ah di awal surat Al Baqarah. Dan berkata sebagian ahli tafsir: Yasin adalah nama surat, dan berkata Ibnu Abbas: Sesungguhnya maknanya adalah wahai manusia, dengan sebagian lahjah Arobiyah, dan berkata Ibnu Hanifiyyah: Ia adalah nama Nabi Muhammad dengan dalil firman Allah “Sesungguhnya engkau sebagian dan utusan”.

وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ

wal-qur`ānil-ḥakīm

2. Demi Al Quran yang penuh hikmah,

إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ

innaka laminal-mursalīn

3. Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul,

عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

‘alā ṣirāṭim mustaqīm

4. (yang berada) diatas jalan yang lurus,

2-4. Surat ini diawali dengan sumpah Allah terhadap Al Qur’an Al Adziem, yang muhkam atas nasihat, serta syariat-syariat dan adab-adab yang terpuji di dalamnya. Dan dengan kebenaran Al Qur’an ini, maka sunggu engkau wahai Nabi Allah, adalah sebagian dari hamba Allah yang diutus. Engkau adalah termasuk orang yang koko di atas jalan yang terang yaitu jalan islam. Ini adalah persaksian dari Allah atas Muhammad ﷺ atas syariat yang agung.

تَنْزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ

tanzīlal-‘azīzir-raḥīm

5. (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang,

لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ

litunżira qaumam mā unżira ābā`uhum fa hum gāfilụn

6. Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.

5-6. Al Qur’an ini wahai Nabi Allah, diturunkan dari sisi Allah agar menjadi peringatan kaummu, quraisy secara khusus dan arab secara umum, yang tidak ada pendahulu mereka, dari nenek moyang mereka , yang datang peringatan dari Allah. Yaitu memperingatkan dari keburukan dosa kesyrikan kepada Allah, oleh karena inilah terputus kerasulan untuk mereka.

لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَىٰ أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

laqad ḥaqqal-qaulu ‘alā akṡarihim fa hum lā yu`minụn

7. Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, kerena mereka tidak beriman.

Allah menjelaskan bahwa didatangkannya adzab adalah kewajiban untuk kebanyakan mereka orang-orang musyrik dari kaum Muhammad ﷺ, setelah mereka di atas kekufuran dan syirik kepada Allah. Mereka tidak beriman dengan apa yang datang dari ayat yang jelas, yang menunjukkan atas kebenaran risalah Muhammad ﷺ dan kenabiannya.

إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ

innā ja’alnā fī a’nāqihim aglālan fa hiya ilal-ażqāni fa hum muqmaḥụn

8. Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu dileher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah.

Allah mensifati kondisi orang-orang kafir yang mereka jelas atau kekafiran nya, Allah mengabarkan bahwasanya kondisi mereka sebagai mana azab yaitu diikatnya tangan-tangan mereka di atas leher leher mereka; kepala mereka terangkat ke langit dan mereka terkunci ada seluruh kebaikan, mereka tidak dapat melihat kebenaran serta mendapatkan petunjuk.

وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ

wa ja’alnā mim baini aidīhim saddaw wa min khalfihim saddan fa agsyaināhum fa hum lā yubṣirụn

9. Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.

Kemudian Allah menggambarkan atas kondisi mereka yang lain, Allah Menjelaskan keadaan mereka orang-orang kafir sebagaimana keadaan bagi siapa yang dijadikan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka juga terdapat dinding.

وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

wa sawā`un ‘alaihim a anżartahum am lam tunżir-hum lā yu`minụn

10. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.

Allah mengabarkan bahwa mereka orang-orang kafir keadaan mereka sama saja ketika diberikan peringatan oleh Nabi dan mereka meninggalkan peringatan itu, mereka tidak membenarkan apa yang datang dari nabi selamanya.

إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ ۖ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ

innamā tunżiru manittaba’aż-żikra wa khasyiyar-raḥmāna bil-gaīb, fa basysyir-hu bimagfiratiw wa ajring karīm

11. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.

Allah menjelaskan bahwasanya peringatan nabi akan bermanfaat bagi mereka yang mengimani Al Quran dan apa yang di dalamnya dari hukum-hukum dan petunjuk-petunjuk serta yang takut kepada Allah dalam urusan yang gaib; maka kabarkan kepada mereka wahai nabi Allah atas ampunan bagi dosa-dosa mereka, dan balasan di akhirat atas amalan-amalan yang sholeh. Dan sebesar-besar balasan adalah dimasukannya mereka ke dalam surga.

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

innā naḥnu nuḥyil-mautā wa naktubu mā qaddamụ wa āṡārahum, wa kulla syai`in aḥṣaināhu fī imāmim mubīn

12. Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).

Allah mengagungkan dirinya sendiri dengan dhomir bentuk jamak dengan penekanan bahwasanya Dia sajalah yang maha kuasa untuk menghidupkan yang mati hari kiamat dan menghitung amalan-amalan mereka serta bekas-bekas kesalehan mereka dan keburukan mereka; dan tidak ada yang hanya mampu melakukan demikian kecuali hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kemudian Allah menjelaskan bahwasanya segala sesuatu akan dihitung atas amalan yang kecil maupun yang besar yang tertulis di dalam kitab, dan kitab ini adalah lembaran-lembaran bagi seorang manusia. Semuanya tercantum di dalam Lauhul Mahfudz.

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ

waḍrib lahum maṡalan aṣ-ḥābal-qaryah, iż jā`ahal-mursalụn

13. Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka.

Allah memerintahkan nabi Muhammad untuk memberikan contoh kepada mereka orang-orang musyrik yang mendustakan, yaitu kaumnya dengan kisah penduduk suatu negeri yang datang kepada mereka utusan yang diutus, ia adalah Isa untuk berdakwah kepada penduduk negeri ini kepada tauhid dan keimanan serta memperingatkan mereka dari kesyirikan. Negeri ini telah dikenal di kalangan ahli ilmu yaitu negeri Inthakiyyah.

إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ

iż arsalnā ilaihimuṡnaini fa każżabụhumā fa ‘azzaznā biṡāliṡin fa qālū innā ilaikum mursalụn

14. (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang di utus kepadamu”.

Allah menjelaskan bahwasanya Dia memerintahkan Isa sebagai utusan yang diutus kepada negeri ini, yaitu berdakwah kepada keimanan diketahui ketauhidan. Akan tetapi mereka mendustakan utusan-utusan Allah dan bertambah kesesatan mereka yang diiringi dengan penolakan.

قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَٰنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ

qālụ mā antum illā basyarum miṡlunā wa mā anzalar-raḥmānu min syai`in in antum illā takżibụn

15. Mereka menjawab: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka”.

Berkata penduduk negeri itu kepada utusan utusan Allah dengan kesombongan: Tidaklah kalian kecuali hanyalah manusia biasa sebagaimana kami, kalian bukanlah lebih baik dari kami; kalian dan kami sama saja manusia biasa, dan tidak ada sesuatu apapun yang diturunkan Allah dari wahyu. Kalian adalah pendusta yang menisbatkan diri kepada Allah.

قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ

qālụ rabbunā ya’lamu innā ilaikum lamursalụn

16. Mereka berkata: “Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu”.

Para utusan menjawab dengan berkata : Sesungguhnya Tuhan kami adalah yang mengutus kami, dan Dialah yang mengetahui kami sebagai utusan-Nya yang diutus kepada kalian; Kalau seandainya kalian mengingkari, maka Allah akan segera menurunkan azab-Nya.

وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

wa mā ‘alainā illal-balāgul-mubīn

17. Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas”.

Kemudian berkata mereka yang sebagai utusan Allah : Ketahuilah bahwasanya Allah tidak membebani kami agar kalian mendapatkan petunjuk, akan tetapi Allah membebani kami supaya menyampaikan dengan penyampaian yang jelas.

قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ ۖ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ

qālū innā taṭayyarnā bikum, la`il lam tantahụ lanarjumannakum wa layamassannakum minnā ‘ażābun alīm

18. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami”.

Maka bertambahlah penduduk negeri tersebut menyimpang dan sesat menuju kesesatan yang lebih parah, mereka mengancam para Rasul dengan berkata : Telah menimpa kami dengan datangnya kalian keburukan, dan turun kesengsaraan karena sebab kalian; Maka jika kalian tidak mengakhiri apa yang kalian dakwahkan, kami akan membunuh kalian dengan merajam (dengan batu), sebagai adzab yang pedih bagi kalian.

قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ ۚ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

qālụ ṭā`irukum ma’akum, a in żukkirtum, bal antum qaumum musrifụn

19. Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas”.

Para Rasul berkata kepada mereka : Sesungguhnya datangnya kesengsaraan kepada kalian karena sebab kekufuran kalian dan pengingkaran kalian. Apakah kalian menghinakan kami dan mengancam kami karena kami mengingatkan dan memperingatkan kalian?! Sungguh kalian adalah kaum yang sombong, yang melanggar aturan Allah dengan kekufuran dan pengingkaran.

وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَىٰ قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ

wa jā`a min aqṣal-madīnati rajuluy yas’ā qāla yā qaumittabi’ul-mursalīn

20. Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu”.

Maka ketika tersebar ancama penduduk suatu negeri tersebut kepada para Rasul, maka jika ada seorang laki-laki datang dari tempat yang jauh, maka dihampiri oleh seorang laki-laki lain dengan berkata : Wahai kaum, ikutilah mereka para utusan yang mereka diutus oleh Allah untuk berdakwah kepada kalian dan menjauhkan kalian dari neraka.

اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ

ittabi’ụ mal lā yas`alukum ajraw wa hum muhtadụn

21. Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Berkata orang yang menasihati juga : Dan wahai kaum, ikutilah mereka yang tidak menuntutu kepada kalian harta kekayaan atas penyampaian kerisalahan mereka. Ketahuilah bahwasanya mereka adalah orang-orang yang diberi petunjuk ata dakwah mereka untuk beribadah kepada Allah saja tanpa menyekutukan-Nya.

وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

wa mā liya lā a’budullażī faṭaranī wa ilaihi turja’ụn

22. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan?

Dan dikatakan juga kepada mereka : Apa sebab yang menghalangiku dari beribadah kepada Allah yang menciptakanku ? Dan ucapannya terkandung makna peringatan : Begitu juga dengan kalian apa yang menghalangi kalian untuk beribadah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian, dan kepada-Nya lah kalian kembali dan dihisab atas amalan-amalan kalian!!

أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَٰنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنْقِذُونِ

a attakhiżu min dụnihī ālihatan iy yuridnir-raḥmānu biḍurril lā tugni ‘annī syafā’atuhum syai`aw wa lā yungqiżụn

23. Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafa’at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku?

Berkata juga orang yang menasihati tersebut : Apakah kalian akan meninggalkan beribadah kepada Allah yang menciptakan kita, kemudian menyembah kepada selain Dia yang tuhan-tuhan tersebut tidak membahayakan maupun memberi manfaat?! Maka jika Allah menimpakan azab pada kita maka tuhan -tuhan tersebut tidak dapat menjaga diri kita dari azab Allah, dan tuhan-tuhan tersebut tidak dapat memberikan manfaat sama sekali serta tidak dapat meloloskan diri kita dari azab Allah, maka janganlah menyeru kepada selain Allah.

إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

innī iżal lafī ḍalālim mubīn

24. Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata.

Kemudian Berkata juga orang yang menasihati tersebut: Dan sekiranya kita melakukan hal itu, sungguh kita menjadi orang-orang yang jauh dari kebenaran, serta jatuh dalam kesesatan yang nyata.

إِنِّي آمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ

innī āmantu birabbikum fasma’ụn

25. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku.

Kemudian berkata juga orang yang menasihati tersebut: Ketahuilah oleh kalian wahai kaum, sesungguhnya kalian mesti beriman kepada kepada Allah dan dengarkanlah ucapanku, taatilah aku atas apa yang aku seru padamu dari keimanan.

قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ ۖ قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ

qīladkhulil-jannah, qāla yā laita qaumī ya’lamụn

26. Dikatakan (kepadanya): “Masuklah ke surga”. Ia berkata: “Alangkah baiknya sekiranya kamumku mengetahui.

Maka ketika mereka membunuh laki-laki (yang menasehati tadi), Allah memberikan balasan dengan kemuliaan atas keimanan mereka dengan dimasukkan ke dalam surga; Maka ketika melihat surga dan mengetahui isinya dari kenikmatan yang ada padanya ia berkata: Duhai seandainya kaumku mengetahui .

بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ

bimā gafara lī rabbī wa ja’alanī minal-mukramīn

27. Apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan”.

Duhai seandainya mereka mengetahui bahwasanya Allah Maha Pengampun atas dosa dengan ketauhidan dan keimanan padanya, serta membenarkan utusan-utusan Allah. Kemudian Allah menjadikanku manusia yang mulia disisinya, maka andai saja mereka mengetahui keadaanku.

۞ وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَىٰ قَوْمِهِ مِنْ بَعْدِهِ مِنْ جُنْدٍ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا كُنَّا مُنْزِلِينَ

wa mā anzalnā ‘alā qaumihī mim ba’dihī min jundim minas-samā`i wa mā kunnā munzilīn

28. Dan kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukanpun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya.

Allah mengabarkan bahwasanya kaum tersebut memiliki dendam kepada laki-laki sholeh setelah membunuhnya, karena sebab mereka adalah orang-orang yang mendustakan para rasul dan membunuh wali -wali Allah yang sholeh, Allah mengabarkan bahwasanya Allah tidak menurunkan atau membutuhkan malaikat untuk membinasakan mereka.

إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ خَامِدُونَ

ing kānat illā ṣaiḥataw wāḥidatan fa iżā hum khāmidụn

29. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.

Allah menjelaskan bahwasanya azab untuk orang-orang yang bermaksiat ini adalah dengan membinasakan mereka dengan tanpa suara ataupun gerakan. Inilah akhir balasan bagi mereka di dunia dan di akhirat mereka mendapatkan azab neraka.

يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ ۚ مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

yā ḥasratan ‘alal-‘ibād, mā ya`tīhim mir rasụlin illā kānụ bihī yastahzi`ụn

30. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.

Allah menjelaskan akhir dari orang-orang yang berdosa, Allah berkata : Wahai orang-orang yang merugi, orang-orang yang menyesal karena mendustakan dan mengingkari Rasul, Allah akan mengazab ketika di dunia dan juga pada hari kiamat ketika mereka melihat azab dengan mata-mata mereka sendiri. Karena sebab mereka telah mengolok-olok atas setiap utusan Allah yang datang kepada mereka, yang para rasul tersebut berharap akan ketaatan mereka kepada Allah dan memperingatkan mereka dari azab Allah.

أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنَ الْقُرُونِ أَنَّهُمْ إِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُونَ

a lam yarau kam ahlaknā qablahum minal-qurụni annahum ilaihim lā yarji’ụn

31. Tidakkah mereka mengetahui berapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka.

Allah berkata : Tidakkah orang-orang kafir mengambil pelajaran karena sebab Kami membinasakan kebanyakan umat-umat yang terdahulu, yang mereka bermaksiat kepada Rasul dan menampak kekufuran mereka; Maka mereka berhak untuk di azab oleh Allah dan telah kalian ketahui bahwasanya Allah mengazab mereka dan mereka tidak akan mungkin dapat kembali ke dunia.

وَإِنْ كُلٌّ لَمَّا جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ

wa ing kullul lammā jamī’ul ladainā muḥḍarụn

32. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami.

Ketahuilah bahwasanya seluruh dari mereka yang kami binasakan dari umat-umat yang terdahulu dan selain mereka, akan dikumpulkan dan dihadapkan di hadapan Allah pada hari kiamat untuk dibalas dan dihisab.

وَآيَةٌ لَهُمُ الْأَرْضُ الْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَاهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ

wa āyatul lahumul-arḍul-maitatu aḥyaināhā wa akhrajnā min-hā ḥabban fa min-hu ya`kulụn

33. Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.

Dan sebagian dari tanda-tanda bagi orang-orang yang mendustakan, yang menunjukkan atas kekuasaan Kami adalah urusan menghidupkan yang mati; Dan bahwasanya bumi ini asalnya adalah mati, maka jika Kami turunkan atasnya air, jadilah ia hidup dengan mengeluarkan tumbuh-tumbuhan, biji-bijian yang dikonsumsi oleh manusia; Maka Allah Maha Kuasa untuk menghidupkan bumi ini dari kematiannya, begitu pula dalam urusan kebangkitan kalian setelah kematian.

وَجَعَلْنَا فِيهَا جَنَّاتٍ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ الْعُيُونِ

wa ja’alnā fīhā jannātim min nakhīliw wa a’nābiw wa fajjarnā fīhā minal-‘uyụn

34. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air,

Kemudian Allah jadikan pada bumi itu setelah diturunkannya air hujan: kebun-kebun kurma dan juga anggur, dan juga padanya terdapat mata air yang dimanfaatkan untuk minum dan untuk bertani.

لِيَأْكُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ وَمَا عَمِلَتْهُ أَيْدِيهِمْ ۖ أَفَلَا يَشْكُرُونَ

liya`kulụ min ṡamarihī wa mā ‘amilat-hu aidīhim, a fa lā yasykurụn

35. supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?

Allah menjelaskan dalam urusan penciptaan kebun-kebun ini, yaitu kebun kurma dan anggur, serta mata air untuk dikonsumsi oleh manusia beserta buah-buahannya, di mana mereka tidaklah menciptakannya; Akan tetapi Allah lah yang menciptakannya, maka selama urusannya demikian, wajib bagi mereka untuk bersyukur atas kenikmatan yang agung.

سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ

sub-ḥānallażī khalaqal-azwāja kullahā mimmā tumbitul-arḍu wa min anfusihim wa mimmā lā ya’lamụn

36. Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.

Kemudian Allah memuji atas Dzatnya, Allah Maha Suci dan membersihkan dimana Allah yang menciptakan makhluk semuanya, yang menciptakan segala sesuatu beraneka ragam dan saling berkesesuaian dengan kesempurnaan satu sama lain. Allah menciptakan apa yang tumbuh dari bumi yaitu berupa pepohonan, tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam serta Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan laki-laki dan wanita. Allah juga menciptakan kelompok-kelompok yang berbondong-bondong yang banyak, dimana manusia tidak mengetahuinya dan nampak baginya.

وَآيَةٌ لَهُمُ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُمْ مُظْلِمُونَ

wa āyatul lahumul-lailu naslakhu min-hun-nahāra fa iżā hum muẓlimụn

37. Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.

Allah menjelaskan tanda-tanda lain bagi manusia untuk menunjukkan keesaan-Nya dan kekuasaan-Nya dalam membangkitkan manusia : yaitu malam yang memisahkan antara siangnya yang telah berlalu darinya; maka jika telah datang gelap, maka akan datang pula terang. Maha suci Allah yang menciptakan manusia berpasang-pasangan.

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

wasy-syamsu tajrī limustaqarril lahā, żālika taqdīrul-‘azīzil-‘alīm

38. dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah: yaitu matahari yang beredar sesuai dengan aturan Allah. dan ketahuilah bahwasanya ini semua adalah takdir Allah yang mampu atas segala sesuatu.

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ

wal-qamara qaddarnāhu manāzila ḥattā ‘āda kal-‘urjụnil-qadīm

39. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.

Dan sebagian dari ayatnya: yaitu bulan yang Allah jadikan sebagai tanda bagi waktu; yang turun pada setiap malam.

لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۚ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

lasy-syamsu yambagī lahā an tudrikal-qamara wa lal-lailu sābiqun-nahār, wa kullun fī falakiy yasbaḥụn

40. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

Allah menjelaskan keadaan matahari dan bulan dalam semesta dengan berkata: Tidaklah dibenarkan pagi matahari mengikuti bulan begitu juga sebaliknya malam yang mendahului siang. Setiap dari masing-masing beredar sesuai ketetapan dan aturan.

وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ

wa āyatul lahum annā ḥamalnā żurriyyatahum fil-fulkil-masy-ḥụn

41. Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan.

Dan di antara tanda-tanda yang menunjukkan ke-Maha Esaan Allah dan Kuasa-Nya serta rahmat-Nya kepada hamba-Nya : Bahwasanya Allah menyelamatkan anak keturunan Adam agar supaya tidak tenggelam dan membawa mereka ke atas kapal Nuh yang penuh dengan pasang manusia dan hewan.

وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ

wa khalaqnā lahum mim miṡlihī mā yarkabụn

42. dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu.

Allah mengabarkan bahwasanya Allah menciptakan bagi siapa yang setelah dari keturunan Adam, semisal dengan keturunan manusia yang menaiki kapal ini di laut, dan Allah ciptakan untuk mereka bumi, unta, kuda, keledai dan transportasi semisal mobil dan pesawat dal selainnya yang dapat dinaiki dan mengantarkan mereka menuju tujuan yang ingin mereka tuju.

وَإِنْ نَشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيخَ لَهُمْ وَلَا هُمْ يُنْقَذُونَ

wa in nasya` nugriq-hum fa lā ṣarīkha lahum wa lā hum yungqażụn

43. Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan.

Kalau sekiranya Allah menginginkan menenggelamkan mereka semua di atas kapal ini; Maka sungguh Allah akan tenggelamkan, dan tidak ada satupun yang tersisa yang meminta pertolongan kepada-Nya untuk menyelamatkan mereka dari tenggelamnya diri-diri mereka.

إِلَّا رَحْمَةً مِنَّا وَمَتَاعًا إِلَىٰ حِينٍ

illā raḥmatam minnā wa matā’an ilā ḥīn

44. Tetapi (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika.

Allah menjelaskan bahwa mereka tidak akan mendapati sesuatupun yang dapat menolong mereka selain dari kasih sayang Allah dan kelembutan-Nya kepada mereka dan dengan keadaan mereka, sehingga mereka dapat hidup hingga ajal menjemput mereka.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّقُوا مَا بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَمَا خَلْفَكُمْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

wa iżā qīla lahumuttaqụ mā baina aidīkum wa mā khalfakum la’allakum tur-ḥamụn

45. Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Takutlah kamu akan siksa yang dihadapanmu dan siksa yang akan datang supaya kamu mendapat rahmat”, (niscaya mereka berpaling).

Maka jika dikatakan kepada mereka orang-orang musyrik : Berhati-hatilah kalian dari adzab Allah di dunia dan dari kondisi di akhirat serta hari kiamat; Semoga kalian dirahmati, dan berhasil dari kondisi ini; Mereka berkata : Abaikan ini semua, jangan kalian jawab.

وَمَا تَأْتِيهِمْ مِنْ آيَةٍ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِمْ إِلَّا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ

wa mā ta`tīhim min āyatim min āyāti rabbihim illā kānụ ‘an-hā mu’riḍīn

46. Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda tanda kekuasaan Tuhan mereka, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya.

Telah datang kepada mereka orang-orang musyrik dari tanda-tanda yang menunjukkan atas ke-Maha Esaan Allah, dan telah datang perintah kepada mereka agar mengikuti Rasul ﷺ; Akan tetapi mereka hanyalah menolak dan mendustakan serta mengolok-olok.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنُطْعِمُ مَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ أَطْعَمَهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

wa iżā qīla lahum anfiqụ mimmā razaqakumullāhu qālallażīna kafarụ lillażīna āmanū a nuṭ’imu mal lau yasyā`ullāhu aṭ’amahū in antum illā fī ḍalālim mubīn

47. Dan apabila dikatakakan kepada mereka: “Nafkahkanlah sebahagian dari reski yang diberikan Allah kepadamu”, maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman: “Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan, tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata”.

Jika salah seorang dari orang-orang yang beriman berkata kepada mereka orang-orang musyrik : Berinfakklah kalian kepada orang-orang faqir dan yang membutuhkan sesuatu dari pemberian Allah kepada kalian yang berupa kebaikan dan kenikmatan. Mereka berkata dengan sombong dan merendahkan orang-orang yang beriman : Apakah kami akan memberikan makanan yang jika Dia menghedaki tentulah mereka akan diberikan-Nya makan ? Sungguh kalian wahai orang-orang yang beriman dalam kesesatan yang nyata dalam perintah-perintah kalian kepada kami untuk berinfak atas mereka orang-orang yang membutuhkan.

وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

wa yaqụlụna matā hāżal-wa’du ing kuntum ṣādiqīn

48. Dan mereka berkata: “Bilakah (terjadinya) janji ini (hari berbangkit) jika kamu adalah orang-orang yang benar?”.

Mereka orang-orang musyrik melanjutkan celaan dan hinaan mereka dengan berkata untuk mendustakan dan mengingkari: Kapan datangnya hari akhir jika kalian memang orang-orang yang jujur atas apa yang kalian dakwahkan!?

مَا يَنْظُرُونَ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُونَ

mā yanẓurụna illā ṣaiḥataw wāḥidatan ta`khużuhum wa hum yakhiṣṣimụn

49. Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar.

Allah mengabarkan bahwasanya urusannya adalah mudah; maka tidaklah mereka akan mendengar kecuali sekali teriakan yang akan mematikan mereka, sedangkan mereka sering berselisih dalam urusan kehidupan mereka. Inilah tiupan pertama yang dinamakan dengan tiupan yang mematikan.

فَلَا يَسْتَطِيعُونَ تَوْصِيَةً وَلَا إِلَىٰ أَهْلِهِمْ يَرْجِعُونَ

fa lā yastaṭī’ụna tauṣiyataw wa lā ilā ahlihim yarji’ụn

50. lalu mereka tidak kuasa membuat suatu wasiatpun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarganya.

Dengan sebab ini yaitu tiupan yang datang kepada mereka, maka sungguh mereka tidak menyadarinya dan mereka tidak dapat kembali pada keluarga mereka serta anak-anak mereka ketika semuanya telah mati.

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ

wa nufikha fiṣ-ṣụri fa iżā hum minal-ajdāṡi ilā rabbihim yansilụn

51. Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka.

Maka jika telah ditiup sangkakala yang kedua yaitu tiupan untuk kebangkitan pembalasan, mereka akan keluar dari kuburan mereka dengan cepat untuk sampai di hadapan Tuhan mereka.

قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا ۜ ۗ هَٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ

qālụ yā wailanā mam ba’aṡanā mim marqadinā hāżā mā wa’adar-raḥmānu wa ṣadaqal-mursalụn

52. Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?”. Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul(Nya).

Berkata orang-orang yang mendustakan hari kebangkitan: Celakalah kami, binasalah kami, siapa yang mengeluarkan kami dari kubur kami dan membangkitkan kami ?! Maka dikatakan kepada mereka: inilah hari kebangkitan yang Allah janjikan atas kalian, sedangkan kalian mengolok-olok dengannya dan meminta untuk menyegerakannya. inilah hari kebangkitan yang telah di kabarkan kepada kalian yaitu kabar dari Rasul kami yang jujur, yang telah kalian dustakan.

إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ

ing kānat illā ṣaiḥataw wāḥidatan fa iżā hum jamī’ul ladainā muḥḍarụn

53. Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami.

Allah menjelaskan bahwasanya dibangkitkannya mereka, dikeluarkannya mereka wahai manusia dari kubur kubur mereka, karena sebab suara dan tiupan yang pertama yaitu dari malaikat israfil; yaitu jika telah dikumpulkan seluruh manusia yang berdiri di hadapan Allah untuk dibalas dan dihisab. Dengan ini terdapat petunjuk atas tepatnya kehadiran mereka untuk dihisab dan dibalas dengan tanpa penyelisihan dari mereka satupun.

فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

fal-yauma lā tuẓlamu nafsun syai`aw wa lā tujzauna illā mā kuntum ta’malụn

54. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.

Pada hari ini, yaitu hari kiamat, hari dimana dibalas dan dihisab, Tidak seorangpun di dzolimi atas diri mereka meskipun hanya sedikit. Juga tidak dikurangi dari kebaikan mereka secara zalim, tidak juga ditambah kejelekan mereka secara zalim, serta tidak juga dibalas satupun kecuali dengan apa yang telah di amalkan mereka di dunia. Maka jika baik, akan dibalas dengan kebaikan dan apabila buruk akan dibalas dengan keburukan.

إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ

inna aṣ-ḥābal-jannatil-yauma fī syugulin fākihụn

55. Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).

Allah mengabarkan bahwasanya ahli surga pada hari kiamat menikmati dengan kenikmatan surga, mereka bersenang-senang di dalamnya dengan apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terbetik dalam hati manusia.

هُمْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلَالٍ عَلَى الْأَرَائِكِ مُتَّكِئُونَ

hum wa azwājuhum fī ẓilālin ‘alal-arā`iki muttaki`ụn

56. Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.

Allah mengabarkan bahwasanya ahli surga dan orang-orang yang mengikuti mereka dari kekasih-kekasih mereka (di dunia), bersenang-senang di dalam surga, (dan) mereka beristirahat di dalamnya dengan kesenangan yang menenangkan.

لَهُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ وَلَهُمْ مَا يَدَّعُونَ

lahum fīhā fākihatuw wa lahum mā yadda’ụn

57. Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta.

Mereka di surga diberikan buah-buahan yang banyak dan lezat, tidak akan terputus kenikmatan di dalamnya selamanya, dan tidak juga mereka terhalang dari memakannya. Mereka di surga juga akan dipenuhi atas segala permintaan mereka.

سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ

salām, qaulam mir rabbir raḥīm

58. (Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.

Mereka menikmati (yaitu ahli surga) dengan kenikmatan yang besar : Yaitu melihat Allah Al Karim, kemudian Allah memberikan salam kepada mereka serta Allah Ridha kepada mereka.

وَامْتَازُوا الْيَوْمَ أَيُّهَا الْمُجْرِمُونَ

wamtāzul-yauma ayyuhal-mujrimụn

59. Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir): “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat.

Adapun orang-orang yang mendustakan, maka balasan bagi mereka pada hari kiamat akan dikatakan kepada mereka: Kalian berbeda (dengan ahli surga) dan kalian sangat jauh dibandingkan dengan orang-orang yang beriman. Kemudian mereka dimasukkan ke dalam neraka.

۞ أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

a lam a’had ilaikum yā banī ādama al lā ta’budusy-syaiṭān, innahụ lakum ‘aduwwum mubīn

60. Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”,

Kemudian Allah menyebutkan hamba-Nya dengan janji yang akan diberikan kepada mereka, Allah berkata: Bukankah aku telah memerintahkan dan berwasiat kepada kalian wahai anak anak Adam, agar jangan kalian beribadah kepada setan dan agar jangan mentaatinya, karena sebab mereka adalah musuh yang nyata.

وَأَنِ اعْبُدُونِي ۚ هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

wa ani’budụnī, hāżā ṣirāṭum mustaqīm

61. dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.

Allah berkata: Bukankah Aku memerintahkan kalian wahai anak-anak Adam untuk meng-esakan Aku dalam peribadatan dan Aku telah mengabarkan kepada kalian agar kalian bertauhid dan mengikuti Rasul-Ku, itulah jalan yang lurus yang mengantarkan dari keridhaan-Ku dan kepada surga Allah.

وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيرًا ۖ أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ

wa laqad aḍalla mingkum jibillang kaṡīrā, a fa lam takụnụ ta’qilụn

62. Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar diantaramu, Maka apakah kamu tidak memikirkan?.

Allah berkata: Akan tetapi kalian kufur dan tidak mentaati-Ku, tidak beramal dengan apa yang Aku telah peringatkan kepada kalian dari setan dan kalian tidak menganggap setan itu musuh kalian maka kalian tersesat dengan kesesatan yang banyak, dari jalan yang lurus. Tidakkah kalian diberikan tanda-tanda, agar kalian berfikir dan mengetahui bahwasanya setan adalah musuh kalian?

هَٰذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

hāżihī jahannamullatī kuntum tụ’adụn

63. Inilah Jahannam yang dahulu kamu diancam (dengannya).

اصْلَوْهَا الْيَوْمَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

iṣlauhal-yauma bimā kuntum takfurụn

64. Masuklah ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya.

63-64. Inilah neraka yang telah kalian dustakan bagi Rasul Kami dan kalian mengikuti setan- setan kalian. Masuklah kalian pada hari ini di dalam neraka dan azab, sebagai balasan atas kekufuran kalian serta pengingkaran kalian dan pendustaan kalian kepada para nabi Allah dan rasul-Nya.

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

al-yauma nakhtimu ‘alā afwāhihim wa tukallimunā aidīhim wa tasy-hadu arjuluhum bimā kānụ yaksibụn

65. Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.

(Pada hari ini Kami tutup mulut mereka) mulut orang-orang kafir, karena mereka mengatakan, yaitu sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya, “Demi Allah, Rabb kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.” (Q.S. 6 Al An’am, 23) (Dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan kaki mereka memberi kesaksian) juga anggota-anggota mereka lainnya (terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan) setiap anggota tubuh mengucapkan apa yang telah diperbuatnya.

وَلَوْ نَشَاءُ لَطَمَسْنَا عَلَىٰ أَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَأَنَّىٰ يُبْصِرُونَ

walau nasyā`u laṭamasnā ‘alā a’yunihim fastabaquṣ-ṣirāṭa fa annā yubṣirụn

66. Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami hapuskan penglihatan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba (mencari) jalan, Maka betapakah mereka dapat melihat(nya).

(Dan jika Kami menghendaki pastilah Kami hapuskan penglihatan mereka) Kami jadikan penglihatan mereka buta sama sekali (lalu mereka berlomba-lomba) bersegera (-mencari- jalan) untuk pergi sebagaimana kebiasaan mereka. (Maka betapakah) bagaimanakah (mereka dapat melihat) jalan itu, jika mereka dalam keadaan buta? Yakni mereka pasti tidak akan dapat melihat jalan itu.

وَلَوْ نَشَاءُ لَمَسَخْنَاهُمْ عَلَىٰ مَكَانَتِهِمْ فَمَا اسْتَطَاعُوا مُضِيًّا وَلَا يَرْجِعُونَ

walau nasyā`u lamasakhnāhum ‘alā makānatihim famastaṭā’ụ muḍiyyaw wa lā yarji’ụn

67. Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami ubah mereka di tempat mereka berada; maka mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak (pula) sanggup kembali.

(Dan jika Kami menghendaki pastilah Kami ubah mereka) diubah menjadi kera, babi atau batu (di tempat mereka berada) menurut qiraat yang lain lafal Makanatihim dibaca dalam bentuk jamak, yaitu Makaanaatihim, yaitu di tempat-tempat mereka (maka mereka tidak sanggup berjalan dan tidak pula sanggup kembali) yakni mereka tidak dapat pergi dan tidak dapat pulang kembali.

وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ ۖ أَفَلَا يَعْقِلُونَ

wa man nu’ammir-hu nunakkis-hu fil-khalq, a fa lā ya’qilụn

68. Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?

(Dan barang siapa yang Kami panjangkan umurnya) yaitu diperpanjang ajalnya (niscaya dia Kami kembalikan) menurut qiraat yang lain tidak dibaca Nunakkis-hu melainkan Nunkis-hu yang berasal dari Mashdar At-Tankiis, yakni mengembalikannya (kepada kejadiannya) sehingga setelah ia kuat dan muda lalu menjadi tua dan lemah kembali. (Maka apakah mereka tidak memikirkan?) bahwasanya Dzat Yang Maha Kuasa memperbuat demikian, berkuasa pula untuk membangkitkan hidup kembali, oleh karenanya mereka lalu mau beriman kepada-Nya. Menurut qiraat yang lain lafal Ya’qiluuna dibaca Ta’qiluuna dengan memakai huruf Ta.

وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ

wa mā ‘allamnāhusy-syi’ra wa mā yambagī lah, in huwa illā żikruw wa qur`ānum mubīn

69. Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.

(Dan Kami tidak mengajarkan kepadanya) yakni kepada Nabi saw. (tentang syair) ayat ini diturunkan sebagai sanggahan terhadap perkataan orang-orang kafir, karena mereka telah mengatakan, bahwa sesungguhnya Alquran yang didatangkan olehnya adalah syair (dan bersyair itu tidak layak) tidak mudah (baginya.) (Alquran itu tiada lain) apa yang diturunkan kepadanya, tiada lain (hanyalah pelajaran) nasihat (dan Kitab yang memberi penerangan) yang menjelaskan tentang hukumhukum dan lain-lainnya.

لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ

liyunżira mang kāna ḥayyaw wa yaḥiqqal-qaulu ‘alal-kāfirīn

70. supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir.

(Supaya dia memberi peringatan) dengan Alquran itu; lafal Liyundzira dapat pula dibaca Litundzira artinya supaya kamu memberi peringatan dengan Alquran itu (kepada orang-orang yang hidup) hatinya, maksudnya tanggap terhadap apa-apa yang dinasihatkan kepada mereka; mereka adalah orang-orang mukmin (dan supaya pastilah ketetapan) azab (terhadap orang-orang kafir) mereka diserupakan orang mati, karena mereka tidak tanggap terhadap apa-apa yang dinasihatkan kepada mereka.

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مَالِكُونَ

a wa lam yarau annā khalaqnā lahum mimmā ‘amilat aidīnā an’āman fa hum lahā mālikụn

71. Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya?

(Dan apakah mereka tidak melihat) tidak memperhatikan, Istifham di sini mengandung makna Taqrir dan huruf Wau yang masuk kepadanya merupakan huruf ‘Athaf (bahwa Kami telah menciptakan untuk mereka) ini ditujukan kepada segolongan manusia (dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami) dari hasil ciptaan Kami tanpa sekutu dan tanpa pembantu (yaitu berupa binatang ternak) unta, sapi, dan kambing lalu mereka menguasainya?) dapat memeliharanya.

وَذَلَّلْنَاهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُونَ

wa żallalnāhā lahum fa min-hā rakụbuhum wa min-hā ya`kulụn

72. Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan.

(Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu) Kami jadikan mereka tunduk (untuk mereka; maka sebagiannya menjadi tunggangan mereka) menjadi kendaraan mereka (dan sebagiannya mereka makan.)

وَلَهُمْ فِيهَا مَنَافِعُ وَمَشَارِبُ ۖ أَفَلَا يَشْكُرُونَ

wa lahum fīhā manāfi’u wa masyārib, a fa lā yasykurụn

73. Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?

(Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat) yakni dari bulu unta, kambing, dan dombanya (dan minuman) dari air susunya, lafal Masyaarib adalah bentuk jamak dari lafal Masyrab yang bermakna Asy-Syurb atau minuman, makna yang dimaksud adalah tempat minum. (Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?) kepada Allah Yang telah melimpahkan nikmatnikmat itu kepada mereka, lalu karenanya mereka mau beriman. Makna yang dimaksud ialah mereka tidak mensyukurinya.

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لَعَلَّهُمْ يُنْصَرُونَ

wattakhażụ min dụnillāhi ālihatal la’allahum yunṣarụn

74. Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan.

(Mereka mengambil selain Allah) selain-Nya (sebagai sesembahan-sesembahan) berhala-berhala yang mereka sembah (agar mereka mendapat pertolongan) terhindar dari azab Allah, karena mendapat syafaat dari tuhan-tuhan sesembahan mereka itu, ini menurut dugaan mereka sendiri.

لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُحْضَرُونَ

lā yastaṭī’ụna naṣrahum wa hum lahum jundum muḥḍarụn

75. Berhala-berhala itu tiada dapat menolong mereka; padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka.

(Berhala-berhala itu tidak akan dapat) yakni sesembahan-sesembahan mereka itu tidak dapat menolong. Ungkapan kata berhala memakai jamak untuk orang yang berakal hanyalah sebagai kata kiasan saja, yakni mereka dianggap sebagai makhluk yang berakal (menolong mereka padahal berhala-berhala itu) sesembahan-sesembahan mereka itu (menjadi tentara mereka) menurut dugaan mereka, yaitu tentara yang siap menolong mereka (yang disiapkan) di dalam neraka bersama mereka.

فَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ ۘ إِنَّا نَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ

fa lā yaḥzungka qauluhum, innā na’lamu mā yusirrụna wa mā yu’linụn

76. Maka janganlah ucapan mereka menyedihkan kamu. Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.

(Maka janganlah ucapan mereka menyedihkan kamu) seperti ucapan, bahwa kamu bukanlah seseorang yang diutus oleh Allah dan ucapan-ucapan lainnya. (Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan) dari perkataan-perkataan semacam itu dan yang lainnya, kelak Kami akan membalasnya kepada mereka.

أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ

a wa lam yaral-insānu annā khalaqnāhu min nuṭfatin fa iżā huwa khaṣīmum mubīn

77. Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!

(Apakah manusia tidak memperhatikan) apakah ia tidak mengetahui, orang yang dimaksud adalah Ashi bin Wail (bahwa Kami menciptakannya dari setitik air) yakni air mani, hingga Kami jadikan ia besar dan kuat (maka tiba-tiba ia menjadi penentang) yakni sangat memusuhi Kami (yang nyata) jelas menentangnya, tidak mau percaya kepada adanya hari berbangkit.

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ ۖ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ

wa ḍaraba lanā maṡalaw wa nasiya khalqah, qāla may yuḥyil-‘iẓāma wa hiya ramīm

78. Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?”

(Dia membuat perumpamaan bagi Kami) mengenai hal tersebut (dan dia lupa kepada kejadiannya) berasal dari air mani, dan terlebih lagi ia lupa kepada hal-hal yang selain itu (ia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?”) hancur berantakan, di dalam ungkapan ini tidak dikatakan Ramiimatun, karena isim bukan sifat. Menurut suatu riwayat dikisahkan bahwa Ashi bin Wail mengambil sebuah tulang yang telah hancur, kemudian ia cerai-beraikan tulang itu di hadapan Nabi saw. seraya berkata, “Apakah kamu berpendapat, bahwa Allah nanti akan menghidupkan kembali tulang ini sesudah hancur luluh dan berantakan ini?” Maka Nabi saw. menjawab, “Ya, Dia akan memasukkanmu ke neraka.”

قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ

qul yuḥyīhallażī ansya`ahā awwala marrah, wa huwa bikulli khalqin ‘alīm

79. Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.

(Katakanlah! “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya yang pertama kali. Dan Dia tentang segala makhluk) semua yang diciptakan-Nya (Maha Mengetahui) secara global dan rinci, baik sebelum mereka diciptakan maupun sesudahnya.

الَّذِي جَعَلَ لَكُمْ مِنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ تُوقِدُونَ

allażī ja’ala lakum minasy-syajaril-akhḍari nāran fa iżā antum min-hu tụqidụn

80. yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu”.

(Yaitu Tuhan yang menjadikan untuk kalian) yakni segolongan umat manusia (dari kayu yang hijau) yakni kayu pohon Marakh dan Affar atau semua jenis pohon selain pohon anggur (api, maka tiba-tiba kalian nyalakan -api- dari kayu itu.”) kalian membuat api daripadanya. Hal ini menunjukkan kekuasaan Allah swt. yang mampu untuk menghidupkan kembali manusia yang mati. Karena sesungguhnya di dalam kayu yang hijau itu terhimpun antara air, api, dan kayu; maka air tidak dapat memadamkan api, dan pula api tidak dapat membakar kayu.

أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ ۚ بَلَىٰ وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ

a wa laisallażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa biqādirin ‘alā ay yakhluqa miṡlahum, balā wa huwal-khallāqul-‘alīm

81. Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.

(Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu) padahal langit dan bumi itu sangat besar (berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu) yaitu manusia yang kecil bentuknya itu. (Benar) Dia berkuasa untuk menciptakannya, di sini Allah swt. menjawab diri-Nya sendiri. (Dan Dialah Maha Pencipta) banyak ciptaan-Nya (lagi Maha Mengetahui) segala sesuatu.

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

innamā amruhū iżā arāda syai`an ay yaqụla lahụ kun fa yakụn

82. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.

(Sesungguhnya perkara-Nya) keadaan-Nya (apabila Dia menghendaki sesuatu) yakni berkehendak menciptakan sesuatu (hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah,” maka terjadilah ia) berujudlah sesuatu itu. Menurut qiraat yang lain lafal Fayakuunu dibaca Fayakuna karena diathafkan kepada lafal Yaquula.

فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

fa sub-ḥānallażī biyadihī malakụtu kulli syai`iw wa ilaihi turja’ụn

83. Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.

(Maka Maha Suci Allah Yang dalam genggaman-Nya kekuasaan) lafal Malakuutu pada asalnya adalah Mulki kemudian ditambahkan huruf Wawu dan Ta untuk menunjukkan makna mubalaghah, artinya kekuasaan atas (segala sesuatu dan kepadaNyalah kalian dikembalikan) kelak di akhirat.

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!